bicara tanpa perasaan atau perasaan yang dipaksa meredam?
Ziel masih bergurau dengan Fathan yang ternyata mengirim pesan sejak dirinya berada di balkon kamar yang lebih tua. Senyumnya miring dengan otak masih memikirkan ketikan yang lebih tua beberapa menit yang lalu.
Maksudnya apa?
Dikenalkan sebagai menantu?
Disaat keduanya sama-sama gusar jika membahas pernikahan?
Bahkan bukan menikah, hubungan mereka masih mengambang tidak jelas. Melihat ketikan yang entah serius atau tidak, sedikit banyak membuat Ziel terusik. Kakinya melangkah menuju Zaidan yang sudah duduk di sofa besar kamarnya.
Ingat kan, waktu dia memotret Ziel di balkon karena yang lebih muda sedikit tidak terima kalau Idan meeting dengan rekan kerjanya di hari libur?
Betul, setelahnya kaki Idan masuk lagi ke dalam kamar. Pikirannya bercabang karena pesan sang papa padanya, menyuruh pulang sebentar, mengutusnya untuk sejenak menenangkan ego orang tua yang terus mengusik hidupnya.
Kadang Zaidan kebingungan, mau mereka apa sampai terus-terusan membawa kepentingannya sendiri lalu dengan tidak tau malu ditumpahkan kepada anak bungsu yang sudah keluar dari rumah?
Dari dulu, Zaidan tidak pernah ingin kabur.
Bahkan saat dirinya benar-benar tidak mampu menerima segala omongan sang mama, Zaidan tidak pernah punya pikiran untuk meninggalkan rumahnya.
Rumah yang dibentuk sejak dirinya kecil, tapi entah... nyatanya semua hanya semu belaka. Manusia yang biasa dipanggil "Idan" ini merasa muak dan harus keluar dari sana.
Idan juga paham kalau ketikan yang niatnya bercanda tadi dimasukkan Ziel pada hatinya. Perubahan panggilan nama yang sebenarnya tidak perlu karena Idan juga nyaman-nyaman saja selama Ziel masih bersedia memanngil dirinya. Dengan sapaan baik, dengan suara yang halus milik pemuda yang sekarang berjalan ke arahnya, dengan senyuman kecil yang bertengger di bibir Ziel saat berhasil duduk di ujung sofa tempat Ziel menempatkan dirinya.
Kalau kata Fathan, mereka ini saling sayang. Memang benar perkataannya, tapi kalau disuruh meyakinkan diri tentang hubungannya mau dibawa ke jenjang yang mana, jawabannya masih selalu sama. Tidak tau dan belum tau.
Idan tersenyum kecil melihat Ziel yang mendekat padanya, dirinya tarik sedikit tangan yang lebih muda agar sampai didepannya sehingga Ziel bisa bersandar pada bagian tubuh depan yang lebih tua. Kaki Ziel ikut diluruskan sambil dirinya yang mengambil alih laptop dari tangan Idan agar berpindah di pahanya. Posisinya tidak dipangku, tapi duduk di tengah-tengah Zaidan yang sekarang memeluk pinggangnya dari belakang.
Tangan yang lebih tua menyibak poni lucu manusia yang direngkuhnya, bibirnya sedikit menciumi rambut bagian belakang Ziel, dan tangan satunya yang mulai menuntun Ziel untuk mengetik di laptop.
"Kerjain, sayang"
"Sayang-sayang! Kan udah bilang panggilannya ganti"
"Lah nggak ada larangan soal manggil sayang meskipun sapaannya 'lo-gue'. Itu cuma pikiranmu aja yang rumit, Ziel..."
"Padahal Mas Idan yang bikin pusing" perkataan Ziel sanggup membungkam mulut Zaidan yang ingin berbira lagi.
Percuma.
Ziel juga sudah diam dan fokus dengan proposal magangnya.
"Mau dibantuin apa sekarang?"
",Cuma kurang kesimpulan doang"
"Bisa sendiri?"
"Bisa, Ommmm!! Ziel pinter..." agak mendayu suaranya membuat Idan terkekeh geli.
Tangannya mengusap lagi di pundak yang lebih muda. Ternyata Ziel ingin ditemani, bukan dibantu. Bibirnya yang mencebik dari tadi merupakan bukti untuk menarik perhatian yang lebih tua.
"Besok gue ke Bogor"
"Sendiri?"
"Hmm...."
"Mau gue anter nggak?"
"Om kan kerja, gausah ditinggal-tinggal dih! Say no to nepotisme" nadanya seperti mengancam tapi Idan justru tertawa.
"Banyak omong, Ziel...."
"JANGAN CUBIT-CUBIT PIPI???!!"
"Gemes, ngerjain mah ngerjain aja. Kenapa pake bibirnya maju-maju gitu, pengen dicium banget kayaknya"
"Enggak, Om.... " kalau tadi sedikit mendayu, maka sekarang ada nada rengekan di ujungnya.
Idan ini harus bagaimana kalau yang lebih muda semenggemaskan ini?
Tangannya semakin merengkuh pinggang, Ziel sampai muak karena tangannya tidak bisa mengetik dengan benar.
"YANG BENER MAS IDAN!"
"Udah bener, sayang"
"Gabisa ngetik nih gue"
"Ya dibisa-bisain"
"Ngomong ngawur lagi, gue tonjok ya lu?"
Idan tersenyum kecil lalu melonggarkan pelukannya, tapi kecupan kecil menyambangi pipi yang menggembung karena kesal.
"Lo kecil banget, Ziel... bisa gue kekep keman-mana terus lo nggak bakalan ilang"
"BACOT!"
Percakapan mereka memang selayaknya dua orang yang punya perasaan tapi masih ditahan satu sama lain.
Padahal sudah berciuman, tapi kenapa masih terkesan sungkan?
Ziel mulai fokus dengan proposalnya, sedikit bertanya pada yang lebih tua jika ada yang dibingungkan.
Obrolan mereka mengalir dengan diselingi Idan yang kadang mencubit pinggang Ziel atau yang lebih muda yang menabok tangan jahil yang menjawil hidungnya.
RESE!
Sampai pada satu waktu percakapannya kosong, hanya diselingi deruan nafas yang saling bersahutan.
"Emm..."
"Kenapa nggumam doang? Laper, Om?"
"Enggak. Cuma mau minta maaf kalo lo tadi nggak nyaman gue nyeletuk kayak gitu"
"Yang mana?"
"Jangan pura-pura nggak tau, Ziel" nada bicara Idan cenderung datar tapi tangannya masih mengusap lembut kepala yang lebih muda.
Laptop yang sebelumnya ada di pangkuan langsung ditutup, Ziel bukannya sudah selesai mengerjakan, hanya kurang sedikit. Bisa nanti, sekarang biarkan dirinya bermanja dengan yang lebih tua sambil mengobrol ringan.
Tubuhnya langsung disenderkan lagi sampai kepalanya menyentuh dagu yang lebih tua.
"Gapapa lah, orang yang bilang juga papah lo"
"Tapi nggak, Ziel. Susah kan?"
"Siapa yang bilang gampang sih?" kekeh miris keluar dari bibir mungil Ziel, tangannya yang semula diam berbalik membalas dengan mengelus lengan Idan dengan usapan lembut.
"Namanya hidup itu pasti punya banyak cerita, Mas Idan. Kadang ada yang susah buat dicari solusinya, kadang juga ada yang gampang banget sampai rasanya heran sendiri. Tapi namanya prediksi tentang hidup, itu yang gabisa kota tentuin. Mau baik atau enggak, mau jelek atau indah di akhir, tetep gabisa dinalar hasilnya. Sama kayak soal hati, rumit. Nggak bakalan bisa disentuh kalo hatinya masih keras. Hati Mas Idan itu nggak keras, tapi bebannya yang berat"
Ucapan Ziel hanya didengarkan.
"Nyeplos kayak tadi disaat hubungan kita aja masih bisa diitung jari tengah sama telunjuk doang, baru dua minggu. Itu juga nggak full, nama hubungannya juga gatau apaan. Jadi ya, Ziel kaget aja... tapi ya gapapa, nggak ada masalah. Lagipula kalo di kantor nanti, pas Ziel keterima, pasti ketemu papahnya Mas Idan kan?"
Anggukan diterima Ziel membuat yang lebih muda mendongak. Ingin sedikit mengapresiasi Idan yang cermat mendengarkan dengan mengecup dagunya. Mata tajam yang lebih tua mengerling sambil memandang ke bawah, disambut dengan senyuman receh tapi sanggup
membuatnya tersenyum juga.
"Nggak perlu minta maaf, cuma ya gabisa aja"
"Ngerti, Ziel...."
"Yaudah kalo ngerti ini kapan makan malemnya? Laper banget aku"
"Plin-plan banget, tadi minta lo gue, sekarang balik 'aku aku' lagi"
"BIARIN LAH! PROTES MULU, OM!"
Idan hanya geleng-geleng kepala.
Dirinya ingin bangkit namun ditahan oleh Ziel.
"Cium dulu...." bibirnya manyun, Zaidan tersenyum lagi.
Kepala yang lebih muda dibawa mendongak untuk bibirnya diberi kecupan hangat. Tidak dilumat, hanya diam disana sangat lama. Ziel juga tidak protes, dengan tangannya yang meremat lengan Zaidan, bibirnya dikecup penuh sayang.
"Udah, ayok makan"
"Padahal makan gue aja, Om"
"Udah berani emang?"
"BECANDA DOANG AELAH!!! NGGAK BERANI GUE!"
Idan lagi-lagi mendesis gemas, tangannya mengusak rambut halus yang lebih muda sambil beranjak dari duduknya.
Perasaan keduanya masih disana.
Entah dibiarkan mengalir atau diredam habis-habisan agar tidak mengusik pihak lain yang bertentangan dengan prinsip masing-masing.
•jetaimemoii