Non-existent Hatred


Kegiatan pembinaan olimpiade yang dilakukan Gemini dengan teman temannya sudah usai sekitar setengah jam yang lalu. Untung saja itu dimulai lebih cepat sehingga selesai lebih cepat pula. Namun, alih-alih mengikuti teman-temannya pulang, Gemini memutuskan untuk menyicil tugas makalah untuk mata pelajaran bahasa inggris di perpustakaan sekolah.


Sebenarnya, tugas ini adalah tugas berpasangan, namun sayangnya teman Gemini hari ini tidak dapat hadir ke sekolah karena sedang mengalami gangguan pencernaan. Tapi tenang saja, teman sekelas Gemini yang bernama William sudah janji untuk menyelesaikan makalahnya dari rumah, kok. Gemini hanya perlu mencari materi yang diperlukan.


Setelah menemukan beberapa buku yang diperlukan, Gemini duduk di meja perpustakaan untuk mencatat materi. Ia sangat hingga tidak memperhatikan sekitarnya, mengingat perpustakaan akan ditutup sebentar lagi.


Beberapa waktu kemudian, Gemini menyelesaikan penelusurannya tentang materi yang ia butuhkan. Saat itu, Mbak Jess, penjaga perpustakaan, sudah selesai dengan tugasnya dan bersiap-siap untuk pulang.


Setelah mengembalikan buku ke tempat semula, Gemini mengambil ranselnya yang hanya berisi satu buku tulis dan satu pena, lalu berjalan ke pintu.


Mbak Jess sedang memakai sepatu sambil membawa dua paperbag di tangan kanan dan kunci perpustakaan di tangan kiri. Dengan sopan, Gemini menawarkan bantuan.


"Mbak mau dibantu ngunci pintu?"


"Boleh Gemin— eh yaampun Gemini! Mbak baru inget. Kamu belum pake sepatu kan? Di dalem tuh masih ada satu anak murid lagi. Kamu mau tolongin Mbak buat bangunin dia nggak? Dia tadi ketiduran di pojok."


Karena sudah keburu menawarkan bantuan, Gemini mengangguk. Ia memang sudah akrab dengan Mbak Jess karena sering mengunjungi perpustakaan.


"Sorry," Gemini menyentuh orang yang tengah menyembunyikan wajah di antara tumpukan tangannya, secara perlahan membangunkan orang yang sedang tidur tersebut. Aneh, padahal kan lebih nyaman tidur di rumah. Kenapa orang ini malah tidur di perpustakaan?


"Ayo bangun, perpustakaannya mau ditutup."


Ck, ah!


Nampaknya reaksi orang saat baru bangun tidur memang bervariasi, yang satu ini bahkan langsung menyuarakan kekesalannya. Gemini sedikit kaget, tetapi dia memakluminya karena sepertinya orang ini baru saja bangun dari tidurnya yang lelap.


"Perpusnya mau tutup— Fourth?" Gemini lebih kaget lagi ketika melihat siapa anak laki laki yang sedang tertidur ini. Itu Fourth.


This is SO awkward. Gemini bingung dia harus berbuat apa. Takut dimarahin Fourth lagi.


"Hah iya apa— eh? Uh..." Fourth terkejut ketika dipanggil, ia dengan cepat menegakkan tubuhnya— dan tambah terkejut lagi ketika melihat Gemini ada di depannya. “Kak Gemini ngapain?!”


“Gua ngapain?” Gemini bingung, malah balik bertanya. “Oh— itu, gua harus bangunin lu soalnya perpustakaannya mau ditutup sama Mbak Jess. Kata Mbak Jess lo ketiduran…”


MALU. Itu satu kata yang sangat cocok untuk menggambarkan perasaan Fourth saat ini. Ia pun mengambil ponselnya untuk melihat jam. Waktu sudah menunjukan pukul enam sore, artinya Fourth sudah tertidur selama satu jam di perpustakaan.


Fourth pun berdiri sambil menyampirkan ransel di bahunya, kemudian menatap Gemini yang masih berdiri di hadapannya.


“Makasih kak, udah bangunin gue.”


Masih merasa canggung, Gemini menggaruk-garuk rahangnya, lalu mengangguk. “Sama-sama, by the way, panggil Gemini aja. Kita kan seangkatan.”


“Oh … oke, Gemini.” Fourth juga ikut mengangguk.


Lalu keduanya sama-sama diam.


Iya, se-awkward itu.


"Nggak keluar?" tanya Fourth memecah keheningan.


"Oh– iya, duluan, Fourth," Gemini mempersilakan Fourth untuk berjalan lebih dulu.


Gemini berjalan di belakang Fourth. Ternyata di luar, Mbak Jess masih menunggu, dan Gemini hampir lupa bahwa Mbak Jess harus mengunci perpustakaan. Ketika bertemu dengan Mbak Jess, Fourth langsung meminta maaf karena membuatnya menunggu, tetapi Mbak Jess dengan sifatnya yang ramah dan sabar seperti ibu peri, berkata, "Ngga apa-apa, santai aja, Fourth."


Sebab ini bukan kali pertama Fourth menjadi orang terakhir yang keluar dari perpus. Laki-laki itu memang gemar membaca buku dengan genre apapun, jadi ia sering menghabiskan waktu di perpustakaan.


Mbak Jess langsung pulang karena sudah dijemput suaminya di lobi tadi. Fourth dan Gemini tetap berjalan beriringan ke parkiran motor, saling diam.


“Gemini,” Fourth memberanikan diri untuk memanggil laki-laki disebelahnya ketika mereka sampai di parkiran motor.


“Ya?”


“Maaf ya waktu itu gue ngomelin lo. Sebenernya gue pengen bilang makasih buat nintendonya, tapi malah jadi marah-marah. Sorry ya. Gue harap lo gak benci sama gue.”


“Eh— gak apa apa, kan gua yang salah. Malah gua kira lu yang benci gue.”


“Nggak lah! Kenapa gue harus benci lo?”


“Karena gua nyebelin?” Ujar Gemini. “But anyway, gua seneng kalau ternyata lu gak benci gua.”


“Kenapa?”


Karena lu lucu and I won’t forgive myself kalau gua dibenci orang selucu lo.


Because you’re my bestfriend’s brother.


Tentu saja itu adalah jawaban yang paling aman.


“Oh, bener, hehehe.” Fourth cengengesan.


"Yaudah kalau gitu, gue balik duluan ya, Gemini. Dadah!” Tangan Fourth melambai ke arah Gemini, dijawab dengan anggukan dan senyum simpul oleh laki-laki yang lebih tinggi itu.


Fourth pergi untuk mengambil helm berwarna senada dengan vespa matic putihnya, sementara Gemini berjalan menuju motor pribadinya.


Sebelum mengenakan helm, Gemini merespons beberapa pesan dari teman-temannya dan juga dari ayahnya terlebih dahulu, mengingat selama pembinaan olimpiade dan mengerjakan tugas tadi Gemini sama sekali tidak membuka ponselnya.


Setelah menekan tombol kirim, Gemini mendengar langkah mendekat.


Loh, belum pulang ternyata.


“Gue tau ini ngerepotin banget, tapi boleh nebeng pulang gak, Gem? Ban gue kempes...” Fourth menatap Gemini dengan pandangan penuh harap. “Tapi kalo gak mau gak apa apa, gue bisa pesen go—“


"Boleh, ayo."


Gemini berusaha untuk menahan senyumannya.