Asing



Pagi itu, udara di dalam kelas XI MIPA 2 entah kenapa terasa jauh lebih dingin dari biasanya, padahal AC kelas baru saja dinyalakan. Milo duduk di bangkunya sejak lima belas menit yang lalu, membolak-balik halaman buku paket sejarahnya tanpa benar-benar membaca satu kalimat pun.


Matanya berulang kali melirik ke arah pintu kelas, lalu turun ke layar ponselnya yang sedari malam dibiarkan kosong tanpa notifikasi apa pun dari satu nama.


Pukul 06:45. Tepat lima menit sebelum bel berbunyi, sosok yang ditunggu akhirnya muncul dari balik pintu.


Biasanya, Kendrick akan melangkah masuk dengan senyum menyebalkan, melempar tasnya ke kursi yang ada tepat di sebelah Milo, lalu menyodorkan susu kotak rasa pisang atau sekadar mengusap puncak kepala Milo dengan dalih merapikan rambut. Pagi yang berisik dan penuh interaksi manis itu adalah rutinitas yang selalu membuat Jio dan Daffa di bangku belakang memutar bola mata jengah.


Tapi hari ini, rutinitas itu menguap entah ke mana.

Kendrick berjalan masuk dengan wajah datar. Rambutnya sedikit berantakan karena angin luar, dan matanya memancarkan sorot kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. Saat pandangan mereka bertemu sedetik di tengah kelas, Kendrick tidak tersenyum. Pemuda itu justru memutuskan kontak mata lebih dulu, menarik kursi di sebelah Milo, lalu menaruh tasnya tanpa bersuara.


Jarak di antara meja mereka hanya hitungan sentimeter, namun Milo merasa seperti ada dinding kaca tebal yang tiba-tiba membentang di tengah-tengahnya.


"Pagi, Ken," sapa Milo akhirnya, suaranya sedikit tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdebar kencang, takut setengah mati menerima reaksi dingin dari pemuda di sebelahnya.


Kendrick yang sedang mengeluarkan kotak pensil dari tasnya, menghentikan gerakannya sejenak. "Pagi, Mil."


Hanya itu. Singkat, datar, dan tanpa embel-embel 'sayang' yang biasanya selalu berhasil membuat telinga Milo bersemu merah. Kendrick kemudian membuka buku catatannya, mengambil pulpen, dan mulai memusatkan fokusnya pada deretan kalimat di buku seolah Milo tidak ada di sebelahnya.


Dada Milo mendadak terasa nyeri. Ia meremas ujung lengan seragamnya diam-diam di bawah meja. Milo mendapatkan apa yang ia minta semalam; sebuah ruang. Kendrick mundur, memberikannya jarak, mengembalikan privasinya yang sempat hilang. Tapi sialnya, kenapa ruang kosong ini justru terasa sangat mencekik?


Dari bangku belakang, Jio menendang pelan kaki kursi Onat. "Psst, nat," bisik Jio sepelan mungkin, melirik tajam ke arah dua punggung di depan mereka. "Lo nyadar nggak sih ada yang aneh? Biasanya jam segini si Kendrick udah ngerusuhin Milo nanya PR atau megang-megang tangannya. Ini kok diem-dieman kayak lagi semedi?"


Onat ikut memajukan tubuhnya, menatap interaksi nihil di depan mereka. "Lagi berantem kali. Udah, lo diem aja kaga usah mancing-mancing. Liat noh mukanya si Kendrick kenceng bgt kyk kanebo kering, ntar lo disembur kalo berani nanya."


Selama sisa jam pelajaran pertama, tidak ada percakapan apa pun di antara keduanya. Milo bahkan sengaja menjatuhkan penghapusnya ke dekat sepatu Kendrick, berharap pemuda itu akan mengambilkannya dan mulai membuka obrolan seperti biasa. Namun Kendrick hanya melirik sekilas, lalu menggeser kakinya sedikit agar Milo bisa memungutnya sendiri.


Basic manner yang biasa Kendrick agung-agungkan padanya, hari ini ditarik mundur sepenuhnya.


Milo menelan ludah susah payah. Rumit sekali memahami perasaan manusia. Kemarin ia merasa kehilangan jati diri karena terlalu diistimewakan, tapi hari ini, diperlakukan seperti teman biasa oleh kekasihnya sendiri ternyata jauh lebih menyakitkan dari apa pun.