stargazing
Naren merasa canggung dengan situasi seperti ini. Diajak mengelilingi pusat perbelanjaan dengan Rachel yang selalu berjalan beriringan dengan sosok laki-laki yang beberapa kali bertemu dengannya (Nathan). Canggung karena Naren sudah lama tak pergi ke pusat perbelanjaan selain dengan temannya (atau pacarnya beberapa kali). Ditambah kini semua fokus kepada kebutuhannya. Seperti kaos tidur, kaos pergi, jaket, celana bahkan alas kaki.
Nathan sama sekali tak ikut memilih tentang keperluan Naren sebab semuanya ia serahkan kepada kedua kakak beradik itu. Justru kadang ia melipir ke kanan dan ke kiri ketika menemukan sesuatu yang menarik matanya hingga kini ia mengambil tas belanja sendiri untuk belanjaannya (hanya satu luaran dengan warna hijau tua dan topi hitam).
Durasi belanja mereka relatif cepat. Mungkin karena Naren bingung sementara Rachel memang memilih pakaian adiknya hanya bermodalkan kata nyaman dan tak berantakan. Maka gadis itu hanya mengambil dengan cepat sesuai seleranya dan tentu saja Naren mengangguk.
"Sini satuin," kata Nathan hendak menarik tas belanja yang Naren pegang.
"Eh enggak." Rachel menolak. Menahan tas belanja milik adiknya. "Sendiri aja. Gue tau lo mau bayarin. Jangan lah, ini banyak."
"Ya kan sekalian."
"Enggak, Than." Tolak gadis itu lagi. "Ini banyak." Dan Nathan akhirnya mengalah.
"Besok deh gue chat."
"Sekarang, Chel." Perintah Nathan dari kursi pengemudi. Seusai berbelanja dan makan, mereka akhirnya pergi untuk melihat bintang seperti yang Rachel inginkan. Kini mereka baru saja memasuki pintu tol menuju puncak. "Mumpung masih jam 7, yang punya kos pasti masih bangun. Ngapain nunggu besok?"
Rachel menghembuskan napas. Akhirnya ia membahas tentang kosan Naren kepada Nathan dan bertanya perkiraan tentang bisa atau tidak uang kos dikembalikan sebab Naren tak menempatinya sama sekali. "Oke." Lalu langsung membuka ponsel dan menghubungi pemilik kos.
Naren duduk di kursi belakang dengan segelas boba brown sugar yang tadi ia pesan. Nathan beberapa kali menanyakannya perihal ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (Rachel tak cerita mengapa Naren kesini dengan wajah lebam begitu, Nathan kira itu hanya pertikaian antar murid laki-laki pada umumnya) dan Naren akan menjawab bahwa persiapannya belum seberapa. Nathan beberapa kali juga membahas pengalamannya ketika ikut ujian SBMPTN dan Mandiri setelah ditolak SNMPTN. Naren berkata bahwa ia tak masuk ke dalam kuota eligible karena nilainya yang tak seberapa. Dan Nathan akan menjawab itu bukan masalah karena ada banyak jalur ke depannya.
Hingga kini mereka tiba di kawasan jauh dari jalan tol ataupun jalan besar. Nathan membawa mobilnya menanjak dan berbelok. Rachel beberapa kali bertanya apakah mereka tak akan merosot namun Nathan justru terkekeh dan menyuruhnya tenang sebab walau ia bukan penakluk jalanan seperti Rayan atau Pangeran, Nathan tetap bisa mengatasi ini.
"Eh lucu banget ada bintang. . ." Ini belum sampai di puncak yang Nathan tuju tapi Rachel sudah melihat bintang dan komponen langit lainnya yang tak hanya hitam. Ada putih, ungu dan beberapa abu mengkilap yang tak ada di langit Ibu Kota.
Naren ikut melihat dari kaca. "Di Bekasi enggak ada nih."
"Ya kan. . ." Rachel terkesima padahal ini bukan apa-apa. Sebab tempat yang Nathan tuju lebih indah dari ini. Pangeran menjanjikannya.
Nathan mengeluarkan teleskop milik Pangeran yang ia pinjam tadi. Kemudian menenteng kursi lipat miliknya dari rumah. Seusai melewati perjalanan yang lumayan menyeramkan, mereka tiba di lokasi untuk melihat bintang-bintang. Ini tempat rekreasi namun tak banyak orang tau sehingga Nathan hanya perlu mengeluarkan uang sedikit untuk membayar parkir dan menyewa lahan yang lebih luas dengan uangnya.
"Kak, gue kayaknya mau di mobil aja." Naren yang duduk di kursi belakang menoleh ke arah Nathan yang sedang sibuk di bagasi.
"Lo enggak mau liat bintang?" tanya Nathan. Yang lebih muda menggeleng. "Yaudah tidur aja, nih bantal." Kemudian memberikan sebuah bantal berkarakter. "Kalo mau keluar, keluar aja."
"Sip." Dan Naren siap berbaring di kursi belakang usai Nathan menutup bagasi lumayan kencang.
Ia dan Rachel duduk di atas kursi lipat yang tadi Nathan bawa. Kemudian Rachel melihat keadaan langit dari teleskop. Ini adalah pertama kalinya ia melihat bintang sedekat ini.
"Keliatan kan?" Di sebelahnya, Nathan memastikan. Sebelah tangan menyisipkan rambut Rachel ke belakang telinga.
"Ternyata gini isi langit ya?" Rachel bertanya di tengah kegiatannya mengagumi ciptaan Tuhan yang tak ada tandingannya.
"Puas-puasin," kata Nathan. "Di Jakarta enggak ada soalnya."
Nathan tak terlalu ingin melihat isi langit. Justru kini pandangannya fokus dengan bagaimana Rachel yang belum menarik diri dari teleskop. Gadis itu terkesima dengan ciptaan Tuhan bernama langit sementara di sini Nathan terkesima dengan sosok di hadapannya. Nathan akan menjadi pengamat dan pengagum malam ini. Rachel punya banyak celah dan tak seberapa dengan kelebihannya. Tapi gadis itu tak pernah banyak meminta, cepat marah namun mudah dibujuk, mulai belajar meminta maaf lebih dulu, dan yang paling kentara adalah proses mengalah atas apa ulah Nathan. Tak banyak yang berubah dari Rachel namun banyak keasliannya yang baru Nathan ketahui. Gadis itu selalu punya hal baru tiap saatnya atas masalalunya atau tentang bagaimana hidupnya. Nathan tak suka kejutan, sementara ia selalu mendapati itu dari Rachel. Seksualitasnya, fakta bahwa gadis itu merokok, ketakutannya pada kupu-kupu atau bagaimana ia tak suka bunga mawar. Rachel punya banyak kejutan dan Nathan mendadak selalu ingin dikejutkan.
"Kenapa ya yang indah-indah kayak gini malah enggak bisa diliat dari banyak tempat? Kayak harus ke puncak dulu, ke gunung atau ke tempat-tempat tertentu."
Akhirnya Rachel menarik diri. Kemudian menatap Nathan.
"Soalnya kalo semua orang bisa liat secara langsung jadi enggak spesial," kaya Nathan. "Ini spesial karena lo jarang liatnya, enggak semua orang bisa liat secara langsung dan gak semua tempat punya ini."
"Iyaa . . ." Rachel mengangguk. "Tapi kenapa gitu, maksud gue? Kenapa enggak ditunjukin aja ya ke semuanya biar semua orang bisa nikmatin."
"Ya kan tadi gue bilang, Cheeeel. . . kalo semua bisa liat, atau cara ngeliat ini gampang, jadinya enggak spesial." Nathan terdengar gregetan. "Atau bisa juga emang enggak semua orang mau liat bintang kayak lo. Contohnya gue, kalo enggak lo ajak gue enggak kepikiran dan enggak kepengen banget liat stargazing gini. Di Jakarta juga ada bintang."
"Jakarta bintang apaan anjir?" Rachel menoleh kesal.
"Itu bir bintang, alkohol dibawah 5%." Kemudian Nathan mendapati cubitan main-main di atas pahanya. Padahal Rachel juga tertawa, tapi rasanya sedikit kesal disaat ia menanti jawaban yang serius.
"Mau liat ginian setiap hari. . ." Rachel kembali mendongak. Tanpa teleskop semua terlihat indah, tapi ketika ia melihatnya dengan alat itu—semua hal terlihat jauh lebih menakjubkan.
"Kalo pake teleskop bisa diliat dimana aja, tapi emang enggak sebagus ini. Besok gue beliin teleskop," ucap Nathan.
"Berarti kalo mau liat yang sebagus ini harus kesini lagi?" dan Nathan mengangguk. Semetara Rachel menghembuskan napasnya.
"Harus ada usaha, Chel buat liat yang indah-indah." Kini bergantian Nathan yang melihat dari teleskop. Rachel benar, melihat seperti ini membuatnya ingin melihat berulang kali, lagi dan lagi. "Kayak gue ngeliat lo."
Rachel meringis geli namun akhirnya merotasikan mata juga. Nathan suka menjadi dangdut kadang-kadang. "Semua orang juga bisa ngeliat gue tanpa usaha. Di kampus kan ada, di bengkel."
"Semua orang juga bisa ngeliat langit, tapi belom tentu bisa liat sisi cantiknya kayak gini." Yang lebih tua menarik diri dari teleskop. "Semua orang bisa ngeliat lo, tapi mereka enggak tau lo sejauh itu."
Rachel menunggu Nathan menyelesaikan ucapannya. Menyampingi degupan jantungnya yang cepat hingga ia merasa takut Nathan mendengar, Rachel tetap antusias atas apa yang akan Nathan ucapkan.
"Contohnya kayak—" Nathan menjeda ucapannya sambil menoleh ke arahnya. "—kayak orang mana tau lo kalo gue lagi ngambek selalu minta cium? Orang taunya lo independent—aw, sakit, Chel."
"Ya lo! Gue kira lo mau muji gue." Kesalnya seusai memberi cubitan di lengan atas Nathan.
Dari itu Nathan menggeser letak kursinya agar lebih dekat dan menempel. Kemudian merangkul Rachel hingga kepala mereka berbenturan.
"Itu juga pujian."
"Pujian apaan, anjir?"
"Mulutnya. . ." Nathan sengaja membenturkan beberapa kali kepala keduanya. "Dari tadi ngomongnya. Enggak boleh cursing di tempat kayak gini."
"Lagian. . ."
"Gue udah ngasih lo liat bintang nih," kata Nathan. "Mana balesannya buat gue."
"Udah gue duga." Rachel merotasikan matanya. "Minta apaan?"
"Kok lo gitu sih?" Di posisinya Nathan terbahak. Rachel yang kesal adalah sisi lucu gadis ini. Atau mungkin sebenarnya tidak. Hanya Nathan terlalu menyayanginya sebegitu besar hingga semua hal yang Rachel lakukan terlihat menggemaskan (kecuali tabiat lari dari masalah dan tak mau kalahnya).
"Udah mikir gitu gue dari tadi di jalan," aku Rachel jujur. "Pasti minta balesan nih orang, gitu."
Nathan masih menghabiskan sisa tawanya sambil mengusap-usap kepala Rachel. "Jadi kapan kita ciumannya?"
[]