Uks
Langkah kaki Milo terasa begitu berat saat menyusuri koridor sekolah yang ramai oleh anak-anak yang berhamburan menuju kantin. Tangan kanannya bertumpu pada dinding, berusaha menahan keseimbangan tubuhnya yang mendadak lemas. Kepalanya benar-benar berdenyut pusing, efek dari semalam tidak bisa tidur ditambah pikiran yang terus berputar memikirkan Kendrick.
Begitu sampai di depan pintu UKS yang tertutup rapat, Milo menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa tenaganya untuk memutar knop pintu.
Keadaan di dalam UKS sangat sepi dan tercium aroma minyak kayu putih yang menyengat. Hanya ada tirai pembatas tempat tidur nomor dua yang tampak tertutup setengah. Milo melangkah pelan menuju kasur nomor satu yang kosong, berniat untuk langsung merebahkan diri di sana.
Namun, gerakannya terhenti seketika saat matanya menangkap sosok yang sedang duduk bersandar di atas kasur nomor dua, tepat di balik tirai yang terbuka.
Kendrick.
Pemuda jangkung itu masih memakai kaos olahraga hitamnya yang agak basah oleh peluh, dengan satu botol es teh manis yang sudah tinggal setengah di tangannya. Kendrick yang tadinya sedang fokus menatap layar HP, langsung mendongak begitu menyadari ada orang masuk.
Netra mereka bertemu lagi. Kali ini dalam jarak yang begitu dekat, di dalam ruangan yang sunyi tanpa ada gangguan dari Jio, onat, ataupun guru piket.
Milo terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang secara brutal. Ada rasa lega yang luar biasa saat melihat Kendrick ternyata tidak benar-benar kabur ke warkop belakang sekolah, tapi di sisi lain, tatapan mata Kendrick yang datar dan dingin langsung membuat nyali Milo ciut.
"Ken..." panggil Milo parau, suaranya hampir habis.
Kendrick tidak menjawab. Dia cuma menatap Milo dari atas ke bawah, memperhatikan bibir Milo yang memucat dan tangannya yang gemetar memegang pinggiran kasur. Ada kilat kekhawatiran yang sempat lewat di mata tajam itu, namun dengan cepat Kendrick menekannya kembali, memasang topeng datarnya yang kaku.
Kendrick perlahan turun dari atas kasur UKS. Dia memakai sepatu ketsnya dengan santai, lalu meraih tas ransel hitamnya yang tergeletak di lantai.
"Gua balik ke kelas dulu. Kasurnya kosong tuh, lo tiduran aja," ucap Kendrick dingin, suaranya terdengar begitu asing di telinga Milo. Pemuda itu melangkah melewati Milo begitu saja tanpa menyentuhnya sama sekali.
No physical touch. No sweet words. Kendrick benar-benar memperlakukannya layaknya orang asing.
Milo refleks berbalik, tangannya bergerak cepat menahan ujung jaket yang tersampir di tas Kendrick sebelum pemuda itu sempat membuka pintu UKS.
"Tunggu, Ken... plis," cicit Milo, matanya sudah berkaca-kaca menahan air mata yang siap tumpah.
"Jangan pergi dulu. Gue mau ngomong."
Kendrick menghentikan langkahnya, namun dia sama sekali ngak balikin badan menghadap Milo. Dia cuma diam berdiri di depan pintu, membiarkan ujung jaketnya diremas erat oleh jemari Milo yang dingin.
"Mau ngomong apa lagi, Mil? Gua udah ngasih ruang yang lu mau kan?" tanya Kendrick datar.
Kamis siang itu, ruang UKS terasa jauh lebih pengap dari biasanya. Keduanya hanya berdiri kaku, saling berhadapan dengan jarak yang seolah membentang ribuan kilometer. Tidak ada yang berniat memangkas jarak lebih dulu.
"Gue nggak mau space kayak gini, Ken," Milo akhirnya bersuara, memecah keheningan yang sejak tadi mencekik mereka. Ia menatap cowok di depannya dengan raut frustrasi. "Lo dingin banget kayak orang asing. Gue nggak suka."
Kendrick mendecih pelan, rahangnya terlihat mengeras. "Terus lo maunya gimana?" balasnya cepat, nada bicaranya tajam. "Gua care, lo bilang sesek. Gua mundurin diri, lo bilang gua musuhin lo. Bingung gua, Mil, maunya li tuh apa sebenernya?"
"Gue cuma pengen lo punya waktu buat diri lo sendiri, Ken. Bukan berarti lo narik diri sepenuhnya kayak gini dari gue," nada suara Milo terdengar mulai bergetar. Ia menatap mata Kendrick lekat-lekat, menyalurkan rasa sakitnya. "Lo nggak ngeliat gua sama sekali dari pagi. Lo tau kaga dada gue rasanya nyeri banget, anjing."
Tawa hambar lolos dari bibir Kendrick, meski matanya menyorotkan luka yang tak kalah dalam. "Lo pikir gua kaga nyeri?" Kendrick memajukan langkahnya, mengikis jarak. "Lo pikir gua nggak sakit pas lo bilang gua bikin lo sesek semalem? Gua cuma mau pastiin pacar gua aman, Mil. Gua cuma mau nemenin lo nugas biar lu kaga capek sendirian. Tapi di mata lo, semua niat baik gua cuma kayak kekangan, kan?"
"Nggak gitu, Ken..." gumam Milo lirih, nyaris seperti bisikan. Rasa bersalah perlahan menggerogotinya.
"Gue salah ngomong semalem, gue minta maaf. Gue cuma nggak enak sama Jio, Onat. Mereka kayak ngerasa jadi nyamuk tiap kali ada lo. Gue nggak mau kehilangan temen-temen gue, Ken."
Sorot mata Kendrick yang tadinya sarat akan emosi perlahan meredup, tergantikan oleh tatapan kecewa yang terlampau dingin.
"Ya udah, sekarang lo udah nggak kehilangan mereka, kan?" ujar Kendrick, suaranya kini terdengar begitu datar. "Mereka udah bisa ngajak lo ke kantin lagi tanpa ada gua. Gua udah nggak ganggu space lo sama mereka."
Kendrick terdiam sejenak, membiarkan keheningan yang dingin mengambil alih ruangan itu sebelum menembakkan kalimat terakhirnya.
"Kurang apa lagi?"
Milo terpaku. Lidahnya mendadak kelu, tak mampu merangkai satu kata pun untuk membalas. Ia hanya bisa diam, membiarkan kata-kata Kendrick mengambang menyesakkan di udara, tak terbalas.
Milo melepaskan remasannya pada jaket Kendrick secara perlahan. Air matanya akhirnya lolos, menetes membasahi pipinya yang pucat. Ia membungkam mulutnya sendiri dengan punggung tangan, berusaha mati-matian agar suara tangisnya kaga pecah di dalam UKS.
Kendrick akhirnya membalikkan badannya begitu mendengar helaan napas Milo yang tertahan. Begitu melihat wajah pacarnya yang sudah basah oleh air mata dengan bahu yang bergetar hebat, pertahanan dingin yang Kendrick bangun sejak pagi runtuh seketika dalam satu kedipan mata.
Bodo amat dengan ego. Bodo amat dengan rasa kesal semalam. Kendrick nggak pernah bisa melihat Milo menangis karena dirinya.
Step.
Kendrick melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Tangan besarnya terulur, menarik tubuh ramping Milo ke dalam pelukannya secara paksa. Ia mendekap kepala Milo, menenggelamkan wajah pemuda manis itu ke perpotongan lehernya yang hangat.
Milo tersentak kecil, tapi sedetik kemudian ia langsung membalas pelukan itu. Ia meremas kaos olahraga Kendrick erat-erat, menumpahkan tangisnya tanpa suara di sana.
"Napas, Mil... pelan-pelan," bisik Kendrick lembut. Sebelah tangannya mengusap belakang kepala Milo, sementara tangan yang lain mengelus punggung pemuda itu dengan ritme konstan. "Kan... nangis kan jadinya."
"G-gue minta maaf, Ken..." gumam Milo terbata-bata, suaranya teredam, serak karena menahan tangis. "Gue ngerasa bersalah bgt dari semalem."
"Gua udah pernah bilang kan?" Suara Kendrick terdengar parau, tapi terselip nada tegas yang tidak bisa dibantah. "Jangan pernah buang air mata lo buat gua, Mil. Gua paling benci lihat lo nangis karena gua. Ngerasa jadi cowok paling brengsek gua sekarang."
Milo menggeleng kuat di dalam pelukan Kendrick. "Enggak... lo kaga brengsek. Gue yang jahat. Semalem otak gue beneran penuh, kepala gue rasanya mau pecah. Gue nggak bermaksud ngusir lu, Ken. Sumpah. Gue cuma... butuh sendiri bentar."
Kendrick menghela napas panjang, meresapi setiap kata yang keluar dari bibir bergetar Milo. Ia melonggarkan pelukannya sedikit, lalu menangkup kedua pipi Milo, memaksa pemuda itu mendongak menatap matanya. Ibu jari Kendrick bergerak hati-hati, menghapus jejak air mata di pipi Milo yang memerah.
"Iya, gua tau. Gua paham sekarang," ucap Kendrick, menatap lurus ke mata Milo yang sembab. Pandangannya melembut, seolah mengunci seluruh atensi Milo hanya padanya. "Gua juga minta maaf, ya? Harusnya gua peka, harusnya gua ngasih lo space waktu lo capek. Bukannya malah baper terus ngediemin lo dari pagi kaya anak kecil. Maafin gua ya Mil?"
Milo mengangguk pelan, bibirnya melengkung ke bawah menahan isakan yang masih tersisa.
"Jangan diemin gue lagi..."
"Nggak bakal," balas Kendrick cepat. Ia menunduk, mengecup kening Milo agak lama untuk menyalurkan rasa tenangnya. "Tapi lo dengerin gua baik-baik. Kalau lo pusing, kalau lo butuh waktu sendiri, ngomong langsung ke gua. Jangan dipendem terus tiba-tiba meledak dan minta gua menjauh. Gua nggak bisa baca pikiran lo, Mil."
"I-iya... gue bakal ngomong."
"Bagus." Kendrick tersenyum tipis, tangannya naik untuk merapikan poni Milo yang berantakan karena keringat dan air mata. "Kita sama-sama belajar ya? Gua belajar ngertiin batasan lo dan lo belajar lebih terbuka sama gua. Deal?"
"Deal," cicit Milo pelan.
Kendrick kembali menarik Milo ke dalam dekapannya, menyandarkan dagunya di puncak kepala Milo sambil mengusap punggungnya lagi.
"Udah ya, berenti nangisnya. Hati gua perih bgt lihatnya. Lagian mata lo udah bengkak gitu, nanti dikira anak-anak gua abis ngapain lo di dalem UKS."
Milo akhirnya terkekeh kecil, memukul dada Kendrick pelan meski ia sama sekali tidak berniat melepaskan pelukannya.
Di dalam UKS yang sepi itu, perang dingin mereka menguap begitu saja. Mereka sadar, ada banyak hal yang masih harus diperbaiki dan dikomunikasikan, tapi satu hal yang pasti: mereka nggak bisa berjauhan kayak tadi pagi