Safe Place
“Ooh, berarti keluarga lu banyak disini Win?”
“Iya, cuma keluarga gua doang yang di Jakarta, kalau sepupu sepupu gua pada disini semua.”
Fourth secara tidak sengaja mendengar pembicaraan Winny dan Gemini yang berjalan di belakangnya. Mereka semua kini berjalan menuju alun-alun dari hotel tempat mereka menginap. Ford dan Poon memimpin jalan, diikuti oleh Pakin dan View di barisan kedua, kemudian Satang dan Fourth, dengan Gemini dan Winny di paling belakang.
Semenjak Fourth dan Gemini menunggu Winny mandi di kamar, lelaki yang lebih muda menjadi lebih banyak diam karena ia terus-terusan merasa Gemini sedang melihat ke arahnya. Jika saja pada malam itu Satang dan Winny tidak asal bunyi mengatakan Gemini menyukainya dan ia menyukai Gemini, pasti saat ini yang berjalan di sebelahnya adalah laki-laki dari kelas MIPA 4 itu.
Sialan, Fourth benar-benar tidak tahu bagaimana cara menyingkirkan pemikiran aneh yang membuatnya bingung harus bersikap seperti apa ketika harus berhadapan dengan Gemini.
“Kenapa lo heh?”
Fourth terbangun dari lamunan, kemudian menoleh ke arah Satang. “Hah?”
“Jangan jalan sambil bengong, nanti jatoh.” Ujar Satang, Fourth mengangguk. “Takut mau ngelewatin alun-alun?”
Tentu saja Fourth tidak bisa memberi tahu Satang tentang apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan, maka dari itu Fourth mengangguk sambil menyengir. “Takut banget sumpah, tapi kalau mau ke Braga harus lewat situ kan?”
“Kalo jalan kaki sih iya dah, kan ke depan situ tuh,” Satang menunjuk jalan menggunakan dagunya. Untuk pergi ke salah satu cafe di Jalan Braga yang ingin mereka tuju, mereka memang harus melewati alun-aun yang dipenuhi banyak badut-badut lucu bercampur seram terlebih dahulu.
“Belum apa apa gue udah merinding, hih,” Fourth bergidik ngeri. Satang tertawa.
Mereka berjalan terus hingga tak terasa badut-badut dengan karakter horror seperti Valak hingga Kuntilanak di alun-alun Bandung mulai tertangkap di pengelihatan mereka.
Tarikan napas Fourth semakin berat. Tangannya berkeringat dingin. Ketika dia mengatakan bahwa dia takut dengan badut hantu, dia tidak berbohong sama sekali. Sejak kecil, Fourth tidak takut dengan hal-hal sepele seperti serangga, binatang, atau bahkan ketinggian. Yang dia takuti hanya dua, tempat yang gelap dan film hantu.
“Eh, eh, ntar dulu. Stop bentar,” ucapan Fourth membuat langkah semua orang berhenti.
“Kenapa, Fot?” Tanya Pakin yang menoleh kebelakang.
“Gue siapin diri dulu, jantung gue deg degan banget.” Fourth memegangi dada bagian kirinya, kemudian ia berjongkok.
“Fourth kenapaaa?” Kini giliran View yang bertanya, perempuan cantik itu mendekat ke arah Fourth.
“Takut hantu-hantuan dia,” sahut Satang, ia membungkuk, tangannya bertumpu di lutut.
Satang dapat melihat bulir keringat berada di sekitar dahi Fourth, menandakan lelaki itu sedang gugup. “Apa pesen grab aja biar Fot gak usah ngelewatin jalan yang itu?”
“Ih iya pesen grab aja kali ya? Kasian sampe keringetan gitu,” View mengeluarkan tisu dari tas kecilnya, kemudian menyodorkannya kepada Satang. Satang lantas membantu mengelap keringat di dahi Fourth.
Semuanya berkumpul mengerubungi Fourth. Tak terkecuali Gemini dengan raut khawatirnya, ia ikut berjongkok di sebelah Fourth.
“Takut banget?” Tanya Gemini lembut, tangan besarnya mengusap punggung Fourth. “Mau balik ke hotel atau pesen grab?”
“Gak apa apa gak usah. Gue bisa tapi mau nafas dulu dikit.” Jawab Fourth. Gemini mengangguk, tidak berhenti menepuk-nepuk punggung yang lebih muda.
“Yaudah, jangan dikerubungin dulu biar gak makin keringetan Fot-nya.” Winny menginstruksikan agar teman-temannya menjauh dari Fourth. Melihat wajah sahabatnya yang pucat pasi tentu saja menghapus rencana-rencana jahil dalam benak Winny.
“Aduh bangsat gua party pooper banget sumpah.” Fourth mengangkat wajahnya untuk mempertemukan matanya dengan iris Gemini.
“Enggak laaah, wajar takut sama sesuatu. Gak usah mikir aneh aneh, yang lain juga ngerti kok.” Gemini menenangkan, ia mengelap keringat Fourth dengan punggung tangannya yang dilapisi hoodie. Lelaki itu menatap yang lebih muda dengan sangat teduh, seakan-akan ingin memastikan kepada Fourth bahwa semuanya akan baik baik saja.
“Gapapa Fourth, ada gua. I'm not gonna let those ugly ghosts eat you up.“ Ujar Gemini, membuat Fourth terkekeh.
“Anjing lo.” Decih Fourth.
“Nah bagus, gitu dong senyum.” Gemini ikut tersenyum. “Sebenernya kunci supaya gak ditakut-takutin ya pura-pura gak takut, lu bisa gak acting sedikit?”
Fourth terlihat berpikir sebentar, kemudian mengangkat bahunya. “Gimana caranya?”
“Pura pura ngobrol sama gua seakan akan kita ngobrolin hal penting banget, terus jalannya jangan lama-lama. Pasti mereka bakal gangguin yang lain.” Jelas Gemini. “Bisa nggak?”
Walau ragu, Fourth menganggukan kepalanya. “Beneran gak bakal digangguin kalau kayak gitu?”
“Serius, gua udah pernah nyobain waktu bareng Pond sama yang lain kesini. Pond juga takut hantu kan?”
“Iya…”
“Nah yaudah kayak gitu ya nanti?” Gemini menepuk punggung Fourth dua kali. “Tell me whenever you're ready.”
Gemini berdiri, sementara Fourth menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya sebelum mengikuti gerakan lelaki tinggi itu.
“Udah oke Fotfot?” Ford bertanya.
Fourth melirik Gemini sebentar, ia mengangguk setelah melihat yang lebih tua memberikan senyuman tipis.
“Udah oke.”
“Yaudah yuk, lanjut jalan.”
Semuanya mengikuti instruksi Ford. Kali ini posisinya berganti, Satang mundur ke belakang untuk berjalan beriringan di sebelah Winny, sementara Gemini maju kedepan untuk berjalan di samping Fourth.
“Sini,”
Fourth menatap Gemini bingung.
“Apa?”
“Tangan lo.” Gemini meraih tangan Fourth yang begitu dingin, kemudian ia memasukkannya ke dalam kantung pada hoodie yang ia kenakan. “Dingin banget gila. Elsa kali lu.”
“Muka lo gue Elsain.”
Gemini terkekeh mendengar ucapan melantur Fourth, ia kemudian meremas tangan kecil pada genggamannya itu beberapa kali dengan niat menyalurkan kehangatan dari telapak tangannya.
Ketika mendengar suara teriakan histeris dari orang asing yang ketakutan karena ditakut-takuti oleh cosplayer hantu yang berada di sepanjang jalan, detak jantung Fourth kembali berdegup kencang.
Menyadari hal tersebut, Gemini pun membuka suara, mencoba untuk mengalihkan perhatian dan pikiran Fourth.
“Snoopy,” Ia memberikan jeda, kemudian lanjut bicara ketika Fourth sudah menatapnya. “Tau gak? Gempa bumi tuh bisa ngubah topografi bumi significantly tau. Soalnya tekanan besar yang dilepasin gempa tuh bisa ngegeser tanah secara drastis, bahkan di beberapa kasus gempa tuh bisa ngehasilin fitur geologi baru kayak gunung, ngarai, atau…”
Gemini terus mengoceh, menjelaskan suatu topik yang sudah ia hafal di luar kepala; apa lagi kalau bukan berkaitan dengan geofisika. Fourth fokus memahami apa yang dijelaskan oleh yang lebih tua.
Ketika mulai melewati para cosplayer menyeramkan, Fourth berusaha keras untuk tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Gemini. Memperhatikan bagaimana cara yang lebih tua berbicara, mendengarkannya dengan seksama. Mencoba tidak memperdulikan badut-badut yang mengeluarkan suara aneh seperti hihihihi dan semacamnya.
“…makanya kenapa peta tuh suka berubah ubah, itu karena bumi itu sifatnya gak statis, tapi…”
Bahkan ketika Fourth mulai terganggu dengan suara disekitarnya, lelaki itu dapat merasakan tangannya kembali diremas oleh Gemini. Ia seakan-akan mengatakan, Just focus on me, yang tentu saja membuat hati Fourth menghangat.
Fourth tidak menyangka bahwa ia memiliki sahabat yang benar-benar menjaganya sebaik Gemini. Ia bahkan hampir melupakan fakta bahwa beberapa menit lalu, ia sedang menghindari Gemini karena ia banyak berpikir aneh tentang lelaki itu.
Dimulai dari meminjamkan bahunya untuk Fourth tidur selama perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, membantu menghabiskan makanan yang tidak disukai oleh Fourth, memastikan perut Fourth tidak kosong, memberikan seluruh siomay yang ia beli karena Fourth menyukainya, dan sekarang, ia menggenggam tangan Fourth dan mengajaknya bicara agar lelaki manis itu tidak diganggu oleh badut yang ia takuti.
Fourth is grateful to have Gemini as his safe place.
Dan hal itu entah mengapa membuat degup jantungnya semakin melaju; kali ini bukan karena badut hantu.