seasons change (say you’ll stay the same)
matthew realizes a couple things about his relationship with jiwoong on the one hour flight to jeju.
sudah lima belas menit matthew berusaha tidur, di sana—di salah satu kursi ekonomi penerbangan menuju jeju. padahal ia duduk di kursi paling enak, dekat jendela. dan matthew gak merasa akan ke toilet sampai pesawatnya mendarat.
“fuck this,” gerutu matthew di bawah napasnya, melepas kedua airpods-nya lalu dengan cepat menoleh mendengar serantai tawa renyah.
“ga bisa tidur?”
matthew lupa.
di sebelahnya ada kim jiwoong dan ia betulan loncat sedikit di kursinya merasakan jiwoong yang memegang telinganya tiba-tiba untuk dua detik untuk menarik perhatiannya. matthew kembali rileks setelah jiwoong kembali meletakkan tangannya di pangkuan dan memegang telepon genggamnya yang menyajikan layar netflix.
“engga,” matthew menjawab. terus—karena matthew terbiasa, karena adalah tendensinya menjadi kecil dan melipat dinding pertahanannya di depan jiwoong, ia memanyunkan bibirnya. “padahal capeeek.”
jiwoong mengarahkan layar home netflix-nya ke arah matthew. “mau nonton sama aku?”
menimang, akhirnya matthew menggeleng karena ia tahu attention span-nya sedang gak kapabel buat nontonin serial netflix yang panjang. “i’m just gonna… lay my head on your shoulder, if you don’t mind.“
senyum jiwoong melebar, lalu matthew merapikan beberapa barang yang sudah ia keluarkan dari tasnya. saat ia hendak menyamankan posisi, matthew menangkap dari ujung matanya kalau jiwoong masih memperhatikannya.
“kenapa?” tanya matthew, mengangkat alis.
jiwoong cuma menggeleng. “gapapa,” katanya. matthew baru saja mau mengistirahatkan sisi kepalanya pada pundak jiwoong yang terbalut jahitan vest ketika yang lebih tua mengecup keningnya singkat. “semoga bisa tidur, mae.”
sebentar.
sebentar.
matthew tadi sempat melihat cuitan seorang fans tentang tinggi mereka yang pas kalau-kalau jiwoong mau mencium keningnya: and he just laughs it off like it’s nothing. soalnya mereka cuma teman, dan gak memedulikan fakta bawa—oke, mungkin perbedaan tinggi mereka memang menarik kalau dilihat dari sisi yang lebih romantis ketimbang sekadar rekan kerja satu grup—matthew dan jiwoong kini sedang berada di garis hubungan persahabatan yang sehat dengan komunikasi yang lancar (seenggaknya dari sudut pandang matthew).
jadi perlakuan jiwoong barusan sedikit membuat matthew merasa tergelincir seolah ia sedang berdiri tanpa alas kaki di ring es.
rasanya seperti manifestasi yang terjadi terlalu cepat.
“kak jiwoong,” matthew mengerjap, ia memutar badannya sejauh sabuk pengaman membiarkannya. “kak jiwoong,” matthew memegang poni yang barusan dicium ringan sama jiwoong. “did you just kiss me?“
giliran jiwoong yang bingung.
ia menarik headset kabelnya dari telinganya dan memiringkan kepalanya heran. “i did, yeah,“ jiwoong menggigit bagian dalam pipinya. “gak suka kah?”
“i mean,“ matthew menggaruk telinganya yang gak gatal. kok dia santai banget sih anjir, pikirnya dalam hati. sejak kapan kita bisa cium-ciuman kening seenak jidat? “emang… emang gapapa?”
“matthew,” jiwoong menyebut namanya perlahan. “kenapa tiba-tiba nanya begitu?”
“kak jiwoong-nya?” telunjuk matthew terangkat ke arah jiwoong, menuduh. tapi jiwoong tidak terlihat terintimidasi karena matthew masih menggemaskan di matanya. “kak jiwoong-nya habis cium aku….”
oke, mungkin mereka memang sudah di tahap ‘dekat’ sampai jiwoong pun suka melakukan kontak fisik dengannya. genggaman tangan, rengkuhan pinggang, lengan di sekeliling pundak, hal-hal sebatas itu. platonik dan membuat matthew merasa nyaman. senggaknya itu yang matthew sadari dan terpatri dengan kokoh di suatu bagian kepalanya.
tapi kecupan di kening?
serius?
bukannya itu perlakuan yang sedikit terlalu romantis dari satu member grup untuk anggota member grup yang lain, ya?
“i’ve kissed your forehead several times,“ jiwoong menggumam tidak percaya. matanya membola. “kamu lupa?”
matthew blinks.
“you what.“
mengembuskan napas panjang, jiwoong mengulurkan telapak tangannya agar matthew pegang. “kamu tuh ya,“ ungkap jiwoong, seperti mau memarahi, tapi kedua sudut bibirnya terjingkat naik dan karena matthew masih samar merasakan hangat bibir jiwoong di sedikit kulit wajahnya, ia merasakan pipinya memanas.
emang boleh ya kayak gini? untuk pertama kali selama mengenal jiwoong, ada ragu yang menyelip pada aksi matthew meraih uluran tangan jiwoong. emang gapapa ya deg-degan?
platonik—kalau seratus persen platonik harusnya matthew bisa membalas tatap mata jiwoong tanpa harus menahan napasnya seperti barusan.
“matthew,” jiwoong memanggilnya lagi. “di ruang laundry,” lanjutnya, mengangkat alisnya seakan menunggu kalau matthew bisa mengingat apa yang dimaksudnya. “sebelum performance Love Killa yang kedua. kamu main hp di ruang laundry, aku udah ada di situ sebelum kamu dateng—“
(“mattduw,” jiwoong menyambut matthew yang berjalan masuk dengan tas laundry dan gawainya. “laundry day?”
matthew menarik-turunkan alisnya beberapa kali. “you know it,” katanya, lalu setelah memasukkan bajunya satu per satu ke mesin yang menganggur, ia menyandarkan punggungnya di dinding sebelah jiwoong. yang lebih tua sedang menonton video-videonya sendiri di boys planet saat matthew melirik. “kamu keren kok kak.”
jiwoong cuma ketawa. “makasih, matthew kecil,” lalu gak lama mesin cuci baju yang digunakannya berbunyi, menandakan bajunya sudah selesai dikeringkan.
matthew lagi scroll-scroll tiktoknya saat ia merasakan jiwoong beranjak mendekat lalu mencium keningnya. si lebih muda terlalu sibuk menonton proses seorang composer yang lagi me-remix suara kucing mengeong sampai jadi sebuah lagu, sehingga matthew baru mengangkat kepalanya saat mendengar jiwoong mengucap salam perpisahan.
“duluan ya, mattduw.”
apa pun yang ada di ujung lidahnya luntur melihat jiwoong yang terlihat kesusahan memegang semua potongan pakaiannya. “do you need—“
“gausah gapapa, you stay here,” jiwoong said behind his pile of clothes, and then winked. “dadah.”
then, because matthew was so, so fond of him, he laughed back. “bye!”)
“kamu cium aku sebelum pergi,” matthew memotong, lalu menutup mulutnya sendiri. “aku baru inget… why did you do that?”
“why do you think?“ jiwoong balas bertanya, senyumnya timpang dan bikin matthew merasa perutnya diputar-putar dalam konotasi yang baik. “terus pagi pas kita habis minum malem final.”
(it was scorching hot. matthew terbangun dengan tenggorokannya yang kering dan kepalanya yang masih berdenyut menyakitian. saat ia mencoba membuka matanya, ada jiwoong yang tiduran terlentang dengan salah satu lengan menjadi bantal matthew kala itu—matthew meringis menyadari jiwoong pasti sudah mati rasa lengannya.
kepalanya semakin terasa berat saat ia berusaha bangkit, jadi matthew berakhir mengeluarkan satu geraman pasrah dan kembali membaringkan badan sepenuhnya di atas kasur.
“matthew?” jiwoong berbisik. ia ikutan mengerang saat mencoba menggerakkan tangan kanannya. “what the—“
“sorry!” matthew memegang bisep jiwoong hati-hati. “ketidurannya semalem nyender lengan kamu, kak, aduh—kebas ya?”
matthew lalu memijat-mijat pelan sekujur lengan jiwoong sambil mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
member zerobaseone—semuanya berkumpul di ruang tengah, yang penuh kotak-kotak pindahan dan furnitur yang masih belum dirakit. ruang tengah yang gak begitu besar, tapi penuh mimpi. malam itu penuh mimpi yang dituang satu-satu lewat gelas soju dan sprite buat yang belum cukup umur.
matthew merasakan bagaimana pandangannya mulai kelap-kelip dan aliran darahnya seperti menyanyikan lagu kesukaannya sehingga ia takbisa berhenti tersenyum. matthew mengingat sesi mengobrol yang ditutup dengan jiwoong menggendongnya ke kamar, tapi ia gak membiarkan jiwoong pergi.
“biarin aja, matthew, nanti balik sendiri kok,” kata jiwoong, tapi matthew malah melamun masih sambil memegang lengannya. jiwoong gemas, jadi ia memutuskan buat memecah gelembung pikiran matthew dengan mencium keningnya. “hey,” panggilnya, sesaat setelah matthew akhirnya balas menatapnya. “udah gapapa. ke depan yuk sarapan?”
matthew yang sejatinya masih panik dan mengutuk tingkahnya sendiri tadi malam hanya menurut. melewatkan tatapan penuh sayang jiwoong yang nyaris melubangi bagian belakang kepalanya saat mereka beriringan jalan ke dapur dan sensasi bibir kering jiwoong yang sempat menyentuh keningnya kilat.)
“kamu cium aku pas itu?” rahang matthew jatuh terbuka. “aku gak nyadar….”
“kamu panik,” jiwoong terkekeh renyah. “dan sibuk mijitin tangan aku meski ga ngefek apa-apa sebenernya.”
matthew gasps, feeling insulted. “i tried!“
“aku tau,” jiwoong mengusap punggung tangan matthew. “aku tau, mae,” usapannya pindah ke pelipis matthew. “satu lagi tuh belum lama ini, sebenernya. backstage kcon?”
“YOU KISSED—“
“mae, calm down—“
“you kissed me on kcon backstage?!“ matthew wishper-shouts. “demi Tuhan aku ngerasa bodoh banget sekarang,” matthew kembali menyandar seutuhnya pada kursinya, pegangannya pada jemari jiwoong melonggar. “pas kapan sih, kak? kamu bohong ya?”
jiwoong menggeleng gak terima. “ngapain bohong? inget gak, pas semua stage kita udah selesai—“
(semuanya saat itu masih tinggi dalam euforia.
ruang tunggu zerobaseone penuh dengan sorakan yang gak ada lelahnya dan jiwoong yang jadi terakhir masuk tersenyum memperhatikan anggota membernya satu per satu. zhang hao dan hanbin yang berpelukan di dekat meja rias saling menepuk punggung satu sama lain dan melempar afirmasi.
gyuvin dan ricky yang sibuk mengusili yujin dan gunwook yang sibuk melindungi si paling muda. taerae yang merekam mereka lewat telepon genggamnya—dan matthew. seok matthew yang awalnya sekadar mengintip lewat bahu taerae lalu tiba-tiba berjalan cepat ke arahnya karena menyadari ia sendirian.
“kak jiwoon!”
panggilan favorit jiwoong.
“seneng?” tanya jiwoong saat matthew menghamburkan diri ke pelukannya. si marga seok masih mengusak wajahnya ke bahu jiwoong dan jiwoong tidak tahan untuk enggak mencium keningnya berisik seusai matthew akhirnya berhenti.
matthew cuma ketawa. matanya berbinar dan keringat yang membanjiri wajahnya membuat ia terlihat bersinar di sana, di antara lengan jiwoong yang solid. “i’m so happy i could die right now in this moment!!”)
“oh,” matthew membuang mukanya ke arah jendela. “oh.“
“see?“ jiwoong mengangkat bahunya sedetik dan tersenyum. “gak ada yang baru kok.”
“but—“ matthew kembali menoleh ke arah jiwoong yang menunggu. “you—do you kiss the other members….?“
“i do.“
matthew mau nangis.
of fucking course.
ya iyalah, aku gak spesial, matthew mau terjun dari pesawat saat itu juga. mikir apa, matthew? jangan bodoh—
“—gak sengaja, pernah. waktu itu kejedot taerae. yujin juga pernah soalnya waktu itu dia nangis bilang kangen ibunya. hanbin juga, waktu itu hukuman pas kita main habis makan, kan,” jiwoong mengambil seberkas napas lalu bertanya. “ngerti ga sih, mae? maksud aku apa?”
“kamu punya alasan,” imbuh matthew. hatinya mulai dihinggap harap. “pas sama yang lain—kamu punya alasan.”
“kalau sama kamu, soalnya aku mau,” jiwoong menambahkan. lalu ia dengan hati-hati menyingkirkan poni matthew sehingga bagian atas wajahnya terekspos sepenuhnya. “kalau sama kamu, aku gak butuh alasan. aku ngeliat kamu dan aku mikir,” jeda yang diciptakan jiwoong membuat debar jantung matthew bergemuruh dalam rusuknya. kali ini, saat jiwoong mencium keningnya, hangat bibirnya yang jadi perantara terasa seperti ukiran nama jiwoong yang nyata di benaknya.
kali ini, saat jiwoong mengecup keningnya, tiap detik yang terlewat membuat matthew diam-diam berharap waktu dapat berhenti untuk mereka.
“aku ngeliat kamu dan aku mikir, makasih, Tuhan, udah nitipin seok matthew di sisi aku.“
“kak jiwoong—“
“maaf ya, jadi numpahin semuanya ke kamu,” jiwoong mengusap tengkuknya ragu. “lama-lama engap juga disimpen sendirian—“
cup.
another kiss.
now on jiwoong’s cheek.
empunya jadi menghentikan kalimatnya di tengah dan terpaku melihat matthew yang tersenyum penuh kemenangan.
matthew gak tau: mungkin pengakuan jiwoong barusan membuatnya melihat jiwoong lewat cahaya yang lain. mungkin pengakuan jiwoong barusan sukses membantunya menarik diri dari fase denial yang entah sejak kapan sudah membelenggunya ketika ia bicara tentang kim jiwoong.
matthew masih banyak gak-taunya, tapi siang itu hatinya menuntunnya buat meninggalkan satu kecup manis di pipi jiwoong dan ia gak menyesal.
sama sekali enggak.
“matthew?”
“deal,” kata matthew, nadanya tinggi dan air mukanya berseri. kontras dari beberapa saat lalu ketika jiwoong mencoba menggali ingatannya akan masa lalu. “cium jidatku terus ya, kak. i will keep kissing your cheeks in exchange.“
jiwoong tertawa, lega. “that’s really not how it works—“
—tapi jiwoong juga aslinya gak peduli. matthew pun sama.
untuk sekarang—mereka punya seluruh waktu di dunia.
and they will use it well.