Sesuai dengan rencana Noah, siang ini ia menjemput Nakias di depan apartemennya. Namun, berbeda dengan hari-hari sebelumnya, ketika biasanya ia datang dengan mobil atau ditemani sopir, kali ini Noah datang sendirian, tanpa membawa apa pun selain ponsel dan dompet. Oh! Juga setangkai bunga mawar yang diselipkannya di saku belakang celana.
Noah menunggu sekitar tiga menit di depan pintu lobi, dan ketika Nakias akhirnya muncul, senyum Noah merekah. Sementara itu, Nakias, pemilik senyuman sehangat sinar matahari, berlari kecil menghampiri Noah dan melompat ke dalam pelukannya.
Noah dengan senang hati menangkap tubuh mungil itu dan memutarnya hingga Nakias tertawa cekikikan. Biarkan saja, mungkin mereka merasa mereka sedang berada dalam film romansa.
“Hey baby,” Sapa Noah setelah menurunkan Nakias dari pelukannya. Ia kemudian menatap Nakias dari atas hingga bawah dengn senyuman yang tidak bisa dijelaskan. “Why do you look extra gorgeous today?”
“What are you talking about? That’s ridiculous!” Nakias memukul lengan atas Noah. “I literally just threw on the first thing I grabbed from the closet because you said we were just going for a walk. If you surprise me with some fancy dinner, I swear I’ll be mad at you for a week!”
Walaupun pada nyatanya bohong, Nakias hampir mengeluarkan seluruh lemarinya dan menahan Phoebe untuk tidak pergi kemana mana dan membantunya memilih baju yang tidak berlebihan tapi akan tetap membuatnya terlihat cantik. Memang dasar Nakias.
Noah terkekeh. “Relax, Nakias! You always look good in anything you wear. And I swear, no fancy dinners—I know you hate those. Today’s all about doing things you love.”
Nakias menyipitkan matanya sambil bersedekap. “Oh really? Like what?”
“Well, for starters, giving this sweet prince a flower.” Noah mengambil setangkai mawar yang sedari tadi ia sembunyikan dan menyerahkannya kepada Nakias.
“Oh my gosh! Thank you, my handsome prince!” Nakias menunduk seperti tuan putri sebelum menerima bunga itu dari tangan Noah. “And then…?”
“Then we’re catching public transportation for a nice walk.”
“Are you serious? You didn’t bring your driver?!” Mata Nakias berbinar, ia dengan antusias menggoyang-goyangkan lengan Noah. Begitu Noah mengangguk, ia langsung bersorak. “Woohoo! This is going to be awesome!”
“So, how about we grab lunch before we start?”
“Aye aye, captain!”
Kegiatan berikutnya dilanjut dengan mereka berdua yang berjalan kaki dengan jemari saling bertaut. Noah tahu Nakias menyukai hal ini, sebab setiap kali Nakias memiliki waktu senggang, laki-laki itu akan keluar rumah untuk sekedar berjalan-jalan kecil. Jadi, di hari yang spesial ini, Noah memutuskan untuk meninggalkan kebiasaannya sebagai anak manja yang selalu diantar kemana-mana demi membuat Nakias senang.
Metro yang mereka naiki membawa mereka mendekat ke restoran yang biasa mereka datangi untuk makan siang, Blossom Bites. Lokasinya tidak jauh dari kampus. Sejauh yang Nakias ingat, Blossom Bites biasanya selalu ramai pengunjung. Setiap mereka ingin makan siang, Noah pasti meminta Nakias untuk mencari tempat duduk, sementara ia mengantre untuk memesan makanan. Tetapi hari ini, something feels off.
Tidak ada satupun pelanggan selain mereka berdua, dan Nakias mendapatkan salad kesukaannya dengan sangat mudah. Maka dari itu, ketika Noah mulai duduk di hadapannya untuk menyuap makanan, Nakias menatapnya curiga.
“Kenapa, Naki?” Noah tidak jadi memasukan makanan ke dalam mulutnya, tangannya iya ulurkan untuk mencubit pipi Nakias.
Nakias terus memperhatikan raut wajah Noah. Namun laki-laki di hadapannya tampak biasa-biasa saja dan tidak memperlihatkan ekspresi aneh. Dengan begitu, Nakias pun menggelengkan kepalanya. “Enjoy your meal, handsome.”
Noah pun terkekeh dan mengangguk.
Keduanya pun mulai melahap makanan masing-masing sambil sesekali membicarakan hal-hal kecil mengenai keseharian mereka saat sedang tidak bersama. Nakias membahas tentang kucingnya yang belakangan ini sering memanjat gorden, sedangkan Noah membahas tentang garapan musiknya untuk creative project concert yang hampir selesai.
“Wait a second… am I just forgetting things, or did you never actually tell me what song you picked?” Nakias meletakan sendok dan garpunya di atas piring, kemudian memangku dagunya dengan tangan sebelah kanan untuk menatap Noah.
“That’s because I didn’t plan on telling you.” Noah memeletkan lidah. Mendengar itu Nakias refleks memukul punggung tangan Noah pelan.
“What?! That’s so mean! You know I’m dying to know!” Dengus Nakias.
“Well, you did promise you’d come to the show, right? So if you’re that curious, you'll just have to wait and hear it live.” Jawab Noah sebelum mengangkat bahunya.
“Ugh, seriously? There’s no special treatment for me? I thought I’d get some VIP access or something!” Laki-laki manis di hadapan Noah mencebikkan bibir.
“And what kind of VIP card do you think you can play here?”
Sialan, Nakias tidak bisa dengan bebas menjawab ‘Boyfriend Card karena hubungan mereka yang tidak memiliki status. Ia pun terlihat berpikir sebentar, kemudian menjawab, “How about the “someone Noah really cares about” card? You said that at the press conference, remember?”
Noah tertawa kecil. “That's true. But sorry, that card doesn’t get you early access to my concert setlist.”
“Come ooooon! I just want to know what song you’re going to perform!”
“Alright, alright, kalau lo sepengen itu ngedengerin lagu, gimana kalau kita dengerin live music sekarang?” Noah menunjuk ke arah panggung kecil di pojok ruangan menggunakan dagunya.
“Huh?” Mata Nakias mengikuti arah pandang Noah, matanya refleks melotot dengan tangan yang ia posisikan di depan mulut ketika menyadari siapa yang ada di sana. “Oh my god, Noah, are you serious right now?!”
Lagi, Noah terkekeh ketika melihat ekspresi Nakias yang berubah dari antusias menjadi sangat antusias— terutama ketika laki-laki itu beberapa kali memukul mukul tangan Noah.
“Good afternoon, gentlemen. Did you both enjoy your meal?” Sapa penyanyi yang membuat Nakias sangat excited dari panggung live music.
“I knew something felt different about Blossom Bites today. You rented out the entire restaurant! And on top of that, you invited the most famous singer in the world!” Nakias beralih ke Noah sambil berbisik, walaupun suaranya masih terdengar kencang dan bahkan bisa didengar oleh penyanyi tersebut. Semuanya selain Nakias tertawa.
“Calm down, Naki. He’s not a world-famous singer, he’s just my brother who happens to have an amazing voice.” Ucap Noah, setelah itu ia beralih untuk menatap Javier yang sedang memperhatikan mereka berdua dengan gitar di pangkuannya. “By the way, we had an amazing meal, Javier. Now, can you help us set the mood with a song that fits this special date?”
“Of course, brother. But perhaps your dear friend here would like to make a special request?” Javier bertanya menggunakan microphone.
Nakias menunjuk dirinya sendiri sambil mengatakan ‘me?’ tanpa suara. Pasalnya, semenjak mengenal Javier, kakak Noah itu tidak pernah mengajaknya berbincang atau bahkan sekedar basa-basi, kalaupun pernah, Javier pasti akan berbicara dengan nada galak kepadanya. Melihat tanggapan Javier yang menganggukan kepala, Nakias lantas melambai-lambaikan tangannya dan menggeleng.
“Oh no, I don’t need to request anything. Just hearing your incredible voice is more than enough!”
“Alright then, I’ll choose a song that’s perfect for two soon-to-be lovebirds like yourselves.”
Soon to be this, soon to be that, apapun sebutannya membuat pipi Nakias bersemu. Ia tidak bisa menatap laki-laki di hadapannya lagi karena sudah kepalang salah tingkah, maka yang ia lakukan adalah fokus menonton Javier yang mulai memainkan gitarnya.
There's no life, without love they say
None worth having anyway, you're a mystery to me some days
But that's what keeps me sane, the heart that yearns is always young
But you can't love just anyone, it's been a while since 21, but I still feel the same.
Lagu ini berjudul Home milik Bruno Major. Walaupun Nakias tidak menggemari lagu pop sebesar ia menggemari lagu klasik, ia bisa dibilang sudah menghafal lagu di luar kepala. Bukan hanya karena Phoebe yang sering menyetelnya di rumah, tetapi juga karena Noah cukup sering menyenandungkan lagu ini baik secara sadar maupun tidak. Jadi, Nakias pikir, mungkin lagu ini termasuk ke dalam permintaan Noah pada kakaknya.
So take me home, don't spare the horses
Away to the silence I need
Take me home, don't spare the horses
Away to a gossamer breeze
Tubuh Nakias ia gerakan ke kiri dan kanan, menikmati suara indah milik Javier yang seakan-akan membuat telinganya terasa sedang dibalut emas. Laki-laki itu benar-benar tenggelam untuk menghayati lirik demi lirik hingga hampir tak sadar seseorang kini telah memegang tangannya.
Nakias kembali menumpahkan perhatiannya pada Noah. Laki-laki itu juga tengah menggerakan tubuhnya mengikuti irama lagu. Ketika mereka saling tatap, Noah tersenyum.
“I don't need to build a house of stone,” Senandung Noah pelan, mengikuti suara kakaknya sambil menatap Nakias. Tangannya digerakan untuk mengusap punggung tangan Nakias dengan lembut. “Cause wherever you are is where I call home.”
Pasca mengisi perut mereka untuk makan siang dengan makanan enak, ditemani dengan live music eksklusif dari si world famous singer, Javier Titicharoenrak, Nakias dan Noah akhirnya melanjutkan petualangan mereka untuk hari ini.
Di tahap ini, sebenarnya Nakias sendiri tidak bisa menebak isi otak random milik Noah yang tiba-tiba mengajaknya untuk mengunjungi Patung Liberty sebagai destinasi kencan spesial mereka— seakan-akan mereka adalah turis dan bukan mahasiswa yang telah berkuliah di New York selama hampir 4 tahun.
“Sooo, what made you pick this spot, anyway?” Nakias mulai bertanya ketika keduanya turun dari cruise yang mengantar mereka lebih dekat pada Patung Liberty.
“Honestly, I have no clue. But I’m willing to bet in all the four years you’ve been here, you’ve never actually gone to the Statue of Liberty just to, you know, check it out.” Sahut Noah dengan cengiran. “And come on, pretending like we’re tourists heading back to Indonesia tomorrow? That’s such a fun idea. I mean, why not, right?”
Nakias tertawa. “You’re seriously something else, Noah. First, you rent out an entire restaurant, then you force your poor brother to sing just for us, and now you’ve got me out here fake-touristing it up at the Statue of Liberty. I can never figure out what goes on in that random brain of yours.”
“But, I’ll give you this—I’ve never actually been on one of these cruises or gotten this close to Lady Liberty before. Sooo, you get 10 points for that.”
“Wait, wait—only 10 points?! Come on, I deserve waaay more than that!” Noah melingkarkan tangannya di sekeliling pundak Nakias, kemudian meletakkan dagunya di bahu lelaki itu dengan bibir mengerucut.
Melihat Noah bertingkah menggemaskan seperti ini Nakias tentu tidak bisa menahan diri. Maka dari itu, yang ia lakukan adalah menundukan wajahnya untuk mengecup pipi Noah sekilas. “Okay, okay… 100 points for being adorable.”
Noah segera menegakkan dirinya kembali sambil memegangi pipi, bersikap salah tingkah seolah-olah mereka tidak pernah melakukan hal yang lebih dari itu.
“Ohhh, what’s this? Why are you acting like some high school kid who just got their first kiss?”
“Well, uh, because… I’ve never been kissed before?” Noah tersenyum malu sambil mengusap belakang lehernya.
“EXCUSE me?!” Nakias tak bisa menahan gemas dan segera menangkup pipi laki-laki yang lebih tinggi darinya dengan kedua tangan. Noah tertawa cekikikan sambil mencoba melepaskan, tetapi Nakias tidak mau menyerah dan mencoba untuk menyatukan kening mereka. “So you’re saying all those other times didn’t count, huh?”
“Alright, alright, gue nyeraaaaah! But anyways, we seriously need to kiss right here, right now, don’t you think?” Bisik Noah.
Mendengar itu, Nakias segera melepaskan tangannya dari yang lebih tinggi, kemudian menggeleng dan berjalan menjauh. “No way, I’m totally mad at you now.”
Noah terkekeh, mencoba mengejar Nakias dan merangkul laki-laki itu dari belakang. “Aaaah, don’t be mad! I was just messing with you~”
Yah, Nakias memang tidak berniat pura-pura marah lama-lama kepada Noah. Karena ia sendiri pun membutuhkan laki laki itu untuk berada di dekatnya. Maka yang ia lakukan adalah bersikap seperti biasa lagi dan melingkarkan tangannya di pinggang Noah ketika laki laki itu memeluk bahunya dengan sebelah tangan.
Keduanya lanjut berjalan-jalan di sekitar Patung Liberty. Terkadang mereka berhenti sebentar untuk mengambil foto, terkadang mereka iseng mengikuti rombongan turis untuk mendengar penjelasan tour guide. Noah juga berhenti sebentar untuk mengunjungi toko souvenir karena ia melihat boneka bebek lucu yang didandani seperti Lady Liberty dari luar kaca. Memang laki-laki itu tidak bisa ditebak.
Sambil menunggu Noah membayar bonekanya, Nakias menunggu di luar toko sambil memainkan ponselnya sebentar untuk bercerita kepada Phoebe mengenai kencannya yang seru. Ketika ia sedang asik melihat ke arah ponsel, seseorang menepuk bahunya. Senyum Nakias merekah karena berpikir bahwa itu Noah.
“Udah bayarnya—”
“Hey, are you Nakias?”
Nakias tidak mengenali siapa orang itu, namun dia mengetahui nama Nakias. Ia pun teringat akan kejadian beberapa hari lalu dimana mukanya tersebar di internet. Nakias jadi takut. Ia tidak bisa mempercayai siapapun sekarang.
“Uh, no, sorry. That’s not me.” Ujarnya.
“No, I’m pretty sure you’re Nakias. I recognize you.” Ketika Nakias hendak berbalik, stranger itu menahan tangannya. “Someone left this for you.“
Nakias mengernyitkan dahinya bingung ketika pria paruh baya itu mengulurkan kotak kecil berwarna merah tua dengan bahan beludru. Nakias tahu itu kotak perhiasan, tetapi tidak mungkin seseorang memberikannya secara tiba-tiba disini. Ia tentu tidak bisa menerimanya, karena bagaimana jika isinya adalah narkoba? Atau lebih parah, bom?
“I don’t think I can accept this… sorry.”
“I promise, it’s nothing sketchy or dangerous.” Ucap pria itu. “If you’re worried, you can go ahead and open it first.”
Nakias sangat ragu. Pria tua yang tidak ia kenal ini sebenarnya terlihat harmless, dia juga tidak terlihat memaksa. Maka dari itu, ia pun dengan hati hati membuka kotak tersebut di depannya. Di sana, terdapat sebuah kalung berwarna perak dengan inisial N dan juga secarik kertas kecil.
Meet me at the spot where we took our first photo together. :) — N.
Merasa familiar dengan inisial tersebut, Nakias segera berbalik untuk mencari keberadaan Noah dari kaca toko. Laki-laki itu ternyata sudah tidak lagi mengantre disana. Noah telah meninggalkan Nakias tanpa sepengetahuannya. Nakias pun menghadap ke arah pria paruh baya tersebut, mengucapkan terima kasih, dan segera berlari untuk menghampiri Noah di spot foto pertama mereka ketika datang.
Sesampainya disana, Nakias tidak langsung menemui Noah karena banyak sekali turis yang sedang berfoto di sana. Ia terus celingak-celinguk, menggigit ujung kukunya cemas, dan merasakan jantungnya agak berdebar karena ia takut terpisah dengan Noah.
“Naki!” Akhirnya suara itu membuatnya kembali bisa bernafas.
Nakias berhenti berlarian kesana-kemari ketika matanya menangkap Noah yang berjalan mendekat. Ia sudah siap memarahi laki laki itu ketika Noah berhenti di hadapannya.
“For fuck’s sake, Noah! Are you the Flash or something? How do you move so fast?” Omel Nakias sambil mengatur nafas.
“Whoa, slow down. Why are you out of breath?”
“Because you ditched me! Gue panik banget tau waktu ngeliat lo udah gak ada di dalem toko souvenir tadi! Terus, ini apa coba?! You just hand over this crazy expensive necklace to a stranger? Come on, Noah, I know you’re not usually this careless! Kalau dia penjahat gimana?!”
Noah cengengesan. “Hehehe, chill, Naki. Gue kenal kok orang yang tadi. It’s all good.”
Nakias menatap Noah sangsi. “Beneran?”
Noah mengangguk. “Iya, Nakias. Trust me.”
Nakias menghela napas, kemudian bergerak maju untuk memukul lengan atas Noah. “Don’t just leave me like that again! Even though I’ve been living here for a while, it still freaks me out sometimes! Gue takut kita kepisah tau!”
“Oh, oh, I’m really sorry, baby.” Noah menghentikan tangan Nakias dengan cara memeluknya hangat. “It won’t happen again, I promise. I just wanted to give you a surprise.”
“Well, you definitely surprised me. But… is there another surprise I should be worried about?” Tanya Nakias di pelukan Noah. Laki-laki itu segera melepas pelukan.
“You’re holding the necklace I gave you, right?” Noah malah balik bertanya. Nakias mengangguk sambil menunduk untuk melihat kotak merah di tangannya.
“I wouldn’t give you something like this without a reason. The initials on it? Those are ours. And, well... I want to tell you how I really feel, right here, right now.”
“You want to… what…?”
“Nakias,” Noah menarik nafas sambil meraih sebelah tangan Nakias sebelum mulai berbicara. “I don’t know if you’ve been waiting for me to say this, or if you even saw it coming, but I need you to know something. From the very first moment I looked into your starry eyes, I was hooked. You came into my life when I was at my absolute lowest. Back then, I was seriously considering quitting my career as a pianist. I had lost all interest in playing. But then you showed up at my recital and everything changed.”
“I like to joke that you’re my Cinderella—you didn’t leave a glass slipper, but that earring you left behind after what turned out to be one of the best nights of my life… That was my sign. That night went from something gloomy to something really special, all thanks to you. And as it turns out, this Cinderella happens to be a musician himself. You play the cello, violin… basically, every classical instrument imaginable. It’s like you’re too good to be real.” Noah berhenti berbicara selama beberapa detik sebelum melanjutkan.
“And honestly, Nakias, you’ve made me smile again—after months of feeling like that was impossible. I know you’ve probably noticed that I’ve been hesitant about starting a new relationship. Over these past few months, I’ve spent a lot of time wondering if I was ready to give love another shot. But every day, you’ve made it clearer and clearer to me. You’ve made me sure—sure that I want to protect you, sure that I want to be with you, and sure that I want to love every part of you, your strengths, your flaws, all of it.”
Tangannya sedikit meremas tangan Nakias, gugup. “I don’t know if anything I’ve done has made you feel the same way, but… what do you say? Would you take a chance on me and be my boyfriend?”
Di sanalah Nakias merasa kakinya berubah menjadi jelly. Perutnya bergejolak, dan rasanya ia akan meledak beberapa detik lagi!
“Noah… you really don’t know what you’ve just done to my heart. It’s like you’ve unlocked something inside me that I thought was buried for good. You said you weren’t sure if I’ve been waiting for this—well, I’ve been waiting longer than you probably realize. Every time I’m with you, or even just thinking about you, there’s this little voice inside my head hoping you’d feel the same. And now that you’ve said it, it feels so surreal!” Aku Nakias.
“I’ve honestly forgotten what it’s like to feel this way. I’m not exaggerating when I say this is the first time in ages that my heart has raced like this because of someone. You make me feel like a teenager again, falling in love for the first time. It’s wild how just hearing your voice or getting a random text from you can change my entire mood. I’ll be having the worst day, but then you do something so small—like smile at me, or send me a silly joke—and suddenly, everything feels lighter. You probably don’t even know the power you have over my happiness.” Ucapnya dengan penuh binar di kedua bola mata.
“Everything about you makes me feel special, and I’ve been trying so hard to show you that I feel the same. Every moment we’ve spent together, I’ve wanted to make sure you knew how much I care, how much I appreciate you. I love the way you make me feel, but more than that, I love you—just as you are. The way you talk about music, the way you look so focused when you’re playing the piano, the way you laugh when you’re telling me a story… all of it makes me fall for you even more, Noah.”
“You don’t just make me happy—you make me feel alive. I want to be there for you, through every high and every low, and I want to make you smile just like you’ve been doing for me. Every minute we spend together, I just feel more and more certain that I want to be with you.” Nakias benar-benar tidak memutus kontak mata dengan Noah barang sedetikpun, dan itu benar benar membuat pria di hadapannya ingin menangis sekarang juga. “So yes, Noah Titicharoenrak, I want to be your boyfriend. More than anything, I want to be yours. I love you so much, I couldn’t be more in love!”
Nakias tidak ingin menunggu lebih lama lagi, ia pun segera menubruk badan Noah dengan pelukan hangatnya. Dan Noah, ia dengan senang hati menangkap tubuh yang lebih kecil darinya.
“Thank you, thank you so much, Nakias.” Bisik Noah disela-sela pelukan mereka serta mengecup pucuk kepala Nakias lembut.
Setelah cukup lama berpelukan, Noah menjadi orang yang pertama untuk menjauhkan tubuhnya. Ia mengambil kotak beludru dari tangan Nakias dan mengambil kalung di dalamnya. Noah kemudian memberi kode pada Nakias untuk memutar badan, seperti paham walaupun tidak dengan kata kata, laki laki itu menurut untuk membiarkan Noah memakaikan kalung padanya.
“Cantik banget, thank you, Noah.” Ujar Nakias sambil memegang inisial pada kalung tersebut. “N for Noah!”
Noah tersenyum, ia kemudian memasukan jemarinya ke dalam kerah, mengeluarkan kalung identik dengan Nakias yang ternyata sedari tadi telah ia pakai. “N for Nakias!”
“Noah, you know what? I never thought in my entire life that someone would confess their feelings to me in front of the Statue of Liberty.” Celetuk Nakias.
Noah sedikit meringis, merasa malu. “I know, Naki, I’m sorry. Our first official date probably should’ve been in front of the Eiffel Tower or somewhere super romantic. But, you know how it is—our schedules are always clashing, and trying to plan anything outside of practicing is like trying to move mountains…”
Mendengar itu Nakias memutar bola matanya, namun senyuman di wajahnya melembut. “Oh, shut up, Noah. I don’t care if we’re standing in a cave or lost in the middle of nowhere. As long as it’s with you, it’s romantic enough for me.”
And without hesitation, Nakias reached up, wrapping his arms around Noah’s neck and pulling him closer. He hadn’t even realized how much Noah had grown until that moment, noticing that he had to stand on his tiptoes now just to reach his lips. But he didn’t mind—if anything, it made the moment even sweeter.
Noah’s smile grew wider as he leaned in, pressing a soft, gentle kiss to Nakias’ lips. It wasn’t rushed or overly dramatic—it was just right. It was as if both of them wanted to pour all their feelings into that one simple moment. Noah’s arms tightened around Nakias’ waist, pulling him close, as if he was afraid to ever let him go. For a split second, the reality hit him—they were officially together now. Nakias wasn’t just the guy he was interested in; he was his.
Sure, they’d kissed plenty of times before, but this time it was different. Kali ini, pada akhirnya mereka bisa memanggil satu sama lain dengan sebutan “boyfriend” tanpa ragu-ragu. There was something freeing about that, something that made Nakias and Noah’s heart race just a little faster.
Dan seperti yang telah Nakias bilang sebelumnya, he couldn’t be more in love.
This was the kind of happiness he had only dreamed of, and now that it was real, he wanted to hold onto it forever. Being with Noah like this felt like the beginning of something amazing, and Nakias knew—deep down—that he never wanted it to end.