“Aduh! Sakit, Snoopy. Jangan diteken gitu.”


Gemini tidak akan mengaduh seperti ini jika beberapa menit yang lalu, seusai bel pulang sekolah berbunyi, Fourth Nattawat tidak tiba-tiba menyeretnya ke UKS untuk mengobati luka memar disekitar wajah Gemini.


“Ya pasti sakit karena lo gak langsung obatin waktu itu! Lagian bego banget sih, punya luka bukannya langsung dikasih salep malah di diemin.”


Gemini merapatkan bibir, tidak bisa mebantah kalimat yang dilontarkan Fourth karena semuanya adalah fakta. Ia lantas membiarkan Fourth dengan telaten mengoleskan salep memar pada wajahnya, sambil sesekali mencuri lirik, menikmati pemandangan indah dari wajah Fourth. Laki-laki itu masih terlihat cantik meskipun alisnya mengerut dan bibirnya cemberut. Gemini yakin Tuhan sengaja menciptakan Fourth untuk mengasah pensil-Nya.


“Bibirnya biasa aja kali gak usah cemberut gitu. Ikhlas gak sih ngobatin gua?” Celetuk Gemini.


Mendengar itu, Fourth mendengus. Ia kemudian menekan memar pada wajah Gemini dengan sengaja. Laki-laki itu kembali mengaduh kesakitan.


“Rasain!” Ucap Fourth. “Lo gak ngerti ya, gue tuh sedih tau ngeliat lo bonyok bonyok kayak gini! Gue lagi nahan nahan supaya… supaya gak nangis-”


“Eh kok nangis sih! Jangan nangis dong- eh, aduh!” Gemini gelagapan melihat mata Fourth yang tiba-tiba berkaca-kaca. Entah apa yang sedang dipikirkan yang lebih muda, Gemini tidak tahu. Tangannya ia ulurkan untuk mengusap air mata yang telah jatuh di pipi Fourth.


“Kan gua yang kesakitan, kenapa lu yang nangis…”


“Kalo bukan karena gue pasti-”


“Gak mau denger, gak mau denger, gak mau denger.” Potong Gemini. “Gua udah baikan sama Archen, Snoopy. Dan masalah gua sama dia kemaren, it’s not on you. Kita berdua emang sama sama tolol aja.”


Fourth diam, kemudian mengelap kedua matanya yang basah bergantian. “Tetep aja sedih ngeliat muka lo jadi jelek kayak gini.”


“Kayak yang biasanya gua ganteng aja menurut lu.” Gemini mencubit pipi Fourth gemas.


“Emang ganteng kok.” Sahut Fourth, membuat Gemini mematung di tempatnya. Ia pun menarik tangannya dari pipi yang lebih muda.


“Jangan gitu, nanti gua makin baper yang ada lu makin repot lagi.”


“Lo selama ini bikin gue baper, gue gak pernah larang tuh? Masa giliran sebaliknya gak boleh?” Tanya Fourth.


“Hah?”


“Ternyata lo sama begonya sama gue kemaren ya,” Fourth lagi-lagi mendengus. “I'm not sure if this is the right time or place to confess my feelings, tapi lo harus tau kalau gue juga suka sama lo, dumbass. Gue sayang sama lo, not just as my best friend, but more than that.Selama ini gue pikir perasaan gue cuma sepihak. Gue selalu galau mampus setiap lo ngomongin tentang orang yang lo suka, tai banget. Kenapa gak bilang aja sih dari awal kalau lo suka sama gue?!


Kalau lo bingung kenapa gue si anti-romantic ini bisa ngerasain perasaan paling alay sedunia sama lo, lo pikir gue bisa biasa aja when you’ve always put me first in every goddamn situation?Seinget gue, gue bukan orang yang selalu butuh bantuan orang lain. But ever since I met you, I’ve found myself depending on you. I want to always be around you, bug you, pengen ngelakuin semuanya sama lo.


It’s crazy how orang yang awalnya gue benci banget karena udah ngerusakin nintendo switch kesayangan gue, malah jadi orang yang selalu bikin gue nyaman, bikin gue ngerasa aman, bikin gue ngerasa disayang. Gak ada lagi orang selain lo yang mau constantly ngedengerin gue nangis nangis habis baca novel, nganterin gue kemanapun, selalu mau gue ajak main pulang sekolah, mastiin gue yang picky eater tolol supaya bisa tetep makan, megang tangan gue supaya gue ngerasa aman dari badut-badut karakter yang gue takutin, ngasih gue gelang couple, nyanyiin gue lagu sempurna supaya gue tidur yang mana pada akhirnya gue cuma pura pura tidur karena salting banget, dipanggil Snoopy, pokoknya masih banyak hal yang belum gue sebutin, tapi itu semua kurang lebih yang paling membekas di pikiran gue. Intinya, gue seneng banget waktu lo confess. Gue pengen meluk lo sampe gepeng bahkan sanking senengnya. It’s such a waste gue gak sempet nerima bunga yang lo kasih karena kejadian itu. So I bought the new one, for you.”


Gemini masih melongo setelah mendengar kalimat panjang lebar yang diucapkan Fourth. Reaksi yang kurang lebih sama dengan yang Fourth lakukan beberapa hari yang lalu. Mendengar Fourth menyatakan cinta padanya benar benar tidak ada dalam bingo list Gemini. Sampai beberapa menit yang lalu, laki laki itu masih menyangka bahwa selama ini, perasaannya hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Yang lebih tua semakin mematung lagi ketika Fourth, entah kapan dia bergerak karena Gemini sibuk melamun, sekarang duduk di hadapannya dengan setangkai bunga mawar putih- lumayan mirip dengan yang ingin ia berikan padanya hari itu, tetapi tentunya bukan bunga yang sama mengingat si putih itu sudah rusak karena terinjak-injak pada saat ia berkelahi dengan Archen.


“Woi, kenapa sih diem doang? Gue udah buang gengsi yang setinggi langit buat ngomong kayak tadi, tau.” Fourth menendang kaki Gemini.


“Ini serius gak sih? Apa gua mimpi ya?”


“Mau gue tendang lebih kenceng sekali lagi?”


“Jangan!” Gemini menahan kaki Fourth. “Lu beneran … sayang sama gua juga?”


“Gemini lo tau kan kesabaran gue setipis tisu dibelah empat? Gue udah jelasin panjang lebar lo masih gak ngerti juga?! Katanya medali emas olimpiade, tapi kok bolot banget sih!”


Menyadari bahwa yang ia dengar tadi bukan hanya haluan alam di bawah sadarnya, senyuman Gemini merekah, sangat lebar hingga Fourth ngeri bibir lelaki itu bisa sobek.


“Jadi selama ini lu naksir gua jugaaaa?” Gemini mengulurkan tangannya untuk menggelitiki dagu dan leher Fourth seakan akan laki-laki itu adalah anak kucing.


“Geminiiii ah, diem gak!” Fourth menghindari tangan Gemini sambil berusaha untuk menahan senyum. “Geli, Geeeem!”


“Cieeee Snoopy suka sama gua”


“Eh diem dulu sumpah. Serius duluu!” Fourth menjauhkan tangan Gemini dari dagunya. “Jadi ini siapa yang mau nembak? Gue apa lo?”


“Disini banget mau jadiannya? Di UKS???”


“Lo pikir ide lo confess di lapangan terbengkalai banyak debu dan hantu kemaren lebih keren daripada jadian di UKS?” Fourth memutar bola mata, membuat Gemini tertawa.


“Ya sorry!! Maksud gua kan lapangan lama sepi, jadi kalau gua ditolak gak bakal malu-malu amat hehehe.”


“Pesimis sih lo.” Cemooh Fourth.


“Tapi kalau misal kita pacaran sekarang, emang Pond bolehin?” Tanya Gemini tiba tiba. “Kalau nanti ada berantem part dua…”


I've already had a talk with him about this. Udah gak perlu ada yang dikhawatirin lagi, Gem.” Jawab Fourth, Gemini mengangguk-anggukan kepala sambil bernafas lega. “Udah ah, lama lo. Gue aja yang nembak.”


“Dih, gua lah! Kan gua yang confess duluan!”


“Gue! Kan gue yang beli bunga.”


“Gua juga pas itu beli bunga???”


“Mana ada, pasti Pakin yang pesenin.”


“Kok lu tau?!?!?!?!?”


“IH JADI BENER?! PADAHAL GUE CUMA ASAL NGOMONG???” Fourth melebarkan matanya, ia hendak melayangkan pukulan ringan pada Gemini tetapi lelaki itu buru buru menahannya. “Parah banget se-gak effort itu lo ke gue, masa yang beli bunganya Pakin?!”


“Gak gitu eh dengerin… gua kan gak pernah beli bunga jadi gak tau cara belinya gimana dan dimana…” Jelas Gemini, masih menahan kedua tangan Fourth.


“Gue juga baru pertama kali tapi tau tuh.” Sahut Fourth. “Makanya biar gue gak marah, Gemini Norawit, would you please be mine?” Ia lantas melepaskan tangannya dari pegangan Gemini, kemudian menyodorkan bunga mawar putih yang mereka ributkan beberapa detik lalu.


“Kok curang sih!”


“JAWAB AJA SIH!”


Gemini menghela napas, ia memang orang terlemah sedunia karena tidak pernah bisa berkata “tidak” pada seorang Fourth.


I’m all yours, Fourth Nattawat.” Laki laki itu lantas menerima bunga mawar putih tersebut.


Fourth ikut tersenyum lebar, seperti orang gila. Baik dirinya maupun Gemini benar-benar senang karena inilah momen yang mereka tunggu-tunggu selama ini.


“Terus ngapain lagi Gem, kalau udah pacaran?”


“Ngapain ya…” Gemini menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Pasalnya, ini juga hubungan percintaan pertama yang ia miliki semasa hidupnya. Setelah berpikir selama beberapa saat, yang lebih tinggi merentangkan tangannya. “Pelukan?”


Fourth menyengir dengan pipi yang bersemu, ia pun memajukan kursinya agar lebih dekat dengan kasur uks yang sedang diduduki Gemini. Dengan senang hati, laki-laki itu menerima pelukan hangat tersebut.


Gemini meletakkan dagunya di pundak Fourth, begitupun sebaliknya. Tangannya ia ulurkan untuk mengusap-usap belakang rambut Snoopy-nya, seakan-akan ingin memberi tahu bahwa selama ini, ia begitu menyayangi Fourth, dan sampai seterusnya akan begitu.


You wouldn't believe how long I've been waiting for this moment, Snoopy.” Bisik Gemini. “Gua sayang banget sama lu.”


Oh, shut up. I love you more than you can even imagine, Gemini.”