Selaras
II. Semesta milik kita.
“You’re joking.”
“I wish I am!“
Jakarta siang itu hujan.
Mendung yang tidak lagi tertahankan sejak satu jam lalu. Pada jam-jam seperti ini, biasanya kafe tempat Matthew bekerja paruh waktu ramai pelanggan. Entah yang cuma mampir untuk beli kopi dan dibawa pergi atau betulan singgah dan menghabiskan segelas minuman dengan pemandangan jalan protokol ibukota. Tapi karena rintik-rintik hujan yang awet, saat ini tidak ada siapapun kecuali Matthew dan salah seorang rekananannya yang lagi merokok di luar.
Matthew sedang menelepon Keita, mengeluh kalau shift-nya hari ini mungkin akan lebih lama selesainya dan akibatnya, ia gak akan bisa sampai di bioskop tempat mereka janjian tepat waktu.
“Ya abis gimana,” Matthew mendumel sambil mengelap meja konter yang sudah terlalu kinclong. “Dia bahkan bilang bisa sampe sejam dateng telatnya!”
“Itu mah lo ngegantiin dia full aja gaksih.“
“Gatau ah,” Matthew akhirnya melempar kain yang sedaritadi di rematnya ke lantai. “Terus gimana?”
“Gimana apanya?“
“Nontonnya!”
“Ya… yaudah gue bisa sama siapa kek—“
“Lo mau ninggalin gue?!” Matthew hampir menangis.
“Nanti gue temenin nonton lagi anjir!“
Masih cemberut, Matthew akhirnya menghela napas pasrah. “Oke.”
Setelah mengobrol untuk beberapa saat, panggilan mereka diputus.
Matthew menyempatkan diri mengecek Instagram dan Twitter sampai ia bosan sendiri lalu sumringah ketika mendapat pesan di grup keluarga.
Ibu dan Ayah-nya kebetulan sedang dalam perjalanan ke Kanada untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke-30. Dua malam sebelumnya, mereka sudah mengajak Matthew untuk makan malam di sebuah restoran rekomendasi Matthew di tengah kota sebagai selebrasi pertama. Sekarang, Matthew tersenyum melihat kedua orangtuanya yang berpose di depan air mancur khas Bandara Internasional Vancouver, selebrasi kedua berupa trip tujuh hari di negara daun maple tersebut.
Matthew lalu meletakkan telepon genggamnya di laci dan mengambil sebuah buku yang sedang dibacanya beberapa hari terakhir. Judulnya ‘Selaras’, penulisnya cuma meletakkan inisial namanya di halaman depan dan belakang buku—K.J. Sebenarnya Matthew bukanlah seseorang yang begitu gemar membaca buku, buku ‘Selaras’ ini pun sebenarnya hampir gak jadi ia beli saat sedang membeli peralatan melukisnya di toko buku. Entah dorongan dari mana yang membuatnya jauh-jauh berjalan kembali ke area novel saat semua bahan sudah di-scan di kasir, tapi Matthew senang ia akhirnya membeli buku ini.
Kalau Matthew boleh bicara, rasanya tiap paragraf yang ia baca itu familiar. Akrab. Meski hidupnya saat ini berbeda jauh dengan tokoh utama Michael, Matthew tidak bisa bohong kalau ia bisa melihat dirinya dalam karakterisasi Michael. Begitu juga dengan pasangannya—tokoh Juan yang digambarkan dengan penuh cinta. Perjalanan mereka yang sedikit banyak tragis tapi juga manis.
Matthew masih sibuk membaca dengan headset yang menempel di telinganya sehingga ia tidak menyadari ada pelanggan yang masuk ke dalam kafe. Lelaki tersebut berusaha membuat sepatunya sekering mungkin sebelum melangkah lebih jauh ke dalam kafe, mendekati Matthew yang menyandarkan dagunya di meja dan buku yang diberdirikan dengan kedua tangannya.
“Halo?”
“Shit!” Matthew buru-buru melepas headset-nya ketika ada tangan yang melambai di sebelah bukunya. “Sori,” kata Matthew sambil nyengir. “Maaf Kak, mau pesan apa?”
Cowok yang lebih tinggi dari Matthew itu cuma balas tersenyum, mengibaskan tangannya maklum. “Gapapa, sori juga ya kalau ngagetin,” katanya. Senyumnya sedikit mendistraksi Matthew yang masih linglung. “Kopi susu biasa aja, ada?”
“Ada Kak!”
Setelah menyelesaikan pesanan dan pembayaran melalui kode QR, Matthew dengan sigap membuat pesanannya. Lelaki itu hanya memberikan nama Kim untuk Matthew panggil—yang mana sedikit mengecewakan, tapi Matthew tahu lebih baik ketimbang harus bertanya lebih. Sambil mencuri pandang sesekali, Matthew menyimpulkan pria itu atraktif. Rambut hitamnya yang legam dan dibiarkan tanpa gel, posturnya yang tegap-tinggi. Caranya berpakaian mengingatkan Matthew pada dirinya sendiri, sebenarnya. Dengan celana washed jeans yang jatuh sedikit longgar pada kakinya dan kemeja biru langit yang dibiarkan dua kancing atasnya terbuka. Kim membuka laptopnya sedetik setelah ia mendudukkan diri di salah satu bangku dan Matthew perlu menahan diri supaya gak bersiul menyadari lengan kemejanya dilipat hingga hampir menyentuh siku. Matthew juga mendengar saat ia menelepon seseorang—sepertinya Ibunya, mendengar kata ‘Bunda’ yang sesekali melipir dari sela bibirnya.
Matthew lalu menggeleng-geleng kepalanya agar tidak menguping lebih lanjut. Ketika segelas kopi sudah siap disajikan, ia memberanikan diri mengantar minuman tersebut langsung ke meja Kim. Tidak sesuai dengan SOP biasanya, sebenarnya. Tapi Matthew pikir gak ada salahnya.
“Kopi susu SSS buat Kak Kim,” kata Matthew hati-hati, persis setelah Kim menyelesaikan panggilannya.
“Eh, makasih,” mata Kim bertumbuk ke kopinya lalu pada Matthew yang berdiri canggung—karena ia hampir saja pergi sebelum Kim izin untuk bertanya sesuatu. “Lo lagi baca ‘Selaras’, ya?”
Matthew mengerjap. “Iya, Kak… kenapa ya?” balasnya bertanya, gak paham kemana percakapan ini akan berlanjut.
Kim lalu mengulurkan tangannya, terlihat antusias. Matthew gak menyambutnya sampai Kim terkekeh lantas memperkenalkan diri. “Salam kenal, gue yang nulis—K.J. Gue Kim Jiwoong.”
Matthew terkesiap, tapi tidak ada yang dapat mempersiapkannya pada memori yang mengerubunginya seperti semut yang melahap habis makanan manis di detik ketika tangannya menyentuh Kim Jiwoong.
Kim Jiwoong.
Pantas rasanya familiar.
“Abang lagi banyak pikiran ya?“
Tanya Bunda, beberapa menit setelah mereka memulai sesi telepon.
Siang itu, Jiwoong akhirnya memilih untuk turun melihat ada salah satu kafe yang tepat berada di pinggir jalan daripada harus lanjut mendekam di taksi yang rasanya hampir lima belas menit tidak banyak berpindah. Ia punya draft yang harus diselesaikan dan dua puluh empat jam dalam satu hari gak pernah cukup untuknya, jadi Jiwoong sudah belajar untuk menggunakan waktu sebaik mungkin semenjak ia mengikat kontrak dengan salah satu penerbit impiannya.
Jiwoong mencintai pekerjaannya, sungguh.
Sampai detik ini ia pun gak menyangka bisa menulis sebagai caranya menyambung hidup. Dan momen seperti tadi, ketika ia melihat ada yang membaca karyanya dengan mata kepalanya sendiri, adalah momen-momen yang mengingatkan Jiwoong tentang bagaimana ia bisa berada di tahap hidupnya saat ini. ‘Selaras’ adalah salah satu anaknya yang paling berharga. Adalah karya yang Jiwoong tulis seperti menulis diari lama, mudah dan dekat. ‘Selaras’ adalah sebuah buku yang sejatinya menjawab banyak pertanyaan Jiwoong pada tiap keputusan yang ia ambil selama 23 tahun memijak bumi.
Jadi melihat si barista tadi sedang membacanya dengan serius dan mata yang berkaca, Jiwoong merasakan seolah hatinya diremas dari dalam. Ia takjub, bangga sekaligus senang. Cowok yang menggunakan name tag Matthew itu jelas terlihat malu saat Jiwoong mengambil perhatiannya dari buku dan ia sedikit merasa tak enak.
Tapi perasaan itu juga dengan cepat ia lupakan saat Bunda meneleponnya sewaktu Jiwoong mengambil tempat duduk. Mereka berbincang sembari Jiwoong membuka lembar draft tulisannya satu per satu, hingga Bunda mungkin menyadari ia tidak begitu fokus terhadap percakapan mereka. Menanyakan jikalau Jiwoong sedang banyak pikiran.
“Biasa Bun,” jawab Jiwoong, enteng. “Ada deadline, tapi gapapa kok. Nanti juga kelar. Maaf ya Bun, jadi ga konsen ngobrolnya.”
Bunda menggumam penuh pengertian. “Gapapa, Abang. Cuma mau ingetin jangan lupa ke rumah weekend nanti ulang tahun Lya.“
“Pasti, Bunda,“ Jiwoong memberikan konfirmasi untuk yang kesekian kali. “Abang matiin dulu ya.”
Sesaat setelah meletakkan gawainya, Matthew Si Barista ternyata sudah menunggu di belakangnya.
“Kopi susu SSS buat Kak Kim,” katanya dengan suara kecil, Jiwoong menahan tawa.
“Eh, makasih,” Jiwoong sedikit berpura-pura kaget. Ia menimang untuk beberapa detik sebelum akhirnya menahan Matthew agar bisa menanyakannya perihal buku yang dibacanya. “Lo lagi baca ‘Selaras’, ya?”
Cowok itu mengedip menggemaskan. “Iya, Kak… kenapa ya?” ucapnya bertanya, jelas gak menangkap kemana obrolan ini akan berlanjut.
Jiwoong lalu mengulurkan tangannya, mengembangkan senyum selebar mungkin. Lucunya, Matthew gak menyambutnya sampai Jiwoong tertawa lalu memperkenalkan diri. “Salam kenal, gue yang nulis—K.J. Gue Kim Jiwoong.”
Jiwoong melihat bagaimana mata Matthew seketika melebar bersamaan dengan mulutnya yang ikut menganga. Ia mengekspektasi lembut jemari Matthew yang kecil saat mereka berjabat tangan, tapi tak ada yang memperingatkannya akan ingatan baru yang berhamburan di kepala Jiwoong seperti debur ombak yang tinggi.
Matthew.
Matthew.
Senyum Jiwoong pudar. “Seok Matthew?” ucapnya, seperti muscle memory. Seperti nama itu terkubur di pojok paling tersembunyi otaknya dan baru saja muncul ke permukaan saat itu: ketika mereka saling menyentuh.
“I still can’t believe this.“
Jiwoong setuju.
Sudah beberapa jam terlewati sejak ia dan Matthew saling mengingat, memori dari dunia entah yang mana, pada waktu entah kapan, tapi mereka ingat. Semua yang tertulis di ‘Selaras’ adalah kisah mereka sendiri pada semesta yang telah mereka lewati hidup dan matinya. Sekarang mereka ada di sini, dengan nama yang sama dan umur yang sama, tapi jelas telah dituliskan takdir yang berbeda.
Matthew merasa kewalahan sehingga ia menangis di kafe tadi, mengizinkan Jiwoong untuk menenangkannya dengan cara direngkuh. Rengkuhan yang entah mengapa terasa terlalu familiar, untuk sosok yang baru saja ditemuinya tidak lebih dari lima belas menit—seenggaknya di semesta yang ini. Jadi Matthew tidak berusaha keras untuk mengelak. Jiwoong menatapnya dengan segurat senyum tipis serta jejak air mata yang gak jauh beda dari dirinya sendiri dan Matthew merasa pulang.
“Did I really die in a car crash?” Matthew visibly flinched. “Maaf,” Jiwoong buru-buru mengambil tangan Matthew yang mengepal di atas meja. Melewati makanan mereka yang belum tersentuh.
Untuk Jiwoong, sampai siang tadi, ‘Selaras’ cuma lembaran-lembaran imajinasinya yang tiada tanding. Termasuk ke bagian di mana ia menulis Juan yang meninggal karena menjadi korban tabrak lari.
Sampai siang tadi.
Menyadari ‘Selaras’ adalah pada dasarnya reka ulang yang menggambarkan kehidupannya sebelumnya membuat Jiwoong terperengah. Menyadari Matthew berarti melewati hidupnya yang ditinggalkan Jiwoong dengan cara paling tidak terduga membuat hatinya terenyuh. “Maaf, aku gak sadar ini bisa jadi memori yang buruk buat kamu.”
“Yang paling buruk,” pungkas Matthew, ia memperhatikan sekeliling. Di mana restoran Jepang yang mereka tempati saat ini sedang tidak terlalu ramai. Matthew mencoba mendekam perasaan berat yang muncul di dalam dirinya. Semuanya masih terasa seperti mimpi saat ia tidur di tengah demam tinggi dan bukan fakta kalau saat ini Matthew tengah berbincang dengan belahan jiwanya di kehidupan sebelumnya. “Is… is that how the book ends?” he asks, gulping down the lump in his throat.
“Iya,” Jiwoong menjawab, jemarinya mengelus buku jemari Matthew perlahan. “Tapi kamu ngabisin sisa hidup kamu dengan bahagia, Matthew. Di ‘Selaras’,” lanjut Jiwoong. Matanya penuh binar harap saat ia mengakhiri. “Aku harap kenyataannya begitu juga.”
Matthew was happy.
Ia menghabiskan sisa hidupnya terseok-seok mencari hal-hal yang membuatnya bahagia, seperti pesan Jiwoong lewat bunga kelulusannya. Meniti umurnya terayap-rayap mengejar ketenangan duniawi yang awalnya terdengar mustahil diraih tanpa kehadiran Jiwoong. Tapi Matthew berusaha, dan panjang umurnya kemudian mengantarkannya pada perjalanan hidup yang luar biasa. Perjalanan hidup yang menjadi sangat bermakna karena dilakukannya sedikit banyak untuk Jiwoong dan hanya untuk Jiwoong.
Semakin Matthew mencoba mengingat, semakin jelas semua tergambar di kepalanya—seperti ia baru mati kemarin. Seolah baru saja ia menghabiskan tujuh puluh sekian tahunnya di Kanada dan bukan merupakan seorang mahasiswa tahun akhir dengan jurusan ilmu komunikasi yang sedang menyelesaikan skripsinya.
“Aku bahagia,” Matthew membuka kepalan tangannya lalu membiarkan Jiwoong mengaitkan dua jemari mereka di tengah-tengah. “Aku inget aku bahagia.”
Detik di mana mereka sama-sama berharap—Tuhan, kalau yang ini juga mimpi, tolong jangan bangunkan.
“You found me,” kata Jiwoong akhirnya, menyerah mencari celah.
Toh, dulu juga dia yang minta untuk ditemukan.
Matthew ikut sumringah, lega. Meski masih ada sebagian otaknya yang sebenarnya masih menolak memahami bagaimana cara semesta bekerja hingga ia kini mengenal Kim Jiwoong untuk yang kedua kali.
“I told you I’ll always find you.”
Mereka menghabiskan waktu untuk saling menceritakan kehidupan masing-masing. Bercerita dan saling bercerita, berusaha seminimal mungkin membahas masa lalu. Karena bagaimana pun juga, mereka ada di sini sekarang.
Dua jam tentu tidak cukup untuk memuat garis waktu mereka yang panjang, tapi seenggaknya cukup untuk membuat Jiwoong dan Matthew menyadari besar kemungkinan mereka tidak akan pernah bisa terpisahkan.
Matthew mengirim pesan untuk Keita saat mereka sudah berpisah dan ia sedang berada di jalan pulang.
You
what if i told you that we’re bestfriends even in our previous life
08.17 PM
keita😐😐
then i’ll tell you that’s cheesy as fuck
but i love you too you know😚
bisa ga sih mengungkapkan cintanya dengan cara normal aja
08.22 PM
You
damn
ok
i love u keita
08.25 PM
keita😐😐
I KNEW IT
08.30 PM Read
Nyatanya, Kim Jiwoong dan Seok Matthew menginvasi hidup satu sama lain jauh lebih mudah dari yang mereka bayangkan. Seperti kepingan terakhir puzzle yang mereka pun tak sadar telah kehilangan.
Mereka belum menggunakan kata ‘cinta’, tidak ketika mereka perlu mempelajari satu sama lain kembali dari titik permulaan, 0 besar yang berharga. Tapi mereka tahu ada hal besar yang menunggu mereka di akhir perjalanan. Jiwoong tahu ia ada di jalan yang benar ketika Matthew akhirnya mengajaknya bertemu orangtuanya untuk pertama kali dan ia diterima dengan senang hati, tangan terbuka. Matthew tahu pilihannya tidak salah ketika Jiwoong mengenalkannya pada adik-adiknya dan mereka menyambutnya seperti kehadirannya sudah ditunggu sejak lama—apalagi saat Bunda bilang ia seperti pernah melihat Matthew sebelumnya.
Lagi-lagi waktu berjalan cepat seperti pasir yang melipir dari sela jemari—tapi kali ini Matthew sudah memperhitungkan semuanya. Kali ini Jiwoong akan selalu berada di sisinya, dan ia merasa tidak punya ketakutan lagi akan apa yang ditawarkan semesta untuknya.
Mereka selaras, dan bagi Matthew, itu sudah lebih dari cukup.
A year later.
“Selamat, mas Jiwoong, buat bukunya yang kelima!”
Jiwoong sudah gak menghitung lagi berapa kali ia telah membungkuk dan menyalami segenap redaksi serta media yang hari itu terlibat di konferensi pers penerbitan buku barunya.
Draft yang akhirnya difinalisasikan setelah nyaris setahun terkena campur tangan editor, kini dapat ia pegang bentuknya. Rampung dan lagi-lagi menjadi salah satu karya yang dapat ia banggakan.
Kalau harus jujur, Jiwoong bisa bilang kehadiran Matthew menjadi salah satu inspirasi sekaligus motivasinya dalam menyelesaikan bukunya kali ini. Belajar mengenal Matthew kembali terasa seperti segelas air yang menyegarkan di tengah gurun gersang. Jiwoong banyak mengapresiasi Matthew yang secara tidak langsung sering memberinya dukungan lewat kata-kata afirmasi maupun gestur-gestur kecilnya: memastikan Jiwoong makan dan tidur dengan cukup, memastikan Jiwoong tidak melewatkan ulang tahun Bunda. Pernah juga sekali Matthew memberikannya sebuket bunga mawar padahal sedang tidak ada momen spesial di tanggal itu. Katanya, “Supaya kamu inget aku sayang kamu.“—dan, Tuhan, Jiwoong jatuh cinta.
Jatuh cinta seperti ini kali pertama.
“Makasih Mba,” Jiwoong menjabat tangan perempuan yang berdiri di depannya. Ia dengan lihai menandatangani buku yang disodorkan. Senyumnya merekah tatkala ia bertanya. “Namanya siapa Mba?”
Setelah selesai menandatangani puluhan buku dan konferensi pers telah berakhir, lampu yang akhirnya dimatikan membuat Jiwoong menghela napas lega. Ia berjalan keluar ruangan dan memastikan mengucap selamat tinggal kepada semua orang yang berjasa di hari pentingnya.
Tapi orang yang paling berjasa, untuknya, adalah yang saat ini di hadapannya setelah melewati satu jam perjalanan pulang yang melelahkan.
“Kak Jiwoong!”
Matthew melompat ke pelukannya dan tertawa lepas saat ia memutar tubuh mereka berdua di lorong apartemen Jiwoong yang sempit.
“Hi, Sweetling.“
“Sorry I wasn’t there,” the younger pouts, which Jiwoong kisses instantly. “Aku baru banget nyampe di sini habis bimbingan.”
“Gapapa,” kata Jiwoong, masih sembari membubuhkan banyak kecupan di sekujur mukanya. Matthew tergelak kegelian dan Jiwoong dengan perlahan menyandarkan punggung yang lebih muda ke dinding terdekat. “Yang penting kamu di sini sekarang.”
“Congratulations buat bukunya!” Matthew mengangkat kedua tangannya untuk menangkup wajah Jiwoong. “Kamu paling keren,” katanya, lekas gantian mencium ujung hidung dan kening Jiwoong, lama.
Untuk beberapa saat, Jiwoong hanya memandangnya dalam diam. Hangat di keningnya meninggalkannya merasa nyaman dan ia gak ingin membiarkan Matthew lolos dari jangkauannya. “Can I kiss you again?“
Matthew menjawabnya dengan berjinjit dan memagut bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam.
Dari sana, semuanya berjalan mudah. Yang ini bukan kali pertama, tapi Matthew tetap menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jiwoong malu ketika yang lebih tua membopong badannya yang seketika sudah tidak terbalut sehelai benang pun ke kamar. Yang ini bukan kali pertama, tapi Jiwoong menemukan Matthew kepalang menggemaskan dengan telinganya yang memerah saat Jiwoong menanggalkan pakaiannya satu per satu. “Matthew,” sebut Jiwoong dengan napasnya yang memburu. Ia memangku wajah Matthew dengan jemarinya yang panjang lalu mencium Matthew lagi, melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Matthew dan tak bisa menahan senyumnya merasakan Matthew yang mengalungkan lengan di lehernya putus asa. “Seok Matthew.“
“Please,“ Matthew meremat helai rambut Jiwoong yang pendek sembari menariknya mendekat dengan kaki yang dilingkarkan pada pinggang yang lebih tua. Matanya tidak fokus dan bibirnya yang penuh saliva membuat Jiwoong tidak tahan untuk tidak menyesap belah bibirnya satu kali lagi. “Please, Kak—“
Dari sana, semuanya berjalan mudah. Jiwoong menghapal setiap jengkal tubuh Matthew seperti rutinitas. Menghapal bagaimana Matthew menyukai sentuhannya, menghapal bagaimana Matthew menyukai tempo Jiwoong menggerakkan pinggulnya.
It doesn’t take long, not when Matthew is always so sensitive with Jiwoong. Not when Jiwoong can basically tastes heaven being inside the younger. Jiwoong memposisikan Matthew agar menyandar padanya seutuhnya, beberapa saat setelah mereka kembali dari euforia orgasme yang memuaskan. Matthew tengkurap di atas badan Jiwoong seperti gak bertulang, menurut sewaktu Jiwoong mengaitkan pergelangan kaki mereka.
“Sayang.”
“Hmm?”
Makasih, pikir Jiwoong.
Makasih udah nemuin aku. Makasih udah ada di sini. Makasih udah balik ke pelukan aku.
Matthew susah payah mengangkat kepalanya dengan tenaga yang tersisa untuk bisa menatap Jiwoong langsung, mencium dagunya dengan maksud mendorongnya berbicara. “Kenapa Kak?”
Jiwoong mengulas senyum. Tangannya mengelus pelipis Matthew yang lembab, mengabsen basah anak-anak rambutnya. “Nothing.”
Aku sayang kamu, di sini dan di kehidupan manapun kita ketemu.
“I love you, Kak Jiwoong.”
“I love you, Matthew.“
Bersamaan.
Berdampingan.
Selaras.