Hilang


Bel istirahat kedua baru aja bunyi. Kendrick keluar dari lab komputer paling akhir, sengaja ngulur waktu beberapa menit sebelum balik ke kelas karna ia malas desak -desakan.


Tapi begitu sampai di rak sepatu, dahinya langsung berkerut.


Sepatunya hilang.


“…”


Kendrick mengembuskan napas panjang. Nggak perlu mikir buat nebak pelakunya siapa. Matanya bergerak ke arah tong sampah di ujung koridor.


Dan benar aja.


Sebelah sepatunya ada di dalam sana.


Anjing lah.


Kendrick mendecak pelan lalu memakai sandal swallow yang tadi dibelinya di warung samping lab.


Baru juga melangkah beberapa langkah, kerah belakang seragamnya tiba-tiba ditarik kasar dari belakang sampai tubuhnya sedikit terdorong mundur.


Kendrick menoleh.


Milo.


Lelaki yang lebih pendek darinya itu berdiri dengan wajah jutek seperti biasa.


“Lo ngapain nyeker?” tanya Milo.


“Sepatu gue basah.”


Milo mengernyit. “Basah? perasaan kaga ujan knp bisa basah? Emang kena apaan?”


“Gapapa emang lagi basah aja” jawab kendrick seadanya.


“Hah? alasan macam apa itu anjing, gak make sense bngt tai,” ucapnya sambil menyeruput sekotak susu rasa vanila.


“Pasti di umpetin dion kan? ngaku aja Ken, lo gak jago bohong.” ucapnya lagi.


“iya,”


“TUH KAN, EMANG PANTEK SI DION ITU,” suara Milo mengelegar di sepanjang koridor.


“Kuping gue sakit Mil jangan teriak teriak napa,” tanga Kendrick reflek mengosok kupingnya.


“Yeuuuu tolol lu ah,” kesal Milo.


Milo memberikan sekotak susu bekas nya kepada Kendrick. ia tak tau apa maksud Milo memberi susu bekas milik nya.


“Minum tuh dan tunggu sini jangan kemana mana, kalau lo berani jalan selangkah gue patahin kaki lo.” ancam Milo lalu berlari ke kelasnya.


“Ini gue di suruh minum susu bekas nya? anjing,” gumam Kendrick pelan.


Lima menit kemudian, Milo akhirnya muncul lagi di ujung koridor. Napasnya terdengar berat, seolah baru habis keliling satu gedung sekolah. Di tangannya tergenggam sepasang sandal slop hitam yang terlihat jauh lebih layak dibanding sandal Swallow tipis yang dipakai Kendrick.


Tanpa banyak bicara, Milo berjalan mendekat lalu melempar sandal itu ke lantai tepat di depan kaki Kendrick.


“Pake.”


Kendrick menunduk melihat sandal tersebut selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat kepala.


“Makasih.”


Ia langsung mengganti sandalnya tanpa protes apa pun.


Milo mengembuskan napas panjang. Tangannya naik mengacak rambut sendiri dengan kasar. Entah kenapa melihat Kendrick yang pasrah menerima perlakuan apa saja malah bikin kepalanya makin pusing.


“Sepatu lo biar gue yang nyari,” ucapnya. “Lo balik ke kelas duluan aja.”


Kendrick mengangguk pelan.


“Iya, Mil.”


Milo baru mau berbalik ketika tiba-tiba teringat sesuatu.


“Eh.”


Kendrick menoleh.


Milo langsung menunjuk wajahnya dengan ekspresi galak.


“Satu lagi. Jangan pernah ngatain gue bawel lagi. Paham?”


Hening.


Lalu Kendrick menjawab dengan nada datar yang sama sekali tidak membantu.


“Iya, bawel.”


Mata Milo langsung membulat.


“KENDRICK!”


Refleks ia mengambil ancang-ancang untuk menendang kaki lelaki itu.Namun gerakannya mendadak terhenti.


Kendrick sedang tertawa kecil.


Tidak bersuara, hanya senyum yang perlahan terukir di wajahnya. Tapi itu sudah cukup membuat Milo terpaku di tempat.


Selama ini Kendrick selalu terlihat datar. Wajahnya nyaris tidak pernah menunjukkan emosi selain kesal, lelah, atau pasrah. Bahkan saat dibully sekalipun, ekspresinya hampir selalu sama.


Karena itu Milo tidak pernah benar-benar tahu seperti apa wajah Kendrick ketika sedang senang.


Dan ternyata…


Ganteng.


Absolutely ganteng sampai otak Milo mendadak kosong.


Lelaki itu hanya bisa berdiri mematung sambil menatap Kendrick yang masih tersenyum di depannya.


“Kenapa?” tanya Kendrick begitu sadar dirinya diperhatikan terus.


Milo langsung tersentak.


“Hah? gapapa kok.” Jawabannya cepat.


Ia buru-buru memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan lengan seragamnya sendiri.


“Cepet balik ke kelas sana.”


“Iya.”


Kendrick berbalik dan mulai berjalan pergi. Sementara Milo tetap berdiri di tempatnya.

Menunggu sampai sosok itu menghilang di ujung koridor.


Baru setelahnya ia menepuk kedua pipinya sendiri pelan.


“Apaan sih…”


Gumamnya bingung.


Karena untuk pertama kalinya, hanya gara-gara melihat seseorang tersenyum, jantungnya berdebar aneh seperti itu..