Noah Titicharoenrak tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan berlaku sejauh ini untuk seseorang. Sebelum semuanya terjadi, jauh di lubuk hatinya ia masih takut bahwa ia masih melihat Nakias sebagai pengganti yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya. Orang yang asik di ajak berbicara, mahir bermain cello, membuat Noah nyaman hanya dengan melihat senyumannya, dan masih banyak hal dari mereka yang serupa walaupun tak sama.
Noah tahu ia sudah terjatuh sangat dalam dengan pesona Nakias, tetapi ia masih ragu dengan alasannya. Apakah masih karena David? Atau ia sudah tulus mencintainya? Beberapa saat yang lalu, ia masih bingung.
Namun tampaknya, ia sudah mendapatkan jawabannya sekarang. Tepatnya setelah ia memohon-mohon kepada kakak laki-laki Nakias agar membiarkannya masuk dan melihat lelaki cantik itu menggunakan matanya sendiri, terlepas dari rintik air hujan yang mulai membasahi kepala dan bajunya. Hingga akhirnya kakak Nakias menyerah karena tidak mau make a scene lebih lama lagi.
Noah menyadari satu hal. Apapun alasan mengapa ia jatuh kepada Nakias, ia sudah tidak peduli lagi. Yang terpenting untuknya sekarang hanya ia ingin Nakias baik-baik saja dan tetap berada di dekatnya.
Dan di sinilah ia sekarang, di dalam apartment Nakias dan kedua saudaranya yang cukup luas, dengan handuk kecil di atas kepalanya untuk menyeka air hujan yang telah membasahi sebagian rambutnya. Di sampingnya, Nakias masih belum berhenti mengomel, memarahi kakaknya dan Noah secara bergantian karena melakukan hal yang tidak penting padahal akhirnya mereka masuk masuk juga. Noah yang batu tidak mau pulang, dan kakaknya yang batu karena tidak mau membiarkan bocah itu masuk.
Tetapi Noah tidak keberatan, ia malah merasa jauh lebih baik melihat Nakias mengomel seperti ini. Selama perrjalanan menuju apartment Nakias, hatinya sangat tidak tenang karena ia membaca banyak komentar-komentar buruk mengenai lelaki cantik itu. Ditambah, ketika sudah sampai, Nakias seperti tidak ingin bertemu dengannya, dan kakaknya melarang Noah untuk bertemu. Kalau saja Noah tidak berakal, mungkin sekarang ia sudah membekap mulut Nakias dengan ciumannya, atau menarik lelaki itu ke dalam pelukan eratnya. Untung Noah masih bisa berpikir. Masih ada Kak Sean dan Phoebe di dalam ruangan ini. Ia harus menjaga sikapnya.
“Kalau salah satu dari kalian ada yang ngalah dan gak nungguin hujan turun kan kalian gak bakal basah kayak gini. Kalau kalian sakit giman–”
“Hatchi!”
Tiba tiba ruangan itu hening. Sean dan Phoebe saling bertatapan selama beberapa detik, sementara Noah mengeratkan pegangannya pada cangkir berisi cokelat panas sambil menatap Nakias dan Sean bergantian.
“Tuh–”
Sebelum Nakias sempat berbicara lagi, Sean dan Phoebe lekas berdiri dari duduknya untuk lari ke dalam kamar masing-masing. Nakias berdecak sebal seraya menyilangkan tangannya di depan dada. Noah yang sedari tadi memperhatikan dari sebelahnya lantas tertawa kecil.
“What’s so funny?” Nakias bertanya dengan bibir mengerucut.
“Ternyata lo lebih galak dari pada kakak lo,” Ujar Noah. “Lucu aja ngeliat kakak lo takut dimarahin karena bersin, padahal tadi habis bikin gue ketakutan setengah mati.”
Mendengar itu Nakias melunak. “Lo takut sama Kak Sean?”
“Gue gak tau gue takut sama Kak Sean atau takut gak bisa ketemu lo, atau malah dua duanya.” Sahut Noah sambil mengangkat bahu.
“Lo udah ketemu gue, gak usah takut lagi.” Nakias mengusap tangan Noah yang masih memegang cangkir. Noah menahan tangan Nakias dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya bergerak untuk meletakkan cangkir di meja ruang tamu sebelum menggenggam Nakias sepenuhnya.
“Seharusnya gue yang bilang kayak gitu, beberapa jam yang lalu lo gak mau ketemu gue karena terlalu malu, padahal lo gak ngelakuin apa apa.”
“Gue ngelakuin apa apa, Noah.”
“No–”
“Let’s dry your hair first, baru kita ngobrol.”
Tidak ingin berdebat, Noah pun mengangguk setuju. Ia kemudian mengekori Nakias untuk masuk ke dalam kamarnya. Ini kali pertama Noah memasuki kamar lelakai itu walaupun ia sudah beberapa kali mengunjungi apartmentnya ketika Sean dan Phoebe sedang tidak berada di rumah. Kamar dengan cat putih itu memiliki desain yang sangat sederhana, namun Noah sangat menyukai ruangan itu karena wangi khas Nakias menyeruak di dalamnya.
Noah membiarkan Nakias melakukan apapun yang ingin ia lakukan kepadanya. Dalam konteks ini, Nakias memintanya untuk duduk di depan meja rias, sementara lelaki itu mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Di tengah bisingnya suara mesin itu, keduanya tidak saling berbicara, sebaliknya mereka malah bergelut dengan pikiran masing-masing.
Apa yang harus mereka bahas lebih dulu setelah ini? Bagaimana cara menyampaikannya?
Dan dibandingkan Noah, yang sedang berdiri di belakangnya sepertinya jauh lebih overthinking tentang ini. Nakias agak ragu dan takut. Ia berpikir untuk jujur kepada Noah atas pekerjaan sampingannya setelah ini, namun di sisi lain, ia terlalu takut Noah tidak bisa memakluminya dan akan membencinya.
Waktu terasa begitu cepat, karena selang beberapa menit, rambut Noah telah kering sepenuhnya. Nakias kemudian mencabut kabel hair dryer tersebut, kemudian membantu Noah menyisir dan merapikan rambutnya. Setelah itu, yang manis duduk di ujung kasur, sementara yang lebih tinggi membalikkan tubuh untuk menghadapnya. Kebetulan, jarak antara kasur dan kursi meja rias sangat berdekatan, sehingga kaki panjang Noah secara tidak disengaja– ataupun disengaja– bersentuhan dengan kaki Nakias.
“Gue dulu, ya?”
Nakias mengangguk.
“First off, tomorrow I’m putting out a statement that David and I broke up a while ago.” Ujar Noah memulai percakapan. “It’s totally my fault for not deleting his photos from Instagram, so I get why people think we’re still engaged. I know saying sorry isn’t enough, but I really am sorry that my mistake got you labeled as my mistress.”
Nakias menundukkan kepala sembari mengusap belakang lehernya. Ia tidak tahu apakah ia pantas untuk marah kepada Noah atau tidak, tetapi Noah yang sangat masa bodoh dengan postingannya di instagram menurutnya memang salah. Ia tidak membiarkan publik tahu jika ia dan David sudah berakhir hingga hal ini merugikannya.
“Second, we’ve decided to sue News Flash and some Twitter account called Dumi for defamation. They’re the ones who first exposed your identity.”
Nakias reflek mendongakkan kepala. “What did you say?”
“We’re suing News Flash and this guy named Dumi?”
“For?”
“For defamation?”
“Wait, wait, kenapa jadi gue?” Nakias mengernyitkan dahinya. “Gosh, Noah, I told you to focus on yourself first. Why are you dragging me into this?”
“Nakias, they put your identity out there and spread a bunch of lies that hurt you. You think I’m just gonna sit back and let that slide?” Balas Noah. Nakias hanya diam. Mendengar tidak ada balasan, Noah melanjutkan. “You seriously think I’m gonna just let them call you a slut and all that without doing anything?”
“But it’s not lies, Noah!” Seru Nakias dengan nada yang agak tinggi.
Sekarang giliran Noah yang diam.
“I told you the rumors about me are true—I am a slut, just like they say. Why would you even bother defending me when I’m the bad guy here?!” Ujar Nakias masih dengan nada yang sama. Detik berikutnya ia menghela nafas dan menyembunyikannya wajahnya dengan telapak tangan. “Sorry, I didn’t mean to yell at you like that.”
“You’re not a slut, Naki.”
“You don’t understand.”
“Then make me understand,” Noah menyentuh kedua bahu Nakias agar lelaki itu menatapnya. Ia menatapnya dengan lembut. “How could you even think that about yourself, Naki? Why would you say that?”
“I…” Nakias mulai merasakan matanya berkaca-kaca. Mungkin memang ini benar-benar saatnya untuk ia memberi tahu Noah, masa bodoh dengan apa hasilnya nanti. “I’ve got a side hustle you don’t know about, Noah.”
Noah tiba tiba gugup, ia mendadak tidak siap mendengar kalimat Nakias selanjutnya. Bisnis sampingan? Bisnis apa yang membuatnya hampir menangis seperti ini? Apakah seburuk itu?
“I help people break up. Been doing it for a while. I pretend to be the ‘other person’ or do whatever it takes to make them break up.” Jelas Nakias. Noah mencoba untuk menyembunyikan keterkejutan itu. “Maybe I’ve got a hero complex or something, but I just wanted to save people from abusive partners.”
Semuanya make sense sekarang. Mengapa ada rumor buruk yang beredar di lingkaran pertemanan mereka, mengapa Nakias sering kali terlihat gonta-ganti pasangan, mengapa ada video Nakias yang sedang saling pukul dengan mantan kekasih teman akrab kakaknya yang beredar.
Nakias menatap mata Noah. “I once loved my best friend for years. He was everything to me, Noah. We grew up together, spent almost every day together. He was like a brother, but also... more than that. I loved him. I never told him, though.”
“He was the kind of person who could light up a room just by walking in. His laugh, his smile—it was contagious. He had this energy that made you feel like everything was going to be okay as long as he was around. When he told me he was dating someone, it hurt, but I was happy for him. I thought, ‘As long as he’s happy, I’ll be fine.’ But things changed, Noah. He changed. He started pulling away, didn’t hang out as much. I didn’t think much of it at first, thought maybe he was just busy with his relationship.” Nakias mengusap air mata yang berada di pipinya. Ia tidak pernah tidak bisa menagis ketika menceritakan kenangan terburuknya kepada seseorang.
“Then one day, out of nowhere, he was gone. Just… gone. I found out later that his boyfriend—no, his abuser—had been tormenting him for months. He never told anyone, never showed it. I had no idea he was suffering so much, Noah…”
“Shhh, Nakias,” Noah berpindah duduk menjadi di sebelah Nakias, menarik lelaki itu ke dalam dekapannya, mengusap belakang rambutnya lembut.
“The worst part is, I didn’t see the signs. I was so wrapped up in my own life that I missed what was happening right in front of me. And when he couldn’t take it anymore… he ended his life. He didn’t reach out to me, didn’t give me a chance to help him. He just… left. That broke me so much. I blamed myself for not being there, for not seeing what he was going through. I swore I’d never let that happen to anyone else, that I’d do whatever it took to save people from the kind of pain he went through.” Lanjut Nakias. “But no matter my intentions, people don’t see the good in what I do. They just see me as some homewrecker, someone who destroy relationships. And maybe I am, but I’m doing it to protect people, Noah. But to the world, I’m just a slut who breaks up couples for money.”
“That’s why I don’t want you to sue them. The truth is, I’ve done the things they say I have, and I don’t want to put my clients at risk. This isn’t just about me—it’s about protecting the people I’ve helped. So please, Noah, I know you want to stand up for me, but this isn’t the way.”
Noah mengeratkan pelukan. “I’m so sorry.”
Nakias menggeleng, kemudian menjauhkan dirinya untuk menangkup wajah Noah. “Hey, why are you crying?”
“I’m so sorry, Naki. I had no idea you were going through all this. It must’ve been so hard. And here I am, making decisions without even thinking about what you’re dealing with.” Ucap Noah. “I’m so sorry about what happened to your friend. I can’t imagine what that must have been like for you.”
“It’s okay. It was a long time ago. I like to think he’s happy now, wherever he is.” Nakias menyeka air mata di pipi Noah. “Don’t cry, okay?”
Alasan Noah menangis adalah karena hatinya penuh dengan rasa bersalah. Ia tahu bagaimana latar belakang keluarga Nakias, ia tahu apa yang telah ia lalui demi mengejar mimpinya, dan sekarang, ia baru mengetahui bahwa Nakias pernah mengalami kejadian buruk seperti ini dalam hidupnya hingga membuatnya merasa harus menyelamatkan seseorang. Nakias has been through a lot, dan si brengsek Noah ini malah menggunakannya secara sadar sebagai pelarian, bahkan sampai mengajaknya ke Milan karena ia tahu bahwa mantan tunangannya akan datang. Noah benar-benar merasa buruk. Nakias tidak pantas mendapatkan ini semua.
“You’re crying too.” Noah turut menghapus air mata Nakias. “Look, I’ll leave the lawsuit thing up to you. If you don’t want to do it, we won’t. I just want you to be okay with whatever happens.”
Nakias mengangguk. “Thank you, Noah.”
“Come here,” Noah kembali merentangkan tangannya lagi, Nakias pun memeluknya hangat.
“Aren’t you disgusted with me after knowing what I’ve been up to all this time?” Tanya Nakias dalam dekapannya.
“I won’t lie, I was shocked when you first told me. But knowing why you did it… How could I be disgusted with you?” Sahut Noah. “Naki, I don’t ever want to hear you call yourself a slut again. That’s not who you are, okay? Please don’t think that way.”
“But—“
“Nakias.”
“Okay.”
Setelah itu hening, mereka tidak berkata apa apa lagi, hanya sibuk memeluk satu sama lain tanpa ada niat untuk melepaskannya.
“Can I ask you something?” Tanya Noah tiba tiba.
“Apa?”
“Are you still doing it?”
Nakias tertegun.
Ia tiba tiba teringat akan perjanjiannya dengan David yang ingin ia akhiri sesegera mungkin. Namun, urusannya dengan David sangat berbeda dengan bisnisnya yang biasa merusak hubungan orang. Disini, ia hanya berperan untuk membahagiakan Noah tanpa berniat untuk menyakitinya.
Itu dua hal yang berbeda, kan?
Nakias pikir, lebih baik jika Noah tidak perlu tahu akan masalah ini. Jika dia bisa mengakhiri perjanjian dengan David secara baik baik, itu berarti tidak akan ada masalah untuk mereka.
Bukankah begitu?
“Nakias?”
“No, I’m not doing that anymore, Noah.”