lagi ?
Milo berlari menyusuri koridor lantai dua, tak peduli bahunya beberapa kali menabrak rombongan anak-anak yang berhamburan menuju kantin. Napasnya memburu. Begitu ia sampai di depan pintu MIPA 2, kelas itu sudah lumayan sepi. Namun, pandangannya langsung tertuju pada satu titik yang sukses membuat darahnya mendidih.
Kendrick sedang berjongkok sendirian, sibuk memunguti buku-buku catatannya yang basah kuyup dan lengket karena tumpahan es teh. Seragam putih laki-laki itu juga bernasib sama, basah dan mencetak jelas dari bagian pundak hingga dada.
Dion dan antek-anteknya sudah tidak ada di sana.
Rahang Milo mengeras, urat di tanganya tercetak jelas saking kuatnya ia mengepalkan tinju. Ia melangkah lebar menghampiri Kendrick, lantas menarik lengan kiri cowok berkacamata itu dengan kasar agar segera berdiri.
"Dion ke mana?!" desis Milo dengan mata nyalang.
Kendrick menghela napas pelan, mencoba melepaskan cengkeraman kuat Milo di lengannya.
"Udah ke kantin kali. Udahlah, Mil gapapa. Gue
cuma perlu jemur buku ini di—"
"Gapapa mata lo peyang!" bentak Sean.
Suaranya pecah dan cukup keras, sampai membuat beberapa anak di luar kelas refleks menoleh kaget ke arah mereka. "Lo tuh beneran nggak punya harga diri ya, Ken?! Baju lo basah kuyup begini, buku lo hancur, terus lo masih bisa-bisanya bilang gapapa?! Tolol banget sih lo jadi cowok!"
Kendrick terdiam. Dari balik lensa kacamata tebalnya yang sedikit terciprat air, ia menatap Milo datar. Namun, raut lelah di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan. "Kalau gue ngelawan, urusannya bakal tambah panjang, Milo. Gue cuma mau sekolah dengan tenang."
"Tenang dari mana kalau tiap hari lo diinjek kek gini asu?!" Milo mengusap rambutnya kasar, benar-benar frustrasi menghadapi kelakuan Kendrick.
Mata Milo kemudian melirik ke arah tangan kanan Kendrick—tangan yang kemarin digunakan untuk menangkap bola basket. Punggung tangan itu kini terlihat semakin memar dan membiru parah.
"Itu tangan lo kenapa lagi, bangsat? Diinjek sama Dion?!" tuduhnya ngegas.
"Kena sudut meja pas ditarik tadi, Dikit doang kok."
Dikit doang dari mananya? Milo berdecak kasar. Tanpa babibu lagi, ia kembali menarik pergelangan tangan kiri Kendrick.
"Ikut gue ke UKS sekarang, gue obatin. Bawa seragam olahraga lo sana sekalian buat ganti."
Kendrick baru saja hendak membuka mulut untuk
protes, namun Milo langsung menatapnya tajam. "Jangan ngebantah, atau gue beneran cari Dion sekarang dan gue pukulin di tengah kantin."
Mendengar ancaman tersebut, Kendrick akhirnya mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia menghela napas pasrah, membiarkan dirinya diseret begitu saja oleh Milo membelah koridor.
Di UKS sepi, penjaganya lagi makan siang. Kendrick duduk di tepi ranjang setelah ganti seragamnya pakai kaos olahraga. Milo duduk di kursi kecil depannya, sibuk ngebuka tutup salep pereda nyeri sambil ngomel-ngomel nggak jelas.
"Siniin tangan kanan lu," kata Milo galak.
Kendrick ngulurin tangannya ragu-ragu.
Milo megang pergelangan tangan Kendrick, lalu mulai ngolesin salep itu pelan-pelan ke area yang biru.
"Aw—" Kendrick meringis pelan pas Milo agak neken.
"Diem ken tahan napa!" omel Milo, tapi gerakannya langsung berubah jauh lebih pelan dan hati-hati. "Besok-besok kalo Dion deketin lu, lu lari kek atau apa kek, jangan diem aja kayak patung pancoran."
"Iya, bawel."
"Gue bawel demi kebaikan lu, jing."
Kendrick senyum tipis, tipiiiis banget sampai hampir nggak kelihatan. "Makasih Milo."
Milo mendecak, pura-pura fokus ke luka Kendrick buat nyembunyiin telinganya yang agak merah. Tapi pas ibu jari Milo ngusap telapak tangan Kendrick buat ngeratain salepnya, gerakan Milo tiba-tiba berhenti.
Kening cowok populer itu berkerut dalam.
Milo ngeraba telapak tangan Kendrick, mulai dari pangkal jari telunjuk, jari tengah, sampai ke ibu jari. Teksturnya kasar. Ada kapalan yang lumayan tebal di area itu.
"Ken," panggil Milo pelan, matanya nyipit natap Kendrick. "Tangan lo kenapa kapalan tebel banget di bagian sini? Lu... sering megang gagang apaan?"
Kendrick sedikit tersentak, dia langsung narik tangannya pelan. "Oh, itu... gue sering bantu-bantu nyapu jalanan perumahan. Sama nyangkul kebun... iya."
Milo natap mata Kendrick lekat-lekat. Bohong. Milo nggak bodoh. Kapalan karena nyapu atau nyangkul itu merata di telapak tangan, bukan cuma di tiga jari utama kayak orang yang terbiasa nyengkeram gagang sesuatu.
"Nyangkul ya?" gumam Milo pelan, nadanya sinis campur penasaran. "Rajin bener lo."
"Iya udah kan salepnya? Gue mau balik ke kelas, jemur buku." Kendrick langsung berdiri dan jalan agak buru-buru keluar UKS.
Milo cuma diem di tempat, matanya ngikutin punggung Kendrick sampai hilang di balik pintu.