Nginep ?
Angin siang itu terasa lebih panas dari biasanya, namun tubuh Kendrick yang bersandar di tembok depan ruang uks justru menggigil pelan. Pemuda itu sudah menolak berkali-kali saat Milo memaksanya untuk diantar pulang. Seragamnya lepek oleh keringat, dan ia tidak mau membuat jok motor atau jaket Milo menjadi bau.
"Gue pesen gocar aja ya, Mil," tolak Kendrick untuk yang kesekian kalinya.
Suaranya terdengar serak dan sangat pelan. "Kosan gue deket. Gak enak sama mama lo nanti ngerepotin."
Milo yang berdiri di depannya seketika berdecak keras. Tanpa aba-aba, cowok cerewet itu melepas jaket miliknya, lalu memakaikannya secara paksa ke tubuh Kendrick hingga menutupi kepala cowok yang lebih tinggi darinya tersebut.
"Gocar mata lo anget," omel Milo seraya menarik ritsleting jaketnya sampai sebatas leher Kendrick. "Emang ada yang bilang lo bau bangsat?"
"Gue emang belum mandi dari kemarin, Mil."
"Bodo amat! Kaga ada yang peduli lo mandi apa kaga!" ucap Milo kencang. "Bunda yang nyuruh lo dibawa ke rumah. Dia panik banget pas gue bilang lu demam. Kosan lu kan kaga ada siapa-siapa bego. Lu mau mati konyol kaga ada yang ngompresin?"
Kendrick terdiam. Tenaganya sudah habis hanya untuk sekadar berdiri.
"Udah nurut ayo ke parkiran sebelum gue seret lo dari sini," tambah Milo. Kali ini suaranya sedikit melembut, tapi wajahnya masih dipasang segalak mungkin.
Perjalanan menuju rumah Milo terasa lebih lama dari biasanya. Di atas motor, Kendrick menyandarkan kepalanya pada punggung Milo. Kedua tangannya mencengkeram sisi seragam pemuda itu erat-erat.
Milo mengendarai motornya dengan sangat pelan dan hati-hati. Tangan kiri Milo sesekali turun dari stang kemudi, mengelus punggung tangan Kendrick yang melingkar di pinggangnya.
"Pegangan yang kenceng, Ken. Kalo pusing merem aja," teriak Milo dari balik helmnya. Kendrick hanya bisa mengangguk pelan di punggung cowok tersebut.
Begitu motor Milo memasuki garasi rumah, pintu utama langsung terbuka. Sang Bunda berlari kecil menghampiri mereka dengan raut wajah yang tampak sangat panik.
Kendrick yang baru turun dari motor dan berjalan sempoyongan terkejut setengah mati kala tiba-tiba ada tangan hangat yang menahan lengannya dari samping.
"Ya Tuhan, dek! Panas banget ini badannya!" seru Bunda.
Tanpa keraguan atau rasa jijik sedikit pun, Bunda menempelkan telapak tangannya langsung ke dahi dan rahang Kendrick yang masih basah oleh keringat dingin. Kendrick mematung. Matanya melebar di balik kacamata retaknya. Napasnya seakan berhenti berembus.
"Tante... maaf, jangan dipegang, Kendrick kotor keringetan," suara Kendrick bergetar pelan, dengan susah payah ia menelan ludahnya.
"Kotor dari mana sih, orang wangi minyak kayu putih gini," balas Bunda seraya tersenyum sangat hangat. Tangan wanita paruh baya itu mengusap punggung Kendrick dengan lembut. "Sstt, jangan ngomong gitu ya. Kamu anak Bunda juga sekarang. Ayo masuk, langsung ke kamar dek biar diselimutin. Bunda ambilin air kompresan sama obat."
Dada Kendrick mendadak terasa sesak. Ia menunduk dalam-dalam, mati-matian menahan pelupuk matanya yang tiba-tiba memanas.
Milo yang berdiri di sisi sebelahnya menyadari bahwa Kendrick mendadak diam membisu. Cowok manis itu lantas mengeratkan rangkulan tangannya di pinggang Kendrick, menuntun pemuda itu melangkah masuk.
"Udah kaga usah cengeng lo. Ayo masuk," bisik Milo pelan tepat di sebelah telinga Kendrick. Walau kata-katanya kasar, suaranya terdengar sengau, sebab Milo sendiri tengah mati-matian menahan rasa haru melihat Kendrick.
Setelah dipaksa memakan beberapa suap bubur dan meminum obatnya, Kendrick akhirnya membaringkan tubuh di atas kasur milik Milo. Ia sudah mengganti seragam basahnya dengan kaus rumahan Milo yang kebesaran di tubuhnya.
Kamar Milo terasa begitu nyaman. Aroma ruangan itu persis seperti wangi seragam Milo, sebuah perpaduan antara sabun bayi dan sedikit sentuhan manis.
Kendrick melirik ke bawah kasur. Milo justru duduk ngemper di atas karpet berbulu, menyandarkan punggungnya ke pinggiran kasur sembari pura-pura sibuk memainkan ponsel.
"Mil," panggil Kendrick dengan suara parau.
Milo mendongak sedikit. "Apa? Pusing lo udah mendingan belum? Obatnya bereaksi kaga?"
"Naik," perintah Kendrick pelan. "Ngapain di bawah."
"Kaga ah nanti kasur gue sempit, lo kaga leluasa gerak," sahut Milo cepat. "Lo tidur aja sana."
Kendrick menghela napas berat. Matanya menatap punggung Milo dengan datar.
"Dingin di situ, Mil lagian kasur lo gede. Masih muat ini buat empat orang."
"Gue nggak kedinginan kok!"
"Naik," desak Kendrick lagi, kali ini suaranya terdengar lebih rendah. "Atau gua yang turun ke karpet."
Mendengar ancaman itu, Milo sontak berdecak sebal. "Lo kalo lagi sakit kaga usah sok ngancem ya bangsat! Iya, iya, ini gue naik asu! Geseran lu dikit."
Milo akhirnya mengalah. Ia bangkit dari karpet dan naik ke atas kasur, mengambil posisi duduk berselonjor sembari menyandarkan punggungnya dengan kaku pada atas kasur . Jaraknya lumayan dekat dengan Kendrick yang kini berbaring menyamping menghadap ke arahnya.
Kacamatanya udah diletakkan di atas nakas. Tanpa kacamata tersebut, Milo harus menelan ludah diam-diam tak kuat melihat ketampanan wajah Kendrick dari jarak sedekat ini.
Hening mengambil alih ruangan. Milo berpura-pura memusatkan fokusnya pada game di ponsel.
Tiba-tiba, dari balik selimut tebal itu, sebelah tangan Kendrick bergerak pelan. Ujung jari Kendrick meraih pinggiran kaus yang dipakai Milo, lalu menggenggamnya perlahan. Tidak ditarik, tidak juga dilepas. Kendrick hanya memeganginya dengan erat.
Napas Milo refleks tertahan di tenggorokan.
"Ken..." panggil Milo pelan sekali, nyaris terdengar seperti orang yang berbisik ketakutan. "Lu ngapain narik baju gue..."
"Hm," deham Kendrick merespons. Matanya perlahan terpejam, mencoba menikmati efek obat yang mulai bekerja, namun badannya justru sedikit beringsut lebih dekat ke arah paha Milo. "Di sini aja."
"Gue emang di sini bego," balas Milo gugup.
"Jangan turun lagi."
Duar.
Wajah Milo mendadak panas dari ujung hidung hingga ke telinga. Darahnya berdesir hebat. Rasa salah tingkah yang brutal menyerangnya tanpa ampun. Milo buru-buru memalingkan wajah ke arah tembok, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Alih-alih menyingkirkan tangan Kendrick dari bajunya, sebelah tangan Milo justru bergerak pelan menarik ujung selimut Kendrick, menutupi dada cowok itu agar lebih rapat.
"Gue kaga ke mana-mana, asu. Tidur aja lo," desis Milo pelan. Tangannya bergetar sedikit saat menarik selimut tersebut, dan jantungnya sudah berdetak sekencang sound horeg di dalam dadanya.
Kendrick tidak memberikan balasan lagi. Napasnya perlahan-lahan mulai teratur, kendati sebuah senyuman yang sangat tipis tercetak di bibirnya, dan genggaman jari pemuda itu di ujung kaus Milo sama sekali tidak mengendur.