Bawa Perasaan


Bel pulang sekolah telah berbunyi sekitar tiga puluh menit yang lalu. Fourth bersama empat teman sekelasnya, Bonnie, Aungpao, Emi, dan Hong, saat ini sedang merekam video TikTok setelah mereka melakukan piket kelas.


Sebenarnya, jika bukan karena dorongan Bonnie yang sangat antusias mengajak mereka untuk mengikuti tren TikTok tersebut, para anak lelaki itu tidak ingin bergerak mengikuti irama lagu "Phi Chob Noo Tee Sud Loey" milik Ponchet. Setelah bernegosiasi— atau bisa dibilang, dipaksa selama beberapa menit, akhirnya mereka menurut juga.


Dari janji untuk hanya satu kali take, akhirnya berakhir menjadi beberapa kali take karena ada saja satu orang yang tidak puas dengan hasilnya, atau pula karena salah satu anak laki-laki bernama Fouth Nattawat tidak berhenti membuat semua orang tertawa dengan gerakan absurdnya.


“Sumpah, ini yang terakhir ya anjir, perut gue udah sakit banget ketawa terus.” Hong yang semula duduk di lantai karena tertawa terbahak bahak kini berdiri sambil memegangi perutnya.


Emi mengangguk setuju, ia juga memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa terus menerus. “Udah asli gue capek banget ketawa, takut ngompol. Fourth awas lu ya kalau ngelawak lagi gue pukul!”


“Tau lu Fourth!”


Fourth pun menyengir, ia membantu teman temannya untuk kembali masuk kedalam frame kamera. “Iya, iya janji ini gue akan ngedance seserius mungkin sampe SM entertainment ngelirik TikTok kita terus gue debut sebagai anggota baru NCT Dream.”


“NCT cabang Cikini Gondangdia lo mah!” Bonnie menoyor kepala Fourth.


“Apa kita bikin video Cikini ke Gondangdia juga?” Celetuk Aungpao.


“PAO INI AJA BELUM BERES PLIS DEH!”


“Udah, udah. Hong pencet rekam Hong.”


Mereka pun akhirnya merekam kembali video tersebut, kali ini Fourth tidak berbuat aneh-aneh seperti yang telah ia janjikan sebelumnya. Tanpa disadari, percobaan rekaman sebelumnya membuat mereka kian menikmati lagu tersebut hingga membuat video itu terlihat bagus.


“YEY WE DID IT!!!” Bonnie bersorak bahagia.


Yang lain bertepuk tangan, kemudian berkumpul untuk melihat hasil video mereka. Fourth mengangguk-anggukan kepala merasa bangga karena berhasil menghafal koreo yang diajarkan Bonnie. Namun ketika ia menyapu pandangannya ke sekeliling kelas, ia cukup terkejut ketika meilihat wajah Gemini di jendela kelas yang sedang menatapnya sambil menahan tawa.


Fourth melotot. Memberikan Gemini tatapan, apa lo liat liat?!


Sontak tawa Gemini pecah.


“Fourth, lo mau di airdrop juga nggak videonya?” Emi mencolek tangan Fourth, sebab mereka berlima tadi membuat video menggunakan ponsel Emi.


Perhatian Fouth pun beralih kepada teman sekelas perempuannya itu, ia tidak berbicara apapun, hanya menyengir sambil memperlihatkan Galaxy S24 Ultra yang ia pegang kepada Emi.


Emi menjadi ikut menyengir. “Nanti gue kirim ke Line atau Whatsapp aja yah.”


Tidak lama setelah sesi mengirimkan video, mereka berlima memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai petang. Mereka keluar kelas bersama-sama, tetapi Fourth terlalu malas bergerak, sehingga dia menjadi yang paling terakhir untuk keluar dari kelas.


Gemini masih menunggu. Untuk apa? Tentu saja untuk mengejek Fourth karena itu kali pertama bagi Gemini melihat Fourth menari dengan begitu bahagianya. Oh, iya, omong omong, Gemini sudah ada di depan kelas Fourth semenjak yang lebih muda berjoged absurd.


Fourth mencebikkan bibirnya, yang ia lakukan kemudian adalah berpura-pura tidak melihat Gemini dan berjalan melewati cowok tinggi itu. Tetapi gerakan Gemini lebih cepat, ia menahan ransel Fourth agar anak itu tidak bisa bergerak.


“Mau kemana sih sahabat?”


“Gue tau ya apa yang ada di otak lo!”


“Dih? Masa? Emang apa?” Tangan Gemini bergerak untuk merangkul bahu Fourth sambil berjalan.


“Pokoknya lo diem gak boleh ngomong apa apa! Gue males becanda, ngeliat muka lo aja udah males!”


Gemini tertawa, seperti biasa, Fourth si grumpy cat dengan agenda marah-marahnya.


“Iya, iya. Gua gak bakal komentar apa apa,” Gemini menepuk-nepuk bahu Fourth. “Tapi nanti gue mau joged juga Pêe kong jà yòo mâi dâai láew—” Ia kemudian menggerakan tubuhnya untuk berjoged absurd sebagaimana yang Fourth lakukan beberapa waktu lalu, sambil bernyanyi dengan nada meledek.


Sebelum Fourth sempat membalasnya dengan amarah, Gemini sudah ngibrit lari menyusuri koridor meninggalkan yang lebih muda. Tentu saja Fourth tidak tinggal diam dan mengejar lelaki tinggi itu.


“JELEK LO GEMINI!”


Mereka pun saling kejar dan mengejar dari ujung lantai dua hingga ke lobby depan. Fourth cukup kelelahan karena Gemini berlari terlalu cepat. Ketika mereka sampai di lobby, yang lebih kecil mulai menyerah, membuat Gemini pun akhirnya berhenti karena tidak tega.


"Huh... hah... capek..."


Gemini menepuk-nepuk punggung Fourth ketika cowok kecil itu duduk dengan lunglai karena kelelahan berlari. Meskipun ingin tertawa, kali ini Gemini benar-benar merasa kasihan. Dia memberikan botol minum yang tersisa kepada Fourth.


"Nih minum,"


Fourth dengan cepat minum air putih dari botol Gemini hingga ludes tak tersisa. Setelah itu, dia menutup botolnya dan mengetuk kepala Gemini menggunakan botol tersebut.


“ADUH!”


“Rasain lo!”


Kalau kata Satang, mereka berdua ini Tom and Jerry. Gemini sangat suka menjahili Fourth, dan Fourth begitu mudah terpancing emosi. Tapi, meskipun sering dijahili tanpa henti, Fourth tidak pernah hard feelings atau marah sungguhan kepada Gemini. Baginya, dijahili itu terkadang seru juga.


“Bisa-bisanya lu cari celah pas gua gak fokus,” gerutu Gemini.


“Ayo, pulang. Gua anter.” Gemini berdiri, meraih tangan Fourth untuk membantu pria kecil itu berdiri juga.


“Gendong, capek.” Celetuk Fourth.


Sebenarnya yang lebih muda hanya bercanda, tetapi yang lebih tua langsung salah tingkah. Ia menahan diri untuk tidak tersenyum, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kemudian berjalan lebih dulu sambil berkata, “Jalan sendiri ah, kaki lu masih berfungsi juga.”


Fourth berdecih. “Jahat lo!”


Gemini yang berjalan di depan hanya mengangkat bahunya sambil menyengir seperti orang bodoh.


Sesampainya mereka di parkiran motor, Gemini menyodorkan helm untuk Fourth gunakan. “Mau nyobain bawa motor gue gak?”


“MAU!” Mata Fourth berbinar antusias. “Gue selalu ngayal pengen beli motor ganteng begini, terus nanti bawanya ngeeeng ngeeeeng cekiiiit.” Ia lantas megang handle gas motor Gemini sambil bergaya seperti pembalap.


“Freak.” Gemini menggelengkan kepala. “Tapi jangan sekarang deh, nanti gua ajarin dulu.”


“JANJI?” Fourth menatap Gemini dengan puppy eyes, dia sungguh-sungguh ingin belajar mengendarai motor keren ini. “Php gue tabok sih.”


“Iya, gampang,” jawab Gemini. Tangannya bergerak untuk memasang helm ke kepala Fourth dan mengaitkannya. “Habis ini gua main di rumah lu ya.”


“Nempelin gue mulu lo kayak gak punya kehidupan” Gerutu Fourth.


Kan kehidupan gua kan lu…


Bercanda. Sebenarnya alasan Gemini ingin main di rumah Fourth adalah karena rumah sedang sepi mengingat Ayah dan Papap sedang ada jadwal terbang ke luar negeri.


“Ayah sama Papap gua lagi gak ada, masa lu tega sih membiarkan gua home alone, jahat banget lu.” Gemini mengerucutkan bibir.


“Yaudah, tapi ajarin gue motor lo-nya sekarang?”


“Iyaa iyaaa.” Gemini mengangguk setuju, kemudian mencubit pipi Fourth yang menggembung.


Fourth sontak memukul tangan Gemini yang berada di pipinya pelan. “Touchy banget, nanti gue baper loh.”


Tentu saja kalimat itu membuat Gemini berdecih. “Kayak yang ngerti aja baper itu kayak gimana.”