🧥 SyongSok • Enthralled, Enticed
“Nih jaket,”
Lemparan jaket varsity Sungchan diterima dengan panik oleh Eunseok, membawa sang omega mundur satu langkah agar jaket pacarnya nggak jatuh ke tanah. Eunseok melempar tatapan aneh pada Sungchan, penuh pertanyaan, satu yang nggak perlu dijawab Sungchan;
“Katanya dingin?”
Angin kencang yang menerpa teras lobi kampus cukup menyebalkan, iya, tapi Eunseok nggak mengeluhkan perihal temperatur secara verbatim. Dia cuma bilang, ‘ah anjir kenapa berangin di hari gue cuma pake kaos’, karena kaos gombrongnya terbang-terbang ketiup angin, bikin dia takut masuk angin.
“Nggak? Cuma sebel pagi tadi gue harusnya bisa bawa hoodie tapi ga jadi karena males lapis baju sekarang rambut gue berantakan.” Jaket Sungchan diulurkan lagi pada sang alfa, yang tak digubris sama sekali oleh Sungchan. Alih-alih, Sungchan hanya menatapnya naik-turun, menggeleng ketika Eunseok makin menyodorkan varsitynya.
“Pake, Seok.”
“Ntar lu yang kedinginan?”
“Pake.”
Ujar Sungchan dengan nada rendah, dan alis yang terangkat, buat Eunseok mengerjap sedikit. Bingung, tapi menangkap intensi dari lelaki itu. Varsity dikenakannya, kebesaran di semua aspek (pundak yang merosot, ujung lengan yang menutupi ujung jari, varsity Sungchan berhenti lewat dari pinggul Eunseok), kemudian ia tatap lagi pacarnya itu.
Ada kulum senyum di wajah Sungchan, satu yang dibuat guna menahan gemas. Bibir-bibirnya digigit, puncak pipinya mendorong kedua mata; Sungchan tengah menahan diri untuk nggak menyosor pacarnya. Eunseok nggak akan paham, karena ini insting alfa yang berbicara:
Eunseoknya kecil banget dibalut jaketnya.
Sesuatu yang nggak pernah Sungchan sadari sampai suatu hari Eunseok pinjam bajunya ketika menginap; kemudian ia mendapati dirinya terfiksasi pada tubuh pemuda itu. Setiap lekuk yang tersamar di balik pakaian yang biasanya justru membentuk di sekitar figur yang alfa; menunjukkan perbedaan di antara mereka. Pun, wangi lelaki itu, persik yang manis yang bersinkron dengan cendananya yang lebih berat.
“You look adorable.”
Kendati teras lobi kampus tempat mereka menunggu taksi ramai, Sungchan gamblang dalam kalimatnya. Sungchan bersedekap di depan dada, wajahnya menyuruk pada ceruk leher Eunseok. “Pakai terus, aku mau jaketku ada bau kamunya when I got home.”
Ia bisa rasakan Eunseok salah tingkah, hendak mendorongnya namun batal. Hingga mereka berakhir di sana: berdiri di antara orang-orang yang hilir mudik.
“Kalau gitu,” Eunseok menarik napas dan akhirnya bicara dengan nada kecil. “Pinjam jaketnya sampai besok … boleh?”
Kalimat itu bawa kerjap sinar di iris legam lelaki Jung, yang mengangguk di hadapan Eunseok. “Besok kembalikan, lalu akan kupinjamkan yang lain, begitu terus, mau?”
Sungchan lihat pacarnya sembunyi di balik lengan pakaian sebelum mengangguk.
“Yours smells nice too…”
Oh, Eunseoknya, manis, Sungchan rasa ia bisa kecanduan sebentar lagi.