Jerio’s Journey
Langit di kala sore menemani dua anak manusia dalam perjalanan menuju sebuah pantai di pesisir kota dengan berbagai iringan kicauan burung yang berterbangan.
Angin beserta ombak yang seakan menyambut mereka bergemercik dengan merdu.
“Indah.” Ujar lelaki itu menoleh pada perempuannya.
“Iya, indah banget ya.” Pandangan perempuan itu menelusuri pantai.
“Lo indah re.” Jerio tersenyum.
“Dih kenapa gitu?” Tere menaikan satu alisnya.
“Ga ada alasannya. Lo indah karena itu lo.” Ujar Jerio seraya merapikan rambut Tere.
“Kayak dulu ada anak perempuan yang bilang , hey anak laki-laki ga boleh cengeng. Aku punya dua coklat satu buat kamu deh, tapi janji jangan nangis lagi ya?”
“Jangan bilang lo—“
“Time flies hahaha, gue selalu cari dimana rumah perempuan itu yang gue aja ga tau namanya siapa. Sampai akhirnya, dia yang datang sendiri dengan perantara paket nyasar hahaha.” Jerio tertawa kecil.
“Stop ngeledek gue lo ya. Tapi, kok lo bisa tau kalo itu ternyata gue?”
Jerio mengeluarkan jepitan rambut dengan bentuk kupu-kupu bercorak merah jambu.
“is your’s right? mirip sama yang lo pake sekarang.”
“Sumpah je, lo keren banget masih nyimpen ini sampai karatan lagi hahaha, btw lo kenapa nangis waktu itu? Nakal lo ya terus diomelin deh sama mami.” Ujar Tere meledek.
“Gue cupu re. Dulu, gue cuman bocah ingusan yang selalu bergantungan sama orang tua kata mereka.”
“Maksudnya?”
“Mami papi gue kehilangan masa jayanya saat gue umur 9 tahun. Pada saat itu berat banget bagi gue si bocah berumur 9 tahun yang ngelihat orang tuanya banting tulang mati-matian dan gue ga tau harus ngelakuin apa.” Jerio menjeda kalimatnya sebentar melihat perempuan di sampingnya yang mendengarkan dengan serius.
“Sampai akhirnya, gue kehilangan masa kanak-kanak yang dimana seharusnya mungkin gue setiap sabtu-minggu main sepeda pagi-pagi, main tak benteng setiap sore, seru sih. Tapi, gue juga ga nyesal karena hari libur bagi gue adalah waktu nya main puzzle sama mami, nonton Doraemon sama papi.” Jerio tersenyum pedih.
“Kenapa sabtu-minggu apa ga bida dihari biasa?” Tanya Tere.
“Itu semua tentang waktu re. Waktu yang memisahkan kita. Waktu memisahkan kebersamaan yang hangat pada masanya. Saat keluarga gue masih baik-baik aja tentunya.” Jerio menundukan kepalanya sedikit membuang beban berat di pundaknya.
“Gapapa gausah ceritain semuanya je, gue paham luka selama apapun dia tetap akan jadi luka, membekas.” Tere mengusap lembut bahu Jerio.
“Gue pengen lo tau. Gue lanjut ya.” Ujar Jerio dan Tere pun mengangguk.
“Ga ada yang mau berteman sama gue, karena mereka kira gue anak mami anak manja yang ga bisa jauh dari orang tua. Tapi, mereka kayak gitu gue paham sih. Setiap mereka dateng kerumah ngajak gue main gue selalu beralasan kalo orang tua gue lagi jadwalnya libur. Ya umur segitu ga akan paham kan gimana rasanya dikejar waktu. Waktu dimana gue bisa main sama orang tua gue disaat mereka sibuk sama laptopnya dan bertumpuk lembaran di sampingnya. Singkat cerita, tuhan kayanya sengaja datengin perempuan yang bernama Aruna Anastasia.”
“Ohh perempuan itu ya?”
“Iyaa. Dia satu-satunya orang yang mau berteman sama gue. Gue merasa ga kesepian karena ada dia. Karena dia gue juga jadi merasa disayang. Sebagai adiknya.”
“Tapi kok gue ga pernah liat dia?”
“Itu alasannya gue nangis waktu itu. Dia pindah ga bilang-bilang ke Aussie karena orang tuanya kerja disana. Dan ngebuat gue kesepian untuk kedua kalinya.” Tere mengangguk paham.
“Sekarang gue ga kenal arti kesepian karena ada lo. Ayo kita sama-sama untuk waktu yang lama.” Jerio membawa tangan Tere kedalam sakunya.
“Selama apa?”
“Gue ga bisa menjanjikan selama apa, karena waktu bisa jadi kejam tanpa permisi. Yang gue bisa janjikan selalu. Selalu sama perasaan gue seperti 13 tahun yang lalu, Jerio kecil bertemu dengan Tere kecil.”