In Your Arms
Tepat lima belas menit kemudian, suara mesin vespa terdengar berhenti di depan rumah. Milo yang dari tadi mondar-mandir kaga jelas di ruang tamu langsung lari ke arah pintu depan. Ia sempat mengecek penampilannya sebentar di kaca jendela—hanya memakai kaos putih oversize yang bersih dan celana pendek selutut, rambutnya agak berantakan khas orang yang baru bangun tidur tapi sudah wangi sabun.
Milo membuka pintu perlahan. Di balik pagar, Kendrick sudah berdiri dengan gaya kasualnya yang selalu bikin Milo deg-degan: kaos hitam kebesaran, celana baggy pants, dan menenteng dua cup es kopi susu.
"Gue kan bilang kaga usah bawa apa-apa ih!" omel Milo begitu membukakan pagar, walau tangannya tetap menerima sodoran satu cup kopi dari Kendrick.
"Es kopi doang, Mil, bukan martabak," kekeh Kendrick pelan.
Begitu mereka masuk ke dalam rumah, Kendrick langsung meraih gagang pintu utama dan menguncinya dengan rapat sampai bunyi klik terdengar dua kali.
Milo yang sedang menyedot es kopinya menoleh heran. "Lo ngapain ngunci pintu depan anjir? Ntar kalo bunda pulang kaga bisa masuk."
"Biar aman aja," jawab Kendrick santai, berjalan menyusul Milo ke ruang tengah.
"Bunda lo pulangnya masih sore kan? Nanti gampang tinggal dibukain."
Milo hanya mengedikkan bahu kaga peduli, lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, diikuti Kendrick dari belakang.
Begitu pintu kamar terbuka, hawa sejuk dari AC dan wangi vanilla campur bedak bayi langsung menyambut penciuman Kendrick. Kamar Milo terbilang rapi untuk ukuran anak cowok, dengan poster beberapa band indie di dinding dan konsol ps5 yang tergeletak di depan TV kecil dekat karpet bulu.
"Duduk di karpet aja lo, gue mau nyalain ps nya dulu," ucap Milo salah tingkah.
Kendrick menurut. Ia duduk bersila di atas karpet bulu, meletakkan es kopinya di nakas, lalu memperhatikan Milo yang sedang berjongkok membelakanginya.
"Mil," panggil Kendrick pelan.
"Apa?" Milo menoleh.
Tanpa aba-aba, Kendrick menarik lengan Milo hingga cowok manis itu jatuh terduduk tepat di sampingnya. Milo tersentak kaget, otomatis menoleh pada Kendrick. Tangan panjang Kendrick langsung melingkar santai di perut Milo, sementara dagunya ia letakkan di bahu nya itu.
"K-ken! Lo ngapain anjir?!" pekik Milo panik, wajahnya langsung memanas seketika. Ia meronta pelan, tapi pelukan Kendrick terlalu nyaman untuk dilepaskan.
"Main ps nya begini aja," bisik Kendrick tepat di sebelah telinga Milo, suaranya berat dan serak."Gue kangen, dari kemaren kaga bisa meluk lo beneran gara-gara banyak orang.”
Tubuh Milo langsung melemas seperti jelly. Jantungnya berdebar menghantam tulang rusuk. Hembusan napas Kendrick di perpotongan lehernya bikin Milo merinding sekaligus malu setengah mati.
"L-lo tuh... bener-bener ya kaga ada filter," rutuk Milo pelan, akhirnya menyerah dan menyandarkan punggungnya sepenuhnya ke dada Kendrick. Ia menyodorkan satu stik PS ke belakang, yang langsung diterima Kendrick tanpa melepaskan pelukannya di perut Milo. "Awas lo ya kalo mainnya curang gara-gara posisi kyk gini."
"Nggak janji," kekeh Kendrick pelan, diam-diam menghirup dalam-dalam wangi rambut Milo. Rasa panik dan khawatir yang sejak kemarin menghantuinya perlahan memudar, tergantikan oleh rasa tenang. Asalkan Milo ada di pelukannya, di tempat yang tertutup dan terkunci rapat, Kendrick yakin pacarnya ini aman.