Ekspetasi vs realita
Milo membuka pagar rumahnya dengan gerakan pelan. Ia sudah bersiap melihat sebuah mobil sport mewah atau sedan Eropa mengkilap terparkir di depan rumahnya, mengingat status asli Kendrick yang ternyata anak konglomerat.
Namun, tebakannya meleset jauh.
Kendrick masih duduk santai di atas motor matic butut. Cowok jangkung itu memakai helm half face standar, jaket hoodie hitam, dan tas ransel biasa. Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan orang yang baru saja membuat sebuah pabrik disita bank dalam waktu kurang dari 48 jam.
"L-lo ngapain bawa motor rongsok ini lagi asu?" Milo mengerutkan kening, berjalan menghampiri Kendrick. "Gue kira lo bakal bawa alphard atau apalah gitu pake supir babi!"
Kendrick terkekeh pelan. Ia meraih helm milik Milo dan memakaikannya ke kepala cowok manis itu dengan telaten, menepis poni Milo yang sedikit menutupi mata.
"Gua masih pengen nikmati kek gini Milo. Fasilitas gua masih ditahan," jawab Kendrick santai. "Lagipula, kalau pake mobil, gua kaga bisa ngerasain ini."
Kendrick menarik kedua tangan Milo, lalu melingkarkannya ke pinggangnya sendiri. Jantung Milo otomatis berdegup kencang.
"Kalau pake motor, lo bisa peluk gua dari belakang. Kalau pake mobil, kepisah sama kursi. Gua gak suka ada jarak," bisik Kendrick sambil tersenyum miring, tatapannya begitu intens menatap Milo dari balik kaca helmnya.
Milo menelan ludah. Wajahnya seketika memanas. Ia buru-buru menarik tangannya, tapi Kendrick menahannya dengan lembut.
"B-bisa aja lo ngelesnya asu!" rutuk Milo salah tingkah, membuang muka ke arah jalanan komplek. "Lagian luka di rusuk gue belum sembuh total nyet, jangan ditarik-tarik!"
"Eh, maaf, sayang," raut Kendrick langsung berubah panik. Ia buru-buru melonggarkan pegangannya dan mengusap pelan sisi perut Milo dari luar jaket. "Masih ngilu banget? Gua bawa mobil aja deh ya, bentar gua suruh Dimas ke sini bawa—"
"KAGA USAH BABI LEBAY BANGET LO!" Milo buru-buru menahan tangan Kendrick, wajahnya makin merah. "G-gue gak papa asu! Udah ayo jalan pake motor aja ntar telat! Tapi pelan-pelan bawanya!"
Kendrick menghela napas lega, senyumnya kembali mengembang melihat wajah tsundere pacarnya. "Iya, Milo sayang. Pegangan yang erat."