penthouse?


Motor sport hitam itu membelah jalanan malam Jakarta yang masih diguyur hujan, sebelum akhirnya berbelok masuk ke area basement sebuah gedung tinggi di kawasan elite Scbd.


Milo sama sekali tidak menyadari kejanggalan itu.


Efek obat pereda nyeri berdosis lumayan tinggi yang diberikan dokter klinik benar-benar menghantam kesadarannya. Rasa ngilu di rusuknya memang berkurang drastis, namun sebagai gantinya, rasa kantuk yang luar biasa berat menyerang kepalanya. Milo berjalan limbung, langkahnya diseret, sementara tubuhnya bersandar sepenuhnya pada lengan kokoh Kendrick yang terus merangkul pinggangnya posesif.


Bahkan saat pintu lift berdenting dan terbuka langsung ke sebuah ruang tamu penthouse mewah bernuansa monokromatik dengan lantai marmer, Milo tidak memproses apa pun. Ia tidak menyadari interior mahal di sekelilingnya, dan sama sekali tidak memperhatikan dinding kaca floor to ceiling yang menampilkan kerlap-kerlip lampu gedung Scbd dari ketinggian lantai 40.


Otak Milo yang lelah dan berkabut hanya memproses satu hal: ruangan ini beraroma mint yang sangat identik dengan wangi Kendrick.


Kendrick membawa Milo masuk ke kamar utamanya. Ia mendudukkan cowok manis itu di tepi ranjang king size yang luar biasa empuk. Milo langsung menunduk, matanya setengah terpejam, tubuhnya sedikit terhuyung ke depan sebelum Kendrick menahan bahunya.


"Ken... ngantuk banget..." gumam Milo lirih, nyaris seperti racauan. Kepalanya benar-benar pening, bercampur dengan trauma dan sisa salting akibat kecupan di pelipisnya tadi.


Kendrick membongkar lemari nya dalam sekejap, mengambil sebuah kaos oversized putih dan celana pendek berbahan katun yang paling lembut. Ia lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Milo, persis seperti seorang ksatria di depan pangerannya.


"Iya, habis ganti baju langsung tidur," ucap Kendrick pelan.


Milo mengerjap pelan, menatap tumpukan baju di pangkuannya dengan pandangan agak kabur. Ia mengangguk lemah, tangannya yang gemetar perlahan bergerak memegang kancing kemejanya. Namun baru bergerak sedikit, ia meringis tertahan karena rusuknya masih terasa nyeri.


Melihat itu, tangan Kendrick refleks terulur. "Biar gua bantu buka kemejanya—"


"K-kaga usah anjing ..." potong Milo cepat, suaranya parau tapi masih berusaha mempertahankan sisa-sisa harga dirinya.


Tangannya menepis pelan tangan Kendrick. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah. "G-gue bisa ganti sendiri... lo... lo keluar aja sana..."


Kendrick terdiam sejenak. Menyadari Milo yang masih keras kepala dan malu, Kendrick akhirnya menghela napas panjang dan mengalah. Ia tidak ingin membuat Milo merasa tidak nyaman.


"Yaudah. Gua keluar sebentar ambil air hangat sama handuk. Jangan dipaksa kalau susah lepas seragamnya, tunggu gua aja," pesan Kendrick lembut, sebelum akhirnya berbalik dan menutup pintu kamar rapat-rapat, memberikan Milo ruang privasi.


Dengan sisa tenaga yang ada dan menahan ringisan tiap kali tubuhnya bergerak, Milo berhasil melepas seragamnya yang kotor dan menggantinya dengan pakaian Kendrick. Bau mint yang maskulin langsung menyelimuti tubuhnya, memberikan efek penenang yang luar biasa. Ia terlalu lelah untuk memikirkan kenapa kasur "kosan" Kendrick terasa sangat empuk seperti awan.


Lima menit kemudian, saat Kendrick kembali masuk membawa mangkuk air hangat dan handuk kecil, Milo sudah berbaring menyamping di atas kasur. Kaos putih itu kebesaran di tubuhnya, kerahnya jatuh sedikit mengekspos tulang selangka Milo, membuat cowok itu terlihat sangat kecil dan tenggelam di dalam pakaian Kendrick.


Kendrick mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia mengambil handuk hangat, lalu membersihkan sisa noda lumpur di wajah, leher, dan lengan Milo yang tidak tertutup baju dengan sangat telaten.


Milo sama sekali tak mengelak. Ia malah tanpa sadar memiringkan kepalanya, menyandarkan pipinya yang hangat ke punggung tangan Kendrick yang sedang memegang handuk. Gestur pasrah tanpa sadar yang sukses membuat jantung Kendrick berdetak tak karuan.


"Tidur, Milo," bisik Kendrick sambil menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh cowok itu.

Milo tidak menjawab, napasnya sudah teratur. Ia tertidur pulas detik itu juga.