Nakias Jirochtikul menyelesaikan penampilan cello-nya dengan keanggunan yang nyaris sempurna, nada terakhirnya menggantung di udara, diiringi tepuk tangan dari Noah Titicharoenrak.


Tatapan Noah berbinar penuh kekaguman. Sejak nada pertama, ia tak melepaskan pandangannya dari Nakias. Kini, senyum puas tergurat di bibirnya, terpikat oleh keindahan permainan itu, padahal semua ini hanyalah bagian dari sesi latihan semata.


Noah begitu menyukai bagaimana Nakias menggesekkan busurnya sesuai dinamika, menciptakan melodi yang mengalun indah yang di sisi lain membangkitkan emosi bagi para pendengarnya. Belum lagi mata Nakias yang semula terpejam dengan gerakan badan yang selaras dengan lagu, menunjukan betapa menyatunya Nakias dengan cello-nya.


Laki-laki ini benar-benar penuh pesona.


Hey, you’re so cool!” puji Noah, ia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Nakias yang sedang duduk. “I didn't know you played the cello too.


Thanks!” ucap Nakias sambil tersenyum lebar. “Well, I get bored easily, so I mess around with a lot of instruments. Not that I'm great at all of them, though.


Is that what you're playing at the concert?” Tanya Noah sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Nakias mengangguk singkat. “Tell me about it.


You sound just like Professor Marilyn.” Ucap Nakias, sedikit terkekeh.


Come ooooon, I'm curious! That was Mozart, right?


Okay, okay.” Angguk Nakias setelah berhenti meledek Noah. “My friends and I are rearrenged Mozart's Don Giovanni. Not sure if you know, but gue sama lo, we're in different majors. I'm in music composition, and buat tugas akhir, we're teaming up with several students from the drama department to put on a kind of opera.


And, Don Giovanni is about a Spanish nobleman who's famous for charming and seducing women to get what he wants. Cuma suatu waktu, rencana dia buat ngerayu perempuan tuh digagalin sama papanya si perempuan itu sampai Don Giovanni nekat buat bunuh dia. Dan seterusnya, gue agak lupa juga sih cerita fullnya kayak gimana, hehe.” Jelas Nakias panjang lebar.


“Aaah, that’s why permainan lo tadi kedengeran dramatis banget, ya.” Noah mengangguk-anggukan kepalanya tanda paham. “I can't wait to see the real performance.”


Of courseee, you better be there!” Nakias mengacungkan jempol, ia pun meletakkan alat musik yang sedari tadi dia pegang pada stand cello, kemudian berdiri untuk mengambil kopi yang semula dibelikan oleh Noah. “Ah, thanks for the coffee, by the way. Let me pay you back.


It's just a coffee, don't worry about it.


Come on, Noah. You already treated me to a fancy meal. I don't want to take advantage. Let me pay you back.” Ucap Nakias sambil menatap Noah dengan bibir mencebik.


Noah tertawa kecil. “Alright, alright. No need to pout.


“Yay!” Seru Nakias. “Sini, duduk di sebelah gue.”


Noah menurut, ia mengekori Nakias dan duduk di sofa berwarna abu abu yang terletak di tengah ruangan. Ruang latihan yang Nakias pilih kali ini cukup kecil, di sekitar dinding dilapisi panel akustik untuk meningkatkan kualitas suara dan mengurangi gema, dan di setiap sisi ruangan tersedia beberapa alat musik seperti biola, piano juga cello. Yah, secara teknis, sebenarnya Nakias tidak memilih ruangan ini secara spesifik— karenya nyatanya, hanya ruang ini yang tersisa. Selebihnya sudah direservasi oleh mahasiswa lain, entah untuk berlatih musik, menari, atau akting.


“Ngomong-ngomong tentang konser creative project, lo bakal nampilin lagu apa nanti?” Tanya Naki, kemudian menyisip kopinya.


“Jujur gue belum bener-bener mikirin mau bawain lagu apa.” Jawab Noah jujur.


“Bisa bisanya belum nentuin lagu, konsernya gak lama lagi loh?!” Naki menggeleng-gelengkan kepala.


Noah menyengir. “Belum, tapi kan gue bakal tampil sendiri. Jadi aman-aman aja dong, nggak akan ngerepotin orang lain?”


“Tapi ngerepotin diri sendiri.” Sambung Naki. “Emang academic counselors lo nggak nanya-nanya ya?”


“Nanya sih, tapi ya, santai aja lah.”


“Ih lo tuh, malah jadi gue yang deg degan!”


“Kenapa jadi lo yang deg degan?” Noah terkekeh. “Yaudah kalau gitu, bantu gue cari lagu dong.”


“Hmm… apa ya yang cocok sama lo?” Nakias terlihat berpikir. “Gue yakin sih lo bakal nailed apapun lagu yang lo pilih. Tapi yang jelas, Sonata Pathetique harus dihapus dari list.”


Tawa kecil Noah pecah. “And why is that? Bukannya kata lo itu kesukaan lo?”


“Terlalu sedih buat konser TA, tau! Oh, bahkan semua lagu yang ada di resital piano lo harus dihapus, sedih semua.”


“Sebenernya gue memang lebih suka bawain lagu sedih, sih. Soalnya bisa bikin orang-orang yang nonton nangis dan kebawa emosi. Kalau bawain lagu seneng-seneng kan cuma bakal dapet tepuk tangan doang?”


“Aneh banget sih. Padahal emosi tuh kan bukan cuma marah atau sedih doang, tapi bahagia juga termasuk.” Ujar Nakias. “Ah, gue ada ide lagu yang cocok buat lo!”


Noah mengernyitkan dahi, menatap Nakias yang berjalan ke arah piano, sambil merentangkan sebelah tangannya di kepala sofa. Ia penasaran dengan apa yang ingin dimainkan Nakias ketika lelaki itu mulai duduk membelakanginya di bangku berwarna cokelat yang selaras dengan piano akustik dalam ruangan tersebut.


Ketika Nakias mulai memencet beberapa tuts piano, Noah sibuk menerka-nerka judul karya yang ia mainkan. Lagu ini terdengar sangat ceria, Noah juga familiar, ia merasa seakan akan sedang ditarik kembali ke masa kecilnya.


Nakias melirik kebelakang untuk melihat reaksi Noah tanpa menghentikan permainannya. Ia kemudian tersenyum jahil sambil melantunkan lirik lagu yang sedang ia mainkan.


“Salagadoola menchicka boola, bibbidi-bobbidi-boo!”


Tawa Noah pecah. Ternyata itu lagu Fairy godmother Cinderella, that’s why itu terdengar sangat familiar di telinga Noah!


Lelaki dengan tinggi 183cm pun berjalan menuju Nakias, tangannya ia masukan ke dalam saku celana, sementara bibirnya menyengir lebar, merasa terhibur dengan lelucon yang diberikan Nakias.


“Jadi maksud lo, gue harus mainin Bibbidi-Bobbidi-Boo di konser nanti?”


Nakias tertawa, menghentikan permainan pianonya, kemudian menenggakan kepala untuk menatap Noah yang kini berdiri di samping piano. “Kenapa enggak, gak sih? Gue liat liat lo obsess sama Cinderella.”


“Gue bukannya obsess sama Cinderella, Nakias.” Noah menundukkan tubuhnya, menempatkan wajahnya persis di depan wajah Nakias. “Tapi lo very much ngingetin gue tentang Cinderella.”


Nakias membuat pura-pura percaya sambil mengangguk-anggukan kepala, secara implisit sedang meledek Noah dan ucapannya. “Oh, really? Bagian mana dari gue yang bikin lo inget sama Cinderella selain karena ninggalin lo ditengah-tengah ciuman?”


“Jadi lo belum sadar?”


“Apa?”


Noah merogohkan sesuatu dari sakunya, kemudian memakaikan benda yang ia ambil pada telinga kiri Nakias. “Lo gak sengaja ninggalin ini, Nakias.”


Nakias mengerutkan dahi, refleks memegang telinganya. Lelaki itu tiba-tiba teringat akan anting hadiah ulang tahun dari Phoebe yang ia pikir telah ia hilangkan sebab ia tidak dapat menemukannya dimana-mana. Mengetahui bahwa anting dari adiknya itu aman di tangan Noah, Nakias bernafas lega.


Oh! I thought I'd lost it. This is really special to me—it’s a birthday gift from my sister! Gue udah panik adek gue bakal ngamuk kalau anting ini bener bener ilang. Thanks, Noah!”


Well, that’s one of the reasons I wanted to see you again. I had to return this.” Noah tersenyum melihat ekspresi Nakias yang terlihat begitu gembira telah mendapatkan antingnya kembali. “See? Lo sama cerobohnya sama Cinderella.”


I guess I can't deny it anymore.” Nakias akhirnya setuju. “I didn’t even realize my earring fell off that night.


“Oh ya?” Tanya Noah, pria dihadapannya mengangguk. “Was my kiss that great that you forgot something so important to you?


Oh, that flirty eyes again!


Nakias secara tidak langsung tertampar oleh realita yang melarangnya untuk kalah dan jatuh pada pesona Noah. Ia harus menjadi satu-satunya pihak yang memegang kendali.


That sounds like a bit of a stretch.” Ucap Nakias. “Harusnya gue sih yang nanya. How can you prove that my earring really fell off—and not that you deliberately took it so you’d have an excuse to see me again because my kiss that night was that great?


Nakias pantas mendapatkan sertifikat ahli di bidangnya.