🍎🍎
Meeting dadakan itu selesai, selesai agak lebih cepet setengah jam. Tapi setengah jam pun berharga untuk seorang Juna Adnan.
"Langsung pulang pak?" Jaden bertanya kepada bos sekaligus temannya itu saat mereka berjalan ke luar ruangan.
"Iya." Juna tidak mampir ke ruangannya dulu, dia langsung pergi ke depan lift, untuk menuju ke lobby di mana supirnya sudah menunggu.
Sepanjang kakinya melangkah, pikirannya berpikir, apa maksud perkataan Bintang. Merah dan tempat cucian?
Sebetulnya dia agak terkejut saat Bintang berkata Kalanya mengalami baby blues, karena dari apa yang dia lihat Kala dengan Heera baik-baik saja, Kala dengan dirinya pun baik-baik saja. Mungkin ada yang terlewat, mungkin.
Juna memang merasakan sedikit perubahan kecil pada Kalanya. Jika saat hamil dulu Kala sangat bergantung padanya, semua hal diadukan kepadanya, sekarang tidak lagi, Kala tidak lagi terlalu bergantung dan banyak mengadu.
Juna hanya berpikir bahwa Kalanya kembali ke sifat awal sebelum hamil, karena memang sebelum hamil Kalanya tidak banyak membicarakan hal tidak penting seperti saat hamil. Jadi Juna tidak banyak menerka-nerka ada yang salah.
Tapi setelah dipikir lagi, untuk hal sepenting jahitannya yang berdarah pun Kalanya tidak bilang. Maksudnya meski hanya perkara jahitan, tapi itu harus dipantau karena jahitan Kala itu berbeda, itu bukan jahitan pertamanya di sana, dan tentu keadaan rahimnya yang rentan. Otak pintarnya itu berpikir keras sekarang. Apa ada lagi yang dia lewatkan? Sepertinya tingkat kepekaannya itu perlu diperbaiki.
Lima belas menit perjalanan, dia sampai. Membuka pintu apartement yang baru ditinggali dua hari itu pelan. Menampilkan Mahes yang sedang bermain game di ponselnya terduduk di atas sofa.
"Eh bang!"
"Terimakasih sudah menjaga kala."
"Aman bang. Mahes pergi ya mau jemput pacar mahes hehe." Adik bungsunya itu menunjukan cengiran.
"Iya hati-hati."
"Btw, bang kala kayaknya tidur, ga keluar kamar lagi." Katanya sebelum membuka pintu keluar.
"Ok."
Juna berjalan ke arah kamar, membuka pintu kamar dan benar saja, dua kesayangannya itu sedang tertidur, dengan Heera yang masih menyusu. Lucu sekali Juna jadi tersenyum sendiri.
Pintu kamar itu ditutup pelan. Kini kaki besar itu melangkah ke arah laundry space. Di sana tempat mesin cuci, persabunan, keranjang baju kotor dan baju yang baru selesai dicuci. Tidak ada tempat untuk menjemur omong-omong karena mesin cuci mereka milik Amerika yang punya teknologi mengeringkan sendiri.
Tangannya mengambil tumpukan baju di sana, sedikit mengacak-ngacak untuk mencari apa yang Bintang maksud. Merah? Baju merah? Celana merah? Atau apa yang merah? Tidak ada yang mencurigakan di tumpukan baju ini, semuanya normal, bersih dan wangi.
Tunggu. Apa maksudnya baju kotor? Tangan Juna berpindah ke tumpukan baju kotor, mencari sesuatu seperti kucing mengais tempat sampah. Ok maaf speertinya itu perumpamaan yang terlalu kasar. Intinya dia mengobrak-abrik keranjang yang hanya ada beberapa helai pakaian itu. Sampai suatu noda membuat gerakan tangannya terhenti. Ternyata maksud Bintang, noda merah, darah. Ada di celana Kalanya.
Juna meremat celana itu pelan, raut wajahnya berubah. Kenapa Kala tidak bilang apa-apa soal ini?
Kakinya berjalan pelan kembali ke tengah rumah dengan celana Kala di tangannya. Juna mengambil duduk, pandangannya teralih ke pinggiran sofa yang sedikit basah juga masih ada sedikit noda di sana. Jadi itu bukan noda milik Heera, tapi milik Kala.
Juna menghela nafasnya pelan, otak pintarnya terus bertanya kenapa Kala menyembunyikan ini. Sampai suara pintu terbuka membuat pandangannya berbalik.
"Juna! Kapan sampe?" Tanya yang membuka pintu.
"Belum lama." Meski raut wajahnya tidak menyenangkan tapi Juna tetap menjawab suaminya itu.
Kala mengernyit, dia bisa merasakan raut wajah tidak menyenangkan itu. Jadi kakinya melangkah mendekat, "Kamu kenapa?"
"Kalyass."
Dia yang ingin duduk, menghentikan gerakannya sebentar. Apa dia ketauan?
"Apa juna?" Jawabnya berusaha santai.
Juna yang awalnya sedikit menunduk, menegakkan pandangannya. Menatap Kala yang duduk di sampingnya dalam. "Ada yang kamu sembunyikan?"
Kala menegang.
"Jujur dengan saya, kamu tau kan saya tidak suka kebohongan." Nada bicaranya berubah, Kala gugup.
"Apa? Aku ga-" Kala menelan ludahnya, dia baru menyadari sesuatu yang Juna pegang adalah celananya.
Sial. Dia lupa menyembunyikan itu.
"Kalyass. Apa pernah saya menuntut sesuatu pada kamu?"
Kala diam, sekarang wajahnya menunduk, dia tidak bisa melawan Junanya itu tidak bisa.
"Jawab pertanyaan saya. Lihat saya bertanya pada kamu." Dagunya dinaikan, bukan gerakan kasar, tapi bukan juga gerakan lembut yang biasa dia terima.
Kala memberanikan diri melihat Junanya, ada ekspresi sedih dan kecewa juga pandangan tajam di sana. Kala merasa tersudut sekarang juga jadi merasa sangat amat bersalah.
"Saya tidak pernah menuntut apapun pada kamu, saya hanya ingin kamu jujur tentang apa yang kamu rasakan. Apa permintaan saya sulit?"
Kala tetap diam. Dia tidak tahu harus beralibi apa sekarang.
"Bagaimana jika hal buruk terjadi lagi? Apa yang terjadi jika kamu terbaring lagi?"
Dapat Kala lihat pandangan itu melunak, "Jika terjadi sesuatu lagi dengan kamu bagaimana dengan saya? Apa kamu pernah berpikir soal itu?"
Kala menunduk lagi. Sungguh dia tidak memiliki pembelaan apapun sekarang.
"Saya juga manusia biasa kala, kamu tau saya sakit ketika melihat kamu kesakitan tapi saya tidak bisa melakukan apapun rasanya seperti apa? Saya tidak berdaya. Rasanya seperti manusia paling brengsek yang bukannya memberi rasa cinta malah memberi banyak kesakitan."
Kala menegak, dia menggeleng. Tidak maksud Kala bukan seperti itu.
"Sehingga saya berusaha untuk membuat kamu selalu nyaman dan aman, itu upaya terbaik yang bisa saya lakukan untuk kamu."
Juna mengalihkan pandangannya, dia menatap lurus ke arah TV. Melihat cerminannya sendiri juga cerminan Kala.
"Tapi kamu bahkan tidak mendukung saya untuk itu."
Kala tersentak, ada pukulan di hatinya.
"Saya tidak meminta banyak, saya hanya ingin kamu jujur dan selalu menceritakan apa yang kamu rasakan, apa terlalu berat untuk kamu?"
"Juna..."
"Besok kita ke rumah sakit, saya harap tidak ada penolakan." Ucapnya dingin kemudian berdiri dan meninggalkan Kala ke ruang kerja.
Kala menatap punggung lebar itu berkaca-kaca. Apa yang sudah dia lakukan? Junanya marah sekarang.
Selama menikah Juna hanya pernah marah padanya sekali, dengan ini dua kali. Perkara yang sama. Dia yang menyembunyikan rasa sakitnya. Dan bukannya belajar dari sana Kala malah mengulanginya lagi.
"Juna... sorry."