Closer and closer
Waktu berlalu dengan sangat cepat, hingga tak terasa sudah hampir tiga bulan Gemini dan Fourth menjalin persahabatan yang erat. Tidak hanya mereka berdua, tetapi juga dengan teman-teman lainnya. Agenda bermain FIFA di rumah Gemini pada saat itu menjadi awal yang baik bagi Gemini, Fourth, Pakin, Satang, dan Winny untuk semakin akrab dan sering berkumpul bersama.
Pond tentunya menyadari kedekatan antara adiknya dan juga sahabatnya. Tetapi ia tidak mengambil pusing, karena sepengelihatannya Gemini murni hanya ingin berteman dengan Fourth. Ia juga menghargai adiknya yang tampak nyaman berteman dengan Gemini, meskipun ia sendiri tidak mengerti bagaimana kedua orang itu bisa begitu dekat, mengingat sifat mereka yang sangat bertolak belakang.
Fourth yang pemarah, dan Gemini yang selalu tenang.
Oh, atau mungkin itu artinya mereka saling melengkapi? Entahlah.
Gemini menjadi dua kali lebih sering mengunjungi rumah Pond. Seperti saat ini, ketika Pond mengantarkan guru les privatnya ke pintu rumah setelah sesi belajar, ia menemukan Fourth dan Gemini tertidur di sofa ruang TV. Fourth menyandarkan dirinya pada bahu Gemini, sementara kepala Gemini berada di atas kepala Fourth. Ada pula Munmuang, kucing Pond dan Fourth, yang tertidur di pangkuan Gemini. Tangan keduanya masih memegang stik PS, dan televisi, entah sejak kapan, sudah mati.
“Abang, tolong bantuin Mama sini.”
Mendengar ucapan mamanya, Pond pun pergi ke dapur dan membantu sang mama memindahkan makanan ke meja makan untuk dinner.
“Itu orang berdua dari tadi tidur, Ma?”
Mama Mai menggelengkan kepala. “Tadi waktu Mama masak sih masih pada main, tapi pas hujan tiba tiba udah hening. Kayaknya karena dingin sama kecapekan jadi pada ketiduran.”
Pond mengangguk-anggukan kepala.
“Gemini sama dedek kok jadi temenan bang?”
“Gak ngerti juga, Ma. Tapi kan sekarang Gemini seangkatan sama dedek, jadi dedek temenan sama Gemini. Mungkin Gemininya juga belum punya banyak temen baru juga selain temen exchangenya di angkatan mereka.”
“Ooh, baguslah. Dedek juga kan temennya sedikit. Susah kan dia temenan sama orang baru, dari sd temennya Satang lagi, Winny lagi.”
Pond terkekeh. “Tuh karena orang-orang deketin dedek dari awal gak niat buat temenan, tapi pengen modus aja.”
“Abang masih sering dititipin cokelat dari orang-orang yang naksir dedek kayak waktu smp?”
Oh, Pond tiba-tiba teringat ia pernah bertengkar hebat dengan Fourth karena ia muak menjadi kurir cokelat surat cinta untuk sang adik. Fourth memang sudah populer sejak kecil karena parasnya yang manis dan tampan, semua orang baik laki-laki maupun perempuan tertarik dengan pesonanya. Mungkin Pond yang saat masih duduk di bangku kelas 8, ia tidak akan pernah menyangka bahwa di masa depan, ia akan memiliki kekasih lebih dulu daripada Fourth.
“Enggak terlalu banyak, tapi temen temen abang pada genit ke dedek. Abang suka marahin mereka.” Pond melirik ke arah Gemini dan Fourth. “Tapi bagus deh sekarang ada Gemini, yang jagain dedek sekarang nambah satu.”
Mama mai tertawa kecil. “Tuh, abang tuh sayang sama dedek kan sebenernya.”
“Sayang-sayang aja kalau dianya lagi gak nyebelin.”
“Tsundere abang tuh.”
“Mama tau darimana tsundere? Gaya.”
“Tau lah, Mama tuh gaul loh di kantor.”
“Gaul tapi galak. Kata PA mama kemaren mama habis marah marah sampe satu kantor mau nafas aja takut salah.” Pond menjulurkan lidahnya.
“Heh enak aja! Mama gak galak ya!” Mama Mai, si single mom sekaligus chief editor dari salah satu majalah fashion ternama di Indonesia menepuk lengan anaknya dengan sebal. “Udah, kamu bangunin Gemini sama dedek dulu sana. Kita makan bareng.”
“Siap bosss.” Pond mengacungkan jempol, kemudian meninggalkan Mama Mai untuk menghampiri Gemini dan Fourth di ruang TV. Ia cukup bingung memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk membangunkan adiknya tanpa membuat adiknya marah. That grumpy little cat.
Untuk itu, Pond memutuskan untuk membangunkan Gemini terlebih dahulu.
“Nul, Geminul, bangun hoi.” Pond menepuk-nepuk pipi Gemini; untungnya, sekali tepuk saja, Gemini bisa langsung bangun.
Fakta seru, ketika baru bangun dari tidur, Gemini tidak bisa langsung berkomunikasi dengan orang lain. Laki-laki itu akan terdiam, melamun sejenak seperti hp yang lag selama kurang lebih 5 menit.
Pond menggelengkan kepalanya. “Cepet-cepet ngumpul dah.”
“Fot, bangun Fot.” Lelaki berumur 18 tahun itu kini beralih untuk membangunkan sang adik dengan cara mengusap pipinya dengan lembut. Memang hanya ini cara yang tepat untuk membangunkan Fourth agar adiknya itu tidak badmood atau grumpy setelah bagun tidur.
“Mmm,”
“Bangun dulu, Fot. Makan malem kata Mama.”
“Mhm, iyaaa.”
Terbukti, bukan? Fourth kini bangun tidurnya dengan damai, lalu merenggangkan badan. Tidak ada satupun decakan atau makian yang keluar dari mulut kecil itu karena Pond membangunkannya dengan cara yang sangat lembut.
“Cuci muka sana, ajak si Geminul juga. Terus ke ruang makan, Mama udah nunggu.” Pond menepuk-nepuk pucuk kepala Fourth.
Benar kata Mama Mai, abang itu sayang dedek sebenarnya.
“Iya.” Fourth mengusap wajahnya, kemudian ia menoleh ke arah Gemini yang masih melamun. Yang lebih muda mengangkat tangannya, kemudian menyentil dahi Gemini. “Woi, sadar lo.”
“ADAH!”
Pond tertawa, kemudian meninggalkan mereka berdua untuk bergabung di meja makan dengan sang ibu.
“Bangun Gem, ayo cuci muka.” Fourth berdiri seraya menarik kaos hitam yang dikenakan Gemini. Sebenarnya itu hanya kaos dalam yang selalu ia pakai di balik seragamnya, namun entah kenapa jika Gemini yang menggunakan masih terlihat bagus, tampan malah.
“Duluan. Nyawa gua belum kumpul semua.”
“Jangan banyak omong sebelum nyawa lo ilang semua.”
Galak banget sih.
Pada akhirnya Gemini menuruti yang lebih muda, ia bangkit dari duduknya setelah mengusap lembut tubuh Munmuang dan memindahkannya ke sofa. Mereka kemudian memasuki kamar mandi di bawah tangga untuk mencuci muka.
Di saat yang bersamaan, mereka menyadari bahwa di luar sedang hujan. Itu alasan utama mengapa mereka bisa sampai ketiduran saat bermain PS beberapa jam yang lalu. Hawa ngantuk, kalau kata Fourth.
“Jam berapa sih? Udah malem banget belum?” Tanya Gemini, Fourth lantas membuka ponselnya untuk mengecek jam.
“Jam setengah delapan. Lama juga dah kayaknya kita tidur.”
“Lu kebo sih.”
“Dih apaan? Lo yang kebo.”
“Lu kebo.”
“Lo kebo.”
“Lu.”
“Lo!”
“Lu.”
“LO—“
“JANGAN LAMA LAMA CUCI MUKA DOANGG!”
Teriakkan Pond dari luar sana membuat tawa Gemini dan Fourth seketika pecah dan menghentikan pertengkaran kecil mereka. Usai mencuci muka, sepasang teman itu berjalan ke dapur, dimana Pond dan Mama Mai sudah menunggu mereka berdua.
“Mamaaa.” Fourth datang dan segera mencium pipi sang ibu. Dia hanya bisa bertingkah manja seperti ini kepada Mamanya saja, selain itu, dia menganggap itu alay.
“Halo Tante Mai.” Sapa Gemini dengan senyuman.
“Udah pada seger lagi kan? Yuk kita makan.”
Ini bukan kali pertama Gemini menyertai keluarga Pond untuk makan malam. Ia sudah tidak lagi merasa canggung, sebab selama ini Mama Mai selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Selain itu, Gemini senang sekali saat harus makan bersama seperti ini, karena di rumah, ia biasanya makan sendirian mengingat kedua ayahnya yang bekerja sebagai pilot, di mana keduanya tidak selalu pulang setiap hari.
“Abang minggu depan jadi berangkat ke Jogja buat acara perpisahan angkatan itu?” Mama Mai membuka percakapan ditengah sesi makan mereka.
“Kok udah perpisahan aja si, Pond? Perasaan lulusnya masih beberapa bulan lagi.” Tanya Fourth.
“Iya, Ma, jadi. Hari rabu berangkatnya.” Pond mengangguk. “Bukan perpisahan yang kayak wisuda gitu, cuma jalan jalan terakhiran aja, sama ada makrab.”
“Berarti barengan sama mama pergi ke Hongkong ya? Abang siapin yang bener perlengkapannya oke? Jangan sampe ada yang ketinggalan.” Ujar Mama Mai.
“Iyaa, Ma.”
“Dedek sama Gemini juga nanti setelah abang pulang bakal ada goes to campus loh, mama denger dari mamanya Winny.”
“Iya tante, beberapa temen sekelas Gemini ada yang jadi panitianya.”
“Lah emang iya? Kok gue baru tau udah ada kepanitiaannya sih, Gem?”
“Lu kan apatis, Fot.” Sambar Pond.
“Apa sih!”
“Dari beberapa bulan lalu udah open recruitment kok. Udah siap juga acaranya tinggal berangkat dua minggu lagi.”
“Kok gue baru tau sih kita mau pergi!”
“Dedek kan apatis.”
“Ih mama!” Fourth mengerucutkan bibirnya. “Emang kita mau pergi kemana sih? Jogja juga?”
“Ke Bandung, Jogja, terus nanti terakhirnya ke Bali.” Jelas Gemini.
“Banyak amat destinasinya?!”
“Anjing, kok pas jaman gua gak ke Bali sih?”
“Language, abang.” Mama Mai memperingati, Pond lantas meminta maaf sambil menyengir. “Berarti itu full satu minggu ya, Gemini?”
Gemini mengangguk. “Iyaa tante, sama waktu perjalanannya kurang lebih seminggu.”
Fourth mengunyah dan menelan makanannya sebelum bertanya. “Naik apaan? Pesawat?”
“Naik bis lah tolo— pinter.”
“Ma abang mau ngomong kasar ke dedek tuh ma.”
“Apaan si orang gua bilang pinter.”
Mama Mai dan Gemini tertawa, namun dengan alasan yang berbeda. Mama Mai tertawa melihat anaknya yang bertengkar, sedangkan Gemini menertawakan kegemasan Fourth yang menyebut dirinya sebagai dedek.
Lucu.
“Anyways, Gemini, nanti tante nitip dedek Fourth ya selama kalian goes to campus. Dia nih kalau lagi jalan-jalan suka tiba-tiba kepisah sama rombongan.”
“Stop bawa-bawa cerita kelas 3 SD deh, Ma. Dedek udah gede tau.”
“Emang Fourth pernah ilang, tante?”
“Iye, Nul. Waktu kita masih sd ni bocah ilang lima jam pas kita jalan kalan di Tokyo. Gak taunya dia kabur ngikutin badut Snoopy.”
“POND!!!!”
Gemini tertawa lagi. Semua hal tentang Fourth dan kecintaannya terhadap Snoopy benar-benar menggemaskan.
“Semoga nanti pas di Bali gak bakal ada badut Snoopy ya, tante.”
“GEMINI GAK USAH IKUT IKUTAN!!!!!”