Tiramisu
Content Warning | a bit of finger sucking.
Malam ini bermula dengan cukup menyenangkan. Pesta ulang tahun dari ayah Noah berlangsung dengan sangat ceria. Dimulai dari pembukaan nyanyi oleh sepupu sepupu Noah, acara tiup lilin dan potong kue, ucapan dari anggota keluarga, hingga bagian hiburan dimana lampu utama dimatikan, diganti oleh lampu pesta yang meriah.
Seperti yang sudah diperingatkan Noah, ayahnya itu pasti meminta semua orang untuk bernyanyi. Laki-laki paruh baya tersebut memang sangat berjiwa muda dan cerewet. Waktu baru menunjukkan pukul 9 malam, tetapi Nakias, sebagai pendatang baru sudah menyanyikan hampir lima lagu yang berbeda. Dimulai dari lagu berbahasa inggris hingga lagu berbahasa indonesia. Kalau kata bisikan Paul beberapa menit yang lalu kepada Nakias, langkah yang diambil oleh lelaki imut itu salah sedari awal. Seharusnya Nakias tidak menunjukkan keunggulannya dalam bernyanyi agar ayah Noah tidak meminta lagi dan lagi.
Tapi ya, Nakias tidak begitu keberatan. Toh, dia memang suka bernyanyi. Yang menjadi concernnya adalah— sedari tadi ia tidak menemukan keberadaan Noah. Hanya Philip dan Paul yang menemaninya di atas panggung. Setiap kali ia ingin bertanya, ayah Noah sudah keburu meminta pemain musik agar memainkan lagu lain untuk ia nyanyikan.
Di pertengahan, Philip dan Paul mulai mengerti kalau Nakias mulai lelah. Kedua sepupu Noah itupun membantunya dengan cara mengambil alih mikrofon, yang mana hal tersebut sedikit mengundang sorakan dari penonton karena suara mereka tidak sebagus Nakias.
Setelah turun panggung, yang pertama dilakukan Nakias tentu saja adalah celingak-celinguk mencari Noah. Biarpun sudah akrab dengan Paul dan Philip, tentu saja ia tetap tidak tenang jika tidak ada laki-laki itu disebelahnya, sebab semua orang disini kurang lebih adalah stranger baginya.
“Cari Noah?”
“Ha– Oh, Kak Javier.” Nakias menundukan sedikit kepalanya ketika menyapa Javier. “Iya, kak.”
“He’s out on the balcony.”
“Thank you, kak.”
“But he’s with David.”
Oh … right. Tentu saja ini waktu yang pas untuk Noah dan David untuk saling berbincang setelah berminggu-minggu putus kontak. Seharusnya Nakias ingat kalau ia disini bukan untuk dirinya sendiri.
“What’s with that face?”
Pertanyaan itu membuat Nakias terbangun dari lamunan. “Sorry?”
“Lo keliatan kecewa.” Lanjut Javier sebelum menenggak cairan merah dalam gelasnya. “Gue kira lo gak tulus sama adek gue.”
Nakias terdiam sebentar. Kakaknya Noah ini … dia tidak tahu tentang perjanjiannya dengan David kan?!
“Gue gak ngerti maksud lo, kak.”
“Gua juga gak ngerti maksud lo.” Balas Javier. “Apapun yang lo rencanain ke adek gue, lebih baik lo berhenti sekarang. Tapi kalau lo emang tulus, berarti I have nothing against you. Lanjutin aja.”
Ketakutannya terhadap ayah Noah ternyata cuma-cuma. Karena yang sebenarnya harus ditakuti adalah kakak Noah. Laki-laki tampan ini sangat mengintimidasi hingga ia merasakan bulu kuduknya merinding.
“Gue gak punya rencana apapun, kak.”
Javier mengangguk. “Good then. Kalau gitu gua tinggal dulu, ya.”
Lelaki yang lebih tua beberapa tahun dari Nakias pun meninggalkannya dengan keadaan mood yang sudah hancur lebur. Sudah ditinggal Noah berduaan dengan mantan pacarnya, kini ia mulai dicurigai tengah merencanakan sesuatu oleh kakaknya pula.
Padahal tugas Nakias adalah membuat Noah bahagia.
Adakah yang salah dengan hal itu?
Terakhir kali Noah melihat keberadaan Nakias malam ini adalah ketika lelaki cantik itu diminta untuk menaiki panggung oleh sang ayah. Setelah itu Noah pergi ke toilet, kemudian bertemu dengan David yang ternyata tidak datang bersama sang tunangan karena katanya, lelaki bernama Adriaal itu tidak ingin merusak hari baik Noah karena presensinya.
Tak dapat dipungkiri, Noah senang karena akhirnya bisa memiliki waktu untuk berbicara dengan David. Menanyakan kejelasan mengapa tiba-tiba laki-laki itu berhenti membalas pesannya, dan bertanya mengapa ia menghilang seperti di telan bumi selama beberapa minggu kebelakang.
Dan jawaban David membuatnya lumayan tercekat. Udah gak ada yang bisa dilanjutin dari kita, ini udah waktunya buat benar-benar berhenti, begitu katanya.
Sebenarnya, belakangan ini Noah mulai mengerti bahwa tida ada satupun kesempatan baginya dan David untuk kembali. Namun, mendengarnya secara langsung ternyata semenyakitkan itu.
Untuk itu, satu-satunya yang ingin dilakukan Noah sekarang adalah bertemu dengan Nakias. Namun batang hidung lelaki itu tidak dapat ditemukan dimana-mana, bahkan ketika Noah bertanya kepada Paul dan Philip, mereka berdua menjawab dengan kompak, “Tadi dia pergi nyariin lo, Noah.”
Namun untungnya, tidak lama setelah Noah mengirimkan pesan kepada Nakias, lelaki itu merasakan ponselnya bergetar.
Nakias:) : Gue di swimming pool area
Nakias:) : Lo udah selesai ngobrol sama David?
Nakias:) : Sorry pergi tapi gak bilang, gue takut ganggu loo
Noah tidak dapat menebak nada bicara Nakias melalui ketikan di ponselnya. Namun yang jelas, ia benar-benar ingin menjedukkan kepala ke tembok saat ini juga.
Sebelum menghampiri Nakias di kolam renang, laki-laki itu berinisiatif untuk membawakan sesuatu yang manis untuknya. Dalam kasus ini, Noah membawa sepotong kue ulang-tahun ayahnya yang telah disediakan untuk para tamu.
“Thank you.”
“Sorry gue tadi ilang bentar, kata Philip sama Paul lo nyariin gue.”
“Gak apa-apa, Noah.”
Kemudian hening, hanya terdengar suara gemercik air dari kolam renang. Noah pun memutuskan untuk ikut mencelupkan kakinya seperti Nakias, meletakkan piring kecil tersebut di antara keduanya.
“Lo keliatan– marah.”
Nakias meletakan kedua tangannya di samping tubuh agar bisa menumpu badannya kebelakang. Kemudian menoleh ke arah Noah. “Am I?”
“Iya.”
“Sorry for being unreasonable.”
“Gue ninggalin lo, padahal gue yang ngajak lo kesini. You’re not unreasonable.”
Nakias tidak membalas apapun. Ia menahan dirinya untuk tidak merasakan apa-apa, sebab tidak ada satupun alasan yang dapat memvalidasi sikapnya saat ini. Nakias tidak boleh melibatkan perasaannya pada Noah. Ia tidak berhak marah. Apalagi merasakan sesuatu yang dimulai dari huruf c dan diakhiri dengan huruf u. Dia bukan siapa-siapa.
“Nakias.”
“Hmm?”
“Kuenya mau?”
Nakias melirik ke arah Noah sebelum menganggukan kepalanya. Yang lebih tinggipun mengambil bagian dari kue tersebut dengan tangannya, kemudian menyodorkan kue tersebut ke depan mulut Nakias.
“I love tiramisù.” Gumam Nakias.
“Suka?” Tanya Noah.
Ia tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari mulut Nakias yang sedikit belepotan oleh krim karena sepertinya Noah memberikan suapan yang terlalu besar.
“Suka.” Nakias menganggukan kepala.
Noah meneguk ludah.
“Buka mulutnya lagi,”
Menurut, Nakias sedikit membuka mulutnya untuk merasakan kembali kue tiramisu tadi. But instead of cake, Noah’s hand cradled Nakias’ jaw, sliding his thumb into Nakias’ mouth. The thumb pressed softly against Nakias’ tongue, a delicate touch that nearly took his breath away.
“Noah…”
Kedua iris itu kini saling tatap, seakan akan begitu menginginkan satu sama lain. Baik Noah mapun Nakias sedang memiliki mood yang kacau balau karena dua alasan yang berbeda, dan sepertinya, hal yang sedang dilakukan Noah ini dapat menyembuhkan hal tersebut dari kedua belah pihak.
Kepala Nakias terasa berat, perutnya bergejolak. Tetapi merasakan sedikit sisa tiramisu dari jemari temannya benar-benar terasa begitu nikmat.
“Suka?”
“Suka.”
Kini bukan cuma Noah yang perlu hati-hati dengan masalah hati.