Jakarta dan dunianya
please read slowly.
Pemuda manis masih terduduk di sofa ruang tamu apartemen yang dia tinggali, sedikit melenguh ketiak merasakan kepalanya yang berdenyut tiasa henti. Badannya benar-benar tidak bisa diajak berkompromi kali ini, biasanya Ziel selalu menolak jika diajak ke klinik atau rumah sakit, tapi hari ini dia mau.
Dia menuruti tuntunan Fathan karena tidak mau terus-terusan merasakan kepalanya yang peninh. Bundanya sudah biasa melihat Ziel yang ambisius, tapi Fathan yang berteman dengannya sejak awal SMA masih terus mengomeli pemuda cantik yang sialnya kebiasaan buruknya seperti dijadikan hobi.
Ziel bukannya suka membuat tubuhnya lelah, tapi dirinya merasa punya tanggung jawab ketika melakukan sesuatu. Harus sampai tuntas, harus tanpa cela, harus sampai akhir tanpa jeda seperti orang biasanya. Kebiasaan aneh yang membuat Fathan sering mengamuk.
Dahinya masih terasa panas, suhuny masih sama sebelum dirinya dibawa ke rumah sakit oleh temannya. Kalau kata dokter yang menangani, Ziel boleh kembali. tidak harus dirawat tapi tubuhnya memang perlu diperhatikan, tidak selalu diforsir jika memang sudah diambang batas lelah. Ziel masih ingat juga bahwa nasihat-nasihat yang diberikan ditanggapi dengan anggukan, tapi dokter itu tidak tau kalau kebiasaan yang sudah dipupuk dari dulu memang susah untuk dihilangkan.
Nafasnya dihela lagi sambil kepalanya yang mendongak tapi disandarkan di punggung sofa, menatap langit-langit apartemen yang dia tinggali bersama Idan. Mengingat nama Idan membuat bibirnya mencebik pelan, pemuda itu pasti sedang seru-serunya melihat negara tetangga tanpa sibuk memikirkan apapun yang ada disini. Kadang Ziel iri dengan orang-orang yang mempunya kesibukan tapi masih bisa meluangkan waktu untuk liburan. Benar, Idan bukan liburan. Tapi bukannya sama saja kalau yang didatangi adalah tempat yang sering turis kunjungi?
Gelengan kepala terlihat dari diri yang lebih muda. Dia ingat kalau masih ada bubur ayam yang harus dia makan, sempat dibawakan oleh Fathan tadi. Tapi Ziel ini memang membuat orang sekitarnya kadang muak, Fathan membeli bubur ayam itu sejak pukul 2 siang, sepulang mereka dari rumah sakit. Tapi sampai sekarang sudah pukul hampir 9 malam, bubur ayam itu belum tersentuh. Fathan ingin menemani bukan hanya karena dia khawatir tapi dia sangat mengerti tabiat jelek sang teman saat tubuhnya dihajar kesakitan.
Bibirnya melengkung ke bawah begitu paham kalau bubur itu tidak bisa disantap lagi dengan nikmat. Pasti sudah sangat lembek dan dingin. Dia juga tidak punya tenaga untuk memanaskan ataupun membuat makanan lain seperti biasanya.
Badannya yang masih bersandar dibawa berdiri dengan pelan. Dia ingin menuju dapur karena ingin minum air hangat dari dispenser yang ada di samping kulkas. Langkahnya pelan, kadang hampir limbung kalau tidak disangga dengan benar, kepalanya masih tidak karuan pusingnya, dahinya masih panas, dia belum bisa minum obat karena dengan bodohnya bubur itu sudah tidak layak untuk dimakan karena kecerobohannya sendiri.
Kakinya sudah sampai di samping kulkas, mengambil air putih hangat, meminumnya dengan pelan sambil memejamkan mata. Ziel juga bisa merasakan tenggorokannya yang amat sakit. Memangnya efek begadang karena tugas bisa jadi segininya, ya?
Jawabannya bisa. Karena ini Ziel, yang tubuhnya terlalu dipaksa untuk melakukan segala hal dengan sempurna seperti tidak ingat bahwa dia masih manusia.
Tenggorokannya yang sakit masih menenggak air hangat, dipaksa untuk mengerti. Telinganya yang menangkap suara sunyi beralih menangkap suara bising dari arah depan. Pintu apartemennya juga bisa didengar dibuka sembarangan. Ziel yang pikirannya sudah kusut semakin berpikir kemana-mana.
Dia ini sedang tidak punya daya, bagaimana kalau seseorang yang jahat berhasil membobol tempat tinggalnya di saat tubuhnya seperti ini?
Ziel harus minta tolong siapa kalau sampai dirinya yang menjadi sasaran Dari amarah orang yang tidak dia kenal?
Ziel harus mengadu pada siapa kalau sekarang matanya sudah meneteskan air mata sakit, air mata panik, air mata yang menyiratkan kalau pikirannya sedang kalang kabut?
Ziel tidak bisa mengadu pada Idan, candaan pemuda itu masih ditangkap dengan jelas. Candaan yang dianggap keseriusan seorang Idan ketika mengatakan “tidak usah bilang kalau lagi kenapa-kenapa pas aku nggak disana”.
Lagipula, Idan bisa membantu apa dengan jaraknya yang terbentang begitu jauh dari Ziel saat ini?
Pikirannya kacau balau tapi langkah Kali tergesa semakin mendekat. Ziel tidak berani beranjak, biarkan saja kalau memang ini sudah menjadi takdirnya. Tubuhnya tidak punya kuasa untuk melawan apapun yang akan dihadapi.
Ziel hanya tidak tau bahwa manusia yang sudah menatap tubuh kecil di dapur juga menghela nafas pelan. Kemejanya yang berwarna putih hampir kusut kalau tidak dirapikan dengan tangannya. Dia juga tau kalau Ziel pasti mendengarnya masuk. Pria yang lebih tua menggeleng pelan melihat Ziel tidak beranjak Dari sana, memilih menyangga satu tangannya di pintu kulkas, berniat menopang tubuhnya yang sudah tidak sanggup berdiri.
Kemejanya ditekuk hingga siku sambil kakinya yang mendekat, hampir sampai di belakang Ziel. Setelah sampai, dirinya bisa mengamati lewat matanya yang mengintip dan menyipit karena posisi Ziel membelakanginya, kalau yang lebih muda memejamkan matanya. Pria itu tersenyum kecil.
“Kenapa matanya ditutup?” ucapan dengan suara lembut berhembus di telinga Ziel.
Pria itu juga bisa mendengar isakan kecil dari yang lebih muda. Sesakit itu ya badannya?
“Kenapa nangis, Ziel?”
“Gausah nanya, kepala gue pusing! Kalo mau ambil barang, ambil aja. Gausah deket-deket gue”
“Ngomong apaan coba, ini gue Idan. Ngapain pake ambil barang yang udah gue taruh disini?”
Mendengar sapaan dari orang yang dia kenal, justru membuat Ziel semakin tersedu. Dia hampir jatuh dari tempatnya. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Kali ini bukan air mata kesedihan tapi air mata bentuk kelegaan karena Idan sudah disini.
Idan yang tubuhnya juga begitu lelah memilih langsung memeluk badan yang lebih kecil agar bersandar padanya. Idan tau kalau Ziel masih tidak enak badan. Tadi juga dia sempat menoleh ke meja dapur bahwa ada bubur yang masih utuh, belum tersentuh, tapi sudah tidak bisa dimakan.
“Udah gausah nangis” tangan kanannya sambil mengusap dahi yang begitu panas didepannya. Rengkuhannya semakin erat ketika merasakan tubuh itu bersandar sempurna di tubuh bagian depan Idan.
Kepala yang lebih tua melirik ke depan dari samping kepala Ziel.
“Kenapa masih nangis? Udah gue peluk harusnya udah nggak nangis dong”
“Gue kira tadi maling, Mas Idan”
“Lagian siapa lagi yang bisa buka sini kalo bukan gue sama lo doang? Pikiran lo kalo sakit makin aneh, Ziel”
“Lo meluk gue tapi ngomel-ngomel, gimana gue nggak makin nangis?” bibirnya melengkung kebawah sedang Idan masih setia mengusap dahi, yang kini turun ke pipi Ziel.
Idan sudah tidak mampu mendengar segala protesan yang lebih muda. Dirinya membalik badan Ziel dengan pelan, lalu direngkuh lagi pinggangnya dengan posisi berhadapan. Mata itu masih terpejam, bekas tangisannya juga masih ada. Tangan kanan Idan menangkup pipi yang terlihat jejak air mata disana dan diusap dengan pelan.
“Buka matanya, Ziel” dengan titah yang lebih tua, Ziel membuka matanya pelan.
"Jelek banget lo nangis perkara takut digrebek maling" Idan sedikit mengejek, niatnya ingin membuat Ziel tersenyum tapi yang ada bibirnya makin mencebik.
Tangan yang lebih muda menggenggam erat kain kemeja bagian dada yang dipakai Idan. Wajahnya masih mendongak menatap yang lebih tinggi dengan pandangan sayu. Kepalanya makin berdenyut ketika menyadari jarak mereka yang hanya terpaut telapak tangan Ziel.
"Masih pusing?" tangan Idan masih disana, di pipi yang lebih muda lalu mengusapnya lagi dengan pelan. Sejenak beranjak ke arah rambut Ziel yang berantakan untuk diusap agar lebih rapi dilihat.
"Bukannya lo balik masih 4 hari lagi?"
"Gue tanya, masih pusing?"
"Galak banget, Om" mencebik lagi, Idan sampai menghela nafas lelah.
Mata yang lebih tua menelisik segala sisi rupa manis didepannya. Memang masih pucat, tapi Idan percaya kalau wajah cantik ini tidak pernah dimakan sakit yang mendera. Mata yang habis menangis itu juga masih berbinar meskipun sorotnya tidak terlalu terang.
"Gue dikasih tau sama Robi. Dia tau dari Fathan" jeda sebentar karena tangannya yang merengkuh pinggang semakin mendekap penuh perhatian.
Hampir saja, hampir kepala Ziel bersandar pada dada bidang di depannya. Tapi dia masih paham kalau batasan mereka hanya sebuah sebutan "pertemanan satu atap".
Memuakkan.
Ziel ingin bersandar karena badannya tidak cukup mampu untuk menyangga lagi. Decakan pelan keluar dari bibir yang lebih muda, tangannya sedikit menarik-narik sisi kemeja yang dia pegang.
Manja sekali.
Ziel memang cukup manja ketika tubuhnya dirasa sakit.
"Belum makan?"
"Belum... buburnya dingin"
"Lo dari tadi ngapain?"
"Duduk, merem, soalnya pusing. Abis dari rumah sakit terus Fathan pulang cuma duduk di sofa, gabisa mandi padahal pengen. Capek mau jalan" keluhannya begitu banyak, manusia didepannya mengangguk-angguk pelan.
Tangan kanan yang lebih tua mengusap lagi rambut halus Ziel, bola matanya fokus menatap dan merapikan rambut yang mulai memanjang itu.
"Kita makan dulu, gue bawain bubur. Abis itu lo
minum obat. Percuma periksa kalo obatnya nggak diminum kan?"
"Pait!"
"Mau gue suapin?"
"Boleh, Mas Idan?" matanya berkaca-kaca, satu tangannya memberanikan diri memeluk yang lebih tua di bagian pinggang juga.
"Boleh, mau Mas gandeng buat duduk nggak, adek?"
"GAUSAH COSPLAY!"
"Lemes banget soalnya, semangat dong!" kekehan geli keluar dari bibir yang lebih tua.
Ucapan candaannya tadi memang diseriusi karena Idan tau tubuh lemah yang lebih muda tidak sanggup untuk berjalan sendiri dengan benar. Tangannya digandeng dengan lembut, genggaman yang dibalas juga oleh Ziel.
Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu, lagi.
Idan dengan telaten membuka bungkus makanan yang dia bawa, menyiapkan sendok yang sudah ada dari penjualnya, lalu menyuruh Ziel membuka mulut agar buburnya bisa ditelan.
"Pait, Ziel?"
"Huum... tapi mau minum obat"
"Oke, pinter!"
"I'm not your kids!"
"Gue nggak bilang gitu ya" senyuman kecil terurai setelahnya.
Suapan bubur yang cukup pelan, Idan hanya mementingkan kalau makanan yang dia bawa disantap dengan nyaman.
"Masih mau lagi, Ziel?"
"Kalo udah boleh nggak, Om? Enek kalo banyakan"
"Udah tinggal dikit sih, oke gapapa. Minum obat ya, mana obatnya?"
Pertanyaan Idan disambut dengan jari yang menunjuk di meja dekat televisi. Idan mengambilnya dan menyiapkan obat Ziel agar diminum sedemikian rupa supaya yang lebih muda cepat pulih.
"Udah?"
"Udah, Mas Idan"
Pernyataan Ziel setelah meminum obatnya dan Idan yang meletakkan gelas di meja kecil depan mereka.
Tubuh yang lebih muda disandarkan kembali ke sofa. Dirinya menoleh ke Idan yang masih sibuk merapikan bekas makanannya. Senyum kecil terbit ditengah diamnya mereka.
"Mas Idan"
"Hmm?"
"Flight jam berapa?"
"Jam 6 tadi. Itu tadi buburnya kenapa jadi kayak gitu? Emang dari jam berapa, Ziel?"
"Kayaknya dari jam 2. Sebenernya gue tadi ke rs pagi, Mas Idan. Cuma Fathan mulangin gue dulu ke apart, terus dia beli bubur. Dia juga nemenin gue lagi sampe jam 4 an padahal gue usir"
"Kenapa diusir?"
"Karena dia pasti capek ngurusin gue"
"Dan lo juga capek ngerasain badan lo yang nggak karuan, Ziel"
Ucapan Idan ada benarnya, tapi dari dulu memang Ziel adalah manusia yang semuanya akan dilakukan sendiri. Sampai tubuhnya tidak mampu lagi. Idan yang melihat Ziel terdiam karena ucapannya juga akhirnya ikut menyandarkan badannya ke sofa. Tiga kancing kemeja bagian atas dibuka karena merasa gerah.
"Lo juga pasti capek, Robi ngapain bilang ke lo juga"
"Harusnya gue yang bilang gitu, kenapa lo nggak bilang gue kalo lagi sakit?"
Ziel diam sejenak.
"Because you're the one that telling me to not disturb you, remember?"
"Kenapa diambil serius lu gue pas kita lagi ngomel-ngomel, Ziel?"
Mendengar protesan Idan membuat Ziel tanpa sadar makin mendekatkan badannya pada yang lebih tua. Kepalanya sudah samar mengenai lengan Idan, tentunya yang lebih tua tidak protes.
"Seminggu kenal gue emang belum cukup buat lo ngerti ya, Ziel?" ucapannya diiringi tangannya yang tanpa sadar juga merangkul badan mungil disampingnya, kepala Ziel ditaruh di pundak untuk bersandar nyaman. Sedangkan Ziel yang memang butuh kehangatan merayap semakin dekat dengan tangan yang berpegangan pada kemaja bagian bawah Idan.
Rengkuhan pertama mereka sambil menyamankan diri masing-masing.
"Karena gue kenal lo makanya gue nggak banyak minta, Mas Idan"
"Kita tinggal bareng, Ziel. Udah sepantesnya lo minta tolong gue kalo emang lagi butuh bantuan. Buat apa punya orang yang deket sama lo tapi nggak lo anggep kehadirannya?"
"No, bukan nggak gue anggep kehadirannya. Tapi sesimple Mas Idan yang pasti sibuk disana, gue juga sibuk disini, kita punya kepentingan masing-masing. Not everyone know about this but gue sadar, Mas Idan... gue sadar kalo hidup itu emang ujungnya bergantung sama diri sendiri. Tapi gue selalu berusaha nerima perlakuan baik orang lain ke gua, meskipun kadang gue kayak 'gausah gausah nanti ngerepotin lo', but still... I'm so glad"
Idan masih diam, tangannya yang bergerak sekarang. Jemarinya sedikit memainkan rambut Ziel yang mengenai dagunya.
"Tapi Ziel, manusia juga tau siapa dan apa aja yang jadi kepentingannya. Manusia juga ngerti perihal semua yang jadi prioritasnya, Ziel. Jadi kenapa lo jadi ngatur kalo orang-orang yang sayang sama lo nunjukin kasih sayangnya secara cuma-cuma?"
"Lo sayang sama gue, Om?"
"Bocah! Fokusnya jangan kesitu"
"Baru dateng marah-marah lagi, Om. Capek gue dengerinnya"
Kepalanya yang sudah agak mereda peningnya beralih diusak di lengan yang lebih tua. Idan yang melihatnya hanya mengusap lagi rambut yang lebih muda.
Ditengah mereka yang kembali diam, satu kalimat Idan menyentak kewarasan Ziel.
"Manusia selalu punya tingkatan buat naruh apa dan siapa aja yang jadi prioritas, sesuai yang mereka pengenin. Kayak gue, gue bisa aja tetep disana nemenin bokap meskipun kerjaan gue udah beres. Artinya apa, Ziel?"
"Artinya orang kayak gue alias masih bentuk manusia juga tau mana yang lebih penting, bukan sekedar iya atau enggak. Bukan cuma atas omongan lo harus gini atau lo harus gitu. Tapi karena gue tau, gue mau, dan gue peduli atas apa yang udah gue taruh di urutan-urutan yang udah gue bikin"
"Ziel... kalo lo mikir gue sesibuk itu, kenapa gue lebih milih meluk lo disini? Udah jelas kan sekarang?"
Ziel mau muntah rasanya. Kepalanya yang sudah reda pusingnya menjadi pusing lagi karena ucapan Idan.
"Mas Idan"
"Gausah lo jawab, gue males denger lo ngomong"
"MAS IDAN IH GUE LAGI SAKIT JUGA!!" sentakan dan rengekan itu terdengar membuat Idan terkekeh renyah.
"Intinya, kalo lo emang butuh bantuan, bilang! Kayak tadi kan udah bener minta tolong Fathan, tapi masih setengah-setengah soalnya lo usir"
"Gue nggak enak batalin janji dia sama temennya"
"Temen tidur tepatnya"
"Mas Idan?"
"Sama Robi itu, makanya gue tau kan tadi"
Ziel hanya menganggukkan kepalanya.
"Lo boleh ambis, tapi jangan bikin badan lo sampe ngemis buat istirahat"
"Iyaa"
"Ngerti nggak?"
"Iyaa, Om. Udah jangan marah-marah, besok bei soto lagi yok"
"Soto mulu anjing! Sembuh dulu, Ziel. Gue masih inget terakhir kita makan soto lo kepedesan gara-gara cabenya"
"Itu Om yang ngasih 3 sendok, goblok emang!"
"Katain aja terus, Ziel"
Senyum tersenyum lebar. Kepalanya makin disandarkan disana.
Di bahu lebar yang lebih tua.
"Ziel, gue peduli sama lo. Karena lo juga gue yang milih keluar dari rumah biar nggak ketemu mamah jadi tau artinya tempat tinggal. Karena lo nggak banyak mau juga, nggak banyak nuntut. Tapi bisa nggak kalo kita sama-sama saling peduli? Masalahnya ini lo tinggal sama gue, bunda lo juga pasti khawatir kalo anaknya nggak keurus dengan bener"
"Iyaa... iyaa, Om. Ngerti gue ngerti. Lo juga kayak gitu ya, Om. Sama-sama saling nanya kalo
emang lagi buntu sama apapun"
"Karena kita cuma punya satu sama lain buat sekarang, di apart yang kita tempatin. Iya kan, Om?"
"Iya, bener. Ziel pinter"
"Om... jangan muji gue terus nanti gue mikir lo suka sama gue. Atau lo suka beneran sama gue ya, Om?"
"Gue gamau nikah, Ziel"
"Gue juga gamau, Mas Idan"
"Jadi lo ngomong gitu maksudnya apa?"
"Tanya doang, kok sewot!"
"Yaudah sekarang gue tanya, lo milih diem taeru tidur sekarang di kamar lo atau gue banting disini karena banyak omong?"
"Dibanting aja boleh, Om?" ucapnya sambil
mendongak, menatap Idan yang menunduk dalam jarak dekat.
"Sakit nggak bikin lo tobat ya, Ziel"
"Becanda, Mas Idan"
Senyuman manis dihadiahkan pada yang lebih tua.
Tanggapan Idan?
Mengusap pipi yang lebih muda dengan lembut.
"Tidur sekarang ya, Ziel?"
"Mau tidur, Om juga tidur ya"
Anggukan diberikan Idan sambil tubuhnya ditegakkan. Dia meraih lagi tangan Ziel untuk digandeng menuju kamar pemuda itu.
"Tidur ya"
"Iyaa"
Idan hampir saja membalikkan badannya sebelum Ziel menahan dan memberikan ucapan terimakasih yang tulus.
"Mas Idan, makasih udah milih buat pulang"
"Sama-sama, Ziel. Udah gausah nangis, lo tidur sekarang"
Anggukan samar sebagai akhir perjumpaan mereka malam ini.
Pertemuan yang diiringi banyak obrolan ringan namun tetap membekas. Dua orang yang masih menyatakan bahwa mereka hanya sekedar teman satu atap.
Idan hanya mengerti bahwa rasa pedulinya tidak bisa ditutupi. Ziel juga mengerti bahwa penerimaan yang baik bisa membuat hubungan jenis apapun itu berjalan dengan seharusnya.
Lalu apa yang mereka tunggu?
Kesadaran atas prinsip masing-masing yang masih terbelenggu.
Jakarta tau tempat yang cocok menjadi aduannya, tapi dua manusia yang ada di dalam satu hunian ini... belum tau kapan, apa, dan siapa yang cocok jadi tempat berlabuh kesahnya.
•jetaimemoii