Hujan
Hujan benar-benar turun dengan deras lima menit setelah Milo mematikan layar ponselnya. Suara rintik air yang menghantam atap kamar terdengar begitu nyaring. Milo, yang sedari tadi duduk bersila di atas kasur dengan buku-buku paket berserakan, terus melirik ke arah layar ponselnya.
Perasaannya mendadak tidak tenang. Ia tahu betul betapa keras kepalanya Kendrick. Pemuda itu terkadang suka berbohong soal hal-hal sepele kalau merasa hal tersebut akan merepotkan orang lain, atau dalam kasus ini, merepotkan dirinya sendiri.
Milo akhirnya beranjak dari kasur. Ia meraih sweter kebesarannya, lalu berjalan menuruni anak tangga. Rumahnya terasa sepi karena sang Bunda tengah asyik menonton sinetron di kamarnya.
Tepat saat Milo sampai di ruang tamu, samar-samar ia mendengar suara mesin motor Vespa dari luar gerbang, disusul derit pagar besi yang bergeser.
"Tuh, kan! Dibilangin ngeyel banget, astaga!" rutuk Milo kesal.
Ia langsung berlari kecil menuju pintu utama. Dan benar saja, di bawah guyuran hujan lebat, Kendrick tampak sedang menuntun Vespa putihnya masuk ke pelataran rumah dalam keadaan basah kuyup. Pemuda itu tidak memakai jaket, hanya mengenakan kaus hitam lengan pendek yang kini menempel ketat membalut tubuhnya, memperlihatkan lekuk otot perutnya dengan jelas. Sementara itu, tangan kirinya menggenggam sebuah kantong plastik putih yang ia lindungi mati-matian dari rintik hujan.
"KENDRICK!" pekik Milo, suaranya sarat akan amarah yang bercampur panik.
Ia refleks menerobos tampias hujan di teras, lantas menarik lengan Kendrick yang sedingin es agar pemuda itu cepat-cepat menepi ke tempat yang lebih teduh.
Kendrick terkekeh pelan sembari mengusap air hujan di wajahnya, sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. "Gagal deh, gue bohongnya. Gocar nya lama banget, Mil, nggak ada yang terima. Keburu sotonya dingin nanti."
"Lo gila, ya?!" Milo memukul bahu Kendrick dengan keras, matanya sudah berkaca-kaca menahan luapan emosi. "Kalau nggak dapat mobil, ya nggak usah maksa ke sini! Lihat, baju lo basah semua begini! Bibir lo sampai pucat tahu, nggak!"
"Nggak masalah sayang. Gerimis doang tadi pas berangkat, eh tahunya di tengah jalan deras banget," ucap Kendrick enteng. Ia menyodorkan kantong plastik putih itu ke hadapan Milo. "Nih, susu pisang sama chiki nya aman, nggak basah."
Milo menerima bungkusan tersebut dengan tangan bergetar. Ia menatap kaus Kendrick yang meneteskan air ke lantai teras, lalu beralih menatap wajah pemuda itu. Kendrick masih bisa-bisanya tersenyum, seolah hujan deras barusan bukan hal yang berarti. Rasa kesal, khawatir, dan haru bercampur aduk menjadi satu di dada Milo.
"Bisa diam nggak, lo! Nggak usah senyum-senyum gitu!" omel Milo dengan suara bergetar. Ia meraih pergelangan tangan Kendrick dengan gusar. "Ayo masuk cepat! Lo mandi air hangat sekarang di kamar mandi bawah! Nanti gue ambilin kaus sama celana training gue buat lo ganti!"
Tanpa memberikan kesempatan untuk membantah, Milo langsung menarik lengan Kendrick masuk ke dalam rumah. Ia mengabaikan sisa air hujan yang ikut membasahi lantai ruang tamunya, karena yang terpenting sekarang adalah mengeringkan pacar keras kepalanya ini sebelum laki-laki itu jatuh sakit.
Milo benar-benar emosi. Setelah memaksa Kendrick masuk ke kamar mandi lantai bawah, ia buru-buru naik ke kamarnya untuk mencari baju ganti yang paling tebal. Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar seraya membawa kaus oversize biru laut kesayangannya dan celana training abu-abu.
Begitu kembali ke depan kamar mandi, ia meletakkan pakaian tersebut di atas kursi kayu.
"KEN! Baju lo udah gue taruh di situ! Mandi pakai air hangat, jangan berani-berani pakai air dingin, awas aja kalau masih nekat!" seru Milo dari depan pintu.
"Iya, iya, bawel," sahut Kendrick dari dalam, suaranya sedikit teredam oleh gemericik air.
Milo menghela napas panjang, masih diliputi rasa kesal. Ia lalu memutar langkah menuju dapur, menyalakan kompor untuk memanaskan soto yang sudah disiapkan Bundanya tadi.