Selaras
I. Semesta (bukan) punya kita.
“Katanya Seok Matthew mau dijodohin!”
Di antara semua kemungkinan yang ada di kepala Jiwoong — bukan itu yang ia kira akan didengarnya di siang bolong kelas 12 IPA 3. Gyuvin yang berteriak membawa berita sekaligus sekantong batagor menghampirinya dan Gunwook di belakang kelas, terkapar dengan alas jaket serta bantal leher Taerae yang lagi rapat ekskul paduan suara.
“Gue baru mau tidur,” keluh Gunwook sambil meregangkan badannya ke arah Jiwoong. “Kenapa ngomongnya gak bisik-bisik aja di telinganya Jiwoong?”
Gyuvin mengibaskan tangannya lalu berdecak. “Mana ada ngegosip bisik-bisik. Tapi ini beneran — tadi gue denger orang ngomong gitu, masa,” tulang kering Jiwoong ditendang oleh Gyuvin yang duduk di kursi dekat mereka. “Makanya doi ga masuk hari ini. Lu dikabarin gak dia kenapa?”
Jiwoong, masih dengan lengan yang terlipat di atas dada dan tatap yang berfokus pada plafon penuh noda, menggeleng.
Seok Matthew terakhir menghubunginya tadi malam lewat Whatsapp dan bercerita tentang makan malamnya di restoran Italia milik rekanan Ayahnya yang baru saja buka. Kontras dengan Jiwoong yang dengan bangganya bilang ia membantu Ibunya masak sayur lodeh dan kali ini komposisi sambal buatannya pas menurut adik kecil perempuannya. Tapi dengan kepingan dua jam hidupnya yang sebenarnya gak-menyenangkan-banget itu, pun, Matthew bilang dia iri dan mengirim swafotonya yang cemberut di kursi penumpang mobil dengan caption, ‘sekarang aku mau makan lagi>:(‘. Di fotonya yang blur dan terang berkat flash layar, Matthew memakai kemeja putih polos—tapi Jiwoong yakin harganya melebihi harga semua bajunya di rak lemari plastik di rumah. Tadi malam, percakapan mereka berakhir dengan janji Jiwoong bakal masak lagi buat yang lebih muda di kali selanjutnya Matthew kembali mengunjungi rumahnya, lalu anak emas kelas 11 IPA 1 itu langsung menyatakan ia akan main secepatnya.
Seok Matthew, pacarnya untuk hampir tiga tahun dan mungkin salah satu pemberian Tuhan paling berharga untuknya sebagai kompensasi hidupnya yang sedikit banyak menyedihkan. Mereka pertama kali bertemu di masa orientasi sekolah menengah pertama untuk Matthew. Jiwoong yang awalnya hendak berjalan ke arah lapangan dengan jas OSIS-nya justru berbelok ke salah satu toilet pria untuk buang air. Baru saja menutup kembali pintu kamar mandi dan melangkah mendekat ke urinoir, ia malah mendengar isakan dari salah satu bilik yang tertutup.
“Halo?” Jiwoong memanggil ragu. Buku jemarinya dipakai mengetuk permukaan pintu kamar mandi yang reyot. “Sori, lo sakit? Mau dipanggilin anak PMR gak?”
Suara tangisan itu langsung berhenti. Jiwoong nyaris mengulang pertanyaannya sebelum insan di balik pintu toilet itu menjawab dengan suaranya yang kecil dan gak ia tangkap maknanya. “Gimana…?”
“G-gak… gak usah,” ulang si orang asing. “…makasih.”
Jiwoong mengerjap. “Oke,” katanya. “Oke, kalau gitu. Lo siapa? Anak baru?”
“Iya….”
Jiwoong menimang pertanyaannya selanjutnya sembari menyandar pada tembok di sebrang pintu. “Itu, bentar lagi kan mau mulai orientasinya. Daripada di sini, mending di UKS aja. Kalo ga sakit beneran juga gapapa — ”
“Aku — aku bentar lagi keluar, I’ll be fine. I think.”
Jiwoong tau saat itu bukanlah waktu yang tepat, tapi ia terkesan mendengar aksen bahasa Inggris si anak baru meski cuma lewat lima kata. Ditambah, ia payah dalam memfilter mulutnya—
“Gue suka aksen lo.”
— ya, persis kayak gitu contohnya. Jiwoong mau meminta maaf karena lancang memuji kemampuan berbahasa orang yang bahkan belum ia lihat rupanya tersebut, tapi ia lega mendengar si kelas tujuh akhirnya tertawa.
“Thanks,” cicitnya. Jiwoong membayangkan wajah dengan jejak air mata mengering dan senyum tipis. “Are you — kamu kenapa gak pergi…?”
“Gue harus pastiin lo ga lama-lama di toilet ini dulu,” Jiwoong mendengar panggilan terakhir kepala sekolah kepada seluruh murid agar berkumpul di lapangan lewat pengeras suara. “Udah mau mulai tuh. Yuk — tadi siapa namanya?” Tadi kapan coba, bego, Jiwoong membatin karena ia sadar sebenarnya belum menanyakan tentang nama si cowok baru sama sekali.
“Matthew.”
Matthew.
Jiwoong mendengar nama itu tadi pagi. Saat OSIS lagi briefing untuk orientasi hari ini dan beberapa anggota di sekelilingnya membicarakan tentang beberapa anak orang kaya yang nyatanya sudi menginjakkan kaki di sekolah mereka yang serba apa-adanya. ‘Bakal sengak banget kali, ya?’Jiwoong ingat ia mendengus mendengar salah satu cewek di divisinya sudah berprasangka buruk ketika informasi yang diterimanya hanya nama dan fakta kalau mereka anak konglomerat. ‘Secara sekolah ini aja kalau minta papinya bisa mereka beli.’
‘Yang paling kaya namanya Seok Matthew,’ sambar seseorang lagi yang Jiwoong bahkan gak ingat namanya. ‘Dia baru pertama kali masuk sekolah negeri.’
“Seok Matthew?” tanya Jiwoong, bersamaan dengan pintu kamar mandi yang dibuka.
Yang disebut namanya berdiri di sana, setelan seragamnya yang baru jelas mengejek dekilnya toilet laki-laki. Kalau Jiwoong mengenakan Converse kulit seperti yang dipijak Matthew, mungkin ia gak akan pernah kehilangan kepercayaan dirinya di sekolah. Tapi berdiri di kubikel kecil yang bau, pagi itu bahu Seok Matthew melorot dan ia membalas tatap Jiwoong ragu dari balik poninya yang dipotong rapi. Tangan kanannya tak berhenti memegangi name tag dengan nama dan kelasnya yang didekor sedemikian rupa—instruksi dari panitia orientasi siswa baru.
Jiwoong mengernyit melihat pipinya yang masih basah dan bibir Matthew yang habis digigiti. “Kita harus keluar,” katanya dengan senyum apologetik, menunjuk ke arah pintu. “Sebentar lagi ada guru yang patroli. Lo cuci muka, terus kita ke lapangan ya.”
“Kok bisa tau nama lengkapku?”
Jiwoong tersenyum lagi, kini sedikit lebih lebar. “Gak setiap hari sekolah kita di parkirannya ada BMW sama Audi,” jawabnya sementara Matthew mengusap pipinya berusaha menghilangkan sisa air mata sambil berkaca. “People speaks. Kalau ada yang macem-macem sama lo, bilang gue.”
Pandang mereka bertemu lewat pantulan cermin.
Mungkin Jiwoong bilang begitu karena refleks, atau karena ia merasa punya tanggung jawab sebagai kakak kelas dan jas OSIS yang tersampir di bahunya tiba-tiba terasa memberikan beban moral tersendiri. Mungkin juga Jiwoong bilang begitu karena Matthew punya wajah yang tampan dengan pipi yang gembil menggemaskan dan Jiwoong merasa ia perlu melakukannya sebagai upaya menebar pesona. Mungkin Jiwoong bisa pede bilang begitu karena hari masih pagi dan ia belum sadar penuh bahwa dengan statusnya, Matthew mungkin aja punya tiga pengawal berbadan kekar yang gak ada apa-apanya dibandingkan Jiwoong.
Apapun alasan yang sudi Jiwoong akui, melihat Matthew mencoba membalas senyumnya dan berterimakasih lagi di depan wastafel sudah cukup untuknya.
“Aku belum tanya nama.”
Matthew membuka suara saat mereka sudah di lorong yang kosong dan barisan di lapangan sudah terlihat hampir sepenuhnya rapi dari jauh.
“Nama siapa?”
“Nama kamu.”
Jiwoong menengok dan melambatkan langkahnya, Matthew ikut berhenti. Kepalanya didongakkan demi bisa balas menatap Jiwoong yang lebih tinggi.
“Jiwoong,” ucapnya, masih sambil menilik Matthew. Mengagumi bola matanya yang membola lebar. “Kim Jiwoong. Kelas 8D.”
Pandangan Jiwoong tentang hal bertajuk ‘takdir’ semenjak itu gak pernah lagi sama.
Semakin ia mencoba biasa aja, semakin Seok Matthew menginvasi kesehariannya di sekolah lewat cara-cara yang gak ia duga—seenggaknya mengingat fakta kalau dia punya harta tujuh turunan dan jelas gak mengerti budaya sekolah negeri. Jiwoong gak menyangka ia akan jadi orang yang memperkenalkan Matthew pada dunianya, dunia yang jauh bertolakbelakang dengan apa yang Matthew pahami selama ini. Jiwoong mengajak Matthew jajan di gerobak-gerobak yang berjejer di gang samping sekolah. Mengajak Matthew buat mancing di parit belakang tembok sekolah saat jam istirahat, mengajak Matthew ketemu Susi—si kucing hitam-putih yang tinggal di gudang laboratorium. Matthew minta Jiwoong menemaninya ke fotokopian sekolah satu kali dan ia langsung akrab sama mas Andi, tukang fotokopi yang betah menempati lahan kecil di bawah tangga sebagai tempatnya mencari uang. Ada kalanya Jiwoong berjualan keliling untuk danusan OSIS dan Matthew yang melihatnya langsung mengeluarkan dompetnya untuk mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribuan tanpa ragu.
“Matt,” Jiwoong panik. “Lo ga harus—“
“I know,” potong Matthew, senyumnya semanis gelas-gelas puding yang ada di nampan Jiwoong. “Aku mau. Boleh, ya?”
Park Hanbin yang waktu itu berdanusan dengannya langsung mengangguk semangat dan mengambil uang yang dipegang Matthew. Mereka membagikan puding yang tersisa ke anak-anak di kelas Matthew.
Semakin Jiwoong berusaha memandang Matthew selayaknya teman baik biasa, semakin ia gak bisa membohongi dirinya sendiri.
Matthew dan cara pandangnya terhadap semesta seperti angin segar buat Jiwoong yang seringkali berpikir mungkin ada baiknya ia meninggalkan bumi selama-lamanya. Jiwoong tahu berdiri di pijakan belakang sepedanya gak akan pernah senyaman duduk di jok Audi hitam yang Matthew tumpangi di perjalanan pulang-perginya, tapi suatu sore genap hampir setengah tahun sejak mereka saling mengenal: Matthew terdengar bahagia memegang erat bahunya sementara ia melajukan sepedanya kencang melewati jalanan yang menurun. Serangkaian tawa yang membuat degup jantung Jiwoong bertalu keras di bawah tulang rusuknya. Jiwoong mengantarnya pulang melewati sebuah pasar suatu hari dan Matthew kesulitan menahan diri untuk gak menghabiskan uangnya di sana karena katanya, ‘Ibu yang jualan kue ape itu tadi senyumin aku! Masa aku gak beli?!’atau, ‘Kak, bapak yang itu dagangannya kayak masih banyak banget gak sih. Sebentar mampir yuk?’.
“Sori,” tutur Jiwoong ketika mereka masuk ke kamar Jiwoong untuk pertama kali, satu tahun setelah mereka berteman. Jiwoong ingat ia menendang beberapa pakaian yang berserakan ke bawah kasur sebelum membiarkan Matthew melangkah lebih jauh ke dalam. “Lo mau minum apa?”
“Air putih aja,” Matthew tersenyum enteng, kontras dari Jiwoong yang gugup setengah mampus masih mencerna The Seok Matthew lagi berada di rumahnya yang kepalang sederhana dan kecil. Tidak peduli seberapa terlihat santai Matthew berdiri di tengah kamarnya, memperhatikan sekelilingnya dengan raut penasaran dan bukan merendahkan, isi kepala Jiwoong tetap memojokkannya pada pikiran-pikiran negatif.
Maka Jiwoong menyeletuk saat mereka sudah duduk menyandar dinding di kasur Jiwoong yang sempit, sisi badan saling bersinggungan dan laptop Jiwoong yang mesinnya bersuara seperti AC diletakkan di antara kaki mereka. “Lo kalau mau pulang, bilang aja ya.”
Matthew mengalihkan perhatiannya dari Ocean’s Eleven yang sedang diputar di layar. “Do you have somewhere to be?“ tanya Matthew dengan kening berkerut.
“Engga,” Jiwoong menggaruk tengkuknya, bingung mau menjelaskan. “Cuma takut lo gak nyaman aja.”
“Kenapa aku gak nyaman?”
“Ya ini,” jemari Jiwoong menggestur asal pada sekelilingnya, “rumah gue—“
“Jangan,” potong Matthew, menyadari ke mana percakapan mereka akan berjalan. “I might be rich like everyone says,“ Matthew menatap Jiwoong lekat, napasnya berembus kasar. “Tapi aku ga punya rumah,” Jiwoong cuma bisa diam sewaktu Matthew mengedarkan pandangnya ke sisi-sisi kamar Jiwoong, sebagian diisi poster dan foto keluarga yang menguning. Sebagian ditempati rak menjulang, sisanya dihias cat tembok yang retak dan noda-noda abstrak. “Rumah yang berantakan karena dipake, yang di meja tengahnya ada bungkus makanan dikaretin. Yang di sofanya ada jaket, di dapurnya ada piring kotor. Di lantai kamarnya ada baju-baju yang ga dirapiin,” Jiwoong tersenyum malu. “Aku seneng di sini, di rumah kamu,” tutup Matthew, final. Lalu ia meniru lengkung bibir yang lebih tua dan menyandarkan kepalanya di bahu Jiwoong. “Makasih udah ngebolehin aku ke sini, Kak.”
Something definitely shifts between them, that day.
Orang-orang mungkin menyebutnya cinta monyet, tapi Jiwoong enggan mengasosiasikan Matthew dengan dua kata itu ketika yang lebih muda membuat hidupnya jauh lebih berwarna dan bermakna dari sekadar rasa yang main-main. Matthew bukan cuma membawakan adik-adiknya buku mewarnai seharga nyaris tiga ratus ribu—Matthew juga menemani mereka mengisi tiap lembarnya dan membantu mereka mengerjakan PR pelajaran eksak yang menggunung dengan sabar. Matthew bukan cuma membiarkan Jiwoong sesekali mengantarnya pulang pakai sepeda dan bekerjasama dengan supirnya supaya tidak memberitahu orang di rumah—Matthew juga memakai gelang murahan yang Jiwoong beli di salah satu toko kecil di pojok pasar, lalu menggunakannya sebagai hiasan di case gawainya ketika tali karetnya putus tidak sengaja: berubah menjadi gantungan dengan liontin figur rubah warna oranye dan cokelat.
Seok Matthew dengan mudah menjadi bagian yang stagnan di sekolah, di rumah, di rute perjalanan pulang dan di kamar Jiwoong: seolah ia kepingan puzel terakhir yang Jiwoong sebenarnya sudah pasrahkan karena hilang. Sekian puluh film mereka habiskan di atas kasur Jiwoong dan yang lebih tinggi sudah terbiasa dengan hangat yang Matthew bawa di sisinya, cerita-cerita hidup Matthew yang sejenis dongeng kerajaan ditutur dengan jemari bersinggungan. Cerita yang seringkali membuat Jiwoong meragu kalau ia mungkin tidak relevan berdiri di garis yang sama di mana Matthew berpijak, tapi Matthew selalu berhasil meyakinkannya kalau Jiwoong adalah yang ia cari dari balik tembok tinggi imajiner di kepalanya. Selalu berhasil menarik Jiwoong agar berdiri di sampingnya dan bukan di belakangnya, menghapuskan sisa-sisa garis strata sosial yang Jiwoong sudah alami pahitnya pada nyaris seumur raganya.
“I miss you a lot.”
Matthew dengan semangat menaiki pijakan belakang sepeda Jiwoong setelah memerintahkan supirnya untuk menemuinya nanti di dekat komplek rumahnya seperti biasa.
Jiwoong yang sudah waktunya masuk sekolah menengah atas artinya berpisah dengan Matthew yang menginjak tahun terakhir sekolah menengah pertamanya. Meski jarak kedua sekolahnya tidak jauh, intensitas mereka bertemu terpaksa harus turun drastis. Matthew terus mengumumkan kalau ia kangen Jiwoong setiap kali mereka bertemu dan Jiwoong mulai terbiasa karena ia ingat Matthew sekarang cuma punya Keita untuk diganggu di jam-jam sekolahnya.
“Kangen juga,” kata Jiwoong sambil tertawa kecil. Matthew memeluk pundaknya erat dari belakang dan ia pura-pura mengeluh gak bisa napas sampai Matthew mencubit pinggangnya. “Aduh! Kok kekerasan sih?”
Satu tahun jadi gak berasa karena Matthew selalu berusaha menyelipkan waktu di sela kegiatan-kegiatan ekstrakurikulernya dan Jiwoong yang memutuskan buat fokus hanya membantu ibunya berjualan di luar jam akademisnya. Tanpa terasa, mereka akhirnya kembali di satu lingkungan pendidikan yang sama. Seok Matthew dan satu paket dengan Terazono Keita. Matthew bilang ia beralasan ke orangtuanya harus masuk ke sekolah Jiwoong karena Keita juga mau melanjutkan studi di sana—padahal semuanya Matthew yang berencana.
“You’re insane,” Jiwoong menghela napasnya waktu Matthew mengungkap bagaimana namanya bisa ada di daftar murid baru sekolahnya. Film Colombiana yang disetel di antara kaki jenjang mereka yang terbalut celana sekolah abu-abu sedang terhenti karena jaringan internet rumah Jiwoong yang sebetulnya tidak memadai—tapi berkat itu juga, mereka jadi banyak bertukar unek-unek di antara jeda.
“I know,” Matthew ikut menghela napas, tapi ia tidak bisa menahan senyumnya. Jungkitan ujung bibir yang sore itu Jiwoong tidak tahan untuk tidak berikan satu kecup manis. Yang lebih muda mengedipkan kedua matanya beberapa kali sebelum memusatkan pengelihatannya kembali pada Jiwoong takjub, suam bibir Jiwoong di kulitnya terasa seperti sengatan listrik yang menyenangkan. “Kamu sama gilanya,” bisik Matthew di hela napasnya, waktu Jiwoong memundurkan kepala hanya sejauh setengah jengkal.
Jiwoong balas menatap Matthew dan melirik bibirnya bergantian. “Menurutmu gara-gara siapa?”
Retoris.
Pertanyaan itu retoris dan Matthew menjawabnya dengan satu tangan yang dibawa ke belakang kepala Jiwoong untuk menahannya di sana. “I think I love you,” Matthew murmurs, playing with the root of Jiwoong’s hair. Matanya memeta tiap inci air muka Jiwoong yang tenang. Tangannya satu lagi yang menganggur di antara mereka menyambut Jiwoong yang mencari sesuatu untuk digenggam. “I love you a lot that I don’t care if my parents finds out and decides to kill me,” he says humorlessly.
Jiwoong memastikan Matthew tidak tercebur dalam kolam kecemasannya dengan meremas telapak tangannya dan menarik kepala Matthew ke rengkuhan. Detak jantungnya cukup untuk Matthew mengatur napasnya dan memejamkan matanya mencari tentram. “I love you so much that I don’t mind dying as long as you know.”
“Matthew—“
“Do you love me?”
Layar laptop Jiwoong menampilkan Zoe Saldana yang sedang berenang di dalam akuarium penuh hiu. Jiwoong menemukan dirinya ikut menahan napas sebelum menjawab.
“I love you since forever,” he breaths out, inhaling the sweet scent of Matthew’s hair. “Dari detik kamu ada di sini. Duduk di kasur aku, terus ketiduran seolah kamu lagi senyaman di hotel bintang lima,“ Jiwoong menunduk sementara Matthew mendongakkan kepalanya.
Matthew terlihat sempurna bahkan di bawah penerangan cahaya matahari senja yang terseok melewati jendela buram kamarnya. Dengan keringat tipis yang mulai terbentuk di pelipis dan hela napas yang panas karena mereka cuma disokong satu kipas angin lantai, Matthew masih menjadi mimpi yang Jiwoong gak akan lelah amini. Tujuan yang gak akan ia henti elukan dan sebaris harapan yang ia terus panjatkan.
Jiwoong mengusap bawah pipi Matthew dengan ibu jarinya sebelum berhenti di ujung matanya yang sayu. “How could I not love you,” the older says with a shaky breath. “Kamu sempurna, Matthew.”
Sempurna.
Seok Matthew itu sempurna. Terlalu sempurna, bahkan, untuk Kim Jiwoong.
Maka Jiwoong tidak bereaksi banyak sewaktu Gyuvin memaparkan kabar burung itu—bahwa Matthew mau dijodohkan. Mungkin jauh di dalam hatinya, ia tahu hari ini akan tiba. Atau jauh di sudut pikirannya, Jiwoong sadar penuh sepenggal kisahnya sama Matthew adalah angan yang terlalu indah buat jadi nyata dan bertemu dengan kata ‘Tamat’.
“Lo beneran gak dikabarin?” giliran Gunwook yang bertanya, nadanya mulai terdengar khawatir karena Jiwoong hanya bengong menatap jaring laba-laba di sudut ruang kelas beberapa menit terakhir.
“Tentang tunganannya, enggak.”
Gyuvin menggumam, batagornya sudah setengah habis. “Mungkin beneran cuma angin lewat doang kali ya.”
Jiwoong bangkit dari tidurnya lalu meregangkan badan sedikit. “Mungkin juga beneran dijodohin.”
“Hush!“ Gunwook refleks memukul lengannya. “Omongannya dijaga.”
“Gun,” Jiwoong tertawa sambil mencoba berdiri. “Gue tau diri, Gun,” lanjutnya, membenahi seragamnya yang keluar dari sela celana. Ia beranjak menuju kursinya yang berada di paling ujung barisan lalu duduk. Merapikan apa yang bisa dirapikan, mendistraksi diri dari keinginan berteriak yang sudah sampai di ujung lidah. Menyadari Gyuvin dan Gunwook masih memperhatikannya, ia mengedikkan bahu mengakhiri. “Gue ikut semesta aja maunya gimana.”
Meski Jiwoong belum mendengar dari Matthew sampai ia pulang dan membantu Ibunda menyiapkan adonan kue, cowok berambut hitam itu sudah lebih dulu menyadari—nyatanya, legowo sama takdir gak akan pernah semudah yang dibayangkannya.
“Abang lagi banyak pikiran ya?”
Jiwoong berhenti membanting adonan di atas meja. “Kenapa Bun?”
“Mejanya jangan dihancurkan,” Bunda tertawa kecil sembari mengusap keringat di wajahnya dengan punggung tangan. “Duit buat benerinnya engga ada, Nak.”
Jiwoong nyengir malu, menyadari tenaga yang barusan dikeluarkannya buat ulenan tepung di genggamannya berlebihan. “Maaf Bun, iya lagi mikirin sesuatu.”
“Tumben Matthew enggak main?”
Matthew.
Matthew, Matthew—yang cariin kamu di sini bukan cuma aku.
“Enggak, Bun.”
Kenapa aku harus ngalah sama takdir, Matthew?
“Jiwoong—“
“Bunda,” Jiwoong memotong, adonan sudah tidak lagi dipegang. Yang tersisa di dapur tinggal Jiwoong yang kecil, berdiri di depan Bundanya, bingung harus berlari ke mana. Tangan Jiwoong gemetar di sisi tubuhnya. “Kenapa hidup ini harus gak adil, Bunda?”
Bunda gak punya jawaban.
Bunda seringkali gak memberikan Jiwoong jawaban, tapi lengannya selalu terbuka lebar, jadi favorit Jiwoong sebagai tempat bersinggah.
“Maafin Bunda ya, Abang.”
Jiwoong mau bilang, Bunda gak salah. Ini bukan salah Bunda. Jiwoong mau ngomong, Bunda jangan minta maaf. Apron Bunda sore itu penuh tepung dan bubuk kakao—anehnya, Jiwoong cuma bisa menangis lebih keras waktu Bunda menariknya mendekat untuk memeluknya.
(Jiwoong akhirnya gak bilang apa-apa.)
“Who’s Kim Jiwoong?“
Matthew selalu mengekspektasi sarapan yang tenang.
Ruang makan rumahnya yang berplafon tinggi itu biasanya cuma Matthew penggunanya di jam 6 pagi, Ayah dan Ibunya tidak pernah beraktivitas di sana sebelum jam 7. Tapi pagi itu Ayahnya sudah duduk di salah satu kursi pada meja yang berokupasi untuk 10 orang: padahal yang tinggal di sana cuma mereka bertiga. Ada secangkir kopi milik Ayah yang masih utuh dan sarapan Matthew berupa roti isi di atas meja, tapi Matthew sudah gak punya selera. Ia beranjak duduk dan mengabaikan pertanyaan Ayahnya yang sibuk dengan sebuah tablet sebelas inci di tangan.
“Pagi, Pa.”
”Kim Jiwoong siapa, Matthew?”
“A friend,” Matthew grits his teeth. Air putih yang ditenggaknya terasa pahit karena tatapan Ayah menusuk ke arahnya. “Kenapa, Pa?” tanyanya, tetap berusaha menjaga komposur.
“Udah berapa lama bohongin Papa sama Mama?” Ayah balas bertanya, tidak kalah tenang. Intonasinya datar, tapi Matthew bergidik merasakan auranya yang mencekam. Supir pribadinya—Pak Naryo, pasti sudah dibabat habis sebelum giliran Matthew sekarang.
“Lumayan, Pa,” Matthew menggigit roti isinya langsung setengah—it tastes like wet cardboards on his tongue. “Maaf, aku cuma gamau repotin—“
“Udah bener kamu temenan sama Keita,” Ayah memijit hidungnya dan mendengus. Jam masih menunjukkan pukul enam lewat lima tapi ia sudah melonggarkan dasinya, keningnya sudah berkerut seperti mendapat kabar kepalang buruk. “Kenapa main sama orang miskin?”
“Dia pekerja keras—“
“Atau dia ga akan bisa makan, Seok Matthew.”
Matthew feels like throwing up.
Di sebrangnya, Ayah bilang kalau ia menyesal memasukkan Matthew ke sekolah negeri. Ia berceloteh tentang bagaimana Matthew seharusnya bersikap. Siapa saja yang boleh ia masukkan pada lingkar sosialnya, semua hal yang membuat roti isi Matthew terasa seperti sampah di mulutnya dan membakar di perutnya. Sewaktu Ayahnya mulai membahas agenda hari kemarin, yang membuatnya terpaksa tidak masuk sekolah, Matthew buru-buru menyela dan izin pergi. Berdalih ia harus piket sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
Pak Naryo meminta maaf berkali-kali saat Matthew masuk lalu duduk di jok belakang mobil. Matthew susah payah meyakinkannya kalau memang suatu saat Ayahnya pasti akan tahu, tapi ia kehabisan kata saat Pak Naryo kemudian mengaku kalau hari ini adalah hari terakhirnya bekerja.
“Bapak dipecat…?”
“Iya den,” Pak Naryo meringis di balik kemudi.
Matthew mau muntah lagi.
“Besok-besok supirnya pasti enggak boleh kemana-mana habis dari sekolah, den,” kata Pak Naryo dengan suara kecil. Ia melirik Matthew lewat spion tengah, si anak tunggal sedang menatap nanar kaca mobil yang gelap. Pak Naryo melihat air matanya yang menumpuk sekaligus tangannya yang mengepal erat di pangkuan.
“Den,” mendengar suara Pak Naryo yang bergetar, Matthew menutup wajahnya dengan telapak tangan demi meredam tangis. “Den, baik-baik ya….”
The rest of the ride is silent until they arrives at Matthew’s school.
Sekolah masih relatif sepi sewaktu Matthew berjalan melewati lorong lantai satu. Matthew tahu biasanya Jiwoong sampai ke sekolah mendekati jam masuk karena ia harus menitipkan kue basah jualan Bundanya dulu di pasar, tapi pagi itu Matthew tetap melangkahkan kakinya gontai ke arah 12 IPA 3. Ada sebagian kecil dirinya yang berharap Jiwoong ada di sana, berharap ia bisa minta maaf secepatnya karena tidak mengabarkan Jiwoong seharian kemarin. Tatkala Matthew mengintip lewat jendela paling belakang kelas, ia nyaris menghela napas kecewa karena tidak ada yang menempati bangku-bangku di sana kecuali dua orang perempuan di baris depan. Kecewa yang gak berlangsung lama karena tiba-tiba ada suara yang mengejutkannya.
“Cari siapa sih?”
Matthew sontak menoleh. Jiwoong sudah berdiri di sebelahnya mengenakan hoodie di atas seragamnya dan dengan tas slempang kesukaannya. Ia memplagiat Matthew yang barusan celingukan.
“Kak Jiwoong!” sapanya, refleks senang. “You’re a menace.“
Jiwoong tertawa, lalu akhirnya balas menatap Matthew. “Good morning, Sweetling,“ senyum Jiwoong yang merekah mendadak pudar menyadari mata Matthew sembab serta hidungnya yang merah. “Kamu habis nangis?”
Matthew mengangguk, bibirnya manyun. “Hari ini hari terakhirnya Pak Naryo,” katanya sambil menarik Jiwoong supaya mereka duduk di bangku panjang, menyandar pada tembok. “Jadi nangis tadi di mobil.”
“Sayang,” sudut bibir Jiwoong ikut tertarik ke bawah. Ia menarik salah satu tangan Matthew untuk digenggam dan dimasukkan ke kantung tengah hoodie-nya. “Sorry to hear that.“
“It’s okay,” Matthew memposisikan kepalanya sehingga bertumpu pada pundak Jiwoong. “Aku juga mau minta maaf gak ngabarin seharian kemarin.”
Aku sibuk jadi anak pinternya Papa.
Aku sibuk jaga image di depan orang-orang tua yang cuma ngerti uang.
Aku sibuk nahan nangis ngelihat cincin di jari manisku yang dipakein sama orang asing.
Cincin itu tadi Matthew lepas di perjalanan, tersimpan di salah satu kompartemen tas punggungnya. Cincin yang mengikat masa depannya—masa kuliah dan kemungkinan besar sisa hidupnya yang akan dihabiskan kembali di Kanada. Matthew mau cerita, mau mengeluhkan semuanya pada Jiwoong. Tapi di sisinya Jiwoong susah payah menahan kantuk, kemungkinan besar karena habis bangun pagi buta untuk membantu Bundanya.
Gak adil.
Gak adil.
Kalau sudah begini, Matthew harus menyalahkan siapa?
Matthew merasakan napasnya mulai tercekat, namun ia masih sanggup terkekeh merasakan Jiwoong yang malah menempelkan pipinya pada pucuk kepala Matthew. “Kamu kurang tidur.”
“Aku tau,” Jiwoong menimpali, helaan napasnya panjang. “Well, I don’t really have a choice, do I?“
Dia harus kerja keras—atau dia gak akan bisa makan, Seok Matthew.
Suara Ayah—nyaring, di kepala si kelas sebelas.
Orang miskin ga bisa milih, Seok Matthew.
Kenapa main sama orang miskin, Matthew?
Pilihan itu mahal harganya, Matthew.
“—Matthew?”
The brunette can’t even breathe.
“Sayang? Belnya udah bunyi,” Jiwoong berlutut di depannya dan memegang kedua tangan Matthew di pangkuannya. Air mukanya khawatir. “Kamu pucet, mau ke UKS aja gak?”
Saat Matthew memperhatikan sekelilingnya, murid-murid sedang sibuk menuju kelas masing-masing. Keramaian yang membuat Matthew pening, tapi ia menggeleng menjawab tawaran Jiwoong.
“Aku ke kelasku aja,” Matthew tersenyum ala kadarnya. Ia berdiri dibantu Jiwoong yang mengulurkan tangannya. Kupu-kupu di perutnya berhamburan sewaktu Jiwoong memberikan keningnya sebuah kecupan kilat. “I love you,” kata Matthew, tangannya masih memegang lengan Jiwoong.
Jiwoong mengangguk, ia juga tersenyum—tapi di mata Matthew, senyumnya tidak mencapai matanya.
It looks almost kinda sad.
“I love you more.”
Sore itu, Jiwoong menemani Matthew buat ketemu Pak Naryo sebelum mereka jalan naik sepeda Jiwoong. Biasanya, Jiwoong tinggal menunggu Matthew di pos satpam dekat gerbang sekolah—tapi mengingat berita kalau hari ini terakhir Pak Naryo mengantar-jemput Matthew, ia menyempatkan diri bertemu Pak Naryo buat berterimakasih yang terakhir kali. Berterimakasih untuk banyak kesempatan yang Pak Naryo sudah bantu realisasikan. Mungkin kalau bukan karena bantuan Pak Naryo, Matthew gak akan pernah bisa sedekat ini sama Jiwoong. Mungkin Matthew cuma akan kenal Jiwoong sebatas kakak kelas dan orang asing di luar lingkungan sekolah. Kalau bukan karena Pak Naryo, Matthew gak akan bisa pulang diantar sepeda Jiwoong, atau mengunjungi rumah Jiwoong dan Pak Naryo akan mengabarkan kepala keluarga Seok kalau anak sematawayangnya lagi di rumah Keita.
Sore itu, Matthew lebih banyak diam di perjalanan mereka. Jiwoong gak tau kalau penyebabnya masih karena Pak Naryo, atau karena ia sedang memikirkan banyak hal. Termasuk alasannya gak masuk sekolah kemarin—termasuk rumor perjodohan yang berembus kencang. Jiwoong sudah berusaha menyiapkan diri meski ia gak tahu apa yang benarnya perlu ia lakukan saat Matthew mengkonfirmasi semuanya. Rasanya seperti berjalan menggandeng bom waktu yang siap meledak kapan saja dan Jiwoong gak takut mati.
Haruskah Jiwoong meledakkannya duluan?
Di tengah perjalanan, Matthew mengajaknya berhenti sejenak. Mereka sedang melewati sebuah hamparan lahan kosong berbukit yang ditumbuhi rumput hijau di sebuah perumahan besar. Di sebrangnya, ada danau buatan yang nampak cukup terawat. Yang paling menyenangkan adalah fakta kalau matahari terbenam lumayan terlihat cantik dari sana.
“Minum?” Jiwoong menawarkan sesaat setelah mereka duduk tanpa alas di atas rumput. Ia berakhir menghabiskan sisa air di botolnya ketika Matthew menolak halus.
Lalu—balik hening lagi, Matthew dengan sejuta benang pikirannya, Jiwoong yang bingung harus mengurainya mulai dari mana.
“Ada yang mau diomongin?” tanya Jiwoong hati-hati.
Matthew sedang memeluk erat tas punggungnya, salah satu tangannya terapit di sela resleting yang terbuka. Tapi ia tak kunjung bicara dan Jiwoong ingin sekali mampu membaca pikirannya.
“Matthew—“
“Here.”
There it is.
The gold ring, now laid openly between them on Matthew’s palm.
Jiwoong mengamatinya, sedetik, lima detik. Lalu ia menoleh ke arah Matthew, mencoba menutupi berisik di kepalanya dengan seuntai tawa palsu. “Ini aku dilamar?” candanya.
“Kak,” Matthew menggeleng. Tanpa dikomando, air mata Matthew sudah menetes lagi perlahan. Mengalir di permukaan wajahnya. Sembari menggigiti bibir bawahnya, Matthew menatap Jiwoong dan menuang semua ketakutannya di sana. The most raw emotion he’s ever shown to Jiwoong. “Kak Jiwoong….”
Jiwoong paham—tapi ia masih merasa harus bertanya.
Kesempatan terakhir.
“Kamu beneran dijodohin?”
Jiwoong sudah pernah melihat Matthew menangis.
Saat film yang diputar menampilkan adegan terlampau sedih. Saat mereka mengubur Susi, si kucing sekolah yang mati akibat terlindas mobil. Saat Jiwoong lulus dan masuk SMA. Saat dirinya sendiri lulus dan Jiwoong membelikannya hadiah berupa jaket parasut dari hasil menabung. Biasanya Matthew menangis nyaris setara senyap, sesunggukan kecil yang reda setelah beberapa saat.
Matthew gak pernah nangis sampai seperti ini—sekujur badan yang lemas bergetar, isakan yang keras dan lepas. Napas yang bahkan perlu Jiwoong bantu agar teratur. Tangan Matthew tremor waktu Jiwoong pandu agar melingkar di pundaknya. Jiwoong sendiri mengukur pinggang Matthew dengan panjang lengannya, erat menjadi penjamin Matthew tidak terkulai di sana.
Atas pertanyaan Jiwoong: Matthew tidak pernah menjawab, tapi basah seragam Jiwoong olehnya pun sudah cukup buat yang lebih tua.
Cincin yang Matthew pegang hampir tergelincir dari genggamannya saat Jiwoong memundurkan badannya untuk mengambil udara lebih bebas. Jiwoong yang menyadari hal itu langsung mengambil perhiasan emas putih tersebut, memegangnya erat beberapa saat sebelum mencoba memakaikannya pada Matthew. It fits perfectly on Matthew’s ring finger.
“Cantik,” Jiwoong berujar dengan senyum giginya—meski matanya merah, meski hidungnya masih tersumbat. Ia mengangkat jemari Matthew agar dapat memperhatikan siluet cincinnya lebih baik di bawah pantulan sinar matahari senja. “Pas di kamu.“
“Aku gamau—“
“I know,” Jiwoong menyela, menahan kepala Matthew supaya cowok itu berhenti menggeleng dengan memegang sisi-sisi wajahnya. “I know, Sweetling. Look at me.“
“They’re taking everything away from me—“
“And I’m sorry I can’t do anything about it.“
Saat Matthew akhirnya berani menatapnya, Jiwoong baru melanjutkan. “Maaf aku gak bisa ngapa-ngapain, maaf aku cuma bisa nemenin kamu kayak gini, maaf aku cuma bisa bilang aku bakal ada di sini terus—apapun yang terjadi, Matthew,” Jiwoong menarik napas. “Maaf kita gak selaras.”
Matthew feels outrageous. “Don’t fucking say that—“
“That is the truth,” Jiwoong murmurs, sadly. Ia juga mau marah, mau murka sama semesta karena sudah memperlakukan mereka seperti ini—tapi Jiwoong paham itu tidak berguna. “You know that too.“
Dan Matthew tahu—demi Tuhan, Matthew tahu. Di kepala Matthew, Ayahnya mencemoohnya karena ia masih ada di sana, dengan Jiwoong yang entah mengapa sudah menatapnya selamat tinggal. Di kepala Matthew, banyak skenario luar biasa yang ia tahu gak akan pernah punya nyali yang cukup untuk merealisasikannya.
Di kepala Matthew, ia dan Jiwoong selaras, dan khayalannya yang satu itu lambat laun akan membunuhnya.
Kening Jiwoong terasa hangat menyentuh punya Matthew sendiri. Matthew thinks it’s most likely the longest silent he experienced with Jiwoong. Ia gak tahu berapa lama mereka termangu di sana, berbagi udara yang sama dan genggaman tangan Jiwoong adalah satu-satunya alasan ia merasa ada. Merasa hadir dan nyata di atas bumi.
“Kita harus ngapain?”
Pertanyaan itu nyaring di telinga Jiwoong.
Yang lebih tua menjawab dengan bibirnya di kening Matthew lama dan bisikan realita. “Kita harus hargain tiap detik yang kita punya habis ini sampai gak bisa lagi.”
Enam bulan.
Jiwoong dan Matthew cuma punya enam bulan sampai Jiwoong lulus dan Matthew sungguh gak tahu harus bagaimana menghabiskan masa kelas dua belasnya tanpa bisa melihat Jiwoong sama sekali.
“You’re joking.”
“I wish I am,” Matthew mendesah di lipatan lengannya di atas meja.
Keita ikut terlihat sakit kepala di sebelahnya. “Sopir berasa orangtua,” kata Keita sambil menyendok bekal nasi gorengnya. “Masa strict banget gitu sih?”
Sudah beberapa hari berlalu setelah Pak Naryo tidak lagi bekerja untuk keluarga Seok, dan persis seperti dugaan Pak Naryo: Matthew tidak boleh pergi kemana-mana selain sekolah dan tempat lesnya. Rumah Keita juga termasuk dalam daftar tempat yang boleh Matthew kunjungi, namun Pak Didi (nama supir barunya) sudah diinformasikan alamat rumah Keita dengan tepat dan detail—jadi Matthew gak bisa menjadikannya alasan lagi buat ke rumah Jiwoong.
Dua hari pertama, Matthew masih berusaha berargumen, tapi Pak Didi tetap pada pendiriannya dan keras seperti patung batu. Sekarang ia pasrah dan harus puas cuma bisa ketemu Jiwoong di jam istirahat atau jam kosong.
“Pasti karena Papa,” Matthew menggumam. “Jadi kepikiran kemarin Pak Naryo diancem gimana.”
“Dan itu ngebuktiin kata-kata Jiwoong bener,” bahas Keita tiba-tiba. Ia menepuk-nepuk kepala Matthew sembari melanjutkan. “Dia ga bisa ngapa-ngapain. Bakal cuma ngebahayain diri sendiri doang.”
“I know,” Matthew groans. “I feel sick.”
“Makan dulu deh,” Keita berdiri dan berupaya menarik Matthew dari kursinya. Ia mengabaikan Matthew yang mengeluh menahan diri. “Biar bertenaga kalau mau sedih.”
Keita bahkan gak melebih-lebihkan. Matthew jadi jarang makan waktu di sekolah karena malas, katanya. Beberapa kali Keita harus meninggalkan cowok itu di kelas untuk makan di kantin karena Matthew betulan gak berkutik sama sekali. Untung dia punya teman-teman di ekskul basketnya jadi gak harus sendirian duduk menyantap makan siangnya—masalahnya cuma di Matthew. Keita adalah satu-satunya teman Matthew seantero angkatan, selain Jiwoong dan mungkin Gunwook dan Gyuvin sebagai teman terdekat Jiwoong. Jadi Keita biasanya menyempatkan diri laporan ke Jiwoong kalau Matthew berulah demikian.
Hari demi hari berlalu tanpa mampu Matthew tahan lajunya. Ia dengan senang hati menghabiskan jam-jam istirahatnya untuk Jiwoong yang seringkali meminta diajarin lagi materi kelas 11 sebagai persiapan ujian masuk universitas. Jiwoong bilang ia gak tega buat minta uang bimbel di luar karena adik-adiknya juga tengah butuh dana sebagai persiapan masuk sekolah dasar.
“Catetan kamu lengkap banget,” puji Jiwoong suatu waktu saat mereka lagi duduk di pojok perpustakaan. “Kok betah nulisnya?”
“Lebay,” Matthew tertawa dan merebut kembali buku tulis fisikanya dari yang lebih tua. “Lagian kalo pas belajar ga nyatet ya ngapain? Tidur?”
Jiwoong mengerjap. “Enak tidur.”
“Kak!” buku yang dipegangnya dijadikan alat Matthew memukul lengan Jiwoong pelan. Sialnya, yang lebih tua malah tertawa melihat Matthew yang memanyunkan bibir. “Jangan tidur pas jam belajar!”
“Iya enggaaa.”
“Dengerin kalo aku ngajarin.”
“Iyaaa sayaang.”
“Beneran ih!”
“Beneran inii.”
At times like this, Matthew forgets.
Matthew melupakan semua hal kecuali Jiwoong yang menurut memperhatikannya mengajar, melupakan semuanya kecuali Jiwoong yang seringkali membawakannya bekal buatan Bunda. Matthew melupakan semua hal kecuali jejak hangat tangan Jiwoong yang menggenggamnya di bawah meja atau rambut Jiwoong yang menggelitik lehernya saat ia bergelayut manja pada yang lebih muda. Matthew melupakan semuanya kecuali saat mereka sedang bersama Gyuvin dan Gunwook yang kadang ikut menjadi peserta kelas kecilnya—Jiwoong banyak bicara dan tertawa sama mereka jadi Matthew sangat bersyukur dengan eksistensi duo tak terpisahkan itu.
Ia lupa kalau waktu mereka kepalang terbatas. Ia lupa dengan eksistensi cincin yang tersimpan rapat di dalam tasnya. Ia lupa kalau di kehidupan yang satu ini Jiwoong gak diperuntukkan untuknya, terlepas seberapa keras mereka mencoba.
Di saat seperti ini, Matthew melupa—pada saat bersamaan waktu yang tersisa melipir dengan cepat dari sela jemarinya seperti pasir.
Habis.
Habis.
Matthew gak bisa menyembunyikan matanya yang sembab di hari kelulusan Jiwoong.
Yang lebih tua menemaninya lewat telepon semalaman meski Matthew sudah bilang Jiwoong boleh mematikan panggilan dari jam 10. Ia tahu harusnya Jiwoong beristirahat yang cukup sebelum menjalani hari penuh prosesi yang melelahkan, tapi Jiwoong selalu menelponnya balik ketika Matthew memutus sambungan. Perilaku yang jauh pada lubuk hati Matthew syukuri dalam diam.
Tapi bahkan concealer punya Keita tidak bisa menutupi kantung matanya dengan sempurna. Matthew tetap terlihat seperti mumi berjalan dengan sebuket besar baby’s breath di tangannya, memasuki aula berdampingan dengan Keita yang membantunya memegang buket-buket kecil lainnya untuk Gyuvin dan Gunwook.
Matthew tersenyum bangga mendengar nama Jiwoong yang akhirnya dipanggil ke atas podium setelah puluhan nama siswa lain disebut. Bunda serta adik-adiknya di sebelahnya ramai meneriaki dan Matthew menggendong si bontot Lia supaya Jiwoong mudah menemukan mereka di lantai dua. Gak ada yang lebih berarti dari bagaimana lengkungan senyum Jiwoong tambah merekah sewaktu tatap mereka bertemu.
I made it, Jiwoong mouths to him.
Matthew grins, waving so hard that his arm aches. You made it.
kak jiwoong♡
aku mimpiin kamu tadi
kamu udah lulus
cantik pas wisuda
tapi aku gabisa panggil kamu
kamu ga liat aku
08.33 AM
You
masih bulan depan lulusnyaaa
kenapa gabisa panggil?
i’ll always find you
kangen :(
kamu bisa ke sini ga nanti?
08.41 AM
kak jiwoong♡
gatauu pokoknya gabisa panggil..
jam 3?
pak didi ke mana?
08.44 AM
You
sakit
aku bawa mobil sendiri
08.49 AM
kak jiwoong♡
oke
nanti aku izin bunda sebentar
semangat sekolahnyaa sayang
08.55 AM
You
❤️
09.00 AM Read
Matthew melamun menatap layar gawainya sampai berubah gelap.
Matthew gak bohong pas bilang kalau ia kangen Jiwoong: hampir satu tahun terlewati dengan jumlah tatap muka terhitung jari. Tatap muka yang dicuri kalau Jiwoong bisa bolos dari kewajibannya membantu toko kue Bunda atau akhir pekan di mana Matthew tidak berada di bawah pengawasan ketat.
Jiwoong memutuskan buat mengorbankan satu tahun untuk membantu Bunda membangun bisnisnya setelah ia diterima di pilihan ketiganya—universitas yang berada di lain kota. Jiwoong awalnya berpikir kalau kesempatan ini bisa jadi permulaan yang bagus untuknya mengeksplor dunia, tapi setelah mempertimbangkan banyak faktor lain, ia menahan diri. Meninggalkan Bunda, Teo dan Lia tidak terdengar sebagai ide yang bijak apalagi ketika Bunda baru saja mampu menyewa sepetak ruko di jalan besar.
Matthew yang mendengar hal itu pertama kali dulu hanya mengangguk maklum, berusaha ikut meyakinkan Jiwoong kalau mengedepankan keluarganya saat mengambil keputusan besar gak akan pernah mengantarnya pada lajur yang salah. Meski Jiwoong juga pernah datang kepadanya dengan senyum sedih karena ia iri melihat teman-temannya yang sudah memulai masa perkuliahan, Matthew menerimanya dengan lengan terbuka dan usapan di punggung yang gak kunjung usai.
Now, Matthew doesn’t think he wants to trade this view for the world. Bel pulang sekolah menyambutnya dengan Jiwoong mengenakan setelan kemeja dan celana bahan yang memeluk jenjang kakinya seperti mimpi. Ia berdiri dekat mobil Matthew, di tangannya ada lili putih yang dibungkus kertas cokelat.
“Aku masih bingung kenapa kamu penampilannya kaya gini jaga toko kue,” aku Matthew sambil meringsek ke Jiwoong yang membuka tangannya minta peluk.
“It attracts customers,“ kata Jiwoong lempeng, mencium pucuk kepala Matthew lekas menyodorkan bunga lilinya. “Buat kamu.”
Matahari masih tinggi menyiram mereka, tapi bagi Jiwoong telak kalah terang sama Matthew yang tersenyum sampai matanya nyaris hilang. “Thank you,“ Matthew menatap kelopak putih yang wangi tersebut lamat-lamat. “I love it.“
I love you, pikir Matthew saat ia sudah duduk di kursi penumpang dan Jiwoong memegang kemudi. Jiwoong lihai mengemudi pun sebagian besar karena Matthew sebelum ia mengikuti beberapa kelas mengemudi di sebuah lembaga resmi hingga mendapatkan SIM.
Matthew tertawa lepas menyadari di mana Jiwoong memarkirkan mobilnya tidak lama kemudian—hamparan rumput di bebukitan dan danau yang familiar. Tapi ia tetap semangat menuruni mobil dan berlari mengelilingi petak-petak bunga yang belum lama ditanam. Matthew membentangkan tangannya lalu mendongak seperti menyerap cerah batara surya senja, diam-diam merasakan Jiwoong yang melangkah ke arahnya.
I love you, Matthew thinks as Jiwoong pulls him somewhere nice to sit. Namun si rambut hitam gak bicara apa-apa dan sekadar menatapnya lurus selama hampir satu menit. Matthew mengenyam perhatian yang didapatnya seperti ia lapar, mencoba fokus pada ibu jari Jiwoong yang bergerak memutar pada telapak tangannya. Mencoba fokus membalas erat jemari Jiwoong di antara miliknya. Mencoba fokus pada Jiwoong dan hanya Jiwoong.
I love you, Matthew mau teriak ke depan wajahnya. Yang ini terasa terlalu fana—berdua dengan Jiwoong dan mengulur waktu yang diada-adakan. Telepon genggamnya bergetar di saku Matthew tapi ia sibuk menyambut Jiwoong yang memiringkan wajahnya lalu menciumnya tepat di bibir. Telepon genggamnya bergetar di saku dan Matthew peduli kosong, Jiwoong menciumnya dan Matthew cuma mau percaya kalau mereka selaras dan punya tempat di sini.
“Mimpiku yang semalem buruk, Matt,” kata Jiwoong setelah mereka mengambil napas. “Aku panggil kamu tapi kamu gak denger. Aku liat kamu tapi kamu gak liat aku,” Jiwoong terdengar takut, bahunya menciut dipegang Matthew yang berusaha tenang di sampingnya.
“It’s just a bad dream,“ Matthew mengecup bawah matanya pelan. Matthew tidak membahas bagaimana ia merasakan napas Jiwoong yang sedikit bergetar. “I’m here, I can see you and I can hear you,“ lanjut Matthew. “Aku udah bilang aku bakal selalu temuin kamu, Kak.”
Ada jeda yang mencekik.
“Even in another lifetime?”
Kenapa harus di kehidupan yang lain? Matthew menjawab dalam hati. Kenapa harus tunggu di kehidupan lain? Aku bisa temuin kamu di sini.
Matthew mencoba menerka jawaban apa yang Jiwoong kiranya tunggu atas pertanyaannya, tapi ia cuma ditemui seberkas harap di bola matanya yang gelap.
Aku bisa temuin kamu di sini!adalah apa yang terukir di batin anak tunggal keluarga Seok.
“Even in another lifetime,“ adalah yang mengucur dari sela bibir Matthew. “Janji,” imbuh Matthew sebelum mengeratkan lengannya di sekeliling pundak Jiwoong. Peluk yang sebenarnya gak mau ia lepas sampai seisi dunia runtuh, karena melihat tatapan nanar Jiwoong dan senyumnya yang getir membuatnya ikut merasa digeret ke kerumunan penuh cemas.
“Janji,” ulang Matthew, tapi terdengar lemah di kupingnya sendiri. Karena—/aku mau punya kamu di semesta yang ini, Kak Jiwoong.
“Kak Jiwoong!”
Matthew memanggil. Di tangannya ada ijazah dan lehernya dihias medali emas yang menyilaukan.
Matthew berjalan melewati kerumunan aula yang menyoraki namanya, memberikannya setangkai demi setangkai lili. Matthew menebar senyum yang dipaksakan sembari menerima semua lili, mengapit sebisanya di antara lengan, tapi matanya kesana-kemari masih mencari.
“Kak Jiwoong!”
Tepuk tangan—semua orang bertepuktangan, nyaring dan lantang dan membuat telinga Matthew kesakitan.
Ia gak bisa berhenti.
“Kak Jiwoong!”
Matthew terhimpit, di tengah orang-orang yang memberikannya lili dan mengumandangkan namanya. Di bawah lampu gantung aula yang megah dan iringan orkestra. Lamat Matthew melihat Ayah dan Ibunya menghampirinya, lalu ikut memberikannya lili.
Lili putih dari Ayah terciprat merah entah apa.
“Ini apa?” Matthew mencium anyir yang membuatnya bergidik. “Papa?”
Senyum Ayah penuh kemenangan siang itu, entah atas dasar apa. Ibu yang berdiri di sebelahnya juga memegang lili putih yang bernoda, kontras merah dari warna aslinya—hampir senada dengan gincu marunnya yang gak pernah Matthew lihat sebelumnya. Mereka gak menerangkan apapun sampai Matthew berteriak lagi meminta penjelasan. Ayah meremat pundaknya lalu menggoyang-goyangkan badan Matthew seperti ia orang-orangan sawah yang terbuat dari jerami. Air mukanya terlampau bahagia.
Matthew masih bingung dengan kepala yang penuh ketukan tepuk tangan dan kesulitan mengambil napas.
Rasanya seperti ditarik agar tenggelam.
“Bangun, Matthew!”
Matthew terkesiap. “Aku—“
“Bangun, Matthew!“
Terang kali ini bukan dari lampu gantung, tapi menyisip lewat celah gorden yang tidak tertutup rapat.
Matthew terbangun dengan keringat mengalir deras dari wajah hingga lehernya meski pendingin ruangan menunjukkan angka 20 derajat celcius. Ia susah payah meraup udara dan mencengkram dadanya sendiri, menoleh ke sudut lain ruangan karena mendengar decakan serta embusan napas kasar.
Ibu berdiri di dekat pintu dengan wajah tak suka.
“Handphone kamu bunyi daritadi,” katanya jutek. “Udah siang, nanti telat ke wisudamu sendiri. Cepat siap-siap.”
Matthew hanya mengangguk terpatah.
Di layar telepon genggamnya, nama Keita muncul seperti terpaan angin segar. Ia menarik dan menghela napas beberapa kali untuk membersihkan kepalanya dari kepingan mimpi buruk tadi sebelum menerima panggilan.
“Matt?“
“Sori, habis mimpi buruk, baru kebangun,” jelas Matthew lalu mendorong selimut ke ujung kakinya. “Have you been trying to call for long? Mom said my phone has been ringing for awhile. Ada yang namanya iMess, tau.”
“Lo lagi berdiri apa duduk?“
Sebelah alis Matthew terangkat naik. Ia membuka pintu kamar mandi sembari menjawab. “Emang kenapa?”
“Would you—please just answer me.”
“Berdiri,” jawabnya, menyalakan keran wastafel lalu menyalakan loud speaker agar bisa tetap mendengarkan Keita yang malah diam. “Mimpiku serem deh,” lanjut Matthew akhirnya seraya mencuci tangan. “Di wisuda nanti, aku cari kak Jiwoong terus, tapi gak ada. Kak Jiwoong juga pernah mimpi pas wisuda aku, dia mau manggil aku tapi gak bisa, like—“
“Matthew,“ potong Keita, dan intonasinya membuat lipatan di kening Matthew makin menjadi.
“Kenapa sih Ta?” keran wastafel ditutup.
“Ke Rumah Sakit Pertamina ya, Matt, ketemu di sana,“ pantulan wajah Matthew berubah drastis di cermin. “Kak Jiwoong kena tabrak lari—“
“I’ll be there.“
Kosong, kosong. Lututnya lemas mendengar nama Jiwoong dari Keita, tapi ia tetap berdiri dengan memegang sisi-sisi wastafel. Potongan mimpinya muncul di pandangannya seperti tsunami yang tinggi. Matthew menggigit bibirnya keras sekali sampai berdarah.
Ia perlu merasakan sesuatu.
“Matthew….“
“He’s gonna be okay,“ Matthew bergerak dengan cepat melakukan rutinitas paginya, mencuci muka dan menyikat gigi. Keita pasti sudah berada di jalan mendengar suara klakson dan hiruk pikuk menguar dari pengeras suara gawainya. “He’s gonna be okay, right? Will you watch him for me until I arrive? I think the traffic’s gonna be a bitch.”
“Pokoknya hati-hati di jalan,“ kata Keita, final. “He’s gonna wait for you.”
Keita gak bohong.
Jiwoong menunggunya di salah satu ruangan rumah sakit yang gak pernah Matthew kunjungi sebelumnya. Ruangan yang gak Matthew kira akan dia masuki di hari wisudanya sendiri, ruangan yang suhunya makin membuat Matthew gak bisa merasakan apapun kecuali jantungnya yang berdentum stagnan karena dingin. Ruangan yang ia tanya berkali-kali kalau ini bukan kekeliruan dan Gunwook menjawabnya dengan anggukan tipis dan wajah yang masih basah oleh air mata. Gyuvin membantunya supaya tidak terjatuh di tengah jalan dengan satu tangan di bahu dan yang satu lagi menuntun melalui bawah punggungnya.
Jiwoong menunggunya di salah satu rak besar yang ditarik buka oleh salah satu perawat, menunggunya dengan mata tertutup dan wajahnya yang tenang. Menunggunya tanpa bunga lili untuk wisudanya dan tangan yang kaku sewaktu Matthew coba genggam.
Jiwoong menunggunya tidak bernyawa, dan Matthew sekali lagi mengutuk semesta atas takdir mereka.
Takdir yang Matthew kutuk saat ia berjalan keluar dari ruang mayat dan ada Bunda yang baru sampai nyaris ambruk ke rengkuhannya. Teo dan Lia yang berdiri kebingungan digandeng Gyuvin dan Gunwook. Pilar-pilar kehidupan Jiwoong yang siang itu tumbang diingatkan fakta kalau gak ada yang abadi di bawah tujuh lapisan langit.
Matthew tidak pernah membenci takdir hingga sebegininya.
Bahkan tumbuh dewasa dan menyadari kedua orangtuanya cuma membesarkannya untuk bisa melanjutkan perusahaan mereka pun Matthew tidak merasa setidakberguna sekarang, ketika peti berisi raga Jiwoong sudah terkubur dan yang tersisa tinggal namanya di batu nisan. Matthew tidak tahu berapa lama ia duduk di sana melamun. Ia baru menangis ketika Bunda memberikannya sebuket baby’s breath di sisi makam ketika matahari hampir tenggelam.
“Tadi dianter ke toko,” kata Bunda, memberikan bunga itu sambil menahan isakannya. “Harusnya untuk dibawa ke wisuda kamu ya, Nak?”
Matthew mengangguk, dan ia samar dapat mencium aroma khas Jiwoong saat Bunda memeluknya erat.
Malam itu Matthew pulang disambut dengan gamparan di pipi kanannya dari Ayah dan Bunda yang nampak stress memegang telepon genggamnya yang ia tinggal di atas kasur. Ia gak berupaya menjelaskan apa-apa dan beranjak perlahan ke kamar, menepis tangan Ayah yang hendak mengambil paksa buket bunga pemberian Jiwoong. Meninggalkan mereka yang bertanya kenapa Matthew meninggalkan prosesi wisudanya sendiri.
Kalau bisa, aku mau ninggalin ini semua aja sekalian.
Adil, kan?
Biar semuanya runtuh sama-sama.
Matthew mengejar Jiwoong di alam baka dan Ayah-Ibu yang kelabakan memikirkan masa depannya.
Pemikiran yang kemudian menohok Matthew sejadi-jadinya ketika ia baru menyadari eksistensi pesan Jiwoong yang terlipat di antara jejeran baby’s breath.
To. Seok Matthew, my sweetling.
Selamat atas kelulusannya, sayang! Kamu tau aku bangga dan akan selalu bangga sama kamu.
Matthew, habis ini kamu bakal kenalan sama dunia yang jauh lebih luas. Kamu bilang kamu bakal kuliah di Kanada dan semua-muanya, rencana yang udah disiapin buat kamu. Semangat, ya? Jujur aku gak tau mau bilang apa, tapi ngebayangin kamu bakal ngejar ilmu di belahan lain dunia dan terjamin hidupnya udah sangat cukup buat aku.
Matthew, aku ga akan kemana-mana. Kamu pernah bilang kamu bakal balik ke aku, aku tunggu. Kamu pernah bilang kamu bakal selalu temuin aku, aku tunggu. Aku juga akan selalu nyari kamu. Di antara semua proses itu, kayak janji yang waktu itu kita udah buat—cari bahagia kamu ya, Matthew. Hidup dan jadilah bahagia. Aku bakal hidup di sini sama Bunda, Teo, Lia, bikin diri sendiri dan bikin mereka seneng. Jadi kamu juga harus gitu!
Matthew, hidup dan cari bahagia kamu sampai waktunya aku bisa balik meluk kamu yaaaa.
Sampai aku bisa jadi definisi bahagia kamu lagi. Sampai kita selaras. Aku sayang kamu, di sini dan di kehidupan manapun kita ketemu. Aku sayang kamu di sini dan di kehidupan manapun yang kitanya selaras. Aku bersyukur takdir udah ngebolehin aku kenal kamu.
Selamanya akan terus bersyukur.
Beberapa bulan lagi mungkin kita akan hidup 13000 kilometer jauhnya, tapi selama aku tau kamu ada di dunia ini, aku lega.
Congratulations once again, love. You made it!
Your dearest,
Jiwoong.