Bangunan belakang sekolah


Area belakang sekolah pada pukul tiga sore itu terbilang sangat sepi. Angin hanya meniupkan debu kering dari sisa tumpukan puing bangunan lama di dekat gudang.


Milo berjalan santai sembari melepas jaket nya, lalu melemparnya asal ke atas tumpukan meja bekas. Lengan seragam putihnya ia gulung hingga sebatas siku.


Benar kata Jio, Dion tidak sendirian.


Di depan tembok, Dion terlihat menyender pada motor sembari menyesap rokok. Di sekelilingnya terdapat empat laki-laki berpakaian bebas dengan wajah yang jelas bukan anak sekolahan sini, Dion langsung menginjak puntung rokoknya saat melihat Milo datang sendirian. Ia tertawa sinis. "Wow gue kira nyali lo ciut."


Milo berdecak malas. Matanya melihat empat orang di belakang Dion dengan tatapan datar. "Gue bilang by one anjing. Mental lo emang tempe apa gimana sih sampai bawa rombongan segala?"


Satu orang berambut merah dengan badan paling besar langsung maju, rautnya terlihat sangat menantang. "Eh bocah anjing jaga mulut lo."


"Udah, Bang biar gue aja yang ngasih paham nih anak," tahan Dion. Ia maju dua langkah sembari mengepalkan tangannya. "Lo udah bikin gue dapet sp 2, mil. Hari ini gue pastiin lo pulang ngesot."


Tanpa aba-aba, Dion langsung melayangkan pukulan ke arah rahang Milo. Namun, Dion lupa kalau milo adalah mantan atlet taekwondo. Gerakan Dion terbaca jelas karena terlalu terburu-buru. Milo hanya memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindar, lalu tangannya dengan sigap menangkap kerah baju Dion. Detik berikutnya, kaki Milo naik dengan cepat, menendang telak ulu hati Dion.


BRUKK!


Dion langsung tersungkur ke tanah berdebu, terbatuk-batuk parah sembari memegangi perutnya. Wajahnya memerah menahan sakit.


"Maju lo anjing, katanya mau bikin gue ngerangkak?!" bentak Milo dengan napas yang mulai memburu.


Melihat Dion ambruk hanya dalam satu kali serangan, empat preman itu terkejut. Harga diri mereka merasa tersentil karena Dion dikalahkan oleh bocah SMA yang lebih kecil darinya.


Tanpa banyak bicara, laki-laki berbadan besar tadi langsung mengambil balok kayu sisa bangunan di tanah. Ia berlari menerjang Milo dari arah samping.


"Mati lo bangsat!" teriak orang itu sembari mengayunkan balok kayunya.


Milo refleks menoleh. Balok kayu itu sudah melayang di udara, mengarah lurus ke pelipisnya. Milo tahu dirinya tidak akan sempat menghindar atau membalas. Ia hanya bisa refleks mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepala, sembari memejamkan mata menunggu hantaman itu datang.


Namun, hantaman itu tak pernah sampai.


BRAKK!!


Ada bayangan yang melesat dari arah koridor. Seseorang menerjang orang itu dengan kecepatan luar biasa dari arah berlawanan. Benturannya begitu keras sampai balok kayu itu terpental jauh dan preman berbadan besar itu jatuh bergulingan di tanah.


Milo membuka matanya perlahan. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama sedetik. Kendrick.


Kendrick tengah berlutut dengan satu kaki bertumpu di atas tanah. Seragam putihnya kotor berantakan terkena debu, dengan kacamata tebalnya yang miring hampir lepas dari hidung. Tapi yang membuat Milo melotot bukanlah penampilannya, melainkan posturnya. Kendrick tidak menunduk sama sekali. Pundaknya yang biasa ditekuk lesu itu sekarang tegak lurus, lebar, dan terlihat sangat kokoh.


Orang yang ditabrak tadi bangun sembari mengusap darah di sudut bibirnya. "Bocah sialan!" Ia langsung melayangkan tinju mentah tepat ke arah wajah Kendrick.


"KENDRICK AWAS!!" teriak Milo panik, sudah bersiap maju untuk pasang badan.

Tapi Milo justru disuguhi pemandangan yang membuat otaknya mendadak kosong.


Dengan raut wajah yang terlampau datar benar-benar kosong tanpa emosi—Kendrick hanya sedikit menggeser badannya ke kiri.


Tangan kirinya naik, menepis pukulan itu dengan gampang, sementara tangan kanannya langsung mencengkeram pergelangan tangan orang tersebut. Kendrick memelintir tangan itu ke belakang.


"Aarghhh!!" orang itu berteriak kesakitan.


Belum selesai di situ, Kendrick mengangkat kaki kanannya dan menendang bagian belakang lutut orang itu dengn kencang.


Suara gesekan celana abu-abunya terdengar kasar. Orang itu langsung ambruk berlutut di tanah, tak bisa bangun lagi karena menahan sakit pada kakinya.


Tiga orang lainnya langsung mematung di tempat. Dion yang baru bisa duduk pun ikut melotot kaget. Atmosfer di area belakang sekolah tiba-tiba berubah sangat dingin.


Kendrick melepaskan cengkeramannya, membiarkan preman itu mengerang di tanah. Ia pelan-pelan memutar badannya, menatap tiga orang tersisa dan Dion.


Matanya dari balik lensa kacamata tebal yang retak itu menatap tajam. Tidak ada ketakutan, tidak ada keraguan. Hanya ada amarah dingin yang sukses membuat bulu kuduk berdiri. Aura dominannya menguar begitu saja.


"Maju," ucap Kendrick pelan. "Maju selangkah lagi leher lo semua gua patahin di sini anjing."


"Cabut anjing, cabut! Ada satpam mau ke sini!" seru salah satu orang yang mencari alasan aman karena sudah gemetaran lebih dulu. Mereka buru-buru menarik temannya yang kakinya pincang, lalu menggas motor kabur dari sana. Dion yang merasa posisinya sudah tidak aman, ikut mundur dan lari terbirit-birit meninggalkan motornya begitu saja.


Hening. Angin sore kembali berhembus, menerbangkan debu di antara Milo dan Kendrick.


Kendrick menarik napas panjang. Pundaknya yang tadinya tegang itu perlahan-lahan kembali ke pengaturan awal. Auranya langsung menguap. Kendrick membenarkan letak kacamatanya yang miring, lalu berbalik badan menatap Milo.


Ekspresinya kembali menjadi Kendrick, si anak pendiam cupu yang sering dikasihani orang.


"Milo." Suara Kendrick kembali pelan dan lembut. Ia berjalan mendekat, matanya memeriksa badan Milo dari atas ke bawah.


"Lo nggak luka kan?"


Milo mundur selangkah. Jantungnya berdebar brutal, napasnya masih memburu, tapi otaknya sedang bersusah payah mencerna rentetan kejadian barusan.


"Lo..." Milo menelan ludah susah payah. Suaranya agak bergetar karena terkejut. "Lo barusan ngapain bangsat..."


Kendrick menunduk sedikit, memasukkan kedua tangannya ke saku celana abu-abunya dengan kikuk. "Gue refleks aja mil."


Kendrick berjalan melewati Milo memungut jaket Milo yang tadi dilempar ke meja bekas. Ia menepuk-nepuk debunya pelan, lalu menyodorkan jaket itu pada sang empunya.


"Ayo balik, keringat lo banyak banget nanti masuk angin," ucap Kendrick pelan, tangannya masih betah menyodorkan jaket.


Milo menatap jaket itu, lalu beralih menatap mata Kendrick di balik kacamata tebalnya.


Reflek apaan anjing begitu.Umpat Milo dalam hati. Namun saking terkejutnya, ia hanya bisa diam dan mengambil jaket itu dengan tangan yang terasa kaku.