Lucky Charm


“Kaki lo sakit?”


Gemini menoleh ke arah Fourth yang sedang memijat dan memukul-mukul kakinya, raut wajahnya seperti ia sedang menahan sakit. Untuk seseorang yang tidak biasa bergerak dan hanya berolah raga jika dipaksa, tentu saja otot-otot di kaki Fourth merasa tegang dan kaku setelah dipaksa berjalan kaki dengan jarak yang bisa dibilang tidak dekat.


“Nanti kalau sampe hotel gua beliin koyo ya? Sebrang hotel kita ada indomaret kok.” Lanjut Gemini.


“Gak usah. Gue pijit sendiri juga nanti ilang pegelnya.”


Gemini terdiam sebentar, kemudian mengangguk. Ia menyandarkan punggungnya ke bangku bus, sambil memperhatikan Fourth dalam diam.


“Gabut banget sih lo, ngapain ngeliatin gue coba?” Fourth mendorong muka Gemini dengan telapak tangannya sambil berdecak sebal.


Gemini terkekeh. “Pelit amat sih, ngeliatin aja gak boleh.”


“Gak jelas lo.”


Ketika Fourth ingin menarik tangannya dari wajah Gemini, yang lebih tua buru buru menahan tangan itu, memegangnya dengan kedua tangan sambil meletakkan tangan tersebut di pangkuannya.


Little did they know, a spark of electricity passed through both their souls as the tall boy made his move.


“Eh ini orang kenapa sih, lepas ah.”


Is it just me or lu hari ini lebih galak dan diem banget gak kayak biasanya?” Tanya Gemini. “Did something happen? Lo tau kan you can always talk to me about anything?


Fourth menghela nafas, kemudian ikut menyenderkan tubuhnya di punggung kursi. Membiarkan sebelah tangannya dipegangi oleh sang sahabat, membiarkan tubuhnya merasa mulas akibat gestur tersebut.


Fourth tidak mungkin memberi tahu Gemini apa yang ia rasakan beberapa hari kebelakang. Tentang ia yang tiba tiba tersipu, salah tingkah, atau ketika jantungnya berdetak dua kali lebih cepat setiap Gemini melakukan hal-hal yang biasanya ia anggap normal dilakukan oleh seorang sahabat.


Tidak mungkin. Fourth tidak se-egois itu.


Ia ingin menghargai Gemini yang sedang menaruh perasaan kepada seseorang, meskipun sampai sekarang masih tidak ia ketahui siapa orang yang Gemini maksud.


Terlebih, Fourth tidak mungkin membiarkan siapapun mengetahui bahwa ia merasakan perasaan alay seperti ini. Mau ditaro dimana mukanya?!


“Snoopy.”


“Lagi kangen mama aja. Pengen pulang.” Ujar Fourth asal.


“Bohong banget.” Gemini memukul pelan punggung tangan Fourth. “Biasanya tante mai pergi berminggu minggu lu biasa aja tuh.”


“Ish, yaudah kalau gak percaya!” Fourth mengerutkan dahinya seperti biasa jika ia sedang marah. “Udah ah Gem, lepas.”


“Gak mau.” Gemini memeletkan lidah, dan malah semakin mengeratkan pegangannya pada Fourth.


“Gemini…” Sebut Fourth dengan nada malas.


“Libra…” Gemini meniru ucapan Fourth jahil.


“Ngajak ribut lo ya ah!” Fourth menyenggol kaki Gemini dengan kakinya karena sebal.


Gemini terkekeh lagi. Ia lebih senang melihat Fourth marah-marah dibandingkan banyak diam seperti yang anak laki-laki itu lakukan sepanjang hari ini.


“Gak apa apa kalau lu gak mau cerita apa yang lagi lu pikirin,” Ucap Gemini tiba tiba. “Tapi kalau gua ada buat salah, please just let me know ya? Gua lebih milih liat lu marah-marah daripada diem banget kayak seharian ini.“


Fourth terdiam sesaat. “Sorry. Gue gak maksud bikin suasananya jadi gak enak karena banyak diem.”


“Gak usah minta maaf. It’s okay to feel what you feel, Snoopy.” Kini tangannya menepuk-nepuk punggung tangan Fourth. “Just remember that I'm always here. Lu bisa bagiin kepusingan lu ke gua kapan pun.”


Hati Fourth lagi-lagi menghangat. Gemini tidak pernah gagal membuatnya merasa tidak sendiri— walaupun faktanya laki-laki itulah yang membuatnya banyak diam hari ini.


“Alay lo.” Cemooh Fourth. “But thanks.


“Tuh, orang lagi mode bener malah dibilang alay. Emang bukan manusia lu.” Gemini menghempaskan tangan yang lebih muda dari pangkuannya, membuat Fourth mengeluarkan tawa kecil.


“Kan gue bilang thanks ujungnyaaa!”


“Kayak gak genuine.


“Gue selalu genuine anjir!”


“Sama, gua juga. Makanya jangan dibilang alay. Everything I do and say to you isn't just bullshit, I really mean it.”


Sekali lagi, Gemini membuat Fourth terdiam. Ia bingung harus berkata atau bersikap seperti apa.


Lelaki itu kembali mengambil tangan Fourth, entah apa yang ia lakukan, entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja di tangan Fourth sudah melingkar sebuah gelang tali berwarna hitam— persis dengan yang dikenakan Gemini, entah sejak kapan.


“Gem?”


Lucky charm dari gua. To attract positive energy, biar lu gak bad mood lagi.” Ujar Gemini. “I got one for myself too. Supaya gua gak bawa energi negatif buat lu.”


Fourth benar-benar tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan sekarang. Yang pasti jantungnya terasa akan meledak beberapa detik lagi— tidak yakin apa karena dia terlalu senang, atau dia terlalu membenci dirinya karena telah merasakan sesuatu yang tidak ingin ia rasakan.


Ia tidak ingin jatuh lebih dalam.


Thanks, Gem.”


Anytime, Snoopy.”


Namun malam ini adalah pengecualian.


Fourth yearned, even if just for a single moment, to allow his emotions to seize him entirely, disregarding any other name Gemini may already hold dear in his heart.


Selama sepersekian detik, jantung Gemini berhenti berdetak ketika ia merasakan tangan Fourth di atas tangannya. Ia benar-benar tidak bisa mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh yang lebih muda, terutama ketika kepala itu bersandar di atas pundaknya.


Mungkin Fourth hanya sedang butuh ketenangan. Atau mungkin… ini adalah tanda dari Fourth bahwa dia merasakan perasaan yang kurang lebih serupa.


Pikirannya tiba tiba melayang kepada perkataan pakin sekitar setengah jam yang lalu, ketika Fourth bertanya siapa seseorang yang Gemini sukai.


Ah.


Gemini tidak tahu, dan ia tidak ingin memikirkan apapun yang membuat kepalanya sakit. Tanpa berpikir panjang, ia menyelipkan jemarinya disela-sela jemari Fourth, mengikuti intuisinya yang menginginkan Fourth merasa nyaman dalam genggaman dan sandarannya.