Cafe


Jemari Kendrick perlahan menggeser gelas iced americano yang mengembun di atas meja kayu, menjauhkannya sedikit agar tetesan airnya tidak mengenai ujung keyboard laptop Milo.


"Lagi pusing ya," gumam Kendrick pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh alunan musik jazz dari speaker kafe. "Boleh berhenti dulu ngetiknya, nggak usah dipaksain kelar sekarang. Kasihan itu mata lo udah merah natap layar terus dari tadi."


Dari semenjak mereka duduk di bangku kafe ini satu jam yang lalu, Kendrick selalu tahu bagaimana cara menenangkan Milo ketika pemuda itu mulai kewalahan. Ia adalah tipe pengamat; sekecil apapun perubahan emosi, helaan napas, atau tingkah laku yang terjadi pada orang terdekatnya, Kendrick pasti dapat dengan jelas mengetahuinya.


Seperti Jio yang jika sedang lelah harus disogok dengan makanan manis, atau Onat yang hanya butuh ruang untuk mendengarkan lagu, atau pula Milo yang selalu butuh diberikan afeksi lembut ketika isi kepalanya terlalu berisik. Itu titik lemahnya Milo.


Milo menghela napas gusar, dia merasa sedikit kekanakan karena telinganya mendadak panas hanya karena perlakuan kecil itu. Rumit sekali jalan pikiran orang yang belum terbiasa menerima afeksi sebesar ini. Milo selalu merasa tidak enak hati, apalagi jika dilakukan di depan teman-temannya.


"Gue cuma kesel aja tadi wifinya putus pas gue lagi asik nyari jurnal," dusta Milo, tangannya perlahan menjauh dari keyboard. "Mana dari tadi si Jio sama Onat kaga ngebantuin ngetik sama sekali, gue berasa kerja rodi."


Kendrick tersenyum tipis. "Ngawur banget kalau ngomong. Mereka kan lagi ngeringkas materi di buku cetak, jadi wajar kalau nggak ikut ngetik. nggak bermaksud lepas tanggung jawab, tapi emang bagian ketik-mengetik lo yang paling cepet, Mil."


Onat yang duduk di seberang meja bersama Jio, sesekali melirik ke arah dua orang itu. Sejujurnya, ada bagian dari Onat yang ingin menjelaskan pada Jio agar tidak terlalu sering menggoda Milo dan Kendrick.


Tentu, sebagai sahabat yang baik, Onat tidak ingin ada suasana canggung. Onat tahu watak keduanya; Milo yang suka memendam dan gengsinya setinggi langit, serta Kendrick yang terlampau care pada orang terdekatnya, seolah dunia hanya berpusat pada Milo.


Tapi, bagi orang luar yang melihatnya. Basic manner yang dilakukan Kendrick terkadang terasa terlalu intim, bukan begitu?


"Ken, lo kaga capek apa ngeladenin Milo mulu dari tadi?" celetuk Jio tiba-tiba, mencomot kentang goreng di tengah meja. "Ini anak kalo lagi nugas moodnya kaya singa pms, dibiarin aja napa."


Kendrick mengerutkan dahi, menatap Jio dengan sorot kebingungan. "Apanya yang capek, Ji?"


"Ya elo... terlalu peka nggak sih? Milo batuk dikit lo sodorin air, Milo gerak dikit lo benerin posisinya. Santai aja elah."


"Ngeladenin gimana sih, Ji? Gue salah ya khawatir sama pacar gue sendiri?" balas Kendrick tenang, namun rahangnya sedikit mengeras.


"Kenapa lo atau orang lain suka jadi salah paham gini sama sifat gue? I care about him because he matters to me, please don't get me wrong lah Ji. Gue temenan sama lo berdua juga kaga pernah perhitungan kan?"


Jio seketika kicep, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sadar bahwa ucapannya mungkin sedikit menyinggung ego Kendrick.


Sementara di sebelahnya, Milo hanya menunduk dalam. Tangannya diam-diam meremas ujung kemeja flanelnya. Perasaannya campur aduk.


Begitu Jio dan Onat pamit ke toilet untuk mencuci muka, Milo akhirnya memberanikan diri menatap Kendrick. Pria di sebelahnya itu masih terlihat santai, menyandarkan punggung ke kursi kafe sambil membalas pesan di ponselnya.


"Lo care sama gue yang kayak tadi tuh... tujuannya buat apa ya, Ken?" Suaranya lirih dan nyaris tidak terdengar akibat suara-suara pengunjung kafe lain yang sedang berkomunikasi. Namun, Kendrick mendengarnya.


Pemuda jangkung itu mematikan layar ponselnya. "Kenapa baik sama pacar sendiri harus ada tujuannya?"


Milo menghela napas pelan. "Never mind, lupain pertanyaan gue. Gue gpp, cuman pusing dikit mikirin omongannya Jio tadi."


"Lo suka ngalihin topik." Kendrick menatapnya lurus, tidak peduli pada sekitar yang asyik sendiri. Yang ia inginkan hanya kejujuran dari Milo. "Pertanyaan gue masih sama, kenapa baik sama orang harus ada tujuannya?"


"Gak harus, tapi kasihan aja Onat sama Jio. Takut mereka ngerasa risih atau kaga nyaman ngeliat lo sebegitu pedulinya sama gue di depan mereka. Orang lain kan merepresentasikan kebaikan itu beda-beda, Ken."


Kendrick mengernyitkan dahinya. "Kenapa harus ngerasa risih? Gue baik sama lo bukan berarti gue mau pamer ke mereka. Because you're mine. Kalo gue terlampau peduli sama lo, itu murni karena gue mau."


"Because they have feelings too, Ken. If you're too focused on me, they might feel left out atau ngerasa jadi nyamuk."


"But they can control their feelings, right? Mereka sahabat lo, mereka pasti ngerti."


"What if they can't? What would you do?" tuntut Milo, suaranya sedikit bergetar. Ia benci menjadi pusat perhatian, ia benci jika afeksi Kendrick membuatnya terlihat lemah atau terlalu diistimewakan.


"I wouldn't response to it, it's not my responsibility to how they feel about us," tegas Kendrick, suaranya memberat. Tangannya terulur di bawah meja, menggenggam jemari Milo yang dingin, lalu mengusapnya perlahan. "Kalau mereka risih ya silakan, tapi jangan harap gue bakal ngurangin peduli gue ke lo cuma demi ngejaga perasaan orang lain. You come first, Mil. Always."


Milo menatap mata itu lekat-lekat. Sialan. Manusia ini, sebenarnya tahu tidak betapa kata-katanya barusan berhasil meruntuhkan seluruh keraguan yang susah payah Milo bangun?