Tiba-tiba?



Pintu kamar terbuka. Kendrick melangkah masuk membawa dua bungkus makanan ringan dan remot televisi. Di atas kasur, Milo tampak sedang tertelungkup memainkan ponselnya. Ia hanya mengenakan kaus oblong hitam dan celana selutut. Aroma sabun mandi yang segar dari tubuh Milo langsung menguar, memenuhi seisi kamar.


"Nih, jajanannya," ucap Kendrick seraya meletakkan bungkusan itu di atas kasur. Ia kemudian ikut naik dan merebahkan diri di sebelah Milo, sengaja merapatkan tubuhnya hingga lengan mereka bersentuhan.


"Sana geseran, kasur gue sempit tahu nggak," sungut Milo. Kendati demikian, tubuhnya tidak bergeser sedikit pun.


"Masa sih sempit? Perasaan masih muat kalau buat pelukan," goda Kendrick. Tangan kirinya perlahan menyusup ke bawah perut Milo, lalu menarik pinggang laki-laki itu hingga punggungnya menempel sempurna pada dada Kendrick.


"Ken..." Milo menelan ludah, lekas mematikan layar ponselnya karena fokusnya sudah buyar tak keruan. "Lo tuh hobi banget ya peluk-peluk."


"Kangen. Semalam nggak bisa tidur sambil peluk lo gara-gara di luar ada temen/temen lo," bisik Kendrick. Suaranya terdengar berat dan sangat pelan di dekat telinga Milo. "Kepalanya udah mendingan belum?"


"Udah... berkat nasi goreng lo," cicit Milo jujur. Suaranya mengecil, terbawa oleh sensasi geli dari embusan napas hangat Kendrick di perpotongan lehernya. "Ken..."


"Hm?" sahut Kendrick pelan.


"Lo... beneran nggak apa-apa kan, soal urusan sama orang-orang kemarin? Ayah lo... nggak tahu kan kalau lo berantem?" tanya Milo, nada khawatirnya masih terdengar jelas.


Kendrick terdiam sejenak. Ia mengeratkan pelukannya di perut Milo, lalu menyandarkan dagunya di pucuk kepala kekasihnya itu. "Nggak usah mikirin itu. Ayah gue nggak akan berani nyentuh lo. Selama lo sama gue, nggak akan ada yang berani gangguin lo lagi, Mil."


Milo mengerjapkan matanya. Hatinya terasa seperti disiram air es, begitu sejuk dan menenangkan. Perlahan, ia memutar tubuhnya hingga kini posisinya telentang, saling berhadapan dengan Kendrick dalam jarak yang terlampau dekat.


"Kalau gitu... lo jangan bohong lagi sama gue, ya," ucap Milo pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Kendrick. "Kalau ada bahaya, kasih tahu gue. Jangan berantem sendirian kayak kemarin sampai tangan lo lecet. Janji?"


Kendrick tersenyum lembut. Ibu jarinya bergerak mengusap pelan pipi Milo. "Janji. Nggak bohong lagi."


Milo ikut mengulas senyum. Kemudian, dengan gerakan tiba-tiba yang membuat Kendrick sendiri terkesiap, Milo memajukan wajahnya dan mengecup bibir Kendrick sekilas. Hanya satu detik yang terasa begitu polos, sebelum akhirnya Milo lekas menarik selimut untuk menutupi seluruh wajahnya karena salah tingkah.


"Udah, ah! Gue mau tidur siang!" seru Milo dari balik selimut.


Kendrick masih tertegun. Namun sedetik kemudian, tawa renyahnya pecah memenuhi seisi kamar.