Noah menahan keinginan untuk bertanya mengenai mata sembab Nakias ketika mereka bertemu untuk sarapan pagi itu, meskipun rasa ingin tahu seakan membara di dalam hatinya. The unspoken question lingered on the tip of his tongue, but Noah chose to remain silent.
Untuk menghargai privasi dan memberi Nakias waktu, selama seharian ini ia membiarkan Nakias agar mengambil waktu untuk dirinya sendiri. Dan syukurnya, ketika ia kembali bertemu dengan Nakias di malam hari untuk sama-sama menghadiri pesta barbeque sebagai penutup acara liburan keluarganya.
“Hey,”
Nakias tersenyum sebelum mengangguk. “Hey.”
“Do you feel better now?” Noah mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Nakias dengan lembut. Sementara yang diusap cukup terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
“You know?”
“Everyone here knows, actually.” Noah tersenyum. “But it’s okay, jangan pikirin orang lain. Gue juga gak bakal nanya lo kenapa. Just tell me if I do or did something wrong, okay?”
“You did nothing wrong, Noah. I swear.” Sahut Nakias panik, ia takut Noah berpikiran buruk tentang dirinya sendiri. Melihat itu, Noah pun terkekeh. “Semalem gue ngobrol sama adek gue, terus bahasannya bikin gue—”
“It’s alright, Nakias, you don’t need to explain yourself.” Noah memotong ucapan Nakias, ia tidak ingin lelaki itu merasa tertekan karena harus menjelaskan apa yang ia alami semalam kepada Noah. “We’ll have fun today. Pestanya cuma kita-kita aja kok. Nanti Javier bakal nyanyi, ada panggung kecil loh di belakang.”
Nakias sedikit bernafas lega ketika Noah mencoba untuk mengganti topik pembicaraan mereka. Ia kembali tersenyum, kali ini lebih lebar ketika Noah menuntun tangannya untuk memeluk lengan atas lelaki itu dan membawanya ke halaman belakang villa yang telah disulap menjadi pesta kebun dengan panggung kecil dan beberapa alat pemanggang daging di sekitarnya.
“My dear Nakias, are you ok—” Ucapan dari Ibu Noah terhenti ketika wanita cantik itu mendapatkan sang anak memberikan tatapan ‘jangan ditanya, Ma,’ kepadanya. “Please enjoy the party to the fullest, okay?”
Nakias agak bingung melihat pergantian kalimat yang sangat cepat itu, ia melirik ke arah Noah yang sedag tersenyum dengan sangat tidak natural kepadanya, lalu kembali menatap Ibu Noah dengan senyuman. “Okay, tante. Thank you.”
Ibu Noah tersenyum hangat, kemudian mengusap pipi Nakias sekilas seperti apa yang dilakukan anaknya terhadap lelaki itu beberapa saat yang lalu sebelum meninggalkan mereka berdua untuk bergabung dengan Ayah Noah.
“Lo melototin mama lo atau gimana deh?” Bisik Nakias.
“Sumpah, enggak!” Bantah Noah, menggelengkan kepalanya beberapa kali. Nakias tertawa kecil.
“Anyway, mama lo ngusap pipi gue dengan cara yang sama kayak waktu lo ngusap pipi gue. Family thing, huh?”
“Gue rasa semua orang yang ngeliat lo pengen ngusap pipi lo deh.” Noah menoleh sambil sedikit menunduk untuk menatap wajah Nakias. “Your cheeks looks so fluffy, and squishy, and soft, and adorable.”
Nakias menahan senyum sambil mengangguk anggukan kepala. “Is that so?”
“Oh, come on, you don’t believe me?”
“Well—”
“Noah, Nakias, Here!”
Baik Noah maupun Nakias refleks menoleh ke belakang ketika seseorang memanggil nama mereka. Ternyata itu Paul dan Philip. Mereka berdua sedang berdiri di depan pemanggang daging, lengkap dengan celemek hitam dan penjepit besar di tangan mereka.
“What are you guys doing?” Tanya Noah ketika ia dan Nakias sudah sampai di hadapan Philip dan Paul. Paul memutar bola matanya.
“What do you think are we doing? Playing the piano?”
“OOOOOF!!!!” Sorak Philip, diikuti dengan Nakias yang tertawa renyah.
Noah menggeleng-gelengkan kepala. “Maksud gue, kenapa kalian yang masak? Kan banyak chefnya?”
“Paul pengen adu skill sama chef-chef yang dipanggil bokap lo. Terus maksa gue buat ikutan. Tau sendiri sodara lo.” Philip menunjuk Paul dengan dagunya.
“Aneh banget.” Komentar Noah.
“Sembarangan lo! Ini perbuatan baik yang harus didukung, malah dikatain aneh.” Sahut Paul dengan nada tersinggung yang dibuat-buat. “Mending kalian berdua bantu kita.”
“Gak—”
“Mau! Gue mau bantu bikin sausnya boleh nggak?” Nakias menjawab dengan antusias, melepaskan tangannya dari tangan Noah, kemudian ikut berdiri di sebelah Paul.
Paul tersenyum puas lalu menatap Noah sombong. “Go cry about it, Noah.”
Noah sedikit mendengus seraya melangkahkan kakinya mendekat. “Naki, lo harusnya seneng-seneng sekarang, kalau ikut manggang daging nanti lo bau asap.”
“Emang kalau bau asap kenapa, No? Lo bakal gak sayang lagi?” Tanya Philip.
“Eh apa sih!” Nakias menyikut Philip, membuat yang disikut otomatis tertawa. “Eh tapi, masak bikin seneng tau, No.”
Melihat keantusiasan di wajah Nakias ketika lelaki itu mulai meracik saus untuk memarinasi daging, Noah tidak bisa berkata apapun lagi untuk membebaskan Nakias dari Philip dan Paul. Lalu, ia mendapatkan ide untuk membuat kesepakatan dengan Nakias. “Tapi kalau Javier udah mulai nyanyi, kita nonton yaaa?”
“Iyaaaa.” Nakias menganggukan kepala, kemudian menepuk belakang leher Noah lembut sebelum ikut menyibukkan diri dengan kegiatan memanggang daging.
Mereka memanggang beberapa jenis daging untuk pesta BBQ ini. Di sekitar mereka, banyak anggota keluarga Titicharoenrak yang berlalu lalang dan berbincang, juga ada anak-anak yang berlarian dengan riang. Noah, dengan cukup terpaksa, ikut membantu Paul membalikkan potongan daging-daging tersebut, sementara Nakias dan Philip fokus meracik saus. Mereka melakukan itu sambil bercanda tawa, tentu saja menghadapi candaan Paul yang tidak ada habisnya.
Nakias mulai melupakan fakta bahwa tadi malam ia menghabiskan waktu untuk menangisi perasaannya pada Noah sekaligus kerinduannya pada Seth, sahabat— yang pernah Nakias cintai lebih dari sekedar sahabat– yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Ia menyadari bahwa selama ini, setiap kali ia merasa senang ataupun bahagia, ia cenderung untuk menahan dirinya. Terkadang ia merasa bersalah karena tertawa, sementara sahabatnya itu tidak lagi bisa tertawa. Atau merasa bahwa jika Seth masih hidup, mungkin lelaki itu akan tertawa bersamanya.
Namun ucapan Phoebe kemarin mungkin ada benarnya. Nakias juga berhak bahagia. Ia tidak bisa terus-terusan menahan dirinya untuk bahagia.
Makanya, saat ini, ia mencoba untuk melakukan apa yang telah diucapkan oleh sang adik. I just want you to embrace whatever you’re feeling. Begitu katanya. Saat ini Nakias senang. Ia senang karena bisa mendapatkan teman baru, Paul dan Philip, dari Noah. Dan ia agak sedih mengetahui fakta bahwa mereka harus berpisah sebentar lagi, karena ia dan Noah harus kembali ke New York, sementara Paul dan Philip harus kembali ke Indonesia. Mungkin ini pertama kalinya Nakias secara sadar memperbolehkan perasaannya merasakan semua yang ia rasakan.
Dan Noah, entah bagaimana caranya, menyadari hal itu. Sebab Nakias menjadi begitu ekspresif, entah ketika membalas celetukan absurd Paul, merespon cerita-cerita Philip, atau ketika Noah menyuapinya daging hasil panggangan mereka. Nakias berseru senang, dan hati Noah menghangat menyaksikan hal tersebut.
“Good evening, everyone.” Tiba tiba suara Javier terdengar di speaker yang semula menyetel beberapa musik pop kesukaan Ayah Noah. “Malam papa, mama, om, tante, kakak kakak, adek adek semuanya. How’s everyone doing this evening?”
Mendengar itu, Noah dan Nakias saling bertatapan.
“Naki, sausnya—”
“Bye guys, Nakinya gue culik!”
“NOAH!”
Detik berikutnya, Nakias merasa kakinya bergeras sendiri ketika Noah menarik tangannya untuk berlari, mendekati panggung kecil yang sudah ramai dengan om, tante dan sepupu-sepupu Noah yang lain— yang Noah sendiri tidak akrab dengan beberapa dari mereka sanking banyaknya.
“So, the first song is for my mom and dad. My dad told me he sang this to my mom on their wedding day. Hope you enjoy it!”
Tak jauh dari tempat Noah dan Nakias berdiri, ada pula ayah Noah yang sedang memeluk Ibunya dari belakang. Pasangan itu kini menikmati alunan gitar yang mengalun sebelum anak sulung mereka melantunkan lagu dengan suara indahnya.
“Wise men say…”
Baru satu kalimat saja, Nakias sudah memukul-mukul tangan Noah heboh mendengar Javier bernyanyi. Mind you, Javier adalah penyanyi asal indonesia yang terkenal secara global seperti Niki Zefanya dan lain-lain— yang tiket konsernya dapat sold out hanya dalam kurun waktu beberapa menit saja.
Menonton Javier secara langsung dan gratis membuat Nakias merasa berdosa.
Noah tertawa kecil melihat sikap Nakias yang sangat menggemaskan. Ia pun merangkul bahu Nakias menggunakan tangan kanannya, sedikit menarik tubuh lelaki itu agar lebih dekat.
Dan secara natural, Nakias menggerakkan tangan kirinya untuk memeluk pinggang Noah.
“Shall I stay? Would it be a sin?” Noah ikut melantunkan lagu yang dinyanyikan Javier dengan cara berbisik di telinga Nakias.
Yang lebih pendek lantas menolehkan kepalanya kepada Noah. Mata mereka saling bertatapan untuk benerapa saat. Nakias meneguk ludah, bergelut dengan semua iblis di dalam dirinya, sebelum ia melanjutkan.
“If I can't help… falling in love with you.”
Dengan itu, Noah menundukkan kepalanya mendekati wajah Nakias yang menenggak, kemudian mencium bibirnya dengan lembut.
Dengan lembut, Noah menyangga bagian belakang kepala Nakias dengan satu tangan, tubuhnya membungkus kehadiran Nakias seutuhnya, lalu menurunkan wajahnya untuk memperdalam ciuman mereka yang penuh gairah. Pelukan Nakias di pinggang Noah semakin erat, lidah mereka menari dalam irama yang membuat dunia di sekitar mereka seolah lenyap. Bibir Noah menetap di bibir Nakias dengan begitu dalam, seakan tak menyadari hiruk-pikuk acara keluarga yang berlangsung di sekeliling mereka.
Nakias was lost in the moment.
Lirik lagu yang mereka nyanyikan, ciuman yang mereka bagi, semuanya terasa seperti pertanda bahwa ikatan mereka memang ditakdirkan untuk tumbuh lebih dalam.
Noah tahu Nakias menginginkannya. Dan Nakias tahu Noah juga menginginkannya.
From this moment on, Nakias decided to let his heart lead the way. The future's uncertainties faded away. No more mind over matters. All that mattered was the happiness they found in each other's embrace.
Nakias harap kebahagiaannya tidak akan melukai siapa-siapa, bahkan Seth sekalipun.