Tergantikan?
Suara riuh bangku-bangku yang digeser menandakan bel istirahat pertama baru saja berbunyi. Milo meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku setelah dua jam penuh dicekoki materi sejarah oleh Mrs. Endang.
"Mil, bakso mang ujang gas kaga? Gue udah laper banget ini pengen makan yang kuah pedes," ajak Jio sambil menepuk pundak Milo, tangannya sudah memegang mangkuk plastik kecil berisi sendok garpu pribadi dari kolong mejanya.
Milo menoleh dengan raut wajah agak tidak enak. "Aduh ji... gue kaga ikut ke kantin deh kayaknya. Si Kendrick tadi ngechat katanya udah pesen ayam geprek buat gue, dia lagi ambil makanannya."
Jio yang mendengar hal itu langsung menurunkan tangannya. Senyum hebohnya perlahan memudar, berganti menjadi hembusan napas pelan yang sebisa mungkin ia samarkan agar tidak menyinggung Milo.
"Oh... yaudah deh kalau gitu," gumam Jio. Pandangannya beralih menatap Onat yang kebetulan baru saja berdiri dari kursinya. "Nat, lo bareng gue aja yuk. Si Milo udah ada yang ngurusin tuh, kaga level makan bakso mang ujang lagi dia."
"Woyyy, ngomongnya gitu banget lo ji," tegur Onat pelan, namun ia juga tidak bisa menyembunyikan senyum canggungnya. Onat menatap Milo dengan tatapan maklum. "Yaudah Mil, kita ke kantin duluan ya. Habisin tuh ayam geprek dari cowok lo, ntar kalau udah kelar kabarin aja."
Milo menghela napas gusar melihat punggung kedua sahabatnya yang berjalan menjauh keluar kelas. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyusup di dadanya. Belakangan ini, setiap kali waktu istirahat tiba, intensitasnya berkumpul dengan Jio dan Onat memang menurun drastis. Hampir sebagian besar waktunya tersita oleh kehadiran Kendrick yang selalu sigap berada di sampingnya.
Milo tidak menyalahkan Kendrick, sungguh. Perhatian Kendrick begitu baik, terlampau baik malah. Namun, sebagai orang yang terbiasa mandiri dan memiliki circle pertemanan yang bebas, perlakuan protektif yang tanpa jeda ini lambat laun mulai terasa mengikat.
Langkah kaki yang tegap terdengar mendekat ke arah mejanya. Kendrick masuk ke dalam kelas Milo yang mulai sepi, membawa satu kantong plastik besar berisi makanan hangat dan dua cup es teh manis.
Pemuda jangkung itu tersenyum lebar begitu mendapati Milo yang duduk terdiam menunggunya. Kendrick menarik kursi milik Jio yang kosong, lalu duduk tepat di hadapan Milo tanpa memedulikan sisa-sisa pandangan anak kelas lain yang masih berada di ruangan.
"Nih, masih anget banget ayamnya," ucap Kendrick lembut. Ia membuka kotak sterofoam itu dengan telaten, bahkan memisahkan tulang ayamnya terlebih dahulu sebelum menyodorkannya ke depan Milo. "Makan yang banyak ya."
Milo menatap makanan di depannya lama, membaca dengan saksama bagaimana perhatian demi perhatian yang diberikan Kendrick mengalir begitu natural tanpa beban. Manusia di hadapannya ini murni melakukannya karena sayang. Tapi, bagi Milo yang mulai merasakan hilangnya ruang privatnya dengan teman-teman, rasa manis ini perlahan mulai terasa sedikit... berlebihan.
"Ken..." panggil Milo pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara riuh koridor sekolah.
"Kenapa, sayang? Kurang pedes ya gepreknya?" tanya Kendrick khawatir, tangannya terulur mengusap pelipis Milo dengan tisu basah untuk membersihkan sedikit keringat di sana.
Milo memejamkan mata sejenak, menahan egonya agar tidak meledak di tempat umum. "Nggak... pas kok. Makasih ya."