Makan malam


Suara tawa renyah mengudara di salah satu Private Room bernuansa kayu jati dan ukiran khas Jawa di Restoran Plataran Menteng. Wangi sedap malam berpadu dengan aroma rempah dari dapur sayup-sayup tercium, menciptakan suasana hangat yang jauh dari kata kaku. Tidak ada jas formal yang mencekik leher atau denting gelas kristal yang terlalu serius. Malam ini, semuanya tentang dua keluarga yang mencoba saling mengenal.


Di sudut meja bundar, Ziel Baswara menyesap es lemon teanya sambil bersungut-sungut kecil, menatap ayahnya yang masih tertawa memegangi perut. Pemuda manis berbalut sweater abu abu itu mengerucutkan bibirnya.


"Papa ini ih! Malah ketawa. Ziel tuh beneran deg-degan tahu!" keluh ziel dengan nada merajuk yang jenaka. "Lagian papa aneh-aneh aja. Masa iya ziel baru di wasap sama anaknya Om Hartono tadi pagi, bener-bener baru chat jam tujuh pagi pas ziel lagi gosok gigi, eh malamnya langsung disuruh dinner bahas nikahan bulan depan! Ini kita mau nikahan apa mau bikin candi semalam, Pah?"


“Adekk ih udah jangan bercanda mulu” ucap mamanya.


Tuan Baswara pria paruh baya yang mengenakan kemeja linen santai berlengan pendek kembali meledak dalam tawa. Ia menepuk-nepuk lengan putranya dengan gemas.


"Ya ampun, ziel, anak Papa yang paling bawel. Justru karena waktunya tinggal sebulan, makanya harus gerak cepat! Kalau ditunda-tunda, nanti keburu venue nya dibooking orang," canda ayah ziel, matanya menyipit jenaka. "Lagian, kamu kan jomblo sudah karatan. Papa ini niatnya menolong. Tadi pagi chatannya lancar, kan? Nggak dibales pakai satu huruf doang?"


Ziel hanya mendengus sambil memanyunkan bibir nya.


Namun, sebelum percakapan ayah dan anak itu berlanjut, suara pintu kayu yang digeser mengalihkan perhatian mereka.

"Wah, wah! Sudah diomongin ternyata dari tadi. Maaf, maaf, kami terlambat! Jalanan Thamrin macetnya sudah kayak antrean sembako!"


Suara bariton yang menggelegar ceria itu mendahului sosoknya. Tuan Hartono melangkah masuk dengan senyum lebar yang memamerkan deretan giginya. Pria itu mengenakan kemeja batik bernuansa sogan yang lengannya digulung hingga siku, terlihat begitu membumi dan hangat. Di belakangnya, melangkah sesosok pria tinggi tegap yang seketika membuat ziel lupa cara berkedip.


Jika Tuan Hartono adalah perwujudan matahari yang ceria, maka pria di belakangnya adalah malam yang tenang dan dingin.

Sadewa Hartono.


Pria itu mengenakan kemeja navy polos yang sangat pas membungkai bahu lebarnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, mempertegas garis rahang yang kokoh dan sepasang mata elang yang tajam. Tidak ada senyum lebar seperti ayahnya, hanya segaris senyum tipis yang sopan namun sangat berwibawa. Auranya cool , sedikit mengintimidasi, namun entah kenapa membuat pandangan ziel tak bisa beralih.


"Baswara! Hahaha, apa kabar, Saudaraku?" Tuan Hartono langsung merentangkan tangan, memeluk Tuan Baswara dengan tepukan keras di punggung yang disambut tawa tak kalah meriah oleh sahabatnya itu.


"Kabar baik, Ton! Wah, kamu makin kelihatan muda aja. Pasti karena anakmu mau nikah, kan?" balas Tuan Baswara dengan nada menggoda.

Tuan Hartono tertawa lepas. "Bisa aja kamu. Oh ya, ini, ini yang namanya Sadewa. Dewa, ayo salim dulu sama Om Baswara dan juga tante Gita."


Sadewa melangkah maju. Ia mengulurkan tangan yang besar dan berurat halus, menjabat tangan Tuan Baswara dengan mantap. "Malam, Om, tan. Saya Sadewa," ucapnya. Suaranya berat, dalam, dan terdengar sangat tenang, kontras dengan keriuhan kedua ayah mereka.


"Malam, Dewa. Aduh, ini sih terlalu ganteng buat ziel yang kaya bocah ingusan. Untung Ziel nggak kabur tadi," goda Tuan Baswara sambil melirik putranya yang kini mendadak salah tingkah.

Tuan Hartono menoleh pada Ziel, matanya berbinar ramah. "Lho, lho, ini Ziel, kan? Wah, aslinya jauh lebih manis daripada di foto! Pantesan si Dewa tadi pagi jam enam sudah bangunin Om, nanya, 'Pah, nomor teleponnya Ziel yang mana?' Hahaha!"


"Papa," tegur Sadewa pelan, nada suaranya datar namun ada sedikit raut pasrah di wajah tampannya melihat kelakuan sang ayah.

Ziel yang tadinya canggung seketika tertawa pelan. Rasa gugupnya sedikit luntur melihat interaksi ayah dan anak yang bertolak belakang itu. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya pada Tuan Hartono. "Malam, Om Hartono. Ziel."


"Duh, panggil Papa Hartono aja dong! Kan bulan depan udah resmi," kekeh Tuan Hartono seraya menyalami ziel dengan hangat. "Nah, kenalan dulu sana sama Dewa."


Pandangan ziel kini beralih pada pria jangkung di hadapannya. Dari jarak sedekat ini, ziel harus mendongak sedikit untuk menatap mata Sadewa. Aroma mint dan sandalwood yang maskulin tercium samar. Ziel menarik napas panjang, lalu tersenyum lebar hingga kedua matanya membentuk bulan sabit, memancarkan keceriaan aslinya.


"Halo, Sadewa. Gue ziel," sapa Ziel ceria, mengulurkan tangan kanannya. "Akhirnya kita ketemu."


Sadewa menatap tangan yang terulur itu, lalu beralih menatap wajah Ziel yang cerah. Sudut bibir pria yang terkenal dingin itu tanpa sadar sedikit tertarik ke atas. Ia menyambut uluran tangan Ziel. Telapak tangannya terasa hangat dan besar, menelan tangan Ziel dengan pas.


"Malam, Ziel. Ya, senang bisa bertemu langsung," balas Sadewa tenang. Singkat, padat, dan jelas.

"Duduk, duduk! Ayo kita pesan makan dulu. Saya lapar sekali ini dari siang baru makan roti," seru

Tuan Baswara memecah kecanggungan kecil di antara dua anak muda itu.


Mereka berempat pun duduk. Posisi duduk saling berhadapan; Tuan Baswara dan Ny. Gita di depan Tuan Hartono, sementara Ziel tepat berhadapan dengan Sadewa. Saat pramusaji datang memberikan buku menu, suasana kembali riuh oleh candaan kedua pria paruh baya yang bernostalgia masa muda mereka.


Ziel membuka buku menunya, melirik sekilas ke arah Sadewa yang sedang membaca menu dengan raut wajah sangat serius, seolah itu adalah dokumen kontrak bernilai miliaran rupiah. Jiwa iseng Ziel pun meronta.


"Kamu baca menu apa lagi ngafalin Undang-Undang, Dewa? Serius amat dah," celetuk Ziel tiba-tiba, menopang dagu dengan satu tangan sambil memiringkan kepala menatap calon suaminya itu.


Sadewa mengangkat wajahnya. Ia menatap Ziel sejenak, lalu menutup buku menunya dengan gerakan pelan. "cuma mastiin aja kalo nggak ada bahan makanan yang bikin alergi. Lo ada alergi sesuatu?"

Pertanyaan balik yang tak terduga itu membuat ziel sedikit gelagapan. Ia kira Sadewa akan mengabaikan candaannya.


"E-enggak sih. gue pemakan segala," jawab Ziel sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merutuki dirinya sendiri yang malah salah tingkah. "Kecuali pete. Aku musuhan sama pete."

Sadewa mengangguk kecil. Ia lalu menoleh pada pramusaji. "Gurame Bakar, Sate Ayam, Tumis Bunga Pepaya, dan Sop Buntut. Minumnya es teh manis dua, dan tolong jangan pakai pete di masakan apa pun."


Ziel tertegun. Pria ini bahkan langsung memesankan makanan dan mengingat ucapan spontannya barusan.


"Siap, Mas. Ada tambahan lagi?" tanya pramusaji.

Kedua ayah mereka sibuk menambahkan beberapa menu lain dengan semangat. Setelah pramusaji pergi, Tuan Baswara menepuk meja pelan.


"Nah, sembari nunggu makanan, kita bahas inti pertemuannya. Bulan depan lho ini! Ton, kamu seriusan wo nya udah siap semua?" tanya Tuan Baswara.


"Udah dong! Kemarin saya ancam wo nya, kalau sampai acara nikahan anak saya ini gagal, saya ubah gedung kantor mereka jadi kolam lele," canda Tuan Hartono sambil tertawa keras.


"Bercanda, bercanda! Tapi tenang aja, Bas. wo nya sudah jalan. Undangan cuma seratus orang, kan? Intimate aja keluarga dan sahabat dekat. Betul kan, Ziel?"


Ziel mengangguk antusias. "Iya, Om—eh, Pa. Ziel emang nggak mau yang terlalu ramai, capek nanti senyum terus di pelaminan."


"Setuju," sahut Sadewa tiba-tiba. Tiga pasang mata langsung menatapnya. Sadewa berdeham pelan, memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Saya juga lebih suka acara yang tertutup. Supaya Ziel juga tidak terlalu lelah nantinya."


(tiba tiba sadewa menggunakan bahasa formal untuk menjawab Om baswara)


Hening sejenak di meja itu, sebelum akhirnya Tuan Baswara bersiul pelan menggoda.

"Cieee, Om Baswara perhatiin dari tadi, ada yang aslinya cool tapi perhatiin Ziel terus nih. Jangan-jangan kamu naksir Ziel dari sebelum ini ya, Wa?" goda ayah Ziel sambil mencolek lengan Tuan Hartono.


Semburat merah tipis muncul di telinga Sadewa, meski wajahnya berusaha tetap datar. "Om, saya kan memang calon suaminya. Wajar kalau saya memikirkan kenyamanan Ziel," jawab Sadewa defensif, namun suaranya sedikit canggung.


Ziel tertawa ngakak melihat respons Sadewa. Karakter cerianya langsung mengambil alih. "Ah, masa sih? tadi pagi aja di chat rese banget!! guda ziel.


Sadewa menghela napas pasrah melihat Ziel dan ayahnya berkomplot menggodanya. Tuan Hartono makin keras tertawa.

"Maklumi ya, Ziel. Dewa ini dari dulu kalau disuruh ngomong panjang lebar emang susah. Kayak bayar pulsa per kata," timpal Tuan Hartono.


"Tapi percayalah, kalau soal tanggung jawab, dia nomor satu. Kalau dia nyakitin kamu, lapor ke Papa, biar Papa sunat 2 kali sadewanya!"


"Wah, asyik! Siap, Pa! Nanti Ziel laporin tiap hari," balas Ziel riang, memicu gelak tawa di ruangan itu.


Di tengah tawa tersebut, mata Ziel bersirobok dengan mata Sadewa. Bukannya marah atau terganggu karena diledek, pria dominan itu justru menatap Ziel dengan tatapan teduh. Sebuah senyum tertahan terlihat di sudut bibir Sadewa, seolah ia benar-benar menikmati keceriaan yang dibawa Ziel di tengah meja makan mereka.


Makanan pun datang. Suasana makan malam itu jauh dari kata formal. Tuan Baswara dan Tuan Hartono saling melempar lelucon bapak-bapak yang garing namun tetap membuat tertawa. Ziel sendiri tak henti-hentinya berceloteh menceritakan kejadian lucu di kampus, diselingi candaan jenaka yang membuat suasana semakin hidup.


Sadewa memang tidak banyak bicara. Ia lebih sering mendengarkan, menjawab secukupnya jika ditanya. Namun, diam-diam Ziel memperhatikan. Saat Ziel kesulitan meraih piring lauk yang agak jauh, tangan Sadewa yang panjang dengan sigap menggesernya mendekat ke arah Ziel. Saat gelas teh Ziel hampir kosong, Sadewa memanggil pramusaji untuk mengisinya kembali tanpa diminta.


Gerakan Sadewa begitu natural dan minim suara, tapi presensinya terasa begitu kokoh. Di balik sikap *lcool dan irit bicaranya, ada perhatian kecil yang membuat perut Ziel tiba-tiba terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu. Padahal baru kenal hari ini, batin Ziel geli.


Setelah hidangan penutup berupa es puter disajikan, pembahasan pernikahan kembali dilanjutkan dengan lebih terstruktur.


"Jadi besok lusa, kalian berdua ada jadwal fitting baju ya. Dewa, kamu kosongkan jadwal siangmu. Jangan sampai kamu biarkan Ziel nunggu di butik sendirian," titah Tuan Hartono dengan nada yang sedikit tegas kali ini.


"Sudah saya kosongkan dari jam satu siang, Pa," Sadewa sigap. Pria itu kemudian menatap Ziel. "Besok lusa, saya jemput di rumahmu. Jam dua belas siang, bagaimana?"


Ziel mengerjap. "Eh? Boleh tuh. Nanti gue di shareloc aja. Eh, maksudnya, gue yang shareloc ke kamu ya alamat rumahnya."


"gue udah tahu alamat lu cill dari Om Baswara," balas Sadewa tenang.


Ziel menoleh tajam ke arah ayahnya. "Papa! Kok main kasih alamat sembarangan sih?"

Tuan Baswara terkekeh tanpa dosa. "Lho, kan ke calon mantu. Sama sekalian Papa kasih tahu makanan kesukaan kamu, warna kesukaan kamu, sampai ukuran sepatumu. Biar praktis pdktannya."


"Pah!" rengek Ziel, menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangan, sementara dua bapak-bapak di meja itu kembali tertawa puas.

Sadewa menatap pemandangan itu dalam diam. Tangannya di bawah meja terlipat dengan santai. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang selalu terstruktur dan serius, ia merasa kekacauan kecil yang dibawa oleh keluarga Baswara ini... menyenangkan.


Sekitar pukul sembilan malam, makan malam itu akhirnya usai. Saat berjalan keluar menuju area parkir restoran yang rindang, Tuan Hartono dan Tuan Baswara masih sibuk mengobrol di depan, membahas tentang rencana bermain golf minggu depan.


Ziel berjalan agak lambat di belakang karena sibuk membalas pesan di ponselnya, tanpa sadar langkahnya sedikit terseret. Tiba-tiba, sebuah tangan besar meraih lengannya pelan, menariknya sedikit ke samping agar tidak tertabrak pelayan yang sedang membawa nampan kotor.


Ziel mendongak, mendapati Sadewa kini berjalan di sebelahnya. Pria itu sudah melepas kancing teratas kemejanya, membuatnya terlihat sedikit lebih santai dibandingkan saat awal datang.

"Kalau jalan, lihat depan. Jangan fokus ke HP terus, nanti jatuh," ucap Sadewa dengan suaranya yang berat.


Ziel mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku. Ia memiringkan tubuhnya sedikit menghadap Sadewa sambil tetap berjalan beriringan.


"Iya, iya, Maaf. Eh, ngomong-ngomong... maaf ya kalau tadi Papa ku sama aku terlalu heboh. Papa tuh emang gitu, suka bercanda sembarangan. Apalagi Om Hartono juga ternyata sefrekuensi. Kamu dari tadi agak pendiam, pusing ya dengar kita ngoceh?" tanya Ziel sedikit merasa bersalah. Bagaimana pun, ini pertemuan pertama mereka.

Sadewa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia menoleh ke arah Ziel, menatap lurus ke dalam manik kecokelatan pemuda manis di sebelahnya.


"gak keberatan juga," jawab Sadewa santai. "gue emang bukan orang yang banyak bicara tapi gue lebih suka dengerin. Terutama..." Sadewa menjeda kalimatnya sejenak, membuat Ziel penasaran. "...dengerin lo ngomel soal chatan kita."


Mata Ziel membulat, lalu tawa renyahnya kembali pecah di udara malam.


Mereka sampai di area parkir. Tuan Baswara sudah berdiri di dekat mobil SUV mereka, melambaikan tangan ke arah Ziel.


Sadewa menatap punggung berbalut sweater abu abu itu hingga masuk ke dalam mobil. Tidak ada kata cinta, tidak ada panggilan romantis malam ini. Namun, saat Sadewa masuk ke dalam mobilnya sendiri dan menyalakan mesin, senyum tipis di bibirnya tak kunjung luntur. Di balik perjodohan mendadak dan waktu yang singkat, Sadewa tahu, adaptasinya dengan Ziel akan menjadi perjalanan paling menyenangkan dalam hidupnya.