“Serius banget mainnya.”
Noah terperanjat kaget ketika ia mendengar suara seseorang dari belakang tubuhnya, membuat lelaki tinggi itu refleks membuka mata dan menghentikan gerakan tangannya pada tuts piano. Namun, ketika menyadari suara itu, senyuman pada bibirnya refleks merekah.
“Ngagetin loh, Na. I didn’t hear your footsteps.” Ujar Noah.
Nakias menyengir, kemudian duduk di bangku piano, di sebelah Noah, yang ternyata sangat pas untuk dua orang. Sebenarnya, Nakias tidak sengaja melihat Noah dari luar auditorium. Karena sesi latihan Nakias dengan teman-temannya dari jurusan menari dan drama sudah selesai, ia memutuskan untuk menghampiri Noah yang sedang bermain piano sendirian.
“Sorry, gue gak nyangka lo semenghayati itu sampe gak denger gue dateng, hehe.” Sahut Nakias, cengengesan. “Kok latihannya di auditorium?”
Noah menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, menatap ratusan bangku-bangku kosong yang ada dihadapannya, sebelum beralih untuk menatap ke arah laki-laki yang lebih mungil. “Supaya feel ditonton banyak orangnya kerasa. Udah hampir sebulan semenjak resital piano gue waktu itu, terus gue gak pernah main di depan banyak orang lagi. Gue gak tau bahkan masih bisa nyebut diri gue sebagai pianist atau enggak.”
“Berlebihan ah. Masih penting kualitas dibandingkan kualitas, tau.” Ucap Nakias. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Noah, dan memperhatikan raut Noah dengan seksama. “Dahi lo dikerutin lagi. Mirip kayak waktu pertama kali gue ketemu lo. Are you okay?”
Hati Noah cukup tersentuh. Biasanya, orang-orang– bahkan Edwin dan Barbara, tidak akan menyadari pergantian mood Noah karena lelaki itu bisa dibilang tidak begitu ekspresif. Tetapi Nakias, entah bagaimana caranya, bisa langsung menyadari bahwa Noah sedang tidak baik-baik saja.
“Keliatan?” Tanya Noah, memegangi dahinya.
“Gue kan pakar ekspresi,” Nakias mengangkat bahunya sombong. “Mind to share?”
Noah diam beberapa saat. Memikirkan apakah ia boleh menceritakan tentang hal yang menyangkut mantan kekasihnya kepada Nakias atau tidak— mengingat belakangan ini keduanya gencar mendekati satu sama lain dalam konteks romansa.
“Would you mind if I share?”
“Kan gue yang nawarin duluan, gimana sih.” Nakias menyenggol bahu Noah. “Mantan lo, ya?”
“Lo pakar ekspresi atau cenayang?” Noah menatap Nakias heran, membuat laki-laki di sampingnya refleks tertawa.
“Dua-duanya kali.” Sahut Nakias asal. “Jadi, kenapa dia?”
“He’s getting married in October.”
“Oh, dia mau nikah.” Nakias mengangguk-anggukan kepala.
Jauh di dalam lubuk hati Noah, lelaki itu cukup terkejut melihat respon Nakias yang terlihat biasa saja. Ia tidak tampak terganggu sama sekali dengan fakta bahwa Noah sedang memikirkan mantannya sekarang. Apa ini karena Nakias tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya? Namun setelah ia pikirkan lagi, Nakias memang selalu tenang dalam menghadapi apapun. Kecuali menghadapi kucingnya yang suka memakan bunga, tentu saja.
“Oktober masih lama banget kok. You still got time to move on.” Sambung Nakias, kali ini ia meletakkan tangannya pada punggung Noah, seakan-akan ingin menyalurkan kekuatan pada laki-laki itu.
“Lo gak marah?”
“Marah buat…?”
“Marah karena gue belum move on tapi udah berani ngedeketin lo.” Jelas Noah. “Semua temen– bahkan kakak gue ngeliat itu as a bad thing, gue juga beberapa kali mikirin tentang ini. Tapi lo keliatan biasa aja.”
“Emang lo selama ini lagi ngedeketin gue?” Nakias menahan tawanya ketika ia melihat perubahan ekspresi Noah yang seakan berkata seriously? Nakias? “Bercandaaaaaaaa.” Kekeh Nakias.
“Gue dari awal tau kok, pasti gak gampang buat move on secepet itu dari hubungan yang udah terjalin lama banget.” Nakias memberi jeda, menggunakan waktu beberapa detiknya untuk meletakkan dagunya di bahu Noah, menatap laki-laki itu dengan senyuman manis. “Tujuan gue masih sama kayak waktu pertama kali kita ketemu, to take your mind off the sadness. Gue cuma pengen liat lo seneng kalau lagi sama gue, and that’s all. Gue gak berharap lebih.”
Noah terkekeh, kemudian menjawil hidung Nakias. “Jujur, lo dibayar berapa sama Tuhan buat bikin gue senyum terus?”
Tak dapat Nakias pungkiri, ia cukup terkejut dengan pertanyaan absurd yang ditanyakan Noah. Sebab, faktanya, ia memang mendapat bayaran dari– ah. Fokus, Nakias, jangan keluar dari karakter.
“Lo gak bakal bisa bayangin deh pokoknya.” Sahut Nakias dengan cengiran.
“Thank you ya, udah ngertiin gue.” Noah tersenyum, kemudian menyelipkan poni Nakias yang sudah lumayan panjang ke belakang telinga lelaki itu. “Gue nggak ngerti kenapa orang sebaik lo punya banyak haters.”
“Haters?” Nakias mengernyitkan dahi, kemudian menjauhkan kepalanya dari pundak Noah.
“Gue denger beberapa rumor tentang lo belakangan ini, sebenernya.”
“Oooh, yang mana?” Sekali lagi, Nakias tampak tenang dan tidak terganggu sama sekali. Noah benar-benar kagum dengan kemampuannya mengolah emosi.
“Ada yang bilang lo suka ngerebut pacar orang, ngerusakin hubungan orang, dan gonta-ganti pacar kayak ganti baju. Tapi lo tenang aja, gue nggak percaya semudah itu kok.”
Nakias menganggukan kepala, mengerti tentang isu yang sedang Noah bicarakan. “Rumornya gak 100% salah kok. Gue emang sering– baik sengaja maupun gak sengaja, ngerusakin hubungan orang. Tapi kalau tentang gonta-ganti pacar, kayaknya gak sesering itu buat jadi bahan omongan orang, ah.”
“Hah?”
“Kaget ya?”
“Ya … lumayan sih.”
“Video gue berantem di party orang, udah sampe ke lo juga?”
“How did you know?”
“Gue udah melewati masa-masa dihujat massal gara gara video itu, cewek yang gue bikin putus sama pacarnya tuh pasangan favorit semua orang, hehehe.” Nakias menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Kalau lo jadi pengen ngejauhin gue karena gue ngakuin hal itu, gapapa kok. Gue udah mulai terbiasa ditinggalin.”
“Nakias … nggak gitu.”
Noah benar-benar bingung harus menanggapi seperti apa. Di satu sisi, ia sangat terkejut karena Nakias mengakui rumor tidak enak tentangnya, sementara di sisi lain, Noah tidak ingin meninggalkan Nakias begitu saja.
Lagipula … itu tidak merugikan Noah, kan?
“Gue boleh tau nggak, alesannya kenapa?”
“Kalau gue milih buat gak ngasih tau, lo bakal ngejauh karena gue brengsek atau nggak?”
Noah menggelengkan kepala. “Enggak. Lagipula, gue juga nggak lebih baik dari lo, Na.”
Mendengar itu Nakias tertawa. Ia kembali ke posisi semula, meletakkan dagunya di bahu Noah. “Negatif sama negatif kan jadi positif, kan ya?”
“Kurang tau,” Noah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nakias hingga hidung mereka bersentuhan. “Tapi kalau ngelakuin hal negatif sama lo sekarang, gue mau.”
“Noah … nggak di auditorium juga kali.”