Martabak langanan
Angin sore Jakarta berhembus cukup kencang, menabrak kaca helm Milo yang tertutup rapat. Tangannya mencengkeram ujung jaket denim milik Kendrick dengan erat, seolah takut terjatuh, padahal motor matic itu melaju dengan kecepatan yang kelewat santai. Milo memejamkan matanya rapat-rapat. Sisa-sisa sentuhan punggung tangan Kendrick di rahangnya tadi di basement masih terasa hangat, merambat naik hingga membuat kedua telinganya memerah sempurna.
"Lo kedinginan, Mil?" suara berat Kendrick memecah keheningan, mengalahkan deru mesin motor dan bisingnya kendaraan yang berlalu-lalang di simpang jalan.
Milo tersentak kecil, buru-buru membuka mata dan mengatur napasnya. "Nggak usah sotoy lo! Gue kepanasan ini, makanya diem aja!" elaknya cepat, meski suaranya sama sekali tak segalak biasanya. Terdengar lebih seperti cicitan.
Terdengar kekehan pelan dari balik kemudi. Punggung tegap Kendrick bergerak sedikit saat cowok itu tertawa. "Kalau kepanasan, kaca helmnya dibuka sedikit. Biar anginnya masuk."
Tangan kiri Kendrick terlepas dari stang motor, meraba ke belakang dengan presisi yang membuat jantung Milo hampir copot. Alih-alih menarik tangan Milo, jari-jari panjang itu justru menemukan sisi helm Milo, lalu dengan gerakan yang terlampau halus mendorong kaca helm itu ke atas agar terbuka setengah. Udara sore langsung menerpa wajah Milo yang tengah merona hebat.
Sinting. Batin Milo menjerit kalut.
Sesampainya di depan kedai martabak Bangka, Milo buru-buru turun dari boncengan bahkan sebelum Kendrick mematikan mesin motor sepenuhnya. Ia melangkah cepat menuju gerobak, berpura-pura sibuk membaca daftar menu yang terpampang, meski ia sudah hafal di luar kepala apa pesanan ibunya.
"Bang, martabak manis keju susu satu ya. Menteganya banyakan," ucap Milo memecah kecanggungan.
Kendrick menyusul di belakangnya, berdiri dengan jarak yang tak bisa dibilang jauh. Wangi mint bercampur aroma sabun bayi dari tubuh cowok jangkung itu kembali menginvasi indera penciuman Milo. Kendrick tiba-tiba merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar pecahan seratus ribu dan menyodorkannya pada penjual.
"Gue aja yang bayar, Mil."
Raut Milo berubah panik. Ia buru-buru menepis pelan tangan Kendrick dan mengeluarkan dompetnya sendiri. "Duit lo simpen aja buat makan besok! Lo kira gue kere apa sampai beli martabak doang harus dibayarin lo?" omelnya pelan, matanya mendelik tajam namun lucunya sama sekali tidak terlihat mengintimidasi di mata Kendrick.
"Kan buat Bunda. Hitung-hitung gantiin sop buntut waktu gue numpang sakit kemarin," balas Kendrick tenang, sama sekali tidak menarik uangnya mundur.
"Gak usah aneh-aneh! Nanti lo akhir bulan makan promag doang di kosan gimana urusannya? Udah, Bang, pakai uang saya aja!" Milo buru-buru menyerahkan uang pas ke abang tukang martabak agar perdebatan itu usai.
Kendrick akhirnya hanya tersenyum tipis, mengalah dan memasukkan kembali uangnya. Namun, bukannya kembali menjaga jarak, tangannya kini beralih menepuk puncak kepala Milo dengan pelan. Ia memberikan usapan ringan di sela-sela rambut Milo yang sedikit berantakan karena helm, membuat cowok di depannya itu mematung seketika.
"Iya, bawel. Makasih ya martabaknya."
Milo menelan ludah susah payah. Tubuhnya kaku bak disemen. Ia membuang muka ke arah jalan raya, sama sekali tak berani menatap mata legam Kendrick yang entah sejak kapan tak lagi tertutup kacamata tebal retak itu. Ia lantas menunduk, pura-pura sibuk mengecek resleting jaketnya sendiri.
Anjing seribu anjing. Umpat Milo dalam hati. Kapan sih jantungnya bisa berdetak normal kalau di dekat manusia ini?
Sembari menunggu martabaknya matang, Kendrick berjalan menuju minimarket di sebelah kedai untuk membeli sebotol air mineral. Milo memilih menunggu di kursi plastik panjang yang disediakan penjual. Tangannya bertumpu di atas paha, kakinya sedikit diayunkan untuk mengusir rasa gugup yang tak kunjung reda.
Dari kejauhan, dua orang siswi berseragam SMA lain yang kebetulan sedang jajan es boba di seberang jalan, sedari tadi memperhatikan arah kedai martabak sambil berbisik-bisik dan tertawa kecil. Tak lama, salah satu dari mereka memberanikan diri menyeberang dan menghampiri kursi tempat Milo duduk. Milo yang sedang menunduk mengusir kerikil dengan ujung sepatu lantas mendongak.
"Permisi, Kak," sapa siswi berambut sebahu itu dengan senyum malu-malu, tangannya menggenggam ponsel erat-erat. "Tadi aku lihat Kakak sama temennya yang jangkung pakai jaket denim. Temennya yang ganteng tadi mana ya, Kak? Boleh nggak aku minta nomor wa atau usn Instagramnya?"
Milo menganga kecil. Rasa canggung yang tadi menyelimutinya mendadak menguap entah ke mana, digantikan oleh sengatan panas yang entah kenapa membuat ubun-ubunnya mendidih. Milo menegakkan punggungnya, raut wajahnya yang sedari tadi merona kini berubah menjadi datar dan sedikit dingin. Insting posesifnya menyala tanpa permisi.
"Oh, temen gue?" balas Milo dengan nada yang kelewat datar. Matanya menatap siswi itu dengan pandangan menilai yang lumayan sinis. "Hp dia rusak nggak punya wa, apalagi Instagram."
"Eh? Masa sih Kak hari gini nggak punya wa?" gadis itu merengut tak percaya. "Kalau gitu nama—"
"Mil, ini minum."
Ucapan siswi itu terpotong saat Kendrick tiba-tiba muncul dari arah belakang kursi, menyodorkan botol air mineral dingin yang sudah ia bukakan tutupnya ke arah Milo. Kemeja hitam tipis yang membalut tubuh bagian atasnya mencetak bahu lebarnya dengan sempurna. Tatapan tajam Kendrick yang semula tenang langsung mengintimidasi begitu ia menyadari ada eksistensi orang asing di dekat Milo.
"Ada apa?" tanya Kendrick dingin, matanya beralih menatap gadis itu tanpa minat. Aura mengancam khas Kendrick si crazy rich yang terbiasa hidup keras sedikit merembes keluar, membuat gadis di depannya itu sontak gelagapan dan mundur selangkah.
"E-enggak Kak... maaf," cicit siswi itu, lalu buru-buru berbalik dan berlari kembali ke arah temannya di seberang jalan dengan wajah ketakutan.
Kendrick mendengus pelan, lalu mengambil tempat duduk tepat di sebelah Milo. Jarak di antara paha mereka nyaris tak ada celah. "Siapa tadi, Mil? Temen lo?" tanyanya lembut, auranya langsung berubah seratus delapan puluh derajat menjadi selembut kapas begitu matanya menatap Milo.
"Bukan," jawab Milo ketus. Ia merebut botol air mineral itu dengan sedikit kasar, lalu meneguknya untuk meredakan emosinya yang tiba-tiba tak stabil. "Cewek caper nanyain lo. Minta nomor wa lo."
Kendrick menaikkan sebelah alisnya, raut wajahnya tampak menahan tawa melihat bibir Milo yang mengerucut sebal. "Terus? Lo kasih?"
"Nggak lah gila! Gue bilang aja hp lo rongsokan kaga bisa instal wa!" sungut Milo tanpa sadar kembali menggunakan nada ngegas andalannya.
Ia menaruh botol itu di kursi dengan bantingan pelan. "Lagian lo kenapa sih pakai acara ngelepas kacamata segala? Diliatin orang mulu kan lo sekarang dari tadi di jalan!"
Bukannya marah, senyum Kendrick justru perlahan mengembang. Cowok itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, membiarkan bahunya bersentuhan dengan bahu Milo.
"Biarin aja orang mau ngeliatin kyk gimanapun," Kendrick berucap santai. Tangan kanannya bergerak menopang dagu, lalu memiringkan kepalanya untuk menatap tepat ke netra kecokelatan milik Milo yang kini sedang salah tingkah menghindar. "Toh, yang bisa duduk sedekat ini sambil dibukain botol minumnya cuma lo doang, Mil."
Jantung Milo berdetak brutal hingga rasanya menyakiti tulang rusuknya sendiri. Wajahnya yang semula ditekuk kesal kembali diserbu warna merah padam yang menjalar cepat dari pangkal leher hingga ke ujung telinga.
Tak mau kesal dan salting lebih lama lagi, Milo akhirnya memutuskan untuk berdiri dengan gerakan kaku, menyambar kantong plastik berisi martabak yang baru saja selesai dibungkus oleh si abang penjual.
"B-bacot lo!" makinya dengan suara bergetar yang sama sekali tak punya nyali, sebelum akhirnya berlari kecil menuju motornya sendiri.
"Buruan balik! Bunda udah nungguin martabaknya keburu dingin!"
Anjing seribu anjing, tolong musnahin aja Kendrick dari bumi malam ini juga. Umpat Milo frustrasi dalam hati, menutupi senyumnya yang tanpa sadar mekar di balik helmnya yang gelap.