DELICATE: PHUKET

Suara Kencang dari musik di depan memekakkan telinga. Lampu gemerlap makin memeriahkan Club itu. Weekend di phuket memang ramai. Apalagi Riki datang sebagai tamu Vvip yang berdansa di bagian atas dengan para artis yang sedang berlibur.


Lea sudah Giovi peringatkan untuk jangan sampai membiarkan Riki mabuk atau nyawa Lea taruhannya. Jadi si sekertaris berusaha keras menjaga sang Nyonya— atau mungkin gagal.


“Nyonya udah dong.. nanti saya dipecat pak Giovi kalau ketahuan Nyonya minum.” Lea hampir menangis disana mencoba menghentikannya.


“Aduh dikit lagi Lea, lagian juga saya gak gampang mabok kok!”


Lea mengacak rambutnya sendiri frustasi.


Baru saja kembali menari, Riki berhenti sejenak saat melihat orang yang menjadi musuhnya tadi berdansa di lantai yang berbeda. Riki mendekat di ujung lantai, menatapnya rendah sembarii tertawa kecil dengan Lea.


Keyla tentu tak bisa naik, hanya orang terpilih yang ada di atas.


“Kenapa dibawah? Gak mampu ya buat naikin value diri sendiri buat bisa dancing di sini?” Tanya Riki. Keyla membuang wajahnya kesal, harusnya tadi sore dia tidak cari masalah.


Saat Riki hendak meneguk alkohol di gelasnya, sebuah tangan menghentikannya. Lea jatuh berlutut di lantai sedangkan Riki tertegun. Mampus, ketahuan.


“Padahal udah janji.” Suara rendah Giovi mampu masuk kedalam pendengarannya walau suara musik sekencang itu.


“A-anu..” Riki gagap sedangkan Lea sudah hampir menangis.


“Lea, saya kan udah nyuruh kamu buat jagain. Kok masih aja lepas? Sekongkol?”


“Engga pak, asli. Aduhh.” Lea menangis dan Riki malah tegang.


“Bukan salah Lea.”


“Tau kok, salah kamu. Mau lanjut di sini apa pulang?.”


Riki menunduk, “Pulang..”


---


“Aku gak marah kalau kamu mau party atau segala macem. Tapi ya jangan sampe hilang kendali aja. Kalau sama aku boleh.”


Genggaman tangan Giovi belum di lepas bahkan sejak mereka sampai di villa. Riki jadi takut sendiri, dulu memang sering mereka bertengkar. Tapi untuk sekarang menatap Giovi saja takut.


“Maaf.”


“Bakal diulangi gak?”


“Engga.”


“Padahal aku baru mau ngomongin soal perjanjian itu. Tapi kamu malah bikin ragu.”


Mata Riki terbelalak. Giovi mengambil satu surat di tas kerjanya. Perjanjian pergantian ahli waris.


“Ah! KOK GITU SIH.” Riki memekik mencengkram tangan Giovi dengan wajahnya memelas.


“Gimana ya..”


“GIO!”


Giovi menunduk dengan senyum mengejek kearah Riki.


“Bisa kamu tuker sama yang lain,” Ujarnya mengecup sekali. “Kalau kamu mau..”


Jelas Riki tau apa yang Giovi maksud. Tapi dia tak mau hamil, ya walau kemungkinannya kecil dia akan hamil.


Tapi daripada kesempatannya hangus, lebih baik Riki terima.


“Ta-tapi pake kondom..”


“Kenapa?” Riki berdecak.


“Takut Hamil!” Giovi tertawa. “Kalau hamil kenapa? Kita gak ada masalah finansial tuh?”


“Takut..” cicitnya mirip anak kecil. Giovi menghela nafasnya dan mengangguk.


“Ada hadiah di kamar mandi. Pake itu, aku keluar dulu beli kondom.”


---


Riki duduk di kasur dengan memakai jubah mandi, menutupi pakaian yang Giovi belikan untuk dirinya. Suara pintu terbuka membuat tengkuknya merinding. Giovi hadir, melepas jaket hingga hanya tersisa kemeja putih yang sudah sedikit terbuka. Kancing bagian atas itu lepas karena Riki tarik.


Giovi berjalan mendekatinya, menunjukan tiga kotak kondom yang tadi ia beli. Riki mendelik sedikit merinding.


“Buat apa beli tiga? Satu aja cukup kali.”


“Stok buat besok.”


BESOK? IDIH GAMAU BANGET.


Tiga kotak kecil itu Giovi lempar sedangkan dirinya menunduk dan mencium Riki yang duduk. Tanpa aba aba membuat Riki memundurkan duduknya hingga wajah terdorong ke belakang oleh ciuman Giovi.


Ciumannya dalam, bagi Riki cukup mendebarkan. Bibir keduanya menyatu padu, Giovi salurkan nafsu dan kehangatan menjadi satu. Lidahnya berusaha mencengkram milik Riki, membelit di dalam hingga Riki hampir tersedak.


Giovi mendominasi. Tubuh Riki ia dorong hingga telentang dan menindih diatasnya. Hisapan pada mulut itu tak berhenti, bibir bawahnya Giovi sesap menikmati manis dari liptint yang Riki pakai.


Tangan besar itu meraba raba, sedikit bathrobenya terbuka hingga dada yang ditutupi lingerie pink itu terbuka.


Riki berantakan, bibirnya sedikit bengkak karena terus terusan dihisap Giovi. Saat ciumannya terlepas, nafasnya memburu kehabisan oksigen.


Giovi tersenyum lebar. Menatap Riki dengan penuh nafsu sedangakan sang empu kewalahan. Bathrobenya tak karuan, sekali ditarik bisa langsung terlepas. Apalagi Lingerie yang Giovi beri itu keseluruhannya renda, seperti tidak pakai baju kalau dia lepas.


“Kenapa? Do i look a mess?” Tanya Riki saat wajah sumringah Giovi tak luntur. Prianya mengangguk.


“But you’re my mess.” Dia bangga bicara seperti itu. Antara tersipu dan malu sudah tak ada bedanya. Riki gila hanya karena lelaki di depannya membuka kancing kemeja perlahan-lahan. Rasanya ingin ia tarik hingga para kancing berantakan terlempar kemana mana.


Kakinya sedikit mengangkang dan sisi kanan Bathrobenya jatuh hingga pundak telanjang si cantik terekspose kemana mana.


Mirip malam pertama. Karena sejujurnya bagi Riki yang asli, ini adalah pertama baginya berhubungan. Untuk usia 27 tahunnya, dia tak pernah bermain dengan seseorang hingga semendebarkan ini.


Seluruh kemeja itu terlepas, menyisakan celana dengan tengah yang mengembung. Tatapan Giovi tak luput dari wajahnya. Seakan sudah menyusun bagaimana saja hal yang harus ia lakukan untuk membuat Riki hancur malam ini.


Yang cantik takut sendiri. Bagaimana kalau nanti tiga bungkus kondom itu **habis semua?**



Tangan Giovi terulur, menarik tali bathrobenya hingga keseluruhan badan putih itu terekspose. wajah suaminya mendekat, memberi rasa geli di bagian leher lalu turun ke tulang selangka.


Menghisapnya hingga tanda kemerahan muncul. Berkali kali, Giovi buat di beberapa tempat yang sekiranya orang bisa lihat jika Riki keluar memakai baju.


Pinggul kecil Riki bisa ia cengkram dengan satu genggaman. Riki mendengak pasrah saat Giovi berikan cumbuan di seluruh tubuhnya. Ciuman ciuman tadi turun hingga pusar dan berakhir pada selangkangan yang hanya tertutupi celana dalam berenda. Giovi gigit cd itu hingga terlepas dari kedua kaki ramping Riki.


Sudah sedikit basah, jadi Giovi jilat cairan precum tersebut seperti anjing lapar sampai Riki merona lagi. Kini liangnya sudah polos tanpa kain, Riki terduduk sedangkan Giovi sudah bersimpuh di lantai.


Usai dengan celana tadi, fokusnya kini beralih pada memek di hadapan. Kedua tangan Giovi menahan paha Riki dan wajahnya mendekat untuk menghisap bibir bawah itu. Lidahnya menjilat klitoris dan turun hingga libia. Liurnya tercampur dengan cairan Riki. Giovi hisap sampai meminumnya.


Sengatan pada bagian selatan itu membuat Riki menegang, tangannya menahan tengkuk belakang Giovi hingga lebih dalam memakan memek.


Pahanya sedikit bergetar, apalagi saat klitoris itu dihisap kuat hingga Riki kelojotan dan bucat untuk pertama kali. Padahal baru mulut, Riki sudah tak bisa membayangkan bagaimana nanti kalau sudah kontol Giovi yang masuk.


Aa–ahh..” desahnya saat hisapan terakhir Giovi menelan seluruh pelepasannya.


Giovi bangkit dari bersimpuh, menyelaraskan tinggi untuk ia kulum lagi bibir plum Ricky yang sudah sedikit bengkak.


Tubuhnya menindih si cantik lalu menyibak kain renda yang menghalangi selangkangannya. Tangan Giovi menurunkan resleting celana tanpa melepas pagutan, meraih sekotak kondom fiesta yang ada di sebelah kepala Riki.


Ciumannya berhenti sejenak, dengan satu tangan Giovi rusak kotaknya hingga tiga bungkus kondom jatuh di perut Riki. Dia ambil salah satu dan merobeknya dengan gigi, menurunkan boxer mengembung itu hingga terlihat kontol Yang menegang di hadapan Riki.


Saat kondom itu terpakai, deru nafas Giovi terdengar memburu. Riki meneguk ludahnya kasar dengan siku membawa badan ringkih itu sedikit mundur.


“Kenapa mundur? Kamu gak bisa lari Riki..”


Merinding. Mata Giovi menggelap dengan tatapan sendu berhasil membuat Riki merinding. Giovi naik ke kasur dengan pelan menghampirinya. Mata predator itu makin membuat Riki takut, badannya terus mundur hingga hampir terjatuh dari kasur.


Giovi menahan kakinya, manarik dengan satu tangan hingga Riki jatuh telentang. Seluruh celana Giovi ia lepas hingga polos tanpa pakaian.


“I-itu kayaknya gak akan masuk.” Cicit Riki merapatkan kakinya hingga memeknya tertutup. Tangan Giovi masuk di sela kedua kaki itu lalu membukanya lebar.


“Emangnya kamu pikir Zhen sama Jinan dibikin dari tepung?.”


Sialan, bisa bisanya bercanda di keadaan tegang begini.


Jari telunjuk Giovi mengelus pelan bibir memek Riki hingga sang empu mendesis nikmat sembari terpejam. Wajah sumringahnya kembali hadir hingga mendekat memeluk Riki.


I’ll be gentle Riki..” bisik Giovi pelan sebelum akhirnya memasukan kontol besar itu kedalam liang kawin Riki.


AA-ahhh.. Vi, gakh muathh.. a-awhh sakit..” Riki merengek memukul dada Giovi berkali kali. Tak dihiraukan, justru Giovi makin dalam menanamkan kontolnya hingga memek Riki hampir robek.


Riki menangis, perihnya nyata sampai ke perut yang terasa tonjolannya dari luar.


Rasanya kayak ada botol kecap masuk lewat meki. Dia masih bisa berfikir absurd begitu.


Giovi mencium kelopak matanya, menghapus jejak air mata yang turun di pipi sembari diam sejenak menenangkan Riki yang seperti perawan baru dikawini.


“Shhhh jangan nangis, aku pelan okay?”


Riki kembali diam, menenangkan dirinya berfikir kalau mungkin setelah ini enak, walau lebih banyak penyangkalan sih.


Dia tak pernah tau kalau pertama kali memang seperih ini. Atau karena Ruiki tidak pernah bercinta lagi? Atau faktor luka sesarnya? Ah, Riki saat itu seperti terbelah dua.


Giovi sedikit mengangkat kaki Riki hinga melingkar di pinggangnya. Bagian selatan mulai menghentak menggempur milik Riki hingga sedikit cairan amis tercium dari bawah selangkangannya.


Riki berdarah


“Vi… awhhh.. perih.”


“Kamu kayak perawan aja memeknya berdarah.” Ujar Giovi sembari mencolek libia Riki hingga darah tersebut mengalir di jari telunjuknya. Giovi jilat hingga Riki makin merinding.


Tangan Giovi mengangkat pinggul Riki dan perlahan menghentakan bagian bawah, si cantik mendesah hingga kepalanya mendongak saat memeknya terasa kelu dan kakinya kesemutan.


Haa-ahh… Vi..” desir suara Riki tertahan sembari menggigit jemarinya sendiri. Bukan cuma darah yang kini membasahi memek, bahkan cairan precum juga semakin mengalir hingga kontol Giovi terasa licin keluar masuk lubang kawinnya.


“Sempit banget Ki, rapet kayak perawan.” Entah pujian atau hanya ujaran kata asal semata, yang pasti suara rendah Giovi membuat libido Riki naik. Selangkangannya mengangkang lebar seperti pasrah jadi lacur, pentilnya juga menegang. Apalagi tetesan peluh dari dahi Giovi berjatuhan mengalir di dadanya.


Vihhh.. Ah-ahh..”


Riki baru pertama kali ngentot begini. Dia gak paham bangaimana bisa orang kecanduan kelamin sedangkan dirinya malah kesakitan karena perih. Tapi saat Giovi menciumnya lagi, rasa perih itu perlahan menghilang dan berubah jadi sengatan yang lebih mematikan.


Tangan Giovi lihai memainkan puting mencuat di dada. Ia cubit cubit keras seperti ingin mencopotnya. Di bawah juga tidak berhenti bergerak, terus menggempur sampai darah yang tadi mengalir silih berganti terkikis cairan bocor Riki.


Riki jadi terbawa suasana, candu sendiri dengan apa yang Giovi berikan padanya. Riki suka putingnya di plintir seperti itu, lama lama juga dia suka memeknya yang tadi perih di gempur habis seperti ini.


Lama lama rasa nikmat itu bertambah hingga Riki sendiri jadi kelaparan. Matanya memicing hampir juling menyatu padukan ciuman dan lidah yang tak berhenti bergesek.


Giovi makin menambah temponya, pagutan Riki lepas dengan dagu basah banjir liur keduanya.


Ah—ahhh Vi..” desahnya sembari kelojotan menerima afeksi serta hentakan keras di bawah. Memek Riki yang tadinya gatal seketika merasakan euforia saat digaruk kontol besar berurat Giovi.


Tangan sang dominan juga turun, mengucek klitorisnya sampai dua kaki Riki tak bisa diam.


“Vi.. mau pipishh.. mau pipis..” gesekannya Giovi percepat hingga kuku Riki menggores punggungnya dan bucat bersamaan.


Satu kondom terisi penuh.


Giovi melepasnya, mengikat kantung karet itu lalu mengambil bungkus yang lain.


Riki mengelap liurnya di dagu sembari menarik nafas. Gila, ini baru satu ronde.


Selesai dipakai, Giovi tarik lagi paha Riki. Kakinya kembali mengangkang, memasukan kontol panjangnya lagi kedalam liang. Riki tak melawan, lagian salah sendiri menjual diri Ke Giovi.


Yang lebih tua mendesis kala kelaminnya di jepit lagi liang rapat Riki. Walau sudah sekali di gempur belum bisa membuka lebar memeknya.


A-ahh.. pelan Vi..” pintanya dengan suara kecil. Giovi menatap kebawah. Dalam kukuhannya Riki kecil memberikan binar lucu untuk dikabulkan permohonannya.


“Tadi kan udah? Masa mau pelan terus. Kamu bukan bayi, Ki.” Tangan besar Giovi mencengkram rahangnya hingga pipi Riki ikut mengembang lucu.


“Ta-tapi Ahhh…” belum selesai bicara, Riki dibungkam lagi dengan suara desah akibat gesekan di selatanya. Kini berbeda, Giovi menghentak kencang dibawah namun Riki malah menyukainya.


Suara pertemuan kedua kulit mirip tepuk tangan itu memenuhi seisi ruangan. Riki gila, ternyata di entot itu seenak ini. Kalau dia tau, sudah dari awal dia melacur untuk Giovi.


Tangan Giovi terulur ke lehernya, mencekik disana seakan menahan suara Riki untuk terus mengelukan namanya dengan desah.


Wajah Riki memerah, cengkraman pada tangan Giovi makin erat hingga sulit bernafas dan perutnya kesemutan. Riki menggeliat bagai cacing kepanasan. Semua jari kakinya menekuk dan pahanya gemetar karena persatuannya.


“A-agghh Vi lepashh.. lepashh.” Riki memohon hingga matanya berair lagi. Giovi melepaskan cengkramannya hingga Riki bisa bernafas lagi.


Baru satu tarikan nafas, Giovi buat Riki sesak lagi karena kontolnyang menghentak kencang hingga empunya terbatuk. Bisa Riki rasakan pelepasannya untuk ketiga kali malam itu. Mengalir deras becek di bawah sana.


Giovi melepaskan lagi penisnya. Kantung kedua penuh hingga ia pakai yang ketiga. Satu kotak, habis. Semoga saja setelah ini selesai.


Giovi tarik bathrobe Riki yang tadi menjadi alas bercintanya hingga hanya memakai lingerie pink yang acak acakan. Bagian atas sudah terbuka, hanya menutupi bagian perut saja.


Giovi menariknya, sampai sampai pakaian itu rusak dengan kancing yang berhamburan. Kini Riki polos tanpa sehelai pakaianpun. Giovi menjilat bibir bawahnya seperti saat orang lapar yang melihat makananya sudah siap saji.


Pria itu mendorong lagi tubuh Riki ke tengah kasur, membalikan tubuh si cantik dan menekan pundaknya sedangkan bagian belakang menungging tinggi.


Lubangnya lebih terbuka dari bagian luar. Pink bersih dan lengket karena cairan memeknya sendiri. Sayang sekali seluruh pejunya masuk ke kantong kondom, andai saja lendir itu ikut menghiasi memek cantik Riki.


Giovi mengelusnya, membuka liang tadi dengan dua jari hingga ia masukan keduanya bersamaan. Riki bersuara lagi, apalagi saat jari Giovi menggesek titik sensitivenya, Riki makin nyaring.


“Ahh.. vi.. kurang..” pinta Riki bagai lacur. Dia tak mau bohong kalau setelah mencoba milik Giovi, rasanya kalau diganti jari justri menyiksanya. Dia mau bercinta lagi dengan kontol besar itu, dia mau jadi perek lagi seperti tadi.


Giovi menampar pipi bokong sekalnya. Sekali, dua kali, merah tercetak di sana kontras dengan warna kulit si cantik.


“Sekarang udah mulai lacur, siapa tadi yang nangis nolak tapi sekarang mohon mohon?”


Satu tamparan lagi melayang dan kini Riki makin lemas. Lututnya sakit menahan hingga akhirnya jatuh namun tangan Giovi menyangganya lagi.


Riki hampir menjerit saat Giovi memasukan kontolnya dalam sekali hentak. Memeknya penuh lagi hingga lututnya lemas namun tangan Giovi menahan pinggul tersebut agar tidak ambruk.


Riki cengkram sprei yang ada di depannya. Giovi bergerak, memeluknya dari belakang dan tangannya meraba raba putingnya. Decakan dari Giovi mampu menekan lelahnya. Mendengar Giovi juga sama sama gila karena pergaulan itu membuat Riki sedikit berbangga. Bukan hanya dia yang frustasi di sini.


Sial. Shhh…” desis Giovi yang mulai memompa lagi memek Riki. Tubuh Riki dihentak hentak hingga suaranya bergetar dan tangannya memegang kepala ranjang.


Giovi mencubiti lagi puting Riki hingga ia gesek dan plintir di saat bersamaan. Kaki Riki sudah sakit nenopang badan namun sulit ambruk karena Giovi yang terus menahan pinggulnya.


Hentakannya semakin di percepat mengejar ejakulasi hingga akhirnya pecah lagi dengan Riki yang terus menerus bocor. Lendir dari liang memeknya keluar mengalir di paha yang masih mencoba berdiri. Saat tangan Giovi lepas, tubuhnya ambruk di kasur.


Yang dominant masih enggan berhenti.


Sekali..


dua kali..


tiga kali..


hingga akhirnya Giovi berhenti dan membiarkan Riki terengah sembari duduk di hadapannya. Si cantik masih mabuk dengan fantasinya, mengguncang tiga kotak tadi mencari yang ia mau.


“Kondomnya.. habis..” ujar Riki dengan mata sendu naik ke paha sang suami.


“Emangnya masih kurang?” Tanya Giovi mengelus pinggul Riki. Yang cantik mengangguk sembari meggesek memeknya lagi pada kontol Giovi.


Kurang..”


Riki menunduk, memberi cumbuan pada Giovi dengan memeknya yang tak berhenti menggesek kontol Giovi hingga kembali keras. Masih gatal, vaginanya masih lapar.


Tangan Giovi mengambil alih. Klitoris Riki ia usap usap sembari mengelusnya hingga lendir di bibir memeknya membasahi jari. Giovi cubit pelan itil Riki membuat reaksi desah nyaring dari empunya.


Ahhh.. Vin.”


“Masukin lagi, ya?” Dahi Riki mengerut. Ingin menggeleng tapi tak mau bohong kalau Riki ingin lagi menelan Kontol Giovi.


Eunghh.. keluarin di luar..”


Giovi mengangguk. Memasukannya lagi hingga tertelan penuh kedalam perut Riki. Gila, ini rasanya kalau bercinta langsung tanpa kondom. Bisa Riki rasakan memeknya lebih menghisap dan dimanjakan.


Perlahan pinggul ramping itu mulai bergerak menghentak diatas Giovi. Seperti lacur dengan badan lengket terus menghentak diatas Giovi.


Giovi menggerakan tangannya membantu Riki, mencengkram pinggang ramping si cantik dan memompa hentakan. Riki juling, kedua tangannya bertumpu ke belakang sembari menikmati setiap gerakan dari Giovi.


Remang remang seluruh tubuh sudah seperti kesemutan. Memeknya tidak pernah dimanjakan seperti ini. Seperti surga dunia, mau dia mati sekarang karena di entot Giovi pun sepertinya rela.


Riki memainkan putingnya sendiri dengan satu tangan. Mencubit cubit sembari di gesek gesekan sendiri. Suaranya nyaring mendesah, toh siapa yang dengar memangnya?


Ahh.. Vi, aku mau crot lagi.. “


“Keluarin semuanya Ki..”


Riki bocor lagi. Dipikir hanya lendir namun kali ini kencingnya ikut keluar membasahi perut hingga paha Giovi.


Riki ambruk. Tubuhnya lemas sedangkan Giovi masih belum selesai, alhasil dia harus mengurusnya sendiri.


---


Pagi tiba, Riki tidur nyenyak dengan badan bersih dan sprei halus yang Giovi ganti tengah malam. Sekali ini saja dia merasa senang merepotkan suaminya. Berpura pura pingsan walau sebenarnya dia merasa hampir mati.


Mungkin pagi itu pagi yang akan Riki lewati dengan tidur panjang. Tapi ternyata salah, Giovi membangunkannya dengan kecupan di sekujur wajahnya. Riki belum pakai baju, entah kenapa Giovi tak memasangkan sehelai pakaianpun untuknya tadi malam.


Kecupan kecupan itu mengusik tidurnya hingga mau tak mau Riki harus membuka mata yang masih teramat berat.


Eunghh.. Vi. Masih ngantuk.” Riki mengeluh menutup bibir Giovi dengan tangannya lalu kembali terpejam.


“Aku jam 9 ada pertemuan.”


“Hmm.. siap siapnya sendiri dulu ya?”


“Bukan. Aku mau morning sex.”


Mata Riki seketika terbuka mendengarnya. Bersamaan dengan senyum merekah Giovi mengangkat lagi tubuh Riki hingga berbaring diatas dirinya. Riki masih sulit menopang tubuh lantas jatuh di dada Giovi.


Sikunya menopang tubuh hingga menatap Giovi yang mengusap bokong sekalnya di belakang. Tangan besarnya menarik tubuh Riki agar lebih mendekat dan wajahnya sejajar.


Satu ciuman menyambut hari Riki yang masih berharap perkataan Giovi tadi hanya candaan semata sebelum akhirnya ia rasakan lagi benda keras itu masuk kedalam dirinya.


Giovi memeluk pinggang Riki sedangkan bawahnya menghentak dan mulutnya menghisap puting istrinya. Riki nemekik tertahan saat hujaman tiba riba membangunkan dirinya yang masih setengah sadar.


Ahh.. Giovihh.. “ Desah Riki nenyambut pagi.


Rangsangan pada dadanya membuat Riki becek. Rasa lendir di dada serta lidah Giovi yang memanjakan putingnya dengan sedikit gigitan kecil mampu membangkitkan gairah.


Suara pergerumulan keduanya makin nyaring lagi saat Giovi makin mengencangkan hentakannya di bawah.


Ahh-ah.. Vi. Astaga.. Ahh..” Riki mendesah sembari melafalkan namanya berkali kali seperti semalam. Nyaring dia bercinta tapi toh siapa yang peduli? Semua orang jauh dari villa yang mereka tempati.


Satu hentakan lagi, Giovi keluarkan penisnya hingga pelepasan itu menyembur di luar. Tangan Giovi mengapit dagu Riki mengajaknya kedalam cumbuan dalam yang membelit keduanya.


Masih pagi, masih terlalu dini untuk menyerap semua kelakuan Giovi yang tak ada habisnya ini.