my heart will remain as yours
lucu kalau dipikir-pikir bahwa proses saya mengenal dowoon mirip dengan cara dia meninggalkan saya selamanya, karena kegigihannya. saya mengenal dowoon di bulan april tahun 2015, ketika kegigihannya mengantre ketoprak di kantin karyawan gedung kami waktu itu mengalahkan rasa malunya untuk duduk di hadapan saya, seorang asing.
“mas, kosong kan? saya di sini ya. makasih, mas.“
begitu katanya, dalam satu tarikan napas tanpa menatap mata saya. dan saya, sayangnya, jatuh cinta dengan sangat mudah.
dowoon datang ke kehidupan saya tidak dengan ketenangan, ia datang penuh grasak grusuk dan ramai karena hati dan hari saya diacak-acak dengan eksistensinya. jatuh cinta pada dowoon itu mudah, hal termudah yang pernah saya lakukan. tapi dicintai oleh dowoon, itu yang susah.
sebelum ada dowoon di kehidupan saya, saya tak percaya bahwa saya berhak akan cinta—setidaknya cinta yang baik dan tidak berdarah. sebelum ada dowoon di kehidupan saya, dinding saya terlampau tinggi dan kaki saya terlampau cepat berlari. tapi dowoon, dengan kegigihannya itu, bersikeras untuk tinggal dan mencintai saya. ia memaksa saya untuk menerima cintanya, sepelan-pelannya dan sebaik-baiknya, karena, he said and i quote, ia akan selalu memilih cinta yang sulit dengan saya, daripada cinta yang mudah tanpa saya.
terkadang saya khawatir apabila cinta saya tak sebesar cintanya, apabila ia tak merasa disayang dengan baik oleh saya karena saya masih belajar. tapi dowoon ini, selalu dan lagi-lagi, mengingatkan saya bahwa ia adalah hal terbaik yang ada di kehidupan saya. setiap kali saya meragu, ia kecup bibir saya dan ucap terima kasih karena sudah menghabiskan ikan bakar buatannya. setiap kali saya khawatir, ia usap dahi saya dan tinggalkan cium kecil di sana.
di hari terakhir saya bicara dengan dowoon, saya bilang kalau saya nggak sabar akan bawa pulang mereka berdua. mungkin saya kurang spesifik bicaranya, harusnya saya bilang hidup-hidup. sekarang yang hidup hanya saya dan dojin, tanpa dowoon.
sama sekali nggak terbersit di kepala saya, bahwa akan ada kehidupan tanpa dowoon. di saat dojin hadir dan mengajarkan saya cara mencinta tanpa syarat, saya kehilangan sandaran. saya kehilangan orang yang akan menertawakan saya kalau dojin tak berhenti menangis, orang yang akan memarahi saya kalau diam-diam menyuapi es krim pada dojin, orang yang akan pelan-pelan keluar dari rengkuhan saya di sepertiga malam untuk memastikan dojin tidur dengan tenang.
ketika dokter memberi kabar bahwa dowoon tak selamat, di situ pula saya sadar bahwa saya sudah kehilangan cinta saya yang paling besar.
tapi lucunya, eulogi ini saya tulis di samping tempat tidur dojin. di tengah-tengah saya berduka atas perginya dowoon, ada cinta baru yang sedang membuat dirinya nyaman di dalam hati saya, masih kecil dan masih tertatih. bahkan sekarang ia dengan tenang memandangi saya yang sedang bersimbah air mata merindukan ayahnya. you would’ve loved seeing his tiny, chubby hands, ayang…
dowoon, ayang. kamu langgar janji, kamu tinggalin abang. kalau kita ketemu lagi, abang tagih cium seratus kalinya itu ya. kamu utang puluhan tahun ke dojin juga, untuk tahun-tahun yang akan ia hidupi tanpa lelucon dan masakan kamu. jangan tinggalin dojin, kamu harus jagain dia biar dia enggak nakal dan jajan sembarangan kalau aku telat jemput nanti.
dowoon, kita gak pernah bicara tentang kemungkinan hidup tanpa satu sama lain. tapi sekarang abang harus bilang, my heart will remain as yours. watch over us from up there, will you? pastikan abang enggak salah mendidik dojin, ya. seluruh hidup abang, akan selamanya untuk kamu dan dojin.
istirahat yang tenang, ayang. abang janji gak tinggalin kamu.