Ruang uks



Milo memasukkan ponselnya ke saku seragam dengan kasar. Ia menatap punggung Kendrick yang terlihat naik turun dengan napas yang memburu. Tanpa mempedulikan eksistensi Pak Joko di depan kelas, Milo mencondongkan badannya ke depan, mengulurkan tangannya melewati bahu Kendrick, lantas menempelkan punggung tangannya ke kening serta ceruk leher pemuda itu yang tertutup kerah.


Panas sekali.


Kendrick sedikit terkejut dengan sentuhan dingin dari tangan Milo. Pemuda itu hendak mengangkat kepalanya, namun segera ditahan pelan oleh tangan Milo di bahunya.


"Pak," Milo tiba-tiba mengangkat tangan, memotong penjelasan Pak Joko di depan papan tulis. Suaranya terdengar tegas, namun ada nada panik yang tidak bisa ia tutupi.


"Kendrick sakit, Pak. Badannya panas sekali, saya izin bawa dia ke uks sekarang."


Satu kelas sontak menoleh. Dion hanya melirik sinis dari ujung kelas, namun Milo acuh.

Pak Joko mengangguk. "Ya sudah, bawa ke uks sana. Kamu jangan keluyuran loh Milo jaga Kendrick disana."


Milo lekas berdiri, menarik kursi Kendrick ke belakang perlahan-lahan. Ia membantu Kendrick berdiri dengan hati-hati. Tangannya memegang lengan Kendrick erat, menaruh sebelah lengan cowok yang badannya lebih besar dari dirinya itu di pundaknya agar tak jatuh.


"Pegang pundak gue yang kenceng, Ken. Gue bangu tuntun," bisik Milo dengan sangat lembut, berbanding terbalik dengan ketikannya yang suka ngegas.




Suasana ruang UKS terasa sepi. Kendrick terbaring lemah di atas ranjang, sementara Milo duduk di kursi samping ranjangnya dengan semangkuk bubur di tangannya.


"Ken bangun bentar, makan dikit ya," tegur Milo memecah keheningan.


"Gak nafsu, Mil pahit mulut gue," gumam Kendrick dengan suara serak.


"Lo demam tinggi bego, harus diisi perutnya biar bisa minum paracetamol,"

sungut Milo tak sabar. "Bangun dikit, gue suapin kaga nerima penolakan. Nurut sama gue napa sekali ini aja."


Mengalah, Kendrick akhirnya beringsut bangun hingga posisinya setengah duduk, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal.


Kacamata tebalnya sudah ia lepas dan tergeletak di atas nakas. Dengan pandangan yang masih sayu, matanya menatap Milo.


"Lo gak balik ke kelas? nanti ketinggalan pelajaran."


"Bodo amat sama pelajaran," jawab Milo cuek. "Nih buka mulut lo AAAaaa."


"Gue bisa pegang sendoknya sendiri, Mil," tolak Kendrick halus.


"Diem," potong Milo cepat. "Buka mulut lo, Ken. Tangan lo masih lemes gitu, kaga usah sok kuat."


Kendrick tak membalas lagi. Ia membuka mulutnya, patuh menerima suapan bubur dari Milo. Matanya tak lepas menatap wajah pemuda itu yang tampak sangat fokus meniup niup bubur di sendok agar tidak terlalu panas saat masuk ke mulutnya.


"Nah gitu pinter, Makan yang banyak biar cacing di perut lu kaga demo," ucap Milo, ada kelegaan dalam nadanya.


"Masih pusing kepalanya? mau gue pijitin kaga?" Kendrick menggeleng pelan. "Gak usah, gini aja udah cukup. Makasih ya, Mil. Lo... terlalu baik buat gue."


Pergerakan Milo terhenti sejenak, wajahnya sedikit bersemu meski ia langsung berusaha menyembunyikannya. "Bawel lo anjing kalo lagi sakit kaga usah banyak omong. Udah abisin nih tinggal tiga suap lagi."


Ruang UKS kembali sepi, hanya menyisakan deru halus dari kipas angin yang berputar di langit-langit. Setelah meminum obatnya, Kendrick kembali merebahkan diri di ranjang. Efek dari obat yang bekerja lambat laun membuat kelopak matanya terasa kian berat.


Milo masih setia duduk di sebelahnya. Pemuda itu menaruh kepalanya di pinggiran kasur uks sambil memperhatikan wajah Kendrick yang tengah terpejam tanpa kacamata tebalnya yang selama ini selalu ia sebut jelek.


Jari-jemari Milo bergerak perlahan, merapikan poni Kendrick yang tampak lepek akibat keringat dingin. Gerakannya begitu pelan dan halus, seolah takut akan mengusik istirahat cowok di hadapannya itu.


"Milo..." gumam Kendrick tiba-tiba dengan mata yang masih tertutup rapat. Suaranya terdengar begitu serak dan dalam akibat efek demam yang menyerang tubuhnya.


"Jangan pergi."


Jantung Milo langsung mencelos mendengarnya. Dari balik selimut, tangan Kendrick bergerak meraba pinggiran kasur, mencari cari keberadaan tangan Milo, lalu menggenggamnya dengan lemah namun terasa begitu posesif.


Milo merasakan wajahnya mendadak memanas, tetapi ia sama sekali tidak berniat menarik tangannya. Alih-alih mengomel atau ngegas seperti biasanya, Milo justru memajukan kursinya, menundukkan kepala agar posisinya bisa lebih dekat dengan Kendrick. Ia membalas genggaman tangan Kendrick menggunakan kedua tangannya, lalu mengusap punggung tangan cowok itu dengan lembut.


"Nggak, Ken... gue nggak ke mana-mana," bisik Milo sangat pelan. Suaranya terdengar begitu lembut dan sedikit bergetar. "Gue di sini nemenin lu. Tidur aja dah, jangan mikirin macem macem."


Kendrick tidak memberikan balasan lagi. Napasnya perlahan-lahan mulai teratur seiring dengan dirinya yang telah tertidur pulas.


Sementara itu, Milo menenggelamkan separuh wajahnya di kasur, berusaha menahan rasa salting dan haru yang bercampur aduk di dalam dadanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya bisa merasa selembut dan selemah ini di hadapan cowok lain.